Tapi…
Ada sesuatu yang membuat napasku tercekat.
Seprai di atas tempat tidur kusut seperti baru saja digunakan. Selimut terlempar ke lantai. Di atas nakas, ada dua gelas berisi air yang tinggal setengah, dan aroma parfum pria yang sangat kukenal masih memenuhi ruangan.
Itu parfum Mas Rama.
Aku menoleh ke arah Mbak Arni yang buru-buru merapatkan kimono tipis yang baru saja ia kenakan di atas lingerie.
“Kenapa diam saja, Tasya?” tanyanya sambil tersenyum canggung.

Aku memaksa tersenyum.
“Tidak apa-apa. Aku cuma… benar-benar haus.”
Aku melangkah pergi menuju dapur, tetapi kakiku terasa lemas.
Parfum itu.
Aku tidak mungkin salah.
Sudah bertahun-tahun aku hidup bersama Mas Rama. Aku hafal aroma parfum yang selalu ia pakai setiap hari.
Aku menuang air ke dalam gelas, tetapi tanganku gemetar hebat hingga air tumpah ke meja.
“Tidak… aku pasti terlalu lelah,” gumamku.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Mungkin Mas Rama memang sempat masuk ke kamar Mbak Arni untuk memperbaiki sesuatu.
Mungkin mereka hanya mengobrol.
Mungkin…
Aku menggeleng keras.
Tidak. Aku tidak boleh menuduh tanpa bukti.
Saat kembali menaiki tangga menuju kamar, aku melihat pintu ruang kerja Mas Rama sedikit terbuka.
Lampunya mati.
Kosong.
Lalu ke mana dia?
Baru saja aku hendak masuk ke kamar, suara langkah kaki terdengar dari arah taman belakang.
Aku menoleh.
Mas Rama masuk melalui pintu samping sambil membawa kantong plastik.
“Dek? Kok belum tidur?”
Aku menatapnya lekat-lekat.
“Mas dari mana?”
Ia mengangkat kantong plastik.
“Aku lapar. Tadi keluar beli mi instan sama susu di minimarket yang buka dua puluh empat jam.”
Jawabannya terdengar sangat biasa.
Terlalu biasa.
“Kenapa enggak bilang?”
“Kamu tidur pulas. Aku enggak tega bangunin.”
Ia tersenyum, lalu mencium keningku.
“Ayo tidur lagi.”
Aku hanya mengangguk.
Namun saat ia melewatiku, aroma parfum yang sama kembali tercium.
Bukan hanya parfum.
Ada aroma sabun yang berbeda dari sabun di kamar kami.
Aku mulai sulit memejamkan mata malam itu.
Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Mas Rama jadi lebih sering memegang ponselnya.
Kalau dulu ia meletakkan ponsel sembarangan, sekarang selalu dibawa ke mana-mana.
Bahkan saat mandi.
Suatu sore, ketika ia sedang mencuci mobil, ponselnya berdering di atas meja.
Nama penelepon tidak disimpan.
Hanya deretan angka.
Aku tidak mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian muncul pesan.
“Aku kangen. Malam ini seperti biasa?”
Dadaku langsung sesak.
Belum sempat kubuka lebih jauh, Mas Rama masuk dan buru-buru mengambil ponselnya.
“Klien,” katanya singkat.
Aku hanya mengangguk.
Malam itu aku menangis diam-diam di kamar mandi.
Aku ingin percaya kepada suamiku.
Tetapi semua tanda semakin mengarah ke satu kenyataan yang sangat ingin kuhindari.
Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi pabrik kaus lebih pagi dari biasanya.
Di sana aku bertemu dengan sahabat lamaku, Dinda.
Melihat wajahku yang pucat, ia langsung bertanya.
“Ada masalah?”
Aku akhirnya menceritakan semuanya.
Dinda tidak langsung menyimpulkan apa pun.
Ia hanya berkata pelan,
“Kalau memang ada sesuatu, cari buktinya dulu. Jangan membuat keputusan berdasarkan prasangka.”
Aku mengangguk.
Benar.
Aku membutuhkan bukti.
Seminggu kemudian kesempatan itu datang.
Mas Rama mengatakan ia harus keluar kota selama dua hari karena bertemu investor.
Anehya, malam itu mobilnya masih terparkir di garasi.
Pukul sebelas malam aku mendengar suara mesin mobil menyala.
Aku mengintip dari jendela.
Mobil itu keluar perlahan.
Entah kenapa aku langsung mengambil mobilku sendiri.
Aku mengikuti dari kejauhan.
Jantungku berdegup sangat keras.
Mobil Mas Rama berhenti di sebuah apartemen di pusat kota.
Aku melihatnya turun.
Beberapa menit kemudian…
Seorang perempuan keluar dari lobi.
Bukan Mbak Arni.
Perempuan itu jauh lebih muda.
Mereka naik lift bersama.
Aku terduduk lemas di balik kemudi.
Air mataku mengalir begitu saja.
Jadi benar.
Suamiku memang berbohong.
Aku pulang menjelang subuh.
Namun yang membuatku semakin bingung adalah ketika membuka pintu rumah, kulihat kamar Mbak Arni kosong.
Lampunya mati.
Aku mengecek ke kamar Bila.
Anak itu tidur sendiri.
Berarti sejak tadi malam Mbak Arni juga pergi.
Perasaanku kembali kacau.
Kalau perempuan di apartemen bukan Mbak Arni…
Lalu Mbak Arni ke mana?
Keesokan paginya aku sengaja berpura-pura biasa.
Aku mengamati semua orang.
Mbak Arni tampak kelelahan.
Matanya sembab.
Bila memeluk ibunya erat.
Entah kenapa ada kesedihan yang tidak bisa dijelaskan dari wajah mereka.
Saat aku sedang menyapu halaman, tetangga sebelah menghampiriku.
“Tasya, semalam Mbak Arni bawa Bila ke rumah sakit ya?”
Aku terdiam.
“Rumah sakit?”
“Iya. Kasihan anaknya demam tinggi.”
Aku langsung membeku.
Kalau begitu…
Semalam Mbak Arni memang tidak ada di rumah.
Lalu suara yang kudengar malam itu…
Aku mulai merasa bersalah.
Siang harinya aku memberanikan diri meminta maaf kepada Mbak Arni.
“Mbak… minggu lalu aku sempat curiga yang tidak-tidak.”
Mbak Arni tersenyum pahit.
“Aku tahu.”
Aku terkejut.
“Aku lihat wajahmu malam itu.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku memang menangis malam itu. Aku baru menerima kabar kalau suamiku dulu ternyata meninggalkan utang yang belum lunas. Aku panik. Aku telepon pengacara sampai larut malam.”
Aku memejamkan mata.
Rasa bersalah langsung menghantamku.
Aku telah menilai perempuan yang selama ini kuanggap seperti kakak sendiri.
“Maaf, Mbak.”
“Enggak apa-apa.”
Ia menggenggam tanganku.
“Tapi kalau firasatmu tentang Mas Rama benar… jangan tutup mata.”
Aku akhirnya mengumpulkan semua bukti.
Foto.
Rekaman CCTV apartemen.
Struk pembayaran hotel.
Bahkan rekening bersama kami yang diam-diam berkurang ratusan juta rupiah.
Aku tidak menangis lagi.
Air mataku seperti sudah habis.
Suatu malam aku meminta Mas Rama duduk di ruang tamu.
“Aku mau bicara.”
Ia tersenyum santai.
“Tentang apa?”
Aku meletakkan sebuah map di atas meja.
“Sebelum Mas membuka map ini, aku cuma ingin tanya satu kali.”
Ia menatapku.
“Apakah Mas masih mencintaiku?”
Wajahnya berubah.
“Tentu saja.”
“Yakin?”
“Iya.”
Aku mendorong map itu ke arahnya.
“Kalau begitu jelaskan semua isi map itu.”
Tangannya gemetar saat membuka satu per satu foto.
Wajahnya langsung pucat.
“Tasya… aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya selama menikah, tawaku terdengar sangat asing.
“Semua orang yang selingkuh selalu bilang begitu.”
Ia berlutut.
“Maafkan aku.”
“Sudah berapa lama?”
Ia menunduk.
“Hampir… dua tahun.”
Dunia seakan berhenti berputar.
Dua tahun.
Berarti bahkan ketika aku bekerja siang malam membesarkan usaha demi keluarga…
Ia sedang membangun kehidupan lain di belakangku.
Perceraian berlangsung cepat.
Aku tidak meminta balas dendam.
Aku hanya meminta hakku.
Usaha kaus tetap menjadi milikku karena sejak awal memang dibangun dengan modal dan kerja kerasku sendiri.
Mas Rama kehilangan semuanya.
Perempuan yang selama ini bersamanya pun pergi setelah mengetahui ia tidak lagi memiliki harta sebanyak yang dibayangkan.
Enam bulan kemudian, kehidupanku berubah jauh lebih tenang.
Aku mulai pulang lebih awal setiap hari.
Aku mengantar Cira ke sekolah.
Aku menjemputnya.
Kami makan malam bersama.
Hal-hal sederhana yang dulu selalu kulewatkan.
Suatu sore Cira memelukku erat.
“Bunda sekarang sering di rumah.”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
“Iya, Sayang.”
“Aku senang.”
Kalimat sederhana itu terasa lebih berharga daripada keuntungan perusahaan sebesar apa pun.
Suatu hari aku menerima surat dari pengacara.
Isinya bukan tentang perceraian.
Melainkan surat pelunasan seluruh utang almarhum kakakku.
Aku bingung.
Aku tidak pernah melunasinya.
Saat kutanya kepada pengacara, ia hanya tersenyum.
“Semua sudah dibayar oleh Mbak Arni.”
Aku langsung menemuinya.
“Mbak… kenapa?”
Ia tersenyum hangat.
“Karena selama bertahun-tahun kamu sudah menanggung hidup aku dan Bila. Sekarang aku sudah bekerja lagi. Sudah waktunya aku berdiri di kakiku sendiri.”
Air mataku jatuh.
Ternyata perempuan yang sempat kucurigai tanpa alasan itu justru menjadi keluarga yang paling tulus.
Saat kami saling berpelukan, aku sadar bahwa mimpi buruk yang membangunkanku malam itu bukanlah pertanda tentang Mbak Arni.
Mimpi itu adalah peringatan agar aku membuka mata terhadap orang yang selama ini paling kupercaya.
Sejak hari itu aku belajar satu hal.
Pengkhianatan memang bisa menghancurkan sebuah rumah tangga, tetapi prasangka juga bisa menghancurkan hati orang yang tidak bersalah.
Dan di antara keduanya, hanya kejujuran yang mampu menyelamatkan hubungan yang benar-benar layak dipertahankan.
