“Firman sudah meninggal, sekarang kamu bukan menantuku lagi. Besok kamu harus tinggalkan rumah ini. Serahkan juga semua harta peninggalannya. Termasuk mobil dan motor,” ucap Ibu Mertuaku saat jasad suamiku baru saja dikuburkan

Ririn mematikan layar ponselnya perlahan. Dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak. Rekaman CCTV itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa firasatnya tidak salah. Ibu mertuanya dan Mbak Mega sama sekali tidak datang untuk mendoakan almarhum Firman. Mereka datang membawa niat merampas semua yang dimilikinya.

Namun kali ini Ririn memilih diam.

Semakin tenang wajahnya, semakin besar rasa percaya diri kedua wanita itu.

“Kalian mau bermain?” gumamnya lirih. “Baik. Aku yang akan menentukan akhir permainannya.”

Malam itu rumah besar dipenuhi suara tahlil. Tetangga, kerabat, dan teman-teman almarhum Firman datang silih berganti. Ririn menyambut mereka dengan ramah, seolah tidak terjadi apa-apa.

Ibu mertuanya bahkan berkali-kali memeluk beberapa tamu sambil menangis keras.

“Kasihan sekali saya. Anak laki-laki satu-satunya sudah meninggal. Sekarang saya cuma berharap menantu saya masih menganggap saya ibunya sendiri.”

Kalimat itu membuat banyak orang tersentuh.

Ririn hanya menatap dari kejauhan.

Andai mereka tahu apa yang baru saja didengar dari CCTV, mungkin mereka akan kehilangan simpati saat itu juga.

Setelah semua tamu pulang, rumah kembali sepi.

Pukul satu dini hari.

Ririn sengaja mematikan lampu ruang kerja sebelum masuk kamar. Ia sudah menghubungi Bayu, kepala keamanan kompleks yang telah bekerja untuk keluarganya sejak ayahnya masih hidup.

“Pak Bayu, malam ini tolong jangan cegah siapa pun yang keluar masuk ruang kerja. Tapi semua aktivitasnya harus direkam.”

“Baik, Bu Ririn.”

“Tidak perlu menangkap mereka.”

“Yakin, Bu?”

“Biarkan saja.”

Tak lama kemudian, seperti yang sudah diduga, dua bayangan keluar dari kamar tamu.

Ibu berjalan paling depan sambil membawa senter kecil.

Mega mengikuti dari belakang.

“Pelan-pelan. Jangan sampai ART ada yang bangun,” bisik Ibu.

“Mama yakin sertifikatnya disimpan di ruang kerja?”

“Iya. Orang kaya biasanya simpan di brankas.”

Mereka masuk ke ruang kerja.

Selama hampir empat puluh menit mereka membongkar seluruh isi ruangan.

Laci dibuka paksa.

Map-map berserakan.

Lemari arsip diacak-acak.

Namun mereka tidak menemukan apa pun.

Karena memang tidak ada.

Seluruh dokumen penting sudah dipindahkan Ririn ke safe deposit box bank sejak Firman dirawat di rumah sakit.

“Aneh…” gumam Mega.

“Tidak mungkin kosong.”

Ibu lalu melihat sebuah brankas kecil di sudut ruangan.

“Itu pasti.”

Mereka tersenyum puas.

Dengan obeng yang sudah dipersiapkan, mereka berusaha merusak kunci brankas.

Butuh hampir dua puluh menit sampai akhirnya pintu besi itu terbuka.

Namun isi di dalamnya membuat keduanya membeku.

Tidak ada sertifikat.

Tidak ada uang.

Hanya sebuah map merah bertuliskan “Perjanjian Pranikah.”

Mega membukanya.

Semakin dibaca, wajahnya semakin pucat.

“Bu…”

“Apa?”

“Semua harta atas nama Ririn adalah milik pribadi sebelum menikah.”

“Lalu?”

“Semua perusahaan keluarga juga bukan milik Firman.”

Ibu merebut berkas itu.

Tangannya gemetar.

Di halaman terakhir terdapat tanda tangan Firman.

Firman secara sadar menyatakan bahwa seluruh aset keluarga Ririn tidak pernah menjadi bagian dari harta bersama.

“Mustahil…”

Belum sempat mereka berkata lagi, lampu ruang kerja tiba-tiba menyala.

Mereka menoleh bersamaan.

Ririn berdiri di depan pintu.

Di belakangnya ada Pak Bayu dan dua petugas keamanan.

“Apa yang sedang kalian cari?” tanya Ririn dengan suara datar.

Mega langsung menyembunyikan map di belakang tubuhnya.

“Kami… kami cuma…”

“Cuma apa?”

Ibu berusaha tetap tenang.

“Kami dengar ada suara.”

“Jadi karena mendengar suara, Ibu merusak brankasku?”

Tak ada jawaban.

Ririn melangkah mendekat.

“Bagaimana? Ketemu sertifikatnya?”

Kedua wanita itu saling berpandangan.

Ririn mengangkat ponselnya.

“Atau kalian mau aku putar rekaman CCTV dari kamar tamu?”

Seketika wajah mereka berubah.

“Kamu… kamu memasang kamera?”

“Benar.”

“Kamu menjebak kami!”

Ririn tersenyum tipis.

“Bukan aku yang menjebak. Kalian sendiri yang masuk ke perangkap.”

Pak Bayu menyerahkan sebuah tablet.

Di layar terlihat seluruh rekaman percakapan mereka sejak pertama kali masuk kamar tamu.

Mulai dari rencana mengambil sertifikat hingga niat menggadaikan semua aset.

Tak ada satu kalimat pun yang terlewat.

Mega terduduk lemas.

Sedangkan Ibu masih berusaha membela diri.

“Itu cuma bercanda.”

“Bercanda?” Ririn menatapnya tajam. “Kalau begitu, biar polisi nanti yang menentukan apakah itu bercanda.”

Mendengar kata polisi, wajah Ibu langsung pucat.

“Jangan, Rin.”

“Kenapa? Bukankah kemarin Ibu sendiri yang bilang akan membawa semua ini ke jalur hukum?”

Keesokan paginya, acara tahlil kembali berlangsung.

Kali ini suasananya berbeda.

Di depan banyak tamu, Ibu mertuanya kembali mencoba memainkan peran sebagai korban.

“Ririn tega sekali. Kami diperlakukan seperti pencuri.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Namun sebelum gosip berkembang, Ririn berdiri.

“Maaf, Bapak Ibu. Sebelum ada kesalahpahaman lebih jauh, izinkan saya memperlihatkan sesuatu.”

Ia menyambungkan ponselnya ke televisi besar di ruang tamu.

Rekaman CCTV diputar.

Semua orang terdiam.

Suara Ibu yang ingin menguasai seluruh aset terdengar sangat jelas.

Begitu pula tawa Mega saat membicarakan rencana menggadaikan rumah.

Tangisan palsu Ibu beberapa menit sebelumnya langsung kehilangan makna.

Beberapa tamu menggeleng kecewa.

“Astaghfirullah…”

“Ada ibu seperti itu?”

“Tega sekali kepada menantunya.”

Ibu berteriak panik.

“Itu tidak benar!”

Namun tak seorang pun lagi mempercayainya.

Seorang paman Firman berdiri.

“Kak, sudah cukup. Jangan mempermalukan nama keluarga lagi.”

Mega menangis.

“Ibu, ayo pulang.”

Namun Ibu masih keras kepala.

“Tidak! Rumah ini seharusnya milik Firman!”

Saat itulah suara seorang pria terdengar dari arah pintu.

“Bukan.”

Semua orang menoleh.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk sambil membawa koper dokumen.

Namanya Hendra.

Pengacara pribadi ayah Ririn selama lebih dari dua puluh tahun.

“Maaf terlambat, Bu Ririn.”

Ririn mengangguk.

“Silakan, Pak.”

Pak Hendra membuka beberapa map.

“Beberapa hari sebelum meninggal, almarhum Firman datang ke kantor saya.”

Semua orang memperhatikan.

“Ia membuat surat pernyataan yang baru.”

Ibu mertuanya langsung menyela.

“Mustahil! Firman tidak pernah cerita.”

Pak Hendra tidak menggubris.

Ia mulai membaca isi surat.

“Dengan sadar dan tanpa tekanan dari siapa pun, saya, Firman Pratama, menyatakan bahwa seluruh kekayaan yang dimiliki istri saya, Ririn, sepenuhnya adalah hasil kerja keras keluarga istriku. Saya tidak pernah memberikan modal sedikit pun.”

Ruangan semakin sunyi.

Pak Hendra melanjutkan.

“Apabila suatu hari saya meninggal lebih dahulu, saya memohon kepada keluarga saya agar tidak mengganggu kehidupan Ririn. Seluruh kendaraan yang selama ini saya gunakan merupakan hadiah dari Ririn. Rumah yang kami tempati juga berdiri di atas tanah milik keluarga Ririn.”

Air mata Ririn jatuh.

Ia baru mengetahui keberadaan surat itu.

Pak Hendra masih belum selesai.

“Firman juga menitipkan sebuah pesan.”

Suara Pak Hendra berubah pelan.

“‘Ririn, kalau suatu hari kamu mendengar surat ini dibacakan, berarti aku sudah tidak ada. Maaf karena selama ini aku terlalu sering diam saat keluargaku menyakitimu. Aku pikir aku masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya. Ternyata aku salah. Jangan menyerahkan apa pun kepada siapa pun hanya karena merasa kasihan. Hiduplah bahagia. Itu satu-satunya permintaan terakhirku.'”

Tangis Ririn pecah.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia menangis tanpa mampu menahannya.

Firman ternyata mengetahui semua luka yang selama ini ia sembunyikan.

Ia hanya terlambat memperbaikinya.

Ibu mertuanya terduduk lemah.

Tidak ada lagi yang bisa diperdebatkan.

Semua bukti telah berbicara.

Sore itu juga mereka meninggalkan rumah dengan wajah tertunduk.

Tidak ada seorang pun kerabat yang mengantar.

Bahkan Mega yang sejak tadi menangis tidak berani menoleh ke arah Ririn.

Beberapa minggu berlalu.

Ririn memilih menjual mobil yang dulu sering dipakai Firman.

Bukan karena benci.

Ia hanya tidak sanggup mengingat setiap sudutnya.

Sebagian hasil penjualan disumbangkan untuk yayasan kanker, penyakit yang telah merenggut nyawa suaminya.

Sisanya digunakan membangun perpustakaan kecil atas nama Firman di sebuah sekolah desa.

Di pintu masuk perpustakaan itu hanya ada satu kalimat sederhana.

“Kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan selalu menemukan jalannya pulang.”

Suatu sore, saat Ririn selesai meresmikan perpustakaan itu, ponselnya berdering.

Nomor tak dikenal.

Saat diangkat, suara di seberang terdengar lirih.

“Rin… ini Ibu.”

Ririn diam.

“Ibu tidak menelepon untuk meminta apa pun.”

Suara wanita tua itu terdengar jauh lebih lemah dibanding beberapa bulan lalu.

“Ibu cuma mau bilang… ternyata kehilangan anak lebih menyakitkan daripada kehilangan harta.”

Ririn memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasakan kebencian.

Yang tersisa hanyalah rasa iba kepada seorang ibu yang baru menyadari kesalahannya ketika semuanya sudah terlambat.

Ia tidak mengucapkan maaf.

Ia juga tidak mengucapkan dendam.

Ia hanya menjawab pelan, “Semoga Ibu sehat.”

Telepon pun berakhir.

Ririn menatap langit senja yang mulai berubah jingga.

Ia akhirnya memahami satu hal.

Warisan terbesar yang ditinggalkan Firman bukanlah rumah, mobil, atau harta benda.

Melainkan keberanian untuk tidak lagi membiarkan siapa pun merampas harga dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang