Gara-Gara Dituduh Berbuat Mesum, Aku Dipaksa Menikah dengan Seorang Tukang Ojek. Jangankan Bahagia, Cinta Saja Tidak. Namun, Perlahan Aku Terkejut Setengah Mati Saat Mengetahui Pria yang Menikahiku Ternyata Seorang…

Gara-gara dituduh berbuat mesum, aku dipaksa menikah dengan seorang pengemudi ojek online yang bahkan tidak kukenal. Saat itu aku mengira hidupku sudah berakhir. Aku tidak pernah membayangkan bahwa laki-laki yang dipandang rendah oleh semua orang itu justru menyimpan rahasia yang akan mengubah hidupku selamanya.

Plak!

Suara tamparan itu masih menggema di halaman rumah ketika tubuh Rangga terhempas menghantam pilar joglo. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi ia tetap menundukkan kepala tanpa membalas sedikit pun. Aku menangis sambil memohon kepada Abah agar menghentikan amarahnya, namun tatapan beliau yang biasanya penuh kasih kini hanya menyisakan kekecewaan.

Tak lama kemudian, setelah berbicara panjang dengan Paman Zainul di samping makam almarhum ibu, Abah kembali menghampiri kami. Wajahnya tampak jauh lebih lelah daripada sebelumnya.

“Panggil penghulu lagi,” ucapnya lirih. “Kalau memang harus diperbaiki, malam ini juga.”

Aku membeku.

Rangga mengangkat wajahnya perlahan.

“Pak… kalau memang Mbak Rindu tidak menginginkan saya, saya siap pergi.”

Abah menatapnya tajam.

“Ini bukan soal kamu. Ini soal kehormatan anak saya.”

Malam itu akad diulang dengan Abah menjadi wali yang sah. Tidak ada pesta. Tidak ada senyum. Hanya tangisan, doa pendek, dan udara dingin yang terasa begitu berat.

Begitu ijab kabul selesai, Abah berkata tanpa menatap Rangga.

“Kamu boleh menjadi suaminya secara agama. Tapi sebelum saya benar-benar mengenalmu, jangan sentuh anak saya.”

Rangga mengangguk hormat.

“Insyaallah saya pegang amanah itu.”

Kalimat sederhana itu membuat semua orang terdiam.

Aku tinggal bersama Rangga di sebuah rumah kontrakan kecil yang ia sewa dekat kampusku. Rumah itu sederhana, bahkan terlalu sederhana untuk disebut nyaman. Atapnya bocor di beberapa bagian. Dindingnya mulai lembap. Motor yang ia gunakan untuk bekerja sebagai pengemudi ojek online menjadi satu-satunya harta yang terlihat berharga.

Hari-hari pertama dipenuhi keheningan.

Kami tidur di kamar yang sama, tetapi dipisahkan oleh gulungan kasur tipis yang ia letakkan di lantai.

“Aku tidur di bawah saja,” katanya setiap malam.

“Aku tidak meminta itu.”

“Tapi ayahmu meminta aku menjaga kehormatanmu.”

Aku tidak menjawab.

Semakin lama aku justru semakin bingung.

Setiap pagi Rangga bangun sebelum subuh. Ia memasak nasi, menyiapkan lauk sederhana, menyapu rumah, lalu berangkat bekerja setelah memastikan aku sudah sarapan.

Ia bahkan menyetrika bajuku.

Padahal aku sama sekali tidak pernah memintanya.

Suatu sore aku melihat tangannya penuh luka kecil.

“Itu kenapa?”

“Tergores waktu bantu orang dorong mobil.”

“Bayarannya berapa?”

Ia tersenyum kecil.

“Nggak dibayar.”

“Lalu kenapa dibantu?”

“Karena mereka butuh.”

Jawabannya membuatku kesal sekaligus heran.

Orang seperti apa yang masih sempat menolong orang lain saat hidupnya sendiri serba kekurangan?

Seminggu kemudian aku baru tahu bahwa setiap bulan Rangga rutin mengirim hampir seluruh penghasilannya ke sebuah panti asuhan.

Aku diam-diam melihat bukti transfer di ponselnya.

Nominalnya jauh lebih besar daripada uang yang ia gunakan untuk dirinya sendiri.

“Anak-anak itu keluarga?”

“Bukan.”

“Lalu kenapa?”

“Mereka pernah menyelamatkan hidup saya.”

Jawaban itu semakin membuatku penasaran.

Namun setiap kali kutanya lebih jauh, ia selalu mengalihkan pembicaraan.

Sementara itu, warga kampung masih terus memandang rendah dirinya.

“Kasihan anak Pak Kiai.”

“Padahal dulu banyak yang melamar.”

“Eh, malah dapat suami tukang ojek.”

Bisik-bisik itu terdengar hampir setiap hari.

Yang membuatku semakin heran, Rangga tidak pernah marah.

Ia hanya tersenyum.

Suatu siang, Abah datang mendadak ke kontrakan kami.

Beliau memeriksa seluruh isi rumah.

Melihat dapur.

Melihat kamar.

Bahkan memastikan kasur kami memang terpisah.

Tatapan Abah sedikit berubah.

“Kamu benar-benar tidak pernah menyentuh Rindu?”

“Tidak, Pak.”

“Kenapa?”

“Saya ingin beliau menerima saya karena pilihan hatinya, bukan karena keadaan.”

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu terjadi, Abah tidak langsung membalas.

Beliau hanya menghela napas panjang.

Sepulang dari kontrakan, aku mendengar Umik berkata pelan.

“Mungkin kita salah menilai anak itu.”

Namun tidak semua orang berpikir demikian.

Suatu malam, saat Rangga sedang bekerja, tiga orang pria mendatangi rumah.

Mereka mengaku keluarga dari pemuda yang dulu melamarku.

“Kami tahu laki-laki itu cuma pura-pura baik.”

“Sampai kapan keluarga Pak Kiai dipermalukan?”

Aku berusaha mengusir mereka.

Salah satu dari mereka justru mendorongku hingga hampir terjatuh.

Tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar dari belakang.

“Kalau mau bicara, bicara baik-baik.”

Rangga berdiri di depan pintu.

Ketiga pria itu tertawa.

“Tukang ojek sok jago.”

Salah satu dari mereka langsung memukul.

Aku menjerit.

Namun yang terjadi berikutnya membuatku terpaku.

Dalam hitungan detik, ketiga pria itu sudah terjatuh di tanah.

Gerakan Rangga begitu cepat.

Tidak brutal.

Tidak berlebihan.

Tetapi sangat terlatih.

Ia bahkan tidak terlihat kehabisan napas.

“Kalian pulang sebelum saya laporkan.”

Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat lalu melarikan diri.

Aku menatap Rangga dengan mata membesar.

“Kamu belajar bela diri?”

Ia tersenyum tipis.

“Sedikit.”

“Itu bukan sedikit.”

Ia tidak menjawab.

Sejak malam itu, kecurigaanku semakin besar.

Beberapa hari kemudian aku tanpa sengaja melihat sebuah kartu identitas jatuh dari tasnya.

Bukan kartu ojek online.

Bukan pula KTP.

Di sana hanya tertulis sebuah logo perusahaan keamanan internasional dan nama lengkapnya.

Rangga Pradana.

Senior Security Consultant.

Aku belum sempat membaca lebih jauh ketika ia mengambil kartu itu.

“Jangan dibuka dulu.”

“Kamu sebenarnya siapa?”

“Nanti kamu akan tahu.”

Jawaban itu membuatku semakin penasaran.

Seminggu kemudian sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan kontrakan kami.

Empat pria bersetelan jas turun bersamaan.

Mereka langsung membungkuk kepada Rangga.

“Maaf, Pak. Direksi meminta Bapak segera kembali.”

Aku membeku.

Tetangga yang sedang menyapu ikut melongo.

“Pak?”

Salah satu pria itu baru sadar aku berdiri di sana.

“Ibu… maaf. Kami kira Bapak sudah menceritakan semuanya.”

Rangga menghela napas.

“Bukan sekarang.”

Mereka pun pergi.

Aku memandang Rangga tanpa berkedip.

“Mereka memanggilmu Pak.”

Ia akhirnya duduk.

“Lima tahun lalu saya memang bekerja di sebuah perusahaan keamanan internasional.”

“Lalu kenapa sekarang jadi pengemudi ojek?”

“Saya memilih berhenti.”

“Kenapa?”

Ia menatap langit cukup lama.

“Karena satu keputusan saya membuat sahabat saya meninggal saat menjalankan tugas.”

Aku terdiam.

“Saya merasa tidak pantas lagi memimpin siapa pun.”

Selama bertahun-tahun ia mengasingkan diri.

Menjadi relawan.

Mengajar anak-anak panti.

Lalu bekerja sebagai pengemudi ojek karena ingin hidup sederhana.

Bukan karena miskin.

Melainkan karena ingin menebus rasa bersalahnya.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Untuk pertama kalinya aku melihat laki-laki itu menangis.

Bukan karena dipukul.

Bukan karena dihina.

Tetapi karena belum mampu memaafkan dirinya sendiri.

Hari demi hari hubungan kami mulai berubah.

Aku mulai menunggu kepulangannya.

Ia mulai berani bercanda.

Kami mulai salat berjamaah.

Aku mulai merasa nyaman.

Lalu tanpa kusadari, rasa yang dulu tidak pernah ada perlahan tumbuh.

Namun ujian belum selesai.

Suatu sore Abah mengalami serangan jantung saat memberikan ceramah.

Rumah sakit meminta tindakan operasi secepatnya.

Biayanya sangat besar.

Keluarga kami panik.

Paman Zainul bahkan berniat menjual sawah warisan.

Saat semua orang kebingungan, Rangga menyerahkan sebuah map kepada petugas administrasi.

Operasi langsung diproses.

Aku melihat angka yang tertera di layar pembayaran.

Seluruh biaya sudah lunas.

Aku menarik lengannya.

“Dari mana uang sebanyak itu?”

Ia hanya menjawab pelan.

“Itu tabungan terakhir saya.”

Belakangan aku baru mengetahui kebenaran yang jauh lebih mengejutkan.

Tabungan itu bukan hasil menjadi pengemudi ojek.

Melainkan hasil penjualan seluruh sahamnya di perusahaan keamanan yang dulu ia dirikan bersama sahabatnya.

Ia menjual semuanya tanpa berpikir dua kali demi menyelamatkan nyawa ayahku.

Saat Abah sadar setelah operasi, hal pertama yang beliau tanyakan adalah siapa yang membayar semua biaya rumah sakit.

Ketika mengetahui jawabannya, air mata beliau langsung jatuh.

Beliau meminta Rangga mendekat.

Dengan tangan yang masih lemah, Abah menggenggam erat tangan menantunya.

“Maafkan saya.”

Rangga langsung berlutut.

“Jangan begitu, Pak.”

“Tidak. Saya yang salah. Saya terlalu sibuk melihat pekerjaanmu, sampai lupa menilai akhlakmu.”

Ruangan itu dipenuhi tangis.

Aku ikut menangis.

Namun kejutan terbesar baru datang beberapa bulan kemudian.

Seorang pria tua datang dari Jakarta membawa sebuah koper tua.

Ia menyerahkan koper itu kepada Rangga.

“Ini wasiat terakhir almarhum Arga.”

Di dalam koper terdapat surat dari sahabat Rangga yang telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Isinya membuat semua orang terdiam.

“Aku sengaja mendorongmu keluar sebelum ledakan terjadi. Jangan pernah merasa bersalah. Yang menyelamatkanku justru adalah keputusanmu. Kalau suatu hari kau membaca surat ini, berhentilah menghukum dirimu sendiri. Hiduplah dengan bahagia.”

Rangga menangis tanpa suara.

Selama lima tahun ia menyiksa dirinya karena merasa menjadi penyebab kematian sahabatnya.

Padahal kenyataannya tidak pernah demikian.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kami menikah, ia menatapku dengan senyum yang benar-benar tulus.

“Aku rasa… sekarang aku sudah siap memulai hidup baru.”

Aku menggenggam tangannya.

Pernikahan yang dulu lahir dari fitnah, paksaan, dan air mata akhirnya berubah menjadi rumah yang dipenuhi kepercayaan.

Barulah saat itu aku benar-benar memahami satu hal.

Terkadang, manusia begitu mudah menghakimi seseorang dari pakaian, pekerjaan, dan keadaan hidupnya. Padahal nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh profesinya, melainkan oleh hati, tanggung jawab, dan cara ia memperlakukan orang lain ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang