“Kamu ini hanya orang luar, Tara. Rendi tidak punya kewajiban untuk menafkahimu,” ujar Mama mertuaku.

Aku hanya tersenyum tipis sambil menatap Mas Rendi. Tatapannya langsung berubah. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, kulihat wajahnya dipenuhi kebingungan.

“Maksud kamu apa?” tanyanya pelan.

“Apa selama ini kamu pernah memberiku uang belanja? Pernah memberiku uang bulanan? Atau bahkan sekadar bertanya apakah aku punya cukup uang untuk kebutuhan sehari-hari?” tanyaku balik.

Ruangan mendadak sunyi.

Mama mertuaku buru-buru menyela.

“Ngapain perempuan zaman sekarang minta uang terus? Kamu juga kerja, kan? Punya penghasilan sendiri.”

Aku mengangguk pelan.

“Benar, Ma. Aku bekerja. Tapi sejak menikah, semua biaya rumah tangga yang menjadi bagianku kubayar sendiri. Pakai uangku. Bahkan bahan makanan untuk acara syukuran Papa hari ini juga kubeli menggunakan tabunganku.”

“Bohong!” seru Nia.

“Kalau bohong, silakan cek rekeningku.”

Nia langsung terdiam.

Mas Rendi menatapku dengan dahi berkerut.

“Tunggu… bahan makanan tadi kamu yang beli?”

“Iya.”

“Bukannya Mama bilang semuanya dibeli dari uang keluarga?”

Aku tersenyum hambar.

“Itu yang selama ini kamu percaya.”

Mama mertuaku mulai gelisah.

“Rendi, jangan dengarkan omongan istrimu. Dia sengaja memecah belah keluarga.”

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas.

“Aku sudah capek dianggap pembohong.”

Kubuka aplikasi mobile banking. Satu per satu mutasi pembayaran muncul di layar.

Transfer ke toko daging.

Pembayaran supermarket.

Belanja sayur.

Pesanan bumbu.

Bahkan pembayaran dekorasi sederhana untuk acara syukuran.

Totalnya lebih dari delapan juta rupiah.

“Semuanya kubayar tiga hari lalu.”

Mas Rendi mengambil ponselku.

Semakin lama wajahnya semakin pucat.

“Ini… semuanya benar?”

Aku mengangguk.

“Mas bahkan tidak pernah bertanya dari mana makanan sebanyak itu berasal.”

Mama mertuaku buru-buru berkata,

“Itu kan memang tugas menantu!”

Aku langsung menoleh.

“Kalau memang tugas menantu, kenapa hasilnya selalu diakui sebagai pengorbanan Mama?”

Ruangan kembali sunyi.

Aku melanjutkan.

“Selama dua tahun aku tinggal di rumah ini, aku memasak setiap pagi, mencuci, membersihkan rumah, mengurus Papa saat sakit, mengantar Mama kontrol, bahkan membantu usaha keluarga. Tapi setiap kali ada orang datang, Mama selalu bilang semuanya dikerjakan oleh Mama dan Nia.”

Papa mertua yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Benar.”

Semua orang menoleh.

Papa menarik napas panjang.

“Yang paling banyak bekerja memang Tara.”

Mama langsung membantah.

“Pak!”

“Aku sudah tua, tapi mataku belum buta.”

Mama kehilangan kata-kata.

Papa melanjutkan dengan suara tenang.

“Setiap subuh Tara sudah bangun. Saat kalian masih tidur, dia sudah di dapur. Aku sering melihatnya.”

Nia mulai gugup.

“Itu… itu kan memang tugasnya sebagai menantu.”

Papa menggeleng.

“Bukan. Itu kebaikannya. Dan kalian memanfaatkannya.”

Kalimat itu membuat udara di ruang makan terasa semakin berat.

Mas Rendi memejamkan mata beberapa detik.

Lalu ia bertanya pelan kepadaku.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Aku tertawa kecil.

“Setiap kali aku bicara, kamu selalu bilang aku salah paham.”

Mas Rendi tidak bisa menjawab.

Aku kembali berbicara.

“Mas ingat bulan lalu waktu aku demam sampai hampir pingsan?”

“Iya.”

“Mama bilang aku pura-pura sakit.”

Wajah Mas Rendi berubah.

“Serius?”

Aku mengangguk.

“Waktu itu aku tetap memasak untuk seisi rumah. Setelah selesai, aku pingsan di dapur.”

Papa kembali mengangguk pelan.

“Aku yang menemukan Tara.”

Mas Rendi menatap Mamanya.

“Mama… benar begitu?”

Mama mulai menangis.

“Mama cuma ingin mendidik menantu supaya kuat.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

“Mendidik?”

Aku menatap langsung ke arah Mama.

“Apakah menyuruh seseorang bekerja tanpa makan namanya mendidik?”

Mama terdiam.

“Apakah mempermalukan menantu di depan keluarga besar namanya mendidik?”

Tidak ada jawaban.

“Apakah mengambil hasil kerja orang lain lalu mengaku itu hasil sendiri juga mendidik?”

Tangis Mama semakin keras.

Biasanya air mata itu selalu berhasil membuat Mas Rendi membelanya.

Namun kali ini berbeda.

Mas Rendi hanya diam.

Ia terlihat benar-benar sedang memikirkan semuanya.

Beberapa menit kemudian ia berkata,

“Tara… maaf.”

Aku menggeleng.

“Mas tidak perlu minta maaf kalau besok semuanya akan terulang lagi.”

“Aku janji tidak akan.”

Aku menatap matanya.

“Aku sudah terlalu sering mendengar janji.”

Aku berdiri dari kursiku.

“Mau ke mana?” tanya Mas Rendi.

“Pulang.”

“Ini juga rumahmu.”

Aku tersenyum pahit.

“Tidak pernah terasa seperti rumah.”

Aku masuk ke kamar, mengambil koper yang sebenarnya sudah kusiapkan beberapa minggu lalu.

Mas Rendi mengikuti dari belakang.

“Tara, jangan pergi.”

“Aku cuma ingin hidup dengan tenang.”

“Aku akan berubah.”

“Aku percaya orang bisa berubah.”

“Lalu?”

“Tapi perubahan itu butuh bukti.”

Aku menutup koper.

Saat keluar dari kamar, Mama masih menangis di ruang tamu.

“Kalau kamu keluar dari rumah ini, jangan harap bisa kembali!”

Aku berhenti sebentar.

“Ma, sejak awal saya tidak pernah benar-benar diterima di rumah ini.”

Aku melangkah keluar.

Tidak ada yang mampu menghentikanku.

Malam itu aku kembali ke apartemen kecil yang dulu kubeli sebelum menikah.

Tempat sederhana itu justru terasa jauh lebih hangat daripada rumah mewah keluarga Rendi.

Tiga hari berlalu.

Mas Rendi datang setiap hari.

Membawa bunga.

Membawa makanan.

Mengirim pesan panjang.

Namun aku belum siap bertemu.

Sampai suatu sore, Papa mertuaku datang seorang diri.

Beliau membawa sebuah map cokelat.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Aku mempersilakan beliau masuk.

Papa membuka map itu.

Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi rekening.

Aku melihat nama Mas Rendi.

Lalu nama Mama.

Transfer setiap bulan.

Jumlahnya hampir seluruh gaji Mas Rendi.

“Ini…”

“Selama ini Rendi tidak pernah punya uang.”

Aku mengernyit.

“Maksud Papa?”

“Semua penghasilannya masuk ke rekening Mamanya.”

Aku terdiam.

“Bahkan bonus tahunan.”

“Kenapa?”

Papa menghela napas panjang.

“Karena sejak kecil Rendi dididik bahwa anak laki-laki harus menyerahkan semua penghasilannya kepada orang tua.”

Dadaku terasa sesak.

“Tapi uang itu dipakai untuk apa?”

Papa tersenyum pahit.

“Itu pertanyaan yang juga baru kutemukan jawabannya.”

Beliau menyerahkan beberapa bukti transfer lain.

Transfer ke butik mewah.

Perhiasan.

Liburan.

Tas bermerek.

Perawatan kecantikan.

Tidak ada satu pun yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga.

Aku memandang Papa dengan tidak percaya.

“Jadi…”

“Mama menggunakan penghasilan anaknya untuk hidup mewah.”

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba semua kepingan teka-teki selama ini tersusun rapi.

Mengapa Rendi selalu bilang tidak punya uang.

Mengapa ia tidak pernah memberiku nafkah.

Mengapa setiap kali aku membeli sesuatu dengan uang sendiri, Mama selalu marah.

Karena selama ini mereka takut aku mengetahui satu kenyataan.

Bukan Rendi yang pelit.

Rendi hanyalah seorang anak yang selama bertahun-tahun dikendalikan oleh rasa bersalah kepada ibunya.

Seminggu kemudian, Mas Rendi datang lagi.

Kali ini wajahnya berbeda.

Ia menyerahkan sebuah kartu ATM.

“Apa ini?”

“Rekening baru.”

Aku menatapnya.

“Mulai bulan ini gajiku tidak masuk lagi ke rekening Mama.”

Aku diam.

“Aku juga sudah menyewa rumah kecil.”

Aku masih belum menjawab.

“Aku sadar selama ini aku gagal menjadi suami.”

Matanya memerah.

“Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku terlalu takut mengecewakan orang tuaku sampai lupa bahwa setelah menikah, kamu adalah tanggung jawab utamaku.”

Aku menatap pria yang berdiri di depanku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat seorang suami, bukan sekadar seorang anak.

“Aku tidak meminta kamu memilih antara aku atau ibumu,” kataku pelan.

“Aku hanya ingin kamu tahu siapa yang harus kamu lindungi ketika semua orang mulai menyakitinya.”

Air mata Mas Rendi jatuh tanpa suara.

Beberapa bulan kemudian kami pindah ke rumah sederhana kami sendiri.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun untuk pertama kalinya sejak menikah, aku bisa makan tanpa takut dihakimi, tersenyum tanpa dipermalukan, dan pulang tanpa merasa seperti orang asing.

Aku akhirnya mengerti satu hal.

Menjadi anak yang berbakti adalah sebuah kehormatan. Tetapi setelah seseorang menikah, bakti kepada orang tua tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hak pasangan. Sebab rumah tangga yang dibangun dengan kasih sayang, kejujuran, dan saling menghormati akan selalu lebih kuat daripada rumah yang dipertahankan hanya demi memenuhi tuntutan orang lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang