“Sudah, jangan cemberut gitu. Mobilnya sudah bisa jalan,” kata Mas Pandu.

Kecemburuan itu merayap pelan, merusak kewarasan yang sejak tadi coba kujaga di balik senyum tipis di depan Bu Rara. Kartu ucapan di atas Vespa merah itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkanku pada kenyataan pahit. Mbak Katya, kakakku yang selama ini kupandang sebelah mata—yang bahkan mertuanya sempat dikabarkan kelayapan ke kebun demi mencari batang talas—ternyata dipinang oleh keluarga kaya raya yang memanjakannya luar biasa. Sementara aku? Hamil dalam kondisi menganggur, suaminya hanya pekerja biasa yang baru membeli mobil bekas bermasalah AC, dan yang paling mencekik, tumpukan hutang pada Rachel terus menghantui setiap detik hidupku.

Pesan singkat dari Rachel terpampang jelas di layar ponsel, membuat dadaku bergemuruh hebat. Rasanya aku ingin berteriak meluapkan kekesalan pada dunia yang terasa begitu tidak adil ini. Mengapa nasib Mbak Katya begitu mujur, sementara aku harus terjepit di antara kehamilan yang menuntut kenyamanan dan himpitan ekonomi yang kian mencekik?

“Disha, ayo masuk. Pengajiannya mau segera dimulai,” suara lembut Ibu Farah, ibu mertuaku, membuyarkan lamunanku.

Aku buru-buru menyembunyikan ponsel ke dalam tas, lalu memaksakan seulas senyum kaku. “Iya, Bu. Ini mau masuk.”

Acara pengajian sore itu berjalan khidmat, namun pikiranku sama sekali tidak di sana. Bayang-bayang kemewahan pernikahan Mbak Katya terus berkelebat di kepala. Sinden terkenal Niken Salindri, suvenir tumbler seharga tujuh puluh ribu rupiah, Vespa merah berpita besar, hingga suami tampan dan mapan bernama Sabda Priyangga. Semua itu berputar-putar menciptakan badai rasa iri yang kian pekat di dalam dada.

Begitu acara selesai dan kami kembali ke rumah, malam menyambut dengan udara gerah. Mas Pandu sudah duduk di ruang tamu sambil menyeruput kopi buatan sendiri, sementara aku langsung masuk kamar tanpa menyapa suaminya itu. Rasa kesal pada hidup ini seolah tumpah ruah padanya.

“Kenapa, Dis? Kok muka ditekuk lagi?” tanya Mas Pandu saat menyusulku ke kamar.

“Nggak apa-apa. Capek,” sahutku singkat sambil merebahkan badan di atas kasur kapuk yang tidak empuk.

“Besok kita harus ke bengkel pagi-pagi, servis AC mobil. Biar lusa pas acara pernikahan Katya, kita nggak kepanasan di jalan,” ucap Mas Pandu penuh perhatian.

Mendengar nama Katya disebut, emosiku langsung meledak. “Mas! Kenapa sih kita nggak bisa hidup kaya raya kayak keluarga suaminya Mbak Katya? Lihat tuh, suaminya arsitek kaya, mertuanya royal, dibeliin Vespa baru, pakai nyewa sinden terkenal segala! Kenapa aku harus terjebak hidup susah kayak gini sama kamu?”

Mas Pandu terdiam. Matanya menatapku lekat, ada kilat kekecewaan dan kelelahan yang terpancar jelas dari sana, namun ia memilih menelan semuanya mentah-mentah. “Aku sudah berusaha semampuku, Disha. Rezeki orang beda-beda.”

“Usaha tapi hasilnya nol besar! Hutangku di mana-mana, bentar lagi ditagih debt collector baru tahu rasa kamu!” teriakku frustrasi, sengaja memancing emosinya meski kutahu aku yang salah karena berhutang diam-diam.

Mas Pandu menghela napas panjang, menggeleng pelan, lalu keluar kamar begitu saja tanpa berdebat lagi. Sikap dinginnya justru membuatku semakin merasa tertekan. Malam itu aku tidur dengan air mata kekesalan yang terus mengalir.

Hari-hari menjelang pernikahan Mbak Katya berlalu dengan cepat. Suasana di rumah orang tuaku sudah sangat sibuk. Tenda besar telah berdiri kokoh, kursi-kursi berjejer rapi, dan aroma masakan khas hajatan mulai menguar dari dapur belakang. Aku datang bersama Mas Pandu dengan mobil bekas yang AC-nya sudah diperbaiki meski mesinnya masih sering ngadat.

Di teras rumah, Mbak Katya tampak begitu mempesona dalam balutan busana sederhana namun elegan. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan senyum manis—Sabda Priyangga. Melihatnya langsung secara nyata membuatku harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Tari memang benar adanya. Sabda sangat tampan, berkarisma, dan dari caranya memperlakukan Mbak Katya, terlihat jelas betapa ia sangat mencintai kakaknya itu.

“Disha, ke sini!” panggil Mbak Katya ramah saat melihatku datang.

Aku mendekat dengan langkah enggan, memasang senyum paling terpaksa di dunia ini. “Wah, pengantin baru sudah siap nih,” sindirku halus.

“Makasih ya, Dis, sudah datang bantuin. Oh ya, kenalin ini Sabda, suamiku,” kata Mbak Katya memperkenalkan suaminya.

Sabda tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. “Sabda, Disha ya? Sering diceritain sama Katya.”

Aku menyambut uluran tangannya sekadarnya. “Iya. Selamat ya buat kalian.”

Di tengah obrolan singkat itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik masuk ke halaman rumah dan parkir tepat di dekat tenda. Pintu mobil terbuka, dan sesosok wanita paruh baya berhijab rapi turun dari kursi penumpang depan. Degup jantungku seketika bergemuruh hebat saat mengenali wajah wanita itu.

Itu Bu Rara Dewi. Mertua dari klien katering ibu mertuaku, wanita kaya raya pemilik Vespa merah berpita besar.

Bu Rara berjalan mendekat dengan senyum hangat merekah di bibirnya. Tanpa diduga, ia langsung merentangkan tangan dan memeluk Mbak Katya erat-erat.

“Anak Mama sudah siap buat besok?” tanya Bu Rara lembut.

“Sudah, Ma,” jawab Mbak Katya tersipu malu.

Aku terpaku di tempat berdiri. Otakku berputar cepat mencerna situasi yang baru saja terjadi. Bu Rara… mertua Mbak Katya… adalah wanita yang sama yang kusebut-sebut sebagai klien katering ibu mertuaku beberapa hari lalu! Jadi, rumah estetik bergaya lama dengan garasi mewah dan Vespa berpita merah itu bukanlah rumah klien katering, melainkan rumah keluarga Sabda! Dan ibu mertuaku… sengaja membawaku ke sana untuk memperlihatkan bagaimana keluarga suami Mbak Katya hidup, atau… apakah ini semua sudah diatur?

Sebelum aku sempat bertanya, Ibu dan Bapak keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan Bu Rara dengan sangat akrab. Suasana kebersamaan itu terlihat begitu hangat, kontras dengan dinginnya hubungan rumah tanggaku sendiri.

Tiba-tiba ponselku bergetar hebat di dalam tas. Sebuah pesan masuk dari Rachel dengan nada ancaman yang lebih menakutkan. [Disha! Jangan lari ya lo! Kalau hari ini nggak dilunasi, gue datengin acara pernikahan kakak lo dan gue maluin lo di depan semua keluarga besar!]

Keringat dingin bercucuran di pelipisku. Panas mendadak menyerang seluruh tubuhku. Panik, takut, dan iri melebur menjadi satu di tengah keramaian pesta yang seharusnya membahagiakan itu. Aku melangkah mundur perlahan, berniat mencari Mas Pandu untuk meminta pertolongan terakhir, menyadari bahwa kesombongan dan rasa sirikku selama ini justru membawaku pada jurang kehancuran yang kubuat sendiri.

Namun, sebelum aku berhasil menemukan Mas Pandu, suara pengeras suara dari ponselku berdering keras karena panggilan masuk dari Rachel, tepat di saat semua orang—termasuk Bu Rara dan Sabda—menoleh ke arahku karena bunyi ringtone yang mencolok di tengah keheningan sesaat sebelum acara dimulai. Wajahku pucat pasi, seluruh pandangan tertuju padaku, dan detik itu juga aku menyadari bahwa rahasia terbesar dan kehancuranku telah resmi terbongkar di hadapan seluruh keluarga besar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang