Aku menarik napas panjang sambil mengepalkan tangan. Rasa sakit di perut bercampur dengan sakit hati membuat air mataku hampir jatuh. Selama ini aku selalu berusaha menjadi menantu yang baik. Aku menahan lelah, menahan lapar, bahkan menahan sakit hanya demi menjaga hubungan dengan keluarga suamiku. Namun, yang kudapat hanyalah hinaan dan perlakuan semena-mena.
Aku melangkah mendekati ruang tamu.
Mama mertua yang pertama kali melihatku langsung terkejut.
“Lho, Tara? Bukannya kamu masih mencuci piring?” tanyanya gugup.
Aku memandang satu per satu wajah mereka.

Mas Rendi menutup laptopnya.
Nia menghentikan tawanya.
Perempuan yang duduk di samping Mama terlihat asing bagiku. Pakaiannya rapi dan membawa tas bermerek.
“Maaf mengganggu kebahagiaan kalian,” kataku pelan, “aku hanya ingin bertanya. Bukankah tadi Mama bilang tidak sanggup mencuci piring sendirian?”
Mama tersenyum canggung.
“Iya… tadi ada telepon penting.”
“Telepon penting sampai bisa duduk santai sambil minum teh dan tertawa?”
Suasana langsung hening.
Mas Rendi berdiri.
“Sudahlah, Tara. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatap suamiku dengan mata berkaca-kaca.
“Yang dibesar-besarkan siapa, Mas? Aku yang sedang menstruasi, perutku kram sampai hampir pingsan, tapi kalian meninggalkanku sendirian mencuci piring. Sekarang kalian bilang aku yang membesar-besarkan masalah?”
Nia mendecakkan lidah.
“Drama banget.”
Aku menoleh padanya.
“Kalau menurutmu ini drama, kenapa tadi kamu tidak membantu mencuci?”
“Aku ada tamu.”
“Lalu aku bukan manusia?”
Tidak ada yang menjawab.
Perempuan asing itu tampak tidak nyaman.
“Maaf… mungkin saya datang di waktu yang tidak tepat.”
Mama buru-buru menahannya.
“Tidak apa-apa, Bu Siska.”
Jadi namanya Bu Siska.
Aku mengangguk pelan.
“Oh… jadi tamu pentingnya Bu Siska.”
Bu Siska terlihat bingung.
“Sebenarnya… saya hanya datang mengantar proposal kerja sama katering.”
Aku mengernyit.
“Katering?”
Mama tersenyum bangga.
“Iya. Mama mau buka usaha katering.”
Aku hampir tertawa.
“Usaha katering?”
“Iya.”
“Dengan siapa yang memasaknya?”
Mama diam.
Aku memandang Mas Rendi.
“Jangan bilang… aku?”
Rendi mengalihkan pandangan.
“Tara, nanti kita bicarakan baik-baik.”
“Tidak. Jawab sekarang.”
Mama akhirnya berkata dengan santai.
“Memang rencananya begitu. Kamu kan pandai memasak. Sayang kalau kemampuanmu tidak dimanfaatkan.”
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.
“Jadi selama ini aku dipaksa memasak setiap hari bukan karena Mama membutuhkan bantuan?”
Mama tersenyum tipis.
“Anggap saja latihan.”
Hatiku benar-benar hancur.
Berarti semua yang kulakukan selama berbulan-bulan bukan karena kasih sayang keluarga, melainkan karena mereka sedang mengujiku menjadi koki gratis.
Aku memandang Rendi.
“Mas… kamu tahu semua ini?”
Rendi menarik napas.
“Mama cuma ingin usaha keluarga berjalan.”
“Dan aku pekerjanya?”
“Kita kan keluarga.”
“Keluarga?”
Aku tersenyum getir.
“Kalau keluarga, kenapa aku diperlakukan seperti pembantu?”
Tidak ada yang menjawab.
Bu Siska mulai terlihat semakin tidak nyaman.
“Maaf… saya benar-benar tidak tahu situasinya seperti ini.”
Aku mengangguk sopan.
“Ini bukan salah Ibu.”
Lalu aku kembali menatap Mama.
“Berapa gaji yang Mama siapkan untukku?”
Mama tertawa kecil.
“Lucu sekali. Mana ada menantu digaji.”
“Berarti aku bekerja gratis?”
“Namanya membantu keluarga.”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak, Ma. Membantu itu sukarela. Kalau dipaksa setiap hari tanpa dihargai, namanya eksploitasi.”
Wajah Mama langsung berubah.
“Kamu berani sekali bicara seperti itu.”
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Suasana semakin tegang.
Tiba-tiba pintu depan terbuka.
Papa mertua baru pulang dari mengantar tamu.
Beliau melihat semua orang berdiri dengan wajah tegang.
“Ada apa ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Papa memandangku.
“Tara, kenapa wajahmu pucat sekali?”
Aku berusaha tersenyum.
“Tidak apa-apa, Pa.”
Namun tiba-tiba pandanganku berkunang-kunang.
Tubuhku limbung.
Brak.
Aku jatuh pingsan.
Saat membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit.
Infus terpasang di tanganku.
Papa mertua duduk di samping tempat tidur.
“Tara… kamu sudah sadar?”
Aku mengangguk pelan.
“Papa…”
Dokter masuk beberapa saat kemudian.
“Ibu mengalami kelelahan berat, tekanan darah turun, dan nyeri menstruasi yang cukup parah. Seharusnya Ibu banyak beristirahat, bukan melakukan pekerjaan berat.”
Dokter melirik ke arah keluarga kami.
“Kalau dibiarkan, kondisinya bisa lebih serius.”
Mama menunduk.
Rendi tidak berani menatapku.
Setelah dokter keluar, Papa berdiri.
“Siapa yang menyuruh Tara mencuci piring?”
Tidak ada yang menjawab.
Papa mengulang dengan suara lebih keras.
“Siapa?”
Mama akhirnya berkata pelan.
“Saya.”
Papa menatap istrinya lama sekali.
“Lalu kamu tahu dia sedang sakit?”
“Iya.”
Papa memejamkan mata.
“Tapi kamu tetap menyuruhnya bekerja?”
Mama tidak menjawab.
Papa berbalik ke arah Rendi.
“Dan kamu sebagai suaminya membiarkan?”
Rendi menunduk.
“Saya salah, Pa.”
Papa menggeleng kecewa.
“Kamu bukan salah. Kamu gagal menjadi suami.”
Ruangan kembali sunyi.
Saat itulah Papa mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
“Aku sebenarnya sudah lama memperhatikan.”
Beliau membuka beberapa lembar kertas.
“Selama enam bulan terakhir, semua pengeluaran rumah dicatat oleh Tara.”
Aku terkejut.
Aku memang selalu mencatat belanja rumah.
Papa melanjutkan.
“Aku juga memperhatikan siapa yang benar-benar bekerja di rumah.”
Mama mulai gelisah.
Papa meletakkan catatan itu di meja.
“Yang memasak Tara.”
“Yang membersihkan rumah Tara.”
“Yang mencuci pakaian Tara.”
“Yang mengurus tamu Tara.”
“Lalu kalian bertiga mengerjakan apa?”
Tidak ada jawaban.
Papa menghela napas panjang.
“Aku pensiun bukan berarti aku buta.”
Mama mulai menangis.
“Mas… aku cuma…”
“Cukup.”
Papa menghentikannya.
“Selama ini kamu selalu mengeluh Tara malas. Ternyata justru kalian yang membiarkan menantu bekerja sendirian.”
Nia mencoba membela diri.
“Kami hanya…”
“Kamu diam.”
Suara Papa membuat semua orang terkejut.
“Ayah sudah terlalu lama diam.”
Beliau kemudian mengeluarkan satu dokumen lagi.
“Karena melihat Tara bekerja keras, sebenarnya Ayah sudah menyiapkan sesuatu.”
Aku memandang beliau bingung.
Papa menyerahkan map itu kepadaku.
“Ini surat pendirian usaha katering.”
Aku semakin bingung.
Papa tersenyum hangat.
“Usaha itu bukan milik Mama.”
Beliau berhenti sejenak.
“Itu milikmu.”
Semua orang membeku.
“Ayah diam-diam sudah menyewa tempat kecil, membeli peralatan, bahkan mengurus izinnya.”
Air mataku jatuh.
“Kenapa, Pa?”
“Karena Ayah melihat bakatmu. Masakanmu disukai semua tamu yang datang ke rumah.”
Mama langsung berdiri.
“Mas! Bukankah usaha itu untuk keluarga?”
Papa menatap istrinya tajam.
“Tidak.”
“Lalu untuk siapa?”
“Untuk Tara.”
Mama terdiam.
Papa melanjutkan.
“Kalau ada yang berhak menikmati hasil kerja keras Tara, orang pertama adalah Tara sendiri.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Papa menggenggam tanganku.
“Ayah kehilangan seorang anak perempuan bertahun-tahun lalu. Sejak kamu masuk ke rumah ini, Ayah selalu menganggapmu seperti anak sendiri.”
Tangisku pecah.
Rendi perlahan mendekat.
“Ra… maafkan aku.”
Aku menatapnya.
“Kamu menyesal karena aku sakit… atau karena Papa mengetahui semuanya?”
Rendi tidak mampu menjawab.
Pertanyaan itu cukup menjadi jawaban.
Seminggu kemudian aku pulang ke rumah.
Namun aku tidak kembali tinggal di sana.
Papa sendiri yang mengantarku ke ruko kecil yang telah beliau siapkan.
Beliau menyerahkan kunci.
“Mulailah hidupmu sendiri.”
“Kalau Mas Rendi?”
“Itu keputusanmu.”
Aku memandang langit sore.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa bisa bernapas dengan lega.
Dua bulan kemudian, kateringku mulai ramai.
Video tentang masakanku viral di media sosial.
Pesanan datang dari berbagai kantor dan acara keluarga.
Aku mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga yang membutuhkan pekerjaan dengan gaji yang layak.
Suatu sore, Rendi datang membawa setangkai bunga.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Waktu itu… aku terlalu takut mengecewakan Mama.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku sadar… aku justru mengecewakan istriku.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah jujur.”
“Apakah kita masih punya kesempatan?”
Aku memandang papan nama katering yang berdiri kokoh di depan toko.
Lalu aku menatap Rendi.
“Dulu aku kehilangan diriku sendiri karena ingin menjadi istri yang baik.”
Aku menarik napas panjang.
“Sekarang aku akhirnya menemukan diriku kembali.”
Aku melangkah masuk ke dalam dapur tanpa menoleh lagi.
Di belakangku, Rendi tetap berdiri memegang bunga yang perlahan layu di tangannya.
Hari itu aku memahami satu hal.
Tidak semua rumah yang kita tinggali pantas disebut rumah. Kadang, rumah yang sesungguhnya adalah tempat di mana kita dihargai, didengar, dan dicintai tanpa harus mengorbankan harga diri sendiri.
