Aku menatap wajah Mas Arman beberapa detik tanpa berkata apa pun. Tangannya masih mencengkeram lenganku, seolah aku adalah anak kecil yang bisa dipaksa melakukan apa saja.
“Mas, lepaskan.”
“Ayo, Dewi. Jangan bikin masalah makin panjang.”
“Aku yang bikin masalah?”
Suamiku mengembuskan napas panjang, lalu melepaskan tangannya. Tatapannya menunjukkan rasa kesal.
“Ibu sudah tua. Masa kamu nggak bisa mengalah sedikit?”

Aku tersenyum tipis. Senyum yang bahkan terasa asing bagiku sendiri.
“Selama ini aku terus mengalah, Mas. Hasilnya apa?”
Ia tidak menjawab.
Aku melangkah menuju kamar ibu mertuaku dengan kaki yang terasa berat. Perutku yang sudah delapan bulan semakin sering terasa kencang. Setiap langkah membuat pinggangku nyeri. Namun, rasa sakit itu masih kalah dibandingkan luka di dalam hati.
Saat pintu kamar kubuka, kulihat ibu mertuaku sedang bersandar di ranjang. Di sampingnya duduk Via sambil memainkan ponsel. Airin juga ada di sana, memakan potongan buah tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Mereka semua menoleh bersamaan.
“Nah, akhirnya datang juga,” ucap ibu mertuaku dengan nada dingin.
Aku berdiri di depan pintu.
“Ibu memanggil saya?”
“Iya. Minta maaf.”
Aku mengernyit.
“Atas kesalahan apa?”
“Kamu membuat saya kelaparan sampai maag saya kambuh.”
Aku melirik Via.
“Tadi saya sudah meminta Via mengantar makanan.”
Via langsung berdiri.
“Aku? Mbak jangan fitnah deh. Mbak cuma bilang makanan sudah di meja. Mana pernah nyuruh aku.”
Aku memandang wajah adik iparku lama. Kebohongannya diucapkan tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Via.”
“Apa?”
“Kamu yakin mau terus berbohong?”
“Aku nggak bohong.”
Mas Arman langsung memotong.
“Sudahlah! Sekarang kamu malah menuduh Via.”
Aku menghela napas pelan.
“Tidak apa-apa.”
Aku menoleh kepada ibu mertuaku.
“Kalau memang Ibu merasa saya bersalah, saya minta maaf karena Ibu sampai terlambat makan. Tapi saya tidak meminta maaf atas sesuatu yang tidak saya lakukan.”
Wajah ibu mertuaku langsung berubah merah.
“Lihat! Bahkan minta maaf pun masih pakai syarat!”
“Ibu mau apa lagi?”
“Sujud di kaki saya.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku sempat mengira pendengaranku salah.
“Apa?”
“Sujud. Baru saya maafkan.”
Airin terkekeh pelan.
“Iya, Mbak. Toh Ibu lebih tua.”
Mas Arman ikut mengangguk.
“Turuti saja.”
Dadaku terasa sesak.
Aku memandang satu per satu wajah mereka. Tak ada seorang pun yang merasa permintaan itu berlebihan.
“Ibu.”
“Apa?”
“Saya menghormati Ibu sebagai orang tua.”
“Kalau begitu sujud.”
“Tapi saya hanya bersujud kepada Allah.”
Kalimat itu membuat ibu mertuaku membanting bantal ke arahku.
“Berani kamu melawan!”
“Aku tidak melawan.”
“Kamu merasa paling benar!”
“Saya hanya mempertahankan harga diri saya.”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipiku.
Bukan dari ibu mertuaku.
Mas Arman.
Aku terpaku.
Rasanya bukan hanya pipiku yang panas, tetapi seluruh tubuhku membeku.
“Apa sekarang puas?” bentaknya.
Via dan Airin hanya menonton.
Tak ada yang menghentikan.
Tak ada yang membelaku.
Air mata jatuh begitu saja.
Namun kali ini bukan karena sedih.
Ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
Entah keberanian atau mungkin rasa lelah yang sudah mencapai batas.
Aku mengusap sudut bibir yang mulai berdarah.
“Lagi?”
Mas Arman terkejut melihat reaksiku.
“Apa?”
“Kalau masih kurang, tampar saja sekalian.”
“Dewi…”
“Bukankah selama ini kalian memang menganggapku pembantu?”
Tak ada yang menjawab.
“Aku bangun paling pagi.”
Aku menunjuk dapur.
“Aku yang memasak.”
Lalu ke ruang tamu.
“Aku yang menyapu.”
Ke halaman.
“Aku yang mencuci.”
Ke kamar mandi.
“Aku yang membersihkan.”
Kemudian aku meletakkan tangan di atas perutku.
“Sambil mengandung anakmu.”
Suasana berubah hening.
“Tapi sekali saja terjadi sesuatu, aku langsung jadi orang paling jahat di rumah ini.”
Aku menatap Mas Arman.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?”
Ia terdiam.
“Kamu bahkan tidak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja.”
Aku berbalik keluar.
Tidak ada lagi yang ingin kudengar.
Sesampainya di kamar, aku mengunci pintu.
Tubuhku gemetar hebat.
Aku memeluk lutut di atas ranjang sambil menangis sejadi-jadinya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa benar-benar sendirian.
Tak lama kemudian ponselku berbunyi.
Nomor rumah sakit.
Aku segera mengangkat.
“Halo, Bu Dewi?”
“Iya.”
“Hasil pemeriksaan USG kemarin sudah keluar. Dokter meminta Ibu segera kontrol besok pagi.”
“Memangnya kenapa, Dok?”
“Posisi plasenta Ibu semakin turun. Risiko perdarahan cukup tinggi. Sebaiknya jangan terlalu banyak berdiri atau stres.”
Jantungku berdegup kencang.
“Kalau tidak segera ditangani?”
“Ada kemungkinan harus dilakukan operasi sesar lebih cepat.”
Aku memejamkan mata.
“Baik, Dok.”
Setelah telepon ditutup, aku hanya bisa menatap langit-langit kamar.
Operasi.
Biaya.
Bayi.
Sementara tabunganku hampir habis.
Selama menikah, hampir seluruh gajiku ikut dipakai untuk kebutuhan rumah.
Aku bahkan menjual sebagian perhiasan pemberian almarhum ibuku ketika adik Mas Arman membutuhkan biaya kuliah.
Tak seorang pun tahu.
Tak seorang pun peduli.
Keesokan paginya aku bangun lebih awal.
Bukan untuk memasak.
Aku justru mengambil map berisi semua dokumen.
Buku tabungan.
Slip gaji.
Surat hasil pemeriksaan kandungan.
Kartu BPJS.
Dan satu amplop cokelat yang selama ini kusimpan rapat.
Amplop itu berisi sertifikat rumah kecil peninggalan orang tuaku di kampung.
Rumah itu satu-satunya harta yang benar-benar masih atas namaku.
Tak pernah kuceritakan kepada keluarga suamiku.
Mereka selalu mengira aku perempuan miskin yang tidak punya siapa-siapa.
Aku keluar rumah tanpa membangunkan siapa pun.
Saat melewati ruang tamu, kudengar suara ibu mertuaku.
“Mau ke mana?”
“Ke rumah sakit.”
“Masak dulu!”
“Saya harus kontrol kandungan.”
“Bisa nanti.”
Aku berhenti.
Lalu menoleh.
“Tidak bisa.”
“Ibu lapar.”
“Via bisa memasak.”
“Via masih tidur.”
“Kalau begitu bangunkan.”
“Kamu yang bangunkan.”
Aku tersenyum tipis.
“Mulai hari ini, saya tidak akan memasak sebelum pulang dari rumah sakit.”
Wajah ibu mertuaku langsung berubah.
“Kurang ajar!”
Aku tetap berjalan.
Baru beberapa langkah, Mas Arman keluar dari kamar.
“Mau ke mana?”
“Kontrol.”
“Nanti saja.”
“Dokter meminta hari ini.”
“Aku kerja.”
“Aku bisa naik ojek online.”
“Tapi siapa yang masak?”
Aku menatapnya lama.
“Mas.”
“Apa?”
“Kalau aku meninggal saat melahirkan, siapa yang akan masak untuk keluarga ini?”
Pertanyaan itu membuatnya membeku.
Namun aku tidak menunggu jawabannya.
Aku pergi meninggalkan rumah.
Di rumah sakit, dokter menjelaskan kondisiku jauh lebih serius daripada yang kukira.
“Ada kemungkinan persalinan harus dilakukan dalam dua minggu.”
“Dua minggu?”
“Iya. Kalau tekanan darah terus naik, kami tidak bisa menunggu.”
Aku menggenggam hasil pemeriksaan dengan tangan gemetar.
Saat keluar dari ruang dokter, aku duduk di bangku lorong rumah sakit.
Air mataku kembali jatuh.
Namun kali ini seseorang tiba-tiba duduk di sebelahku.
“Maaf… apakah Mbak Dewi?”
Aku menoleh.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun tersenyum ramah.
“Apa kita saling kenal?”
Wanita itu mengangguk.
“Saya Bu Ratna.”
Aku mencoba mengingat.
“Maaf…”
“Saya tetangga lama orang tua Mbak.”
Aku membelalak.
“Rumah di kampung itu masih milik Mbak, kan?”
“Iya.”
Beliau tersenyum.
“Saya sudah lama mencari Mbak.”
“Kenapa?”
“Sebenarnya… ada seseorang yang ingin membeli rumah itu.”
Dadaku berdebar.
“Saya tidak berniat menjualnya.”
“Sebelum menolak, sebaiknya Mbak tahu dulu siapa yang ingin membelinya.”
“Siapa?”
Bu Ratna membuka tasnya perlahan, lalu menyerahkan sebuah kartu nama.
Tanganku langsung gemetar ketika membaca nama yang tercetak di sana.
Nama itu bukan nama orang asing.
Itu adalah nama seseorang yang selama ini kukira sudah menghilang dari hidupku selamanya.
Seseorang yang ternyata masih mencariku setelah bertahun-tahun.
