Saat Airin masih menggerutu di belakangku, aku duduk perlahan di meja makan sambil mengusap perutku yang sudah memasuki usia tujuh bulan. Bayi di dalam kandunganku bergerak pelan, seolah ikut merasakan gejolak yang sedang kutahan. Aku menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku memutuskan berhenti menjadi perempuan yang selalu berkata “iya”.
Belum sempat aku menyuapkan nasi ke mulut, suara ibu mertuaku terdengar dari dalam kamar.
“Via! Mana makan malam Ibu? Kok belum diantar?”
Via langsung berteriak dari ruang televisi.

“Bu, Mbak Dewi nggak mau nganter!”
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka keras. Ibu mertuaku keluar dengan wajah penuh amarah. Anehnya, perempuan yang katanya sedang sakit itu berjalan begitu cepat tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.
“Dewi! Apa susahnya mengantar makanan ke kamar? Sejak kapan kamu jadi pemalas begini?”
Aku menatapnya tenang.
“Bukannya Ibu sedang sakit?”
“Iya!”
“Tapi Ibu masih kuat berjalan ke sini.”
Wajah beliau langsung berubah.
“Kamu berani membantah?”
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Airin ikut berdiri.
“Bu, dari tadi Mbak memang aneh. Disuruh setrika juga nggak mau.”
Aku meletakkan sendok.
“Airin, mulai sekarang setrika bajumu sendiri. Kamu sudah kuliah, bukan anak kecil lagi.”
“Enak saja!”
“Kalau begitu beli saja jasa laundry.”
Airin mendelik.
“Dasar pelit!”
Aku tersenyum tipis.
“Bukan pelit. Aku sedang belajar menghargai diriku sendiri.”
Kalimat itu membuat suasana rumah mendadak sunyi.
Selama tujuh tahun, tidak pernah sekalipun aku berbicara seperti itu.
Ibu mertuaku memukul meja.
“Kamu lupa siapa yang memberimu tempat tinggal?”
Aku mengangguk.
“Tidak. Justru aku ingat. Selama tujuh tahun aku tinggal di sini sambil memasak, mencuci, mengepel, menyetrika, membuat kue untuk menambah uang belanja, bahkan merawat semua orang ketika sakit. Tapi anehnya, aku tetap dianggap numpang.”
“Karena memang kamu menantu!”
“Benar. Menantu. Bukan pembantu.”
Tak ada yang menjawab.
Malam itu aku masuk ke kamar lebih cepat. Untuk pertama kalinya aku membiarkan piring-piring kotor tetap berada di wastafel.
Pukul sebelas malam, Arman pulang.
Aku mendengar suara ribut dari ruang tamu.
“Mas! Lihat tuh istrimu berubah!”
“Iya, Mas! Dia sekarang melawan Ibu!”
Tak lama kemudian pintu kamar dibuka.
Arman masuk dengan wajah dingin.
“Ada apa, Dewi?”
Aku masih duduk membaca buku kehamilan.
“Bukankah Mas sudah dengar ceritanya?”
“Aku ingin dengar darimu.”
“Aku hanya berhenti menjadi pembantu.”
Arman menghela napas.
“Jangan dibesar-besarkan.”
Aku tersenyum pahit.
“Kalau begitu mulai besok Mas yang mencuci piring.”
“Apa hubungannya?”
“Karena itu bukan tugasku seorang.”
“Kamu ibu rumah tangga.”
“Aku juga sedang hamil.”
Arman mulai kehilangan kesabaran.
“Selama ini baik-baik saja.”
“Karena selama ini aku diam.”
Kalimat itu membuatnya terdiam beberapa detik.
“Aku capek bekerja di luar.”
“Aku juga capek bekerja di rumah.”
“Kamu tinggal di rumah.”
“Aku bekerja sejak lima pagi sampai sebelas malam.”
Arman tidak bisa langsung membalas.
Aku melanjutkan.
“Mas pernah menghitung berapa kali aku duduk santai sehari?”
Ia diam.
“Mas pernah bertanya apa punggungku sakit?”
Diam lagi.
“Mas pernah mengantar aku kontrol ke dokter?”
Wajahnya mulai berubah.
“Mas sibuk.”
“Selalu sibuk.”
Aku mengambil map biru dari lemari.
“Ini hasil pemeriksaan terakhir.”
Arman membukanya.
Dokter menuliskan bahwa aku mengalami tekanan darah tinggi akibat kelelahan dan stres. Jika kondisinya tidak membaik, kehamilanku berisiko.
Tangannya sedikit gemetar.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Aku tertawa lirih.
“Aku sudah bilang berkali-kali. Tapi setiap kali aku bicara, Mas hanya bilang sabar.”
Arman tidak berkata apa-apa lagi malam itu.
Namun keesokan paginya semuanya kembali seperti biasa.
Tidak ada yang berubah.
Aku tetap mendengar suara Airin memanggil dari kamar.
“Mbak! Handukku mana?”
Via berteriak dari ruang tamu.
“Mbak! Buat kopi!”
Aku tersenyum sendiri.
Lalu aku mematikan kompor.
Hari itu aku tidak memasak.
Tepat pukul delapan pagi aku mengenakan gamis sederhana lalu pergi keluar rumah.
“Dewi!”
Arman menghentikanku.
“Mau ke mana?”
“Kontrol kandungan.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Aku sudah bilang seminggu lalu.”
Arman terdiam.
“Aku antar.”
“Tidak usah.”
Aku naik ojek daring sendirian.
Selesai kontrol, dokter memintaku banyak istirahat.
“Kalau Ibu terus kelelahan seperti ini, bayi bisa lahir prematur.”
Aku menggenggam hasil pemeriksaan itu erat-erat.
Saat keluar dari rumah sakit, aku melihat papan bertuliskan kelas membuat kue dan manajemen usaha rumahan.
Aku berhenti.
Sudah lama aku bermimpi membuka toko kue sendiri.
Dulu sebelum menikah, banyak orang memesan bolu buatanku.
Namun setelah tinggal bersama keluarga Arman, semua waktuku habis untuk mengurus mereka.
Tanpa banyak berpikir, aku langsung mendaftar.
Setiap pagi aku mulai mengikuti pelatihan.
Aku tidak lagi berada di rumah sepanjang hari.
Barulah kekacauan dimulai.
Piring menumpuk.
Lantai kotor.
Baju belum disetrika.
Airin terlambat kuliah karena seragamnya kusut.
Via mengeluh tidak ada makanan.
Ibu mertuaku akhirnya memasak sendiri.
Tiga hari kemudian Arman pulang lebih awal.
Ia melihat rumah berantakan.
“Kenapa begini?”
Ibunya langsung menunjukku.
“Sejak dia sibuk keluar rumah, semuanya kacau!”
Aku tersenyum.
“Baru tiga hari.”
“Maksudmu?”
“Selama tujuh tahun aku mengerjakan semuanya sendirian.”
Ruangan kembali sunyi.
Tak ada yang bisa menyangkal.
Seminggu kemudian aku mulai menerima pesanan kue lagi.
Tetangga yang dulu pernah menjadi pelanggan kembali berdatangan.
Dalam sebulan, penghasilanku bahkan melebihi gaji Arman.
Aku membeli oven baru.
Mixer baru.
Dan menyewa satu orang asisten.
Melihat itu semua, ibu mertuaku mulai berubah sikap.
“Dewi, kalau capek bilang ya.”
“Terima kasih, Bu.”
Airin juga mulai mencuci bajunya sendiri.
Via mulai membantu menyapu.
Namun hanya satu orang yang belum berubah.
Arman.
Ia tetap dingin.
Suatu malam aku melihat notifikasi masuk ke ponselnya ketika ia sedang mandi.
Bukan karena ingin mengintip, tapi layar ponselnya menyala di atas meja.
Pesan itu muncul begitu saja.
“Sayang, besok jadi makan siang?”
Dadaku sesak.
Nama pengirimnya perempuan.
Aku tidak membuka isi pesannya.
Saat Arman keluar dari kamar mandi, aku hanya bertanya pelan.
“Siapa Rani?”
Ia langsung terlihat gugup.
“Teman kantor.”
“Yang memanggil Mas dengan sebutan sayang?”
“Itu… bercanda.”
Aku menatap matanya.
“Mas yakin?”
Ia mengangguk terlalu cepat.
Sejak malam itu aku mulai memperhatikan.
Arman sering pulang larut.
Sering tersenyum sendiri saat melihat ponsel.
Dan mulai menjaga jarak dariku.
Sampai suatu sore aku menerima telepon dari nomor yang tidak kukenal.
“Apakah ini Ibu Dewi?”
“Iya.”
“Saya Rani.”
Jantungku berdetak keras.
“Ada apa?”
“Saya minta maaf. Saya baru tahu Mas Arman sudah menikah dan istrinya sedang hamil.”
Aku memejamkan mata.
“Lalu?”
“Dia bilang sedang proses bercerai.”
Tanganku gemetar.
“Saya tidak mau menjadi orang ketiga.”
Telepon terputus.
Aku tidak menangis.
Anehnya, air mataku tidak keluar sedikit pun.
Malam itu aku menyiapkan makan malam seperti biasa.
Saat semua berkumpul di meja makan, aku mengeluarkan sebuah map.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Semua menoleh.
“Aku akan pindah.”
Arman langsung berdiri.
“Maksudmu apa?”
“Aku sudah menyewa rumah kecil dekat tempat usahaku.”
“Kamu nggak bisa pergi begitu saja!”
“Kenapa tidak?”
“Kamu istriku!”
Aku tersenyum tenang.
“Baru ingat?”
Suasana berubah tegang.
“Aku sudah cukup menjadi menantu yang tahu diri selama tujuh tahun. Sekarang izinkan aku menjadi ibu yang tahu cara menjaga anaknya.”
Ibu mertuaku mencoba membujuk.
“Jangan emosi.”
“Aku tidak emosi, Bu. Aku hanya akhirnya sadar.”
Aku berdiri sambil membawa map itu.
“Di dalam sini ada semua catatan pengeluaran rumah selama tujuh tahun. Ada juga daftar uang hasil jualan kue yang selama ini kuberikan untuk kebutuhan rumah tanpa pernah meminta diganti.”
Arman membukanya.
Nominalnya membuat wajahnya pucat.
Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
“Aku tidak menagih semuanya,” kataku pelan. “Aku hanya ingin kalian tahu bahwa perempuan yang selama ini kalian anggap makan, minum, dan tidur gratis ternyata justru ikut menopang rumah ini.”
Tak seorang pun mampu menjawab.
Aku melangkah keluar dengan satu koper dan tangan yang mengusap perutku perlahan.
Di luar, langit mulai diguyur hujan.
Aku mengangkat wajah, membiarkan beberapa tetes air membasahi pipiku.
Entah itu hujan atau air mata, aku sendiri tak lagi peduli.
Yang kutahu, untuk pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu, langkahku terasa ringan.
Karena akhirnya aku mengerti satu hal yang sangat berharga.
Perempuan yang terus-menerus mengorbankan dirinya demi diterima orang lain hanya akan kehilangan harga dirinya. Namun perempuan yang berani menghargai dirinya sendiri, pada akhirnya akan menemukan tempat di mana ia benar-benar dihormati, bukan karena statusnya sebagai menantu, melainkan karena ia tahu bahwa dirinya memang pantas dihargai.
