Aku mengunci pintu kamar sambil tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, aku tidak lagi merasa bersalah karena memikirkan diriku sendiri. Selama ini aku selalu berusaha menjadi menantu yang baik. Bangun sebelum subuh, memasak, mencuci, membersihkan rumah, bahkan memenuhi semua keinginan Ibu dan Mbak Rita. Namun semua pengorbananku tidak pernah dianggap cukup. Semakin aku mengalah, semakin mereka menginjak harga diriku.
Aku menghabiskan makanan yang kubeli dengan tenang. Setelah itu semua bungkus makanan langsung kumasukkan ke dalam tas kain dan kubuang ke tempat sampah di ujung gang. Tidak ada bukti yang tersisa.
Sore harinya, seperti yang sudah kuduga, Mbak Rita mulai beraksi.

“Malik, tadi istrimu beli makanan mahal lagi. Dia makan sendiri di kamar. Aku sama Ibu cuma bisa lihat.”
Aku sedang melipat pakaian di ruang tengah ketika mendengar kalimat itu.
Mas Malik menatapku.
“Benar?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Mana buktinya?” tanyaku santai sambil balik menatap Mbak Rita.
Wajah Mbak Rita langsung berubah.
“Tadi… tadi bungkusnya masih ada.”
“Oh ya? Sekarang mana?”
Dia terdiam.
Aku tersenyum tipis.
“Kalau enggak ada bukti, jangan asal nuduh.”
Mas Malik terlihat bingung. Biasanya setiap laporan dari ibu atau kakaknya selalu langsung dipercaya. Kali ini tidak ada apa pun yang bisa menguatkan tuduhan mereka.
Malam itu untuk pertama kalinya Mbak Rita gagal membuatku dimarahi.
Sejak hari itu aku mulai mengubah banyak hal.
Aku tetap memasak, tetapi hanya untuk diriku dan Mas Malik. Kalau Ibu dan Mbak Rita ingin makan, mereka harus memasak sendiri. Aku juga tidak lagi mencuci pakaian mereka ataupun membersihkan kamar mereka.
Awalnya mereka mengira aku akan luluh setelah dimaki beberapa hari.
Ternyata tidak.
Rumah yang dulu selalu bersih mulai berantakan.
Piring menumpuk.
Baju kotor menggunung.
Ibu mulai mengeluh sakit pinggang karena harus menyapu.
Sementara Mbak Rita yang selama ini hanya tidur dan bermain ponsel mulai kesal karena harus mencuci bajunya sendiri.
Setiap hari mereka mengadu kepada Mas Malik.
Namun aku selalu menjawab dengan tenang.
“Aku juga bekerja. Aku punya pekerjaan dan penghasilan sendiri. Kalau pekerjaan rumah dibagi, aku siap. Tapi kalau semuanya dibebankan kepadaku sementara yang lain cuma duduk santai, aku enggak sanggup.”
Perkataanku membuat Mas Malik terdiam.
Mungkin baru kali itu dia benar-benar mendengarkan.
Seminggu kemudian aku menerima honor dari novel yang kutulis secara daring.
Jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kuduga.
Aku langsung membeli laptop baru agar pekerjaanku semakin lancar.
Saat paket datang, mata Mbak Rita berbinar.
“Wah… laptop baru? Mahal ya?”
Aku hanya tersenyum.
“Iya.”
“Kamu dapat uang dari mana?”
“Dari hasil kerja.”
Dia langsung cemberut.
Malam harinya, aku tanpa sengaja mendengar percakapan Ibu dan Mbak Rita dari dapur.
“Kalau Ana makin kaya, nanti Malik lebih nurut sama istrinya daripada sama kita.”
“Iya, Bu. Harus ada cara supaya Malik benci lagi sama Ana.”
Aku menghentikan langkah.
Ternyata dugaanku benar.
Selama ini mereka memang sengaja mengadu domba.
Aku segera menyalakan perekam suara di ponsel lalu mendekat pelan-pelan.
Suara mereka terekam dengan jelas.
“Bilang saja Ana pelit.”
“Kalau perlu bilang dia selingkuh.”
“Pokoknya Malik jangan sampai berpihak sama istrinya.”
Tanganku gemetar.
Aku akhirnya memiliki bukti.
Namun aku belum ingin menunjukkannya.
Aku ingin mereka membuka topeng mereka sendiri.
Beberapa hari kemudian Mbak Rita menjalankan rencana berikutnya.
Saat aku sedang mandi, dompetnya sengaja disembunyikan.
Dia langsung berteriak.
“Dompetku hilang! Pasti Ana yang ambil!”
Ibu ikut berteriak memanggil Mas Malik.
“Ana memang dari dulu suka aneh.”
Mas Malik langsung masuk ke kamar kami.
“Na, apa benar kamu ambil dompet Mbak Rita?”
Aku menggeleng.
“Silakan periksa semua barangku.”
Seluruh isi lemari dan tas diperiksa.
Tidak ada apa pun.
Mbak Rita mulai panik.
Dompet yang tadi dia sembunyikan ternyata sudah tidak ada di tempat semula.
Beberapa menit kemudian terdengar suara dari halaman.
“Permisi… ada dompet jatuh di depan pagar.”
Seorang tetangga menyerahkan dompet Mbak Rita.
Masih lengkap.
Tidak ada uang yang hilang.
Wajah Mbak Rita langsung pucat.
Aku hanya berkata pelan.
“Lain kali kalau mau memfitnah orang, jangan ceroboh.”
Mas Malik mulai memandang kakaknya dengan tatapan berbeda.
Untuk pertama kalinya aku melihat keraguan di matanya.
Hari-hari berikutnya suasana rumah berubah canggung.
Mas Malik mulai beberapa kali membantu mencuci piring.
Dia juga mulai bertanya apakah aku sudah makan.
Perubahan kecil itu membuat Ibu semakin gelisah.
Suatu malam aku kembali mendengar mereka berbicara.
“Kita harus usir Ana.”
“Kalau perlu bikin Malik menceraikannya.”
Aku kembali merekam semuanya.
Bukan hanya suara.
Kali ini aku memasang ponsel di balik rak sehingga seluruh percakapan mereka terekam dalam bentuk video.
Seminggu kemudian kesempatan itu datang.
Mas Malik pulang lebih cepat.
Saat itu aku sengaja membiarkan pintu dapur sedikit terbuka.
Ibu dan Mbak Rita tidak sadar.
Mereka sedang tertawa.
“Ana itu bodoh. Malik gampang sekali diputar.”
“Iya. Tinggal nangis sedikit, Malik langsung percaya.”
“Kalau Ana pergi, rumah ini jadi milik kita lagi.”
Mas Malik yang baru masuk rumah mendengar semuanya.
Langkahnya terhenti.
Aku tidak keluar.
Aku membiarkan dia mendengar sendiri.
Beberapa detik kemudian terdengar suara kursi bergeser.
Ibu dan Mbak Rita langsung terkejut melihat Mas Malik berdiri di belakang mereka.
Rumah mendadak sunyi.
“Jadi… selama ini semua yang Ana bilang benar?”
Tidak ada yang menjawab.
Mas Malik mengeluarkan ponsel.
“Aku sudah dengar semuanya.”
Aku keluar perlahan dari kamar.
Tanpa berkata apa-apa aku menyerahkan rekaman suara dan video yang selama ini kusimpan.
Mas Malik melihat satu per satu.
Semakin lama wajahnya semakin pucat.
Air matanya jatuh.
“Aku… aku sudah delapan tahun menyalahkan istriku.”
Aku tidak menjawab.
Hatiku terlalu lelah untuk mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya.
Mas Malik berlutut di depanku.
“Maafkan aku.”
Aku menarik napas panjang.
“Yang paling menyakitkan bukan dimarahi. Tapi ketika suami lebih percaya orang lain daripada istrinya sendiri.”
Mas Malik menangis.
Sementara Ibu mencoba membela diri.
“Itu semua cuma bercanda.”
Aku langsung memutar video terakhir.
Suara mereka memenuhi ruang tamu.
Tidak ada lagi alasan untuk mengelak.
Malam itu juga Mas Malik mengambil keputusan yang tidak pernah kubayangkan.
“Ibu… Mbak Rita… mulai besok kalian tinggal di rumah Tante Siska dulu.”
“Apa?”
“Aku butuh memperbaiki rumah tanggaku.”
Ibu menangis histeris.
Mbak Rita marah-marah.
Namun kali ini Mas Malik tidak bergeming.
Seminggu setelah mereka pergi, rumah terasa sangat berbeda.
Tidak ada lagi teriakan.
Tidak ada lagi fitnah.
Kami mulai belajar hidup sebagai pasangan, bukan sebagai anak yang selalu dikendalikan ibunya.
Mas Malik bahkan mulai ikut memasak pada akhir pekan.
Dia juga membaca novel yang kutulis.
Saat novel terbaruku terbit dan menjadi salah satu bacaan terlaris di platform digital, dia menjadi orang pertama yang membelikan buket bunga untukku.
“Terima kasih karena enggak menyerah sama kita,” katanya.
Aku tersenyum.
“Aku bukan bertahan karena rumah ini. Aku bertahan karena masih berharap kamu suatu hari membuka mata.”
Beberapa bulan kemudian aku bertemu Ibu dan Mbak Rita di sebuah pusat perbelanjaan.
Penampilan mereka jauh berbeda.
Mbak Rita kini bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket.
Ibu tampak lebih pendiam.
Saat berpapasan, mereka hanya menundukkan kepala.
Tidak ada lagi tatapan penuh kebencian.
Tidak ada lagi senyum sinis.
Mereka akhirnya merasakan bagaimana hidup tanpa orang yang selama ini mereka manfaatkan.
Di perjalanan pulang, Mas Malik menggenggam tanganku.
“Aku baru sadar. Rumah bisa hancur bukan karena orang asing, tapi karena kebohongan yang dibiarkan terlalu lama.”
Aku menatap jalanan yang mulai diterangi lampu malam.
Delapan tahun aku hidup dalam luka yang tidak pernah terlihat.
Namun ternyata, kebenaran memang tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk membuka semua topeng, lalu membiarkan setiap orang menuai akibat dari pilihan mereka sendiri.
