“Pak, kenapa Bapak belum pulang-pulang, Bu?”

“Pak, kenapa Bapak belum pulang-pulang, Bu?”

Suara polos Talia yang baru berusia enam tahun membuat Nurhayati tersenyum tipis, meski hatinya terasa sesak. Gadis kecil itu sudah hampir dua minggu terus menanyakan hal yang sama setiap malam. Hadi, suaminya, selalu punya alasan. Lembur. Dinas luar kota. Rapat mendadak. Pabrik sedang banyak pesanan.

“Bapak lagi sibuk, Sayang. Nanti juga pulang.”

“Tapi aku kangen Bapak.”

Nurhayati mengusap kepala putrinya pelan.

“Kalau begitu, kita antar makan siang buat Bapak besok, ya.”

Mata Talia langsung berbinar.

“Beneran?”

“Iya.”

Malam itu Talia tidur sambil memeluk kotak bekal kosong yang sudah ia cuci sendiri. Ia bahkan berkali-kali berkata bahwa besok ayahnya pasti akan memeluknya.

Nurhayati hanya memandang langit-langit kamar. Entah kenapa, perasaannya tidak tenang.

Keesokan harinya, sejak pagi ia memasak semua makanan kesukaan Hadi. Ayam balado, tumis buncis, sambal terasi, dan telur dadar. Ia juga membawa puluhan nasi kotak untuk para pekerja di pabrik tempat Hadi menjadi kepala operasional.

Sesampainya di depan gerbang pabrik, Talia tiba-tiba berteriak penuh semangat.

“Bu! Itu Bapak!”

Nurhayati menoleh.

Jantungnya langsung berdegup keras.

Hadi baru turun dari sebuah mobil hitam mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun bukan mobil itu yang membuat dunia Nurhayati seperti berhenti berputar.

Seorang perempuan muda turun dari kursi penumpang, lalu menggandeng lengan Hadi dengan begitu mesra.

Talia berlari tanpa berpikir panjang.

“Bapak!”

Hadi menoleh.

Wajahnya berubah pucat hanya sesaat sebelum akhirnya mengeras.

“Kamu ngapain ke sini?”

Bentakan itu menghentikan langkah Talia.

“Sana pulang!”

Kotak bekal hampir terjatuh dari tangan mungil gadis kecil itu.

“Mas… dia cuma kangen sama kamu,” ucap Nurhayati pelan.

“Aku lagi kerja! Jangan bikin malu!”

“Dia cuma mau kasih bekal…”

“Bawa anakmu pulang!”

Kalimat itu menghantam Nurhayati lebih keras daripada tamparan.

Anakmu.

Bukan anak kita.

Perempuan muda di samping Hadi bahkan tersenyum sinis sambil memeluk lengan lelaki itu lebih erat.

“Ayo, Nak.”

Nurhayati menarik tangan putrinya.

“Tapi aku belum kasih bekalnya…”

Nurhayati mengambil kotak makan dari tangan Talia.

Mereka berjalan menjauh.

Di belakang mereka, terdengar suara tawa kecil perempuan itu.

Sejak hari itu, Talia tak pernah lagi bertanya kapan ayahnya pulang.

Ia hanya diam.

Setiap malam, ia masih meletakkan sandal kecil ayahnya di depan pintu, lalu masuk ke kamar tanpa sepatah kata.

Nurhayati mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan suaminya.

Anaknya perlahan kehilangan cahaya di matanya.

Seminggu kemudian, Hadi pulang.

Ia masuk rumah seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ada makan?”

Nurhayati yang sedang mencuci piring tidak menjawab.

Hadi melihat sekeliling.

“Mana Talia?”

“Tidur.”

“Aneh. Biasanya dia lari meluk aku.”

Nurhayati tersenyum pahit.

“Bukankah kamu sendiri yang menyuruh dia menjauh?”

Hadi terdiam.

Ia membuka pintu kamar.

Talia benar-benar tidur.

Namun di samping bantalnya ada sebuah gambar hasil crayon.

Gambar seorang ibu dan anak perempuan sedang bergandengan tangan.

Di sudut kertas ada gambar seorang laki-laki yang berdiri jauh di belakang pagar.

Di atasnya tertulis dengan tulisan anak-anak.

“Bapak sibuk.”

Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Hadi tidak sanggup menatap gambar itu lebih dari beberapa detik.

Namun keesokan paginya ia kembali menghilang.

Bahkan tidak pamit.

Tiga bulan berlalu.

Nurhayati akhirnya mengetahui semuanya.

Perempuan muda itu bernama Livia.

Usianya baru dua puluh enam tahun.

Bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan pemasok bahan baku.

Yang lebih mengejutkan, Hadi sudah menyewa sebuah apartemen untuk perempuan itu selama hampir satu tahun.

Semua biaya dibayar menggunakan uang tabungan keluarga.

Bahkan sebagian uang pendidikan Talia ikut habis.

Malam itu Nurhayati duduk lama di ruang tamu.

Ia membuka buku tabungan.

Saldo yang dulu cukup untuk masa depan putrinya kini hampir habis.

Ia menangis tanpa suara.

Bukan karena kehilangan suami.

Melainkan karena masa depan anaknya telah dirampas.

Keesokan harinya ia mengambil keputusan.

Ia menjual seluruh perhiasan yang masih dimilikinya.

Dengan uang itu ia membuka usaha katering kecil dari rumah.

Awalnya hanya lima belas kotak makan.

Lalu tiga puluh.

Lima puluh.

Seratus.

Resep masakannya ternyata disukai banyak kantor di sekitar kawasan industri.

Talia ikut membantu setiap pagi.

“Bu, aku tempelin stiker ya.”

“Iya, Sayang.”

Perlahan hidup mereka berubah.

Memang belum mudah.

Namun mereka tidak lagi bergantung pada Hadi.

Sementara itu kehidupan Hadi justru mulai berantakan.

Livia meminta mobil baru.

Kemudian meminta pindah ke apartemen yang lebih mahal.

Setiap kali Hadi mengatakan sedang kesulitan uang, perempuan itu marah.

“Kamu dulu bilang kamu kepala operasional. Masa gaji segini aja?”

Hadi mulai berutang.

Pinjaman online.

Kartu kredit.

Teman kantor.

Semua demi mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya bukan miliknya.

Hingga suatu hari perusahaan tempatnya bekerja melakukan audit internal.

Beberapa transaksi pembelian bahan baku ternyata dimanipulasi.

Nama Hadi ikut terseret.

Ia memang tidak mengambil uang perusahaan secara langsung.

Namun ia menandatangani beberapa dokumen tanpa memeriksa karena percaya pada seorang pemasok yang ternyata bekerja sama dengan Livia.

Saat penyelidikan dimulai, Livia menghilang.

Nomor teleponnya tidak aktif.

Apartemen kosong.

Mobil yang dibelikan Hadi juga lenyap.

Barulah Hadi sadar.

Selama ini ia bukan sedang dicintai.

Ia sedang dimanfaatkan.

Beberapa bulan kemudian, Hadi kehilangan pekerjaannya.

Rumah kontrakan kecil yang ia tinggali pun disita karena tunggakan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar sendirian.

Suatu sore ia memberanikan diri datang ke rumah Nurhayati.

Rumah itu tampak jauh berbeda.

Di halaman berdiri beberapa motor kurir.

Belasan karyawan sibuk mengangkat kotak-kotak katering.

Sebuah papan besar bertuliskan “Dapur Talia” terpasang di depan rumah.

Hadi terpaku.

Ia tidak pernah membayangkan usaha kecil Nurhayati tumbuh sebesar itu.

Saat pintu terbuka, Talia yang kini berusia delapan tahun muncul.

Anak itu menatapnya cukup lama.

“Pak…”

Hadi langsung berlutut.

“Talia… maafin Bapak.”

Anak itu tidak menjawab.

Ia hanya memanggil ibunya.

Nurhayati keluar sambil melepas celemek.

Wajahnya tetap tenang.

“Ada apa?”

“Aku… aku salah.”

Nurhayati diam.

“Aku kehilangan semuanya.”

Ia menangis.

“Aku cuma mau minta maaf.”

Nurhayati memandang lelaki yang dulu begitu ia cintai.

Tak ada lagi kemarahan.

Yang tersisa hanya rasa asing.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”

Wajah Hadi sedikit berbinar.

“Kalau begitu… boleh aku pulang?”

Kalimat itu menggantung di udara.

Nurhayati menoleh ke arah Talia.

“Jawabannya bukan lagi dariku.”

Hadi memandang putrinya penuh harap.

“Talia… boleh Bapak pulang?”

Gadis kecil itu menggenggam tangan ibunya.

Lalu berkata dengan suara pelan yang justru terdengar sangat jelas.

“Rumah ini selalu terbuka buat tamu.”

Hadi tersenyum lega.

Namun kalimat berikutnya menghancurkan seluruh harapannya.

“Tapi seorang ayah seharusnya pulang saat anaknya masih menunggu. Sekarang aku sudah nggak nunggu lagi.”

Sunyi memenuhi halaman.

Tak ada satu pun orang yang berani bersuara.

Air mata Hadi jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia akhirnya memahami bahwa ada kesalahan yang masih bisa diperbaiki dengan uang, waktu, atau penyesalan.

Tetapi ada satu hal yang, ketika hilang, mungkin tidak akan pernah kembali.

Kepercayaan seorang anak.

Hadi melangkah pergi dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat ia meninggalkan rumah bertahun-tahun sebelumnya.

Dari balik jendela, Talia melihat sosok ayahnya semakin kecil hingga menghilang di ujung jalan.

Ia tidak menangis.

Ia hanya memeluk ibunya.

Nurhayati membalas pelukan itu erat.

Di atas papan nama usaha katering mereka tertulis sebuah kalimat kecil yang dipilih sendiri oleh Talia beberapa minggu sebelumnya.

“Rumah bukan tempat seseorang datang saat kehilangan segalanya. Rumah adalah tempat seseorang memilih untuk tidak pernah meninggalkan orang-orang yang mencintainya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang