Hanin tidak pernah menyangka bahwa hari ketika perempuan simpanan suaminya datang menginjak rumahnya sendiri justru menjadi awal dari runtuhnya semua kebohongan yang selama ini dipelihara Dewa.
Tubuhnya masih berada dalam gendongan suaminya ketika pintu rumah ditutup keras. Suara langkah kaki Jovita yang menjauh perlahan menghilang bersama isak tangisnya. Dewa membawa Hanin ke sofa ruang tamu dengan wajah dipenuhi kepanikan.
“Hanin, kita ke rumah sakit sekarang.”
Hanin membuka mata perlahan. Wajahnya memang pucat, tetapi kesadarannya masih utuh.

“Aku nggak apa-apa.”
“Kamu hampir jatuh.”
“Aku cuma pusing.”
Dewa menggenggam tangan istrinya erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sorot matanya dipenuhi rasa bersalah yang bahkan sulit disembunyikan.
“Maafin aku.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Hanin terasa sesak. Andai permintaan maaf mampu menghapus pengkhianatan, mungkin dunia sudah dipenuhi orang-orang yang hidup bahagia.
“Maaf karena apa?” tanya Hanin pelan.
Dewa menunduk.
“Aku salah.”
“Salah yang mana? Bohongnya? Selingkuhnya? Atau karena membawa perempuan itu sampai berani datang ke rumahku?”
Tak ada jawaban.
Kesunyian justru menjadi pengakuan paling jujur.
Hanin menarik napas panjang.
“Mas, aku capek.”
“Aku akan putusin semuanya. Aku janji.”
“Kamu sudah bilang begitu berkali-kali.”
Dewa membeku.
Memang benar. Berkali-kali ia berjanji mengakhiri hubungan dengan Jovita. Berkali-kali pula ia kembali mendatanginya.
Hanin berdiri perlahan.
“Aku mau istirahat.”
Baru beberapa langkah menuju kamar, tiba-tiba tubuhnya kembali limbung. Dunia di sekelilingnya berputar.
Dewa sigap menopang tubuh istrinya.
“Hanin!”
Pandangan Hanin benar-benar gelap kali ini.
…
Ketika sadar, aroma obat memenuhi penciumannya.
Lampu putih rumah sakit menyambutnya.
Di samping ranjang, Dewa duduk dengan wajah kusut.
Dokter wanita yang baru selesai memeriksa Hanin tersenyum tipis.
“Selamat ya, Pak.”
Dewa mengangkat kepala.
“Selamat?”
“Istri Anda hamil.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan Hanin sendiri terpaku.
“Hamil?”
Dokter mengangguk.
“Usianya masih sangat muda. Karena kondisi pasien kelelahan dan tekanan darahnya turun, tadi sempat hampir terjadi kontraksi ringan. Mulai sekarang jangan sampai stres berlebihan.”
Kalimat dokter terasa seperti petir bagi Dewa.
Matanya langsung berkaca-kaca.
Dia menggenggam tangan Hanin sambil menangis.
“Aku… aku jadi ayah.”
Namun Hanin tidak menunjukkan kebahagiaan seperti yang ia bayangkan.
Tatapannya justru kosong.
“Aku nggak tau harus senang atau sedih.”
Ucapan itu menusuk hati Dewa jauh lebih dalam dibanding tamparan apa pun.
…
Di sisi lain, Jovita pulang dengan wajah berantakan.
Ia membanting semua hadiah yang pernah diberikan Dewa.
Tas mahal.
Sepatu.
Jam tangan.
Buket bunga yang sudah mengering.
Semuanya dilempar tanpa sisa.
“Pembohong!”
Ia menangis histeris.
Selama hampir dua tahun, ia percaya bahwa Dewa benar-benar akan menceraikan Hanin.
Semua janji itu ternyata hanya omong kosong.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari teman kantornya masuk.
“Jo, tadi aku lihat Mas Dewa masuk rumah sakit sama istrinya.”
Jovita langsung berdiri.
Tanpa pikir panjang ia menuju rumah sakit.
…
Dari balik kaca ruang rawat, Jovita melihat pemandangan yang membuat seluruh dunianya runtuh.
Dewa sedang mencium kening Hanin.
Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan istrinya.
Tatapan penuh cinta yang dulu selalu ia terima kini diberikan kepada perempuan lain.
Tak lama kemudian dokter keluar sambil tersenyum.
“Selamat ya, Pak. Janinnya sehat.”
Janin.
Satu kata itu membuat napas Jovita tercekat.
“Hamil?”
Ia mundur beberapa langkah.
Air mata mengalir deras.
Selama ini Dewa selalu berkata Hanin mandul.
Ternyata semua itu dusta.
…
Sejak hari itu Dewa benar-benar menghilang dari hidup Jovita.
Nomornya diblokir.
Rumah hadiah anniversary diminta kembali.
Mobil yang selama ini dipakai Jovita ditarik leasing karena ternyata atas nama perusahaan Dewa.
Bahkan kartu kredit yang biasa digunakan mendadak tidak bisa dipakai.
Dalam hitungan hari, hidup mewah Jovita lenyap.
Barulah ia sadar.
Tak satu pun harta itu benar-benar miliknya.
Yang ia miliki hanyalah pinjaman yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.
…
Seminggu kemudian.
Hanin memutuskan pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu.
Ia membutuhkan ketenangan demi kandungannya.
Dewa mengantar dengan wajah muram.
“Kasih aku kesempatan.”
Hanin tersenyum tipis.
“Kesempatan memperbaiki rumah yang sudah kamu bakar?”
“Aku akan berubah.”
“Aku percaya orang bisa berubah.”
Wajah Dewa sedikit berbinar.
“Tapi aku belum tentu mau menunggu perubahan itu.”
Kalimat itu membuat Dewa kehilangan kata-kata.
…
Hari-hari berlalu.
Dewa benar-benar berubah.
Ia tidak lagi pulang larut.
Ia berhenti minum-minum bersama relasi bisnisnya.
Ia mulai salat berjamaah di masjid.
Bahkan setiap pagi ia mengirim makanan dan vitamin ke rumah mertuanya.
Namun Hanin tetap menjaga jarak.
Baginya, luka tidak sembuh hanya karena pelakunya menyesal.
…
Tiga bulan kemudian.
Jovita kembali muncul.
Kali ini bukan dengan pakaian mahal.
Ia datang mengenakan kemeja sederhana.
Wajahnya jauh lebih kurus.
Matanya sembab.
Hanin yang sedang duduk di teras sempat terkejut.
“Aku cuma mau minta maaf.”
Hanin diam.
“Aku baru tau semuanya.”
“Maksudmu?”
“Mas Dewa nggak cuma bohong ke Mbak.”
Jovita menyerahkan sebuah map cokelat.
Di dalamnya terdapat salinan pesan-pesan lama.
Rekaman suara.
Transfer uang.
Semuanya menunjukkan bahwa sejak awal Dewa sengaja membohongi dua perempuan sekaligus.
Ia mengatakan kepada Hanin bahwa Jovita hanya rekan kerja.
Sementara kepada Jovita ia berkata dirinya sedang dalam proses cerai.
“Aku memang salah karena mau jadi orang ketiga. Tapi aku juga dibohongi.”
Air mata Jovita jatuh.
“Aku pikir dia benar-benar akan menikahi aku.”
Hanin memandangi perempuan itu lama.
Untuk pertama kalinya ia melihat Jovita bukan sebagai musuh.
Melainkan perempuan yang sama-sama terluka.
…
Malam harinya Hanin memanggil Dewa.
Ia meletakkan map itu di atas meja.
Dewa hanya mampu menutup wajahnya.
“Aku nggak punya pembelaan.”
“Kamu berhasil menghancurkan hidup dua perempuan sekaligus.”
Dewa menangis.
“Aku tau.”
“Kamu tau kenapa aku paling kecewa?”
Dewa menggeleng.
“Karena aku hampir membenci perempuan yang ternyata sama-sama jadi korban.”
Ruangan kembali sunyi.
Tak ada lagi amarah.
Yang tersisa hanya penyesalan.
…
Enam bulan kemudian.
Tangisan bayi memenuhi ruang bersalin.
Seorang bayi laki-laki lahir dengan sehat.
Dewa menangis sambil menggendong putranya.
Namun Hanin tidak langsung memberikan senyum.
Ia hanya berkata pelan.
“Anak ini berhak tumbuh bersama ayah yang jujur.”
Dewa mengangguk berkali-kali.
“Aku janji.”
“Bukan ke aku.”
Dewa menatap bayi mungil itu.
“Ke dia.”
Air matanya kembali jatuh.
…
Setahun kemudian.
Dewa benar-benar menepati janjinya.
Ia meninggalkan jabatan yang membuatnya sering bepergian dan memilih membangun usaha yang lebih sederhana agar memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.
Hubungannya dengan Hanin perlahan membaik.
Bukan karena Hanin melupakan semuanya.
Melainkan karena setiap hari Dewa membuktikan bahwa penyesalan tanpa perubahan hanyalah kebohongan baru.
Sementara itu, Jovita memilih pindah ke kota lain.
Ia memulai hidup dari nol tanpa bergantung pada siapa pun.
Sebelum pergi, ia sempat mengirim pesan kepada Hanin.
“Aku akhirnya mengerti. Yang paling menyakitkan bukan kehilangan laki-laki yang kita cintai, tapi kehilangan harga diri karena mencintai orang yang salah.”
Hanin membaca pesan itu sambil memandangi putranya yang sedang tertidur.
Ia tersenyum tipis.
Hidup memang tidak selalu memberi akhir yang indah kepada semua orang.
Namun hidup selalu memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memilih menjadi lebih baik setelah hancur.
Dan terkadang, kemenangan terbesar seorang perempuan bukanlah berhasil mempertahankan seorang laki-laki, melainkan berhasil mempertahankan martabatnya ketika seluruh dunia berusaha merampasnya.
