“Ma… tolong, Ma. Norma butuh lima ratus ribu rupiah buat bayar koperasi. Petugasnya nggak mau pergi kalau belum dibayar sekarang,” bisik Norma sambil menahan tangis.

“Sebenarnya yang mengambil uang ratusan juta milik Mbak Nadia adalah suami Mbak sendiri. Bukti CCTV sudah sangat jelas. Jadi sekarang keputusan ada di tangan Anda. Tetap lanjut jalur hukum, atau diselesaikan secara kekeluargaan.”

Ucapan polisi itu membuat dunia Nadia seakan berhenti berputar.

Tangannya yang semula menggenggam meja langsung gemetar. Wajahnya memucat. Ia menoleh perlahan ke arah Raka yang sejak tadi berdiri di sudut ruang tamu. Suaminya itu tidak lagi berani menatap matanya.

Air mata Nadia tidak langsung jatuh.

Yang muncul lebih dulu justru rasa hampa.

Selama beberapa hari terakhir ia sudah menuduh ibu mertuanya, Norma, bahkan sempat berpikir ada orang luar yang masuk ke rumah. Ia rela bolak-balik ke kantor polisi, meminta rekaman CCTV dari lingkungan perumahan, hingga akhirnya semua fakta terbuka.

Ternyata pelakunya adalah laki-laki yang selama ini tidur di sampingnya.

“Pak… apa benar?” suara Nadia hampir tak terdengar.

Polisi mengangguk pelan.

“Dalam rekaman terlihat jelas suami Mbak mengambil koper berisi uang itu saat Mbak sedang bekerja. Tidak ada tanda-tanda pembobolan. Setelah itu beliau pergi menggunakan mobil pribadi.”

Ruangan menjadi sunyi.

Raka masih diam.

Norma yang sejak tadi berdiri di belakang ibunya mendadak pucat.

“Apa maksudmu, Ka?” tanya Norma dengan suara bergetar.

Raka mengusap wajahnya berkali-kali.

“Aku… aku cuma pinjam.”

Nadia tertawa pelan.

Namun tawa itu terdengar jauh lebih menyeramkan daripada tangisan.

“Pinjam?” ulangnya lirih.

“Itu uang tabungan kita delapan tahun, Raka. Uang buat beli rumah. Kamu sebut itu pinjam?”

Raka mulai menangis.

“Aku niatnya mau balikin.”

“Dengan apa?”

Tidak ada jawaban.

Polisi mempersilakan semua orang duduk.

“Silakan diselesaikan baik-baik. Kalau memang ingin damai, kami tidak akan melanjutkan proses. Tapi kalau korban tetap ingin membuat laporan, kami akan memproses sesuai hukum.”

Polisi lalu berpamitan.

Begitu pintu tertutup, Nadia langsung menatap suaminya.

“Sekarang bilang. Uangnya buat apa?”

Raka menunduk semakin dalam.

Tidak ada suara.

Norma mulai panik.

“Raka! Jawab!”

Lelaki itu menarik napas panjang.

“Aku… aku pakai buat nutup utang.”

“Utang apa?” bentak Nadia.

“Bukan utangku sendiri.”

Nadia mulai merasakan firasat buruk.

Raka menoleh pelan ke arah Norma.

“Mama…”

Norma langsung menggeleng cepat.

“Jangan libatkan Mama.”

“Mama yang minta.”

Ruangan kembali membeku.

Norma terlihat panik.

“Raka!”

“Aku capek bohong terus.”

Nadia merasa dadanya sesak.

“Apa maksudnya?”

Raka akhirnya mengangkat kepala.

“Selama tiga tahun terakhir aku diam-diam bayar semua utang Norma.”

Norma langsung menangis.

“Bukan begitu…”

“Sudah, Ma.”

Raka menutup mata.

“Semua sudah ketahuan.”

Satu per satu rahasia yang selama ini disimpan mulai keluar.

Ternyata sejak Norma terlilit utang koperasi keliling, rentenir, hingga pinjaman online, Raka selalu menjadi tempat terakhir yang dimintai bantuan.

Awalnya hanya lima juta.

Lalu sepuluh juta.

Kemudian dua puluh juta.

Setiap kali berhasil melunasi satu utang, Norma kembali meminjam di tempat lain.

Alasannya selalu sama.

Untuk kebutuhan rumah.

Untuk biaya sekolah cucu.

Untuk membantu Norma.

Padahal sebagian besar uang itu justru dipakai Norma membantu anak perempuan kesayangannya, Norma… eh, putrinya sendiri yang bernama Norma dalam cerita awal? Tidak. Raka segera menjelaskan.

“Sebenarnya hampir semuanya habis buat Siska.”

Nadia mengernyit.

“Siska?”

“Adikmu.”

Norma langsung menutup wajah.

Rupanya selama ini sang ibu diam-diam terus menyelamatkan kehidupan putri bungsunya yang tidak pernah berhenti berutang.

Setiap kali Siska menangis, Norma selalu luluh.

Setiap kali Siska dikejar penagih, Norma meminta uang kepada Raka.

Dan setiap kali Raka menolak, Norma akan menangis sambil berkata, “Kalau bukan kamu yang nolong, siapa lagi?”

Karena merasa kasihan kepada ibu mertuanya, Raka selalu mengalah.

Namun gajinya tidak lagi cukup.

Ia mulai menggunakan tabungan pribadi.

Lalu menjual motor.

Menggadaikan perhiasan.

Bahkan mengambil pinjaman bank.

Semua masih belum cukup.

Sampai akhirnya mata Raka tertuju pada koper berisi tabungan rumah milik Nadia.

“Aku cuma niat pakai sebentar…” katanya sambil menangis.

“Tapi utangnya terlalu banyak.”

Nadia menatap kosong.

“Berapa sebenarnya total utangnya?”

Raka mengeluarkan map lusuh dari tas.

Nadia membukanya.

Tangannya langsung lemas.

Total utang yang dibayar Raka selama tiga tahun mencapai hampir satu miliar rupiah.

Semua tercatat.

Tanggal.

Nominal.

Nama koperasi.

Nama rentenir.

Transfer bank.

Bukti pembayaran.

Tidak ada satu pun yang menggunakan uang untuk dirinya sendiri.

Nadia perlahan mendongak.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Raka menangis seperti anak kecil.

“Aku malu.”

“Malu sama siapa?”

“Sama kamu.”

“Kenapa?”

“Aku takut kamu membenci Mama.”

Nadia menggigit bibirnya.

Selama ini ia selalu menganggap Raka suami yang bertanggung jawab.

Tidak pernah membeli barang mewah.

Tidak pernah berjudi.

Tidak pernah berselingkuh.

Ia bahkan sering lembur.

Kini semuanya masuk akal.

Lelaki itu bekerja siang malam hanya untuk menutup lubang yang tidak pernah selesai.

Sementara di sisi lain, Siska masih datang menangis setiap bulan.

Norma masih terus memohon belas kasihan.

Dan Raka terus memilih diam.

Tangis Nadia akhirnya pecah.

“Bodohnya kamu…”

“Aku tahu.”

“Bukan karena ambil uang.”

Raka menatap istrinya.

“Tapi karena kamu menanggung semuanya sendirian.”

Kalimat itu membuat Raka menangis semakin keras.

Norma yang melihat semuanya akhirnya berlutut.

“Maafkan Mama.”

Namun Nadia tidak lagi bisa langsung percaya.

“Selama ini Mama selalu bilang semua baik-baik saja.”

Norma terisak.

“Mama takut kehilangan anak.”

“Terus Mama tidak takut kehilangan kami?”

Tidak ada jawaban.

Suasana kembali hening.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Seorang laki-laki tua masuk bersama dua petugas bank.

“Nyonya Norma?”

Norma langsung pucat.

“Rumah ini sudah dijadikan jaminan.”

Semua orang terkejut.

“Apa?”

Petugas menunjukkan dokumen.

Ternyata enam bulan sebelumnya Norma diam-diam meminjam uang dengan menjaminkan sertifikat rumah atas namanya sendiri.

Uang itu kembali diberikan kepada Siska.

Namun Siska kembali gagal membayar.

Kini rumah tersebut akan dilelang.

Norma langsung jatuh terduduk.

“Rumah ini…”

“Sudah masuk proses penyitaan.”

Tangisan memenuhi ruang tamu.

Untuk pertama kalinya Siska yang sejak tadi bersembunyi di kamar keluar sambil menangis.

“Aku salah…”

Semua mata tertuju kepadanya.

“Aku kecanduan judi online.”

Kalimat itu membuat semua orang membeku.

Selama ini mereka mengira utang Siska berasal dari kebutuhan hidup.

Ternyata sebagian besar uang habis di aplikasi judi.

Setiap kali kalah, ia meminjam lagi.

Berharap menang.

Semakin kalah.

Semakin berutang.

Dan lingkaran itu tidak pernah berhenti.

Norma langsung menampar pipinya sendiri.

“Semua ini salah Mama.”

Ia menangis histeris.

“Mama yang selalu menolong tanpa pernah mengajarkan tanggung jawab.”

Nadia menutup mata.

Kini semuanya jelas.

Bukan hanya uang tabungan yang hilang.

Bukan hanya rumah impian yang gagal dibeli.

Yang benar-benar hancur adalah keluarga mereka sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Nadia mengambil keputusan yang paling sulit dalam hidupnya.

Ia mencabut laporan pidana terhadap Raka.

Namun ia mengajukan satu syarat.

Semua keuangan keluarga harus terbuka.

Tidak boleh ada lagi rahasia.

Siska wajib menjalani rehabilitasi karena kecanduan judi.

Norma harus menjual sebagian aset pribadinya untuk melunasi utang yang masih tersisa.

Dan Raka harus berhenti menjadi penyelamat semua orang dengan mengorbankan keluarganya sendiri.

Mereka memang kehilangan rumah impian.

Tabungan delapan tahun lenyap.

Mobil terpaksa dijual.

Mereka harus kembali tinggal di rumah kontrakan kecil.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada lagi kebohongan di antara mereka.

Suatu sore, saat Nadia dan Raka duduk di teras kontrakan sambil menikmati teh hangat, Raka memandang istrinya dengan mata yang masih dipenuhi rasa bersalah.

“Maaf karena aku membuat kita mulai dari nol lagi.”

Nadia menggenggam tangan suaminya.

“Tidak.”

Raka menatapnya bingung.

“Kita bukan mulai dari nol.”

“Lalu?”

“Kita mulai dari kejujuran. Dan itu jauh lebih mahal daripada rumah mana pun yang pernah ingin kita beli.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raka tersenyum.

Bukan karena semua masalah telah selesai.

Melainkan karena akhirnya mereka berhenti menyembunyikan luka, dan memilih menghadapi kenyataan bersama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang