Malam itu Dissa tidak langsung masuk ke dalam kontrakannya. Ia berdiri cukup lama di teras sempit sambil memandangi mobil Angga yang perlahan menjauh hingga menghilang di tikungan jalan. Hujan sudah berhenti, tetapi udara masih menyisakan aroma tanah basah yang entah mengapa terasa begitu menyesakkan.
Begitu pintu kontrakan tertutup, tubuhnya langsung lemas. Ia terduduk di lantai, memeluk kedua lututnya, lalu membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.
“Aku juga…”

Dua kata itu terus terngiang di kepalanya.
Ia membenci dirinya sendiri karena masih mampu mengucapkannya. Padahal kini ia tahu, cinta yang selama ini ia bangun berdiri di atas kebohongan seseorang.
Dissa mengambil ponselnya. Jemarinya sempat bergetar ketika membuka kembali foto profil WhatsApp milik perempuan bernama Inka.
Foto keluarga itu masih sama.
Angga sedang menggendong seorang anak perempuan kecil yang tersenyum begitu bahagia. Di sampingnya berdiri Inka sambil memeluk lengan suaminya.
Tidak ada tanda-tanda bahwa keluarga itu sedang retak.
Tidak ada tanda bahwa laki-laki dalam foto itu setiap hari juga mengatakan “Aku sayang banget sama kamu” kepada perempuan lain.
Dissa menutup matanya.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Angga, ia berdoa agar besok pagi ia bangun dan menyadari semuanya hanyalah mimpi buruk.
Namun kenyataan tetaplah kenyataan.
Pagi berikutnya Angga sudah mengirim pesan sejak pukul enam.
“Selamat pagi, Sayang. Jangan lupa sarapan.”
Biasanya Dissa akan langsung membalas dengan emotikon hati.
Hari ini tidak.
Ia hanya membaca, lalu meletakkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian pesan lain masuk.
“Kok diem?”
Masih tidak dibalas.
Lalu telepon berdering.
Dissa menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat.
“Halo.”
“Kamu sakit?”
“Nggak.”
“Terus kenapa dari tadi nggak jawab?”
“Lagi siap-siap kerja.”
“Oh…”
Suara Angga terdengar lega.
“Nanti malam aku jemput lagi ya.”
Dissa memejamkan mata beberapa detik.
“Nggak usah.”
“Lho, kenapa?”
“Aku mau pulang sendiri.”
“Habis marah ya?”
“Nggak.”
“Dissa…”
“Aku telat. Udah dulu.”
Telepon langsung ditutup.
Untuk pertama kalinya selama mereka bersama, Dissa menolak dijemput.
Di sisi lain kota, Angga menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
Perasaan tidak enak semakin kuat.
Sementara itu, Inka sedang menyiapkan bekal sekolah putrinya.
Anaknya yang baru berusia lima tahun berlari kecil menghampiri.
“Bunda…”
“Iya, Sayang?”
“Papa pulang malam terus ya?”
Inka berhenti mengoleskan selai.
“Iya.”
“Aku kangen.”
Kalimat sederhana itu terasa seperti pisau yang kembali mengiris hatinya.
Ia memeluk putrinya erat.
“Nanti Papa pulang.”
Namun bahkan dirinya sendiri tidak yakin kapan suaminya benar-benar pulang sebagai seorang suami.
Siang harinya, Dissa mengambil keputusan yang sejak semalam terus menghantuinya.
Ia menghubungi nomor Inka.
Jantungnya berdegup sangat keras ketika nada sambung mulai terdengar.
“Halo?”
Suara perempuan itu terdengar lembut.
Dissa mendadak kehilangan kata-kata.
“Halo?”
“…Maaf.”
“Ini siapa?”
“Apa… apa kita bisa ketemu?”
Hening beberapa detik.
“Memangnya ada perlu apa?”
Dissa menelan ludah.
“Saya… ingin menjelaskan sesuatu.”
Inka tidak langsung menjawab.
Entah mengapa, suara perempuan di seberang telepon terdengar seperti orang yang sudah mengetahui semuanya.
“Jam lima sore.”
“Kafe Melati.”
“Saya tunggu.”
Telepon terputus.
Sepanjang hari Dissa bekerja dalam keadaan linglung.
Sementara itu Angga terus mengirim pesan yang tidak dibalas.
Pukul lima sore.
Inka sudah duduk lebih dulu di sudut kafe.
Ia mengenakan blouse sederhana berwarna krem dan wajahnya tampak jauh lebih tenang daripada yang Dissa bayangkan.
Saat Dissa mendekat, keduanya saling menatap cukup lama.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada tamparan.
Tidak ada makian.
Hanya dua perempuan yang sama-sama terluka oleh laki-laki yang sama.
“Duduklah.”
Suara Inka sangat pelan.
Dissa langsung menunduk.
“Maaf.”
Hanya itu yang mampu keluar.
Inka tersenyum tipis.
“Kamu baru tahu?”
Air mata Dissa langsung jatuh.
“Iya.”
“Sudah berapa lama kalian bersama?”
“Hampir satu tahun.”
Inka mengangguk pelan.
“Lumayan lama.”
“Saya benar-benar nggak tahu kalau Mas Angga sudah menikah.”
“Aku percaya.”
Dissa menatap perempuan di depannya dengan bingung.
“Kok bisa percaya?”
“Karena kalau kamu tahu dari awal, kamu nggak mungkin datang ke sini.”
Kalimat itu membuat tangis Dissa pecah.
“Aku minta maaf…”
Inka mengambil tisu lalu mendorongnya ke arah Dissa.
“Aku sudah berkali-kali membayangkan hari seperti ini.”
“Maksudnya?”
“Aku cuma nggak nyangka perempuan itu ternyata kamu.”
Dissa mengusap air matanya.
“Kenapa Mbak nggak marah?”
Inka tersenyum pahit.
“Capek.”
Satu kata itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Aku sudah terlalu capek buat marah.”
Dissa hanya bisa menangis.
“Dia pernah janji mau nikahin aku…”
Inka mengangguk.
“Dulu dia juga bilang begitu waktu pacaran sama aku.”
Dissa terdiam.
“Laki-laki yang sama.”
“Kalimat yang sama.”
“Hanya perempuan yang berbeda.”
Tidak lama kemudian, ponsel Inka bergetar.
Nama Angga muncul di layar.
Inka memperlihatkannya kepada Dissa.
“Lihat.”
Telepon diangkat.
“Iya, Mas.”
“Sayang, aku lembur ya.”
“Jam berapa pulang?”
“Mungkin agak malam.”
“Kerja sama siapa?”
“Haha… ya sama tim lah.”
“Oke.”
Telepon ditutup.
Dissa menundukkan wajah.
Air matanya kembali jatuh.
Baru saja Angga berbohong kepada istrinya tanpa sedikit pun terdengar gugup.
Dan kemungkinan besar, jika sekarang ia menghubungi Dissa, laki-laki itu akan menggunakan alasan berbeda.
Benar saja.
Kurang dari lima menit kemudian ponsel Dissa bergetar.
“Aku lagi meeting. Jangan ngambek ya.”
Dissa memperlihatkan pesan itu kepada Inka.
Mereka saling memandang.
Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Semuanya sudah sangat jelas.
Malam itu mereka berbicara hampir dua jam.
Tentang bagaimana Angga berubah.
Tentang janji-janji yang selalu terdengar meyakinkan.
Tentang perhatian yang ternyata dibagi menjadi dua.
Saat hendak berpisah, Inka menggenggam tangan Dissa.
“Kamu masih muda.”
“Pergilah.”
“Jangan habiskan hidupmu untuk laki-laki yang bahkan tidak jujur pada dirinya sendiri.”
Dissa menangis sambil mengangguk.
Dua hari berikutnya Dissa benar-benar menghilang.
Nomor Angga tidak diblokir.
Namun semua pesan dibiarkan tanpa balasan.
Puluhan panggilan tidak diangkat.
Angga mulai kehilangan kesabaran.
Ia datang ke kantor.
Namun HRD mengatakan Dissa sedang cuti.
Ia mendatangi kontrakan.
Tetangga bilang Dissa sedang pulang ke rumah bibinya.
Untuk pertama kalinya Angga merasa benar-benar kehilangan kendali.
Seminggu kemudian sebuah pesan akhirnya masuk dari Dissa.
“Kita ketemu sekali.”
Angga langsung membalas.
“Di mana?”
“Taman kota.”
Malam itu Angga datang lebih awal.
Begitu melihat Dissa berjalan mendekat, ia langsung memeluknya.
“Kamu ke mana aja?”
Dissa melepaskan pelukan itu perlahan.
“Aku tahu semuanya.”
Wajah Angga langsung berubah pucat.
“Tahu apa?”
“Kamu punya istri.”
Tidak ada jawaban.
“Dan anak.”
Angga masih diam.
“Kamu mau jelasin apa lagi?”
Laki-laki itu akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Aku memang salah.”
“Tapi aku beneran cinta sama kamu.”
Dissa tersenyum getir.
“Lalu Inka?”
“Aku juga sayang keluarga.”
“Lalu aku?”
“Aku sayang kamu.”
“Kamu mau aku jadi apa?”
Angga menggenggam kedua tangan Dissa.
“Aku lagi cari jalan keluar.”
“Jalan keluar apa?”
“Aku…”
“Perceraian?”
Angga tidak menjawab.
“Kamu pernah bilang begitu ke istrimu?”
Hening.
Dissa mengangguk pelan.
“Aku sudah tahu jawabannya.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
“Ini apa?”
“Semua hadiah yang pernah kamu kasih.”
Angga tidak mengambilnya.
“Lalu ini.”
Dissa meletakkan sebuah cincin sederhana yang dulu diberikan Angga saat ulang tahunnya.
“Aku nggak bisa nerima lagi.”
“Dissa, jangan gini.”
“Aku nggak mau jadi alasan seorang anak kehilangan ayahnya.”
“Itu bukan salah kamu.”
“Tapi aku bisa memilih berhenti.”
Air mata Angga akhirnya jatuh.
“Kasih aku kesempatan.”
Dissa menatap laki-laki itu lama sekali.
“Aku pernah mencintaimu dengan seluruh kepercayaanku.”
“Tapi kepercayaan itu sudah habis.”
Ia berbalik.
Beberapa langkah kemudian suara Angga terdengar lagi.
“Aku benar-benar cinta sama kamu.”
Dissa berhenti tanpa menoleh.
“Cinta yang membuat seseorang harus berbohong setiap hari bukan cinta.”
“Itu ego.”
Lalu ia berjalan pergi.
Tidak pernah menoleh lagi.
Enam bulan berlalu.
Dissa pindah bekerja ke Surabaya setelah menerima promosi.
Ia mulai menjalani hidup baru.
Luka itu belum benar-benar hilang, tetapi tidak lagi menguasai hidupnya.
Suatu sore ia menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
“Terima kasih.”
Pengirimnya adalah Inka.
Dissa membalas singkat.
“Untuk apa?”
“Karena waktu itu kamu memilih pergi.”
“Aku akhirnya punya keberanian menghadapi hidupku sendiri.”
Beberapa bulan setelah pertemuan mereka, Inka memang memutuskan berpisah secara baik-baik dengan Angga. Bukan karena kehadiran Dissa, melainkan karena ia sadar kejujuran yang telah hilang tidak bisa dibangun kembali hanya dengan penyesalan.
Dissa membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.
Ia memandang langit senja dari jendela kantornya.
Dulu ia mengira kehilangan laki-laki yang dicintai adalah akhir dari segalanya.
Kini ia mengerti bahwa terkadang, melepaskan seseorang bukan berarti kalah.
Justru itulah cara paling berani untuk menyelamatkan diri sendiri, sekaligus menghentikan luka agar tidak diwariskan kepada hati perempuan lain.
