BAGI BUNDA, ADIK-ADIK ADALAH PERMATA. SEDANGKAN AKU ADALAH NODA YANG TIDAK DIHARAPKAN KEHADIRANNYA.

Hujan malam itu turun semakin deras ketika aku melangkah keluar dari rumah sakit. Air yang membasahi wajahku membuat orang-orang tidak bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku benar-benar menyerah berharap bisa menjadi anak yang diterima oleh ibuku sendiri.

Ponselku bergetar berkali-kali. Nama Bagas muncul di layar, tetapi aku mematikannya. Aku tidak sanggup mendengar siapa pun membela Bunda lagi.

Aku berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya berhenti di sebuah halte kecil. Tanganku masih gemetar mengingat kalimat yang terus terngiang di kepala.

“Darah kotor pria itu.”

Kalimat itu terasa aneh.

Kalau Bunda hanya membenciku, mengapa beliau menyebut darah ayah sebagai darah kotor? Mengapa bukan mengatakan aku anak pembawa sial, atau anak yang tidak berguna seperti biasanya?

Malam itu aku pulang ke rumah kontrakanku yang sempit. Rumah itu kubayar sendiri dari hasil bekerja sebagai kurir selama lima tahun. Ironisnya, setiap bulan aku masih rutin mengirim sebagian penghasilanku ke rumah Bunda tanpa pernah terlambat.

Aku membuka aplikasi bank.

Transfer bulan ini sebesar tiga juta rupiah sudah masuk ke rekening Bunda dua hari lalu.

Aku tersenyum pahit.

Bahkan uangku diterima tanpa pernah dianggap kotor.

Namun darahku ditolak.

Keesokan harinya, Bagas datang mencariku.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding kemarin.

“Alesha sudah sadar.”

“Syukurlah.”

“Hana…”

“Aku sibuk.”

“Hana, dengarkan dulu.”

Aku tetap melipat kardus tanpa menatapnya.

Bagas menarik napas panjang.

“Semalam Bunda tidak tidur.”

Aku tertawa pelan.

“Lalu?”

“Beliau menangis.”

“Bagus.”

“Hana…”

“Kalau hanya mau bilang aku harus memaafkan Bunda, pulang saja.”

Bagas menggeleng.

“Aku datang karena ada sesuatu yang selama ini tidak pernah aku mengerti.”

Aku akhirnya menoleh.

“Semalam, setelah kamu pergi, aku bertanya kepada Bunda kenapa beliau berkata seperti itu.”

“Terus?”

“Beliau tidak menjawab.”

“Itu biasa.”

“Tapi aku melihat sesuatu.”

“Apa?”

Bagas mengeluarkan sebuah map lusuh.

“Ayah pernah menitipkan ini padaku.”

Dadaku langsung berdegup.

“Itu apa?”

“Ayah bilang hanya boleh kuberikan kalau suatu hari Bunda mengatakan kalimat tentang darah.”

Tanganku mulai dingin.

Bagas menyerahkan map itu.

Di dalamnya ada surat tua dan hasil pemeriksaan DNA bertanggal dua puluh lima tahun lalu.

Aku membaca perlahan.

Setiap huruf membuat napasku semakin berat.

Hasilnya tertulis jelas.

Aku adalah anak kandung Ayah.

Aku juga anak kandung Bunda.

Air mataku jatuh.

“Kalau begitu…”

Bagas mengangguk pelan.

“Ya. Kamu memang anak kandung mereka.”

“Lalu kenapa…”

Bagas menyerahkan surat berikutnya.

Tulisan tangan Ayah memenuhi tiga halaman.

“Hana…

Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada.

Maafkan Ayah karena gagal melindungimu.

Kamu pasti bertanya kenapa ibumu membencimu.

Jawabannya bukan karena kamu bukan anak kami.

Justru karena kamu terlalu mirip denganku.”

Aku membaca semakin cepat.

Dua puluh lima tahun lalu, Ayah ternyata pernah menjadi korban fitnah besar di kantornya.

Seorang rekan kerja memalsukan bukti korupsi atas namanya.

Ayah dipenjara selama hampir dua tahun sebelum akhirnya terbukti tidak bersalah.

Namun selama Ayah dipenjara, keluarga kami hidup dalam kemiskinan.

Bunda sedang mengandungku saat itu.

Seluruh tetangga menghina beliau.

Keluarga besar memutus hubungan.

Bahkan nenek mengusir Bunda dari rumah.

Saat aku lahir, semua orang mengatakan aku membawa sial karena lahir di tengah kehancuran keluarga.

Ayah akhirnya bebas dan nama baiknya dipulihkan.

Tetapi luka di hati Bunda tidak pernah sembuh.

Setiap kali melihat wajahku, beliau selalu teringat masa paling kelam dalam hidupnya.

Aku bukan penyebabnya.

Tetapi aku adalah pengingatnya.

Tanganku gemetar hebat.

Bagas menepuk bahuku.

“Ayah sudah mencoba membawa Bunda berobat ke psikolog.”

Aku menoleh.

“Serius?”

“Iya.”

“Tapi kenapa tidak berhasil?”

“Karena Bunda selalu berkata beliau baik-baik saja.”

Aku terduduk lemas.

Selama ini aku mengira beliau membenciku.

Ternyata beliau membenci kenangan yang selalu muncul setiap kali melihatku.

Tetapi rasa sakit yang kuterima tetap nyata.

Tiga hari kemudian, dokter menghubungiku.

Bukan tentang Alesha.

Melainkan tentang Bunda.

Beliau tiba-tiba pingsan di rumah sakit karena tekanan darah tinggi.

Aku tetap datang.

Saat memasuki ruang rawat, Bunda sedang tertidur.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua.

Keriput di sekitar matanya membuatku sadar bahwa selama ini beliau juga memikul beban yang tidak pernah kulihat.

Dokter memanggilku keluar.

“Anda Hana?”

“Iya.”

“Kami menemukan sesuatu saat pemeriksaan.”

“Apa?”

“Hasil CT Scan menunjukkan ada tumor di bagian otak.”

Aku membeku.

“Masih bisa dioperasi?”

“Bisa, tapi risikonya tinggi.”

Aku langsung menghubungi Bagas.

Kami duduk berdua di lorong rumah sakit.

Untuk pertama kalinya, kami sama-sama menangis.

Operasi dijadwalkan seminggu kemudian.

Biayanya sangat besar.

Tanpa berpikir panjang, aku menjual motor yang kupakai bekerja.

Aku juga mencairkan seluruh tabungan yang selama ini kukumpulkan untuk membeli rumah.

Bagas terkejut.

“Hana, jangan.”

“Aku masih bisa cari uang lagi.”

“Tapi itu impianmu.”

“Aku tidak mau kehilangan ibu.”

Bagas memelukku erat.

Hari operasi tiba.

Selama delapan jam kami menunggu di depan ruang operasi.

Ketika dokter keluar, kami langsung berdiri.

“Operasi berhasil.”

Kami sama-sama menangis lega.

Namun dokter menambahkan satu kalimat.

“Ada kemungkinan pasien mengalami gangguan ingatan sementara.”

Tiga hari kemudian, Bunda membuka mata.

Beliau memandang kami bergantian.

“Bagas…”

“Iya, Bun.”

“Alesha…”

“Ada di rumah.”

Lalu mata beliau berhenti padaku.

“Kamu siapa?”

Aku tersenyum pahit.

Mungkin beginilah akhirnya.

Beliau bahkan tidak mengingatku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perlahan ingatan Bunda kembali.

Beliau mengenali semua orang.

Kecuali aku.

Suatu sore aku sedang membantu menyuapi beliau.

Tiba-tiba beliau bertanya pelan.

“Kamu baik sekali.”

Aku hanya tersenyum.

“Memang begitu tugas saya.”

“Kenapa kamu terus datang?”

“Karena saya sayang Bunda.”

Beliau terdiam.

“Aneh.”

“Apa?”

“Hati saya terasa hangat setiap melihatmu.”

Aku hampir menangis.

Mungkin inilah pertama kalinya beliau melihatku tanpa dibayangi masa lalu.

Tanpa luka.

Tanpa kebencian.

Seminggu kemudian, dokter mengatakan sebagian ingatan lama mulai kembali.

Aku bersiap menerima kenyataan.

Mungkin kebencian itu akan muncul lagi.

Namun yang terjadi justru berbeda.

Pagi itu Bunda memanggilku.

“Hana.”

Aku membeku.

Beliau mengingat namaku.

Aku mendekat perlahan.

“Bunda sudah ingat?”

Air mata beliau mengalir.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Namun selama dua puluh lima tahun, itulah kata yang paling ingin kudengar.

Beliau menggenggam kedua tanganku.

“Dulu setiap melihatmu, Bunda selalu melihat penjara, hinaan, kelaparan, dan semua penderitaan yang pernah Bunda alami.”

Aku diam.

“Tapi saat ingatan Bunda hilang, Bunda baru sadar… kamu bukan kenangan itu.”

Beliau menangis semakin keras.

“Kamu hanya seorang anak yang setiap hari meminta dicintai.”

Aku ikut menangis.

“Tapi Bunda selalu menghukummu atas dosa yang bahkan bukan salahmu.”

Aku memeluk beliau.

Untuk pertama kalinya dalam hidup.

Pelukan itu terasa canggung.

Namun hangat.

Beberapa bulan kemudian kehidupan kami berubah.

Bukan menjadi keluarga yang sempurna.

Masih ada rasa bersalah.

Masih ada luka.

Tetapi kami mulai belajar menjadi keluarga lagi.

Suatu malam, saat sedang membereskan lemari Ayah, kami menemukan sebuah kotak kayu kecil yang belum pernah dibuka.

Di dalamnya ada surat terakhir.

Tulisan Ayah masih sangat rapi.

“Kalau kalian membaca surat ini bersama, berarti keajaiban akhirnya datang.

Jangan pernah salahkan Hana.

Anak itu bukan pembawa sial.

Justru sejak dia lahir, aku selalu percaya Tuhan mengirimnya untuk mengajarkan kita arti memaafkan.

Kalau suatu hari ibumu berhasil memeluk Hana dengan tulus, saat itulah keluarga kita benar-benar utuh.”

Aku menatap Bunda.

Beliau memelukku erat sambil menangis tanpa suara.

Aku akhirnya mengerti.

Selama bertahun-tahun aku mengira diriku adalah noda yang mengotori keluarga.

Padahal sebenarnya, aku hanyalah cermin yang terus memantulkan luka yang belum pernah disembuhkan.

Dan ketika luka itu akhirnya berani dihadapi, noda yang selama ini kubenci ternyata tidak pernah benar-benar ada. Yang ada hanyalah seorang anak yang tidak pernah berhenti berharap, hingga suatu hari harapan itu akhirnya pulang ke rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang