Motor yang kami kendarai akhirnya menepi di sebuah gang sempit yang hanya cukup dilalui dua sepeda motor berpapasan. Lampu-lampu neon temaram dari warung-warung pinggir jalan menyinari wajah lelah Rangga saat dia membuka helmnya. Udara malam terasa lembap dan pengap, berpadu dengan aroma debu jalanan kota yang tak pernah tidur.
“Turunlah, Rin. Kita bicarakan ini baik-baik di dalam,” ucap Rangga pelan, suaranya terdengar lelah namun tetap menyiratkan ketegasan yang membuatku semakin jengkel.

Aku menolak mengulurkan tangan kepadanya. Aku turun sendiri dengan kasar, menyentak jaket tipisku yang basah oleh keringat dan sisa air mata. Kosan Rangga hanyalah sebuah petak kamar berukuran tiga kali tiga meter di lantai dua sebuah bangunan tua. Tidak ada kasur empuk, hanya ada sebuah matras tipis berbalut seprai luntur, sebuah lemari plastik mungil, dan tumpukan buku-buku usang di sudut ruangan. Di sinilah pria yang kini resmi menjadi suamiku menghabiskan hari-harinya setelah lelah berkeliling menembus terik dan hujan demi beberapa lembar rupiah dari pesanan ojek online.
Begitu pintu tertutup, kesunyian langsung mencekam di antara kami. Aku duduk di tepi matras dengan melipat tangan di dada, sengaja membuang muka ke arah dinding bercat kusam.
“Kenapa kamu diam saja, Rangga? Puas sekarang? Keluargaku hancur, Abah mengusirku, dan aku terjebak dalam pernikahan bodoh ini dengan seorang pengemudi ojek yang bahkan tidak bisa menjamin makan malam kami!” teriakku, meluapkan seluruh emosi yang sejak tadi bergemuruh di dada.
Rangga tidak langsung membalas. Dia melepas jaket ojolnya yang kusam, menggantungkannya di balik pintu, lalu duduk bersila di lantai tepat di hadapanku. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang untuk ukuran seorang pria yang baru saja dihakimi oleh keluarga seorang kyai terpandang.
“Aku diam karena aku tahu kamu sedang terluka, Rin,” jawab Rangga dengan suara rendah yang justru membuat air mataku kembali mendesak keluar. “Tapi aku tidak menyesal mengambil keputusan tadi di depan Abah. Salah paham malam itu memang membuat kita berada di posisi yang sulit, tapi bukan berarti aku akan lari dari konsekuensi moral yang harus aku tanggung.”
“Konsekuensi moral? Jangan bersikap seolah-olah kamu pahlawan kesiangan!” potongku tajam. “Kamu tahu persis kenapa malam itu aku ada di teras rumahmu saat hujan badai. Motorku mogok, aku ketakutan karena hampir dijambret, dan aku hanya numpang berteduh. Tapi warga desa yang berpikiran sempit itu langsung menggerebek kita! Dan sekarang, hidupku hancur gara-gara asumsi murahan mereka!”
“Dan aku ada di sana, Rin. Aku ikut terseret dalam asumsi itu,” balas Rangga menatapku lekat-lekat. Ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang tidak biasa terpancar dari seorang pemuda biasa yang kesehariannya hanya mengantar makanan dan penumpang. “Aku tahu kamu membenciku. Kamu mengira aku pria miskin tanpa masa depan yang memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan perempuan berpendidikan sepertimu. Tapi dengar satu hal, Rindu… aku tidak pernah berniat menghancurkan hidupmu.”
Malam itu berlalu tanpa sisa kehangatan. Aku meringkuk di sudut matras dengan punggung membelakangi Rangga, sementara pemuda itu memilih tidur di lantai beralaskan selembar sajadah tipis. Di luar, suara deru motor sesekali masih terdengar, menemani malam panjangku yang terasa begitu sunyi dan menakutkan.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti neraka kecil bagiku. Tanpa sokongan finansial dan restu dari keluarga, aku harus membiasakan diri hidup dalam kesederhanaan ekstrem di kosan Rangga. Setiap pagi, sebelum subuh, Rangga sudah menyiapkan segelas air hangat dan nasi bungkus sederhana di atas meja kecil. Dia tidak pernah mengeluh, bahkan selalu pamit dengan senyuman, mencium punggung tanganku meskipun aku sering kali menariknya kembali dengan ketus.
“Aku berangkat dulu, Rin. Jangan lupa kunci pintu,” pamitnya suatu pagi saat aku sedang duduk termenung di depan jendela kecil yang menghadap langsung ke genting rumah tetangga.
Aku tidak menjawab. Kebencianku belum sepenuhnya luntur, meski perlahan ada rasa bersalah yang mulai merayap di lubuk hatiku melihat bagaimana kerja keras Rangga seharian penuh hanya untuk memastikan kami bisa makan dua kali sehari.
Hingga suatu siang, saat Rangga sedang keluar menarik orderan, ponselnya yang tergeletak di atas meja berdering nyaring. Layar kecil itu menyala, menampilkan sebuah panggilan video dari sebuah nomor dengan nama kontak yang membuat alisku berkerut.
Ibu Direktur.
Karena penasaran yang teramat sangat, jemariku bergerak sendiri menyentuh tombol hijau. Wajah seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan, mengenakan blazer mahal dengan perhiasan berlian yang berkilau, muncul di layar. Di belakangnya tampak interior sebuah kantor mewah berlantai marmer di kawasan segitiga emas Jakarta, lengkap dengan pemandangan pencakar langit ibu kota.
“Rangga, sayang! Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya? Ibu sudah bilang, proyek di Surabaya itu sudah beres, tapi tanda tanganmu tetap dibutuhkan untuk pengesahan akhir. Kapan kamu mau kembali ke kantor pusat dan berhenti dengan drama konyol keliling kota pakai motor matik itu?” suara wanita itu mengalir deras, penuh keibuan namun terdengar sangat berwibawa.
Aku tertegun, lidahku mendadak kelu. Napasku tertahan di tenggorokan.
“Halo? Rangga? Ini siapa yang pegang HP-nya? Halo?” suara di seberang sana mulai terdengar panik.
Dengan tangan bergetar hebat, aku mendekatkan ponsel itu ke wajahku. “Saya… saya Rindu.”
Suasana di seberang mendadak sunyi senyap. Wanita itu, yang kutahu kemudian adalah ibu kandung Rangga, menatapku lekat-lekat lewat layar kecil dengan ekspresi terkejut yang luar biasa.
“Rindu? Istri sah Rangga yang diceritakan oleh ayahnya dari pesantren itu?” tanyanya dengan nada suara yang melembut. Sebelum aku sempat menjawab, wanita itu tersenyum hangat, senyuman mahal yang memancarkan keanggunan kelas atas. “Ah, anak manis. Akhirnya Ibu bisa melihatmu. Maafkan ibu mertuamu ini yang baru sempat menghubungi. Anak itu memang keras kepala, sengaja menyamar jadi pengemudi ojek online di kota kecil tempat pesantren ayahmu berada hanya karena dia ingin mencari arti hidup yang sesungguhnya setelah lulus S2 di luar negeri.”
Dunia seolah berhenti berputar. Seketika itu juga, semua kepingan teka-teki berkelebat cepat di kepalaku. Jaket ojol kusam itu, motor Supra butut yang sering mogok, cara bicaranya yang terstruktur rapi, hingga ketenangannya saat dihakimi oleh Abah. Semuanya bukan karena dia seorang pemuda miskin tanpa masa depan. Melainkan karena dia adalah pewaris tunggal dari konglomerat besar pemilik jaringan logistik nasional yang sedang menyamar demi sebuah taruhan filosofis tentang kerendahan hati.
Pintu kosan tiba-tiba terbuka dari luar. Rangga berdiri di ambang pintu dengan jaket ojol yang separuh basah oleh keringat, membawa sebungkus nasi padang di tangan kanannya. Langkahnya terhenti seketika saat melihatku memegang ponselnya dengan tatapan kosong bercampur amarah dan keterkejutan yang luar biasa.
“Rin…” panggil Rangga pelan, suaranya bergetar saat menyadari rahasia besar yang selama ini disimpannya rapat-rapat akhirnya terbongkar.
Aku berdiri perlahan, melemparkan ponsel itu ke atas matras, lalu menatapnya tajam dengan air mata yang kembali tumpah—bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa tertipu yang teramat dalam.
“Jadi… semua ini cuma permainan buatmu, Rangga? Hidupku dihancurkan, keluargaku membuangku, aku diusir dengan hina… dan kamu tertawa di balik penyamaran bodoh ini?!” teriakku histeris, memukul dadanya bertubi-tubi sementara Rangga hanya bisa diam menerima setiap pukulan tanpa berusaha melawan sedikit pun.
“Aku tidak bermaksud mempermainkanmu, Rin,” bisik Rangga lirih, jemarinya perlahan menggenggam kedua pergelangan tanganku yang lemas. “Aku memang mencintaimu sejak pertama kali melihatmu di perpustakaan kota, jauh sebelum malam badai itu terjadi. Penyamaran ini… adalah caraku membuktikan pada Abahmu bahwa aku mampu mencintaimu bukan karena harta keluargaku, tapi karena aku benar-benar ingin menjadi pelindungmu dengan keringatku sendiri.”
Angin sore berhembus kencang menerpa jendela kosan yang terbuka, membawa serta aroma hujan yang sebentar lagi akan turun, menyisakan keheningan panjang di antara kami yang kini terikat oleh takdir yang jauh lebih besar dari yang pernah kami bayangkan.
