“Dua puluh miliar?”
Lututku langsung lemas. Tanganku yang memegang ponsel bergetar hebat, sementara Rangga masih menangis dalam pelukanku.
“Bu… apa Ibu tidak salah dengar?” suaraku nyaris tak keluar.
“Tidak, Jingga. Produser itu sudah menghubungi kantor sejak kemarin. Mereka membaca naskahmu melalui agen sastra yang pernah kami kirimi proposal bertahun-tahun lalu. Mereka ingin membeli hak adaptasi novelmu untuk dijadikan serial internasional. Nilainya dua puluh miliar rupiah.”
Air mataku kembali mengalir, tetapi kali ini bukan karena penghinaan.
“Kenapa baru sekarang, Bu?”

“Karena prosesnya panjang. Mereka baru selesai melakukan penilaian. Jingga, aku juga ingin menawarkan sesuatu. Kalau kamu bersedia, kembali bekerja. Posisi Editor Kreatif yang dulu kamu tinggalkan masih kosong. Kami semua tahu kemampuanmu.”
Belum sempat aku menjawab, suara keras Azam terdengar.
“Editor apa? Dua puluh miliar? Halah! Bohong! Jingga mana mungkin punya karya semahal itu!”
Bu Amira rupanya mendengar suara itu.
“Apakah suamimu ada di sana?”
“Iya, Bu.”
“Tolong nyalakan pengeras suara.”
Aku menuruti permintaannya.
“Selamat malam. Saya Amira, Direktur Penerbit Cahaya Nusantara. Saya hanya ingin memastikan bahwa Ibu Jingga dapat datang besok pukul sembilan pagi untuk menandatangani Letter of Intent dengan tim produser dari Singapura. Pembayaran uang muka akan langsung ditransfer setelah kontrak awal ditandatangani.”
Rumah yang tadi penuh bentakan tiba-tiba sunyi.
Azam menatapku dengan mata membelalak.
Dahlia yang sejak tadi bersandar manja di lengannya perlahan melepaskan pegangan.
“Terima kasih, Bu,” jawabku pelan.
“Dan satu lagi, Jingga. Hak cipta novel itu sepenuhnya atas namamu. Jangan sampai ada siapa pun memaksamu menandatangani dokumen yang merugikanmu. Kami sudah menyiapkan tim hukum untuk mendampingimu.”
Panggilan berakhir.
Ruangan masih membeku.
Beberapa detik kemudian, Azam mendadak tertawa.
“Sayang, kenapa dari dulu tidak bilang kalau novelmu sebagus itu?”
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
Baru beberapa menit lalu dia menghempaskanku ke lantai.
Sekarang nada suaranya berubah selembut kapas.
“Jingga… kita kan suami istri. Rezekimu ya rezekiku juga.”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Bukankah tadi kamu bilang aku pengangguran? Tidak punya nama? Tidak punya power?”
Wajah Azam langsung kaku.
“Ya… itu kan aku emosi.”
Dahlia buru-buru menyela.
“Mbak, aku sebenarnya juga tidak enak. Aku tidak tahu kalau kalian masih sedekat ini.”
Aku memandang perempuan itu.
“Tadi kamu bilang kalian sudah menikah siri.”
“I-iya…”
“Kalau begitu, selamat.”
Aku menggendong Rangga sambil mengambil tas kecil berisi perlengkapan bayi.
Azam langsung menghadang.
“Kamu mau ke mana?”
“Pergi.”
“Tadi kamu tidak mau pergi.”
“Benar. Karena tadi aku diusir. Sekarang aku pergi atas keinginanku sendiri.”
“Jingga… jangan begitu.”
“Aneh ya. Lima menit lalu kamu mengusirku. Sekarang kamu melarangku pergi.”
Azam mulai panik.
“Rumah ini tetap rumahmu.”
“Bukankah tadi kamu bilang rumah ini hanya milikmu?”
Tidak ada jawaban.
Aku berjalan melewati ibu mertua dan Alika.
Keduanya yang tadi tersenyum kini justru saling berpandangan.
“Jingga,” panggil ibu mertuaku.
Aku berhenti.
“Sudahlah, namanya juga rumah tangga. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menggeleng pelan.
“Kalau tadi Ibu sempat membela saya, mungkin saya masih percaya itu hanya masalah rumah tangga.”
Aku keluar dari rumah tanpa menoleh lagi.
Malam itu Bu Amira sendiri yang menjemputku bersama seorang staf perempuan.
Aku dan Rangga dibawa ke sebuah apartemen milik perusahaan yang selama ini dipakai tamu dari luar kota.
Aku akhirnya bisa tidur tanpa mendengar bentakan.
Keesokan paginya aku datang ke kantor.
Di ruang rapat sudah menunggu tiga orang asing bersama penerjemah.
Mereka menjelaskan bahwa novelku akan diproduksi menjadi serial delapan episode untuk platform streaming internasional.
Nilai kontraknya benar-benar dua puluh miliar rupiah.
Aku hampir tidak percaya ketika melihat angka-angka itu tertulis jelas.
Setelah menandatangani dokumen, uang muka sebesar lima miliar langsung masuk ke rekeningku.
Tanganku kembali gemetar.
Namun kali ini bukan karena takut.
Melainkan karena aku sadar bahwa hidupku benar-benar berubah.
Sore harinya, ponselku tidak berhenti berbunyi.
Lebih dari lima puluh panggilan dari Azam.
Puluhan pesan.
“Aku minta maaf.”
“Kita mulai dari awal.”
“Aku khilaf.”
“Aku tetap ayah Rangga.”
Aku tidak membalas satu pun.
Tiga hari kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.
Barulah aku mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan.
Ternyata Azam tidak benar-benar sesukses yang ia banggakan.
Perusahaannya memang berkembang cepat, tetapi seluruh operasionalnya dibiayai pinjaman bank.
Arus kasnya mulai bermasalah sejak beberapa bulan terakhir.
Bahkan sebagian besar aset yang dipamerkannya ternyata masih menjadi jaminan kredit.
Yang lebih mengejutkan lagi, nama Dahlia dipakai Azam untuk menarik investor.
Status artis perempuan itu dimanfaatkan sebagai wajah perusahaan.
Ketika media mulai memberitakan kontrak novelku, keadaan langsung berbalik.
Justru wartawan yang mulai mencari kehidupan pribadi Azam.
Dalam hitungan hari, foto-foto pernikahan siri mereka tersebar luas.
Publik mempertanyakan moral seorang pengusaha yang mengusir istri yang baru melahirkan.
Beberapa investor langsung membatalkan kerja sama.
Saham perusahaan mitranya ikut turun.
Dahlia lebih dulu angkat kaki.
Ia mengadakan konferensi pers.
“Saya juga korban. Saya tidak tahu kalau Pak Azam belum menyelesaikan urusan rumah tangganya.”
Azam benar-benar sendirian.
Seminggu kemudian ia datang ke apartemenku.
Wajahnya jauh berbeda.
Tidak lagi mengenakan jas mahal.
Tidak ada mobil mewah.
“Jingga… boleh aku masuk?”
“Ada apa?”
“Aku cuma ingin bertemu Rangga.”
Aku mengizinkannya.
Azam memeluk putranya sambil menangis.
“Ayah minta maaf.”
Rangga yang masih bayi tentu tidak mengerti.
Namun aku melihat air mata itu bukan hanya karena penyesalan.
Melainkan karena ia sadar semua yang dibangunnya sedang runtuh.
“Aku kehilangan investor.”
Aku diam.
“Aku kehilangan Dahlia.”
Aku tetap diam.
“Aku hampir bangkrut.”
Aku masih diam.
Lalu ia menatapku.
“Kalau kamu mau membantu perusahaan… kita masih bisa menyelamatkan semuanya.”
Aku tersenyum kecil.
“Azam.”
“Iya?”
“Waktu aku menangis sambil menggendong anakmu, kamu bilang air mataku tidak mempan.”
Ia menunduk.
“Sekarang, giliran air matamu yang tidak mempan.”
Aku menutup pintu perlahan.
Sidang perceraian berlangsung tiga bulan.
Di depan hakim, Azam berkali-kali meminta rujuk.
Namun semua bukti sudah cukup.
Rekaman penghinaan.
Foto pernikahan siri.
Kesaksian tetangga.
Bahkan hasil visum yang menunjukkan luka memar di lenganku setelah didorong malam itu.
Hakim mengabulkan gugatan cerai sekaligus menetapkan hak asuh Rangga berada di tanganku.
Azam diwajibkan memberi nafkah anak setiap bulan.
Beberapa bulan berlalu.
Serial yang diangkat dari novelku tayang serentak di beberapa negara Asia.
Namaku mulai dikenal.
Aku kembali menulis.
Satu novel.
Dua novel.
Tiga novel.
Setiap kali menerima penghargaan, aku selalu teringat malam ketika aku diusir sambil menggendong bayi.
Seandainya malam itu telepon Bu Amira tidak datang, mungkin hidupku memang akan sangat berbeda.
Suatu sore, setelah menghadiri peluncuran buku terbaru, aku melihat seorang pria sedang menyapu halaman gedung.
Aku mengenal wajah itu.
Azam.
Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di perusahaan yang dulu pernah ingin ia beli.
Ia juga melihatku.
Untuk beberapa detik kami saling diam.
Lalu ia menunduk.
“Aku benar-benar menyesal.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Wajahnya sedikit lega.
“Tapi memaafkan bukan berarti mengulang kesalahan yang sama.”
Aku menggandeng Rangga yang kini mulai belajar berjalan.
Anakku menoleh ke arah ayahnya lalu melambaikan tangan kecilnya.
Azam membalas lambaian itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Aku melangkah pergi tanpa rasa benci.
Karena akhirnya aku mengerti satu hal.
Orang yang benar-benar berharga tidak pernah menjadi kecil hanya karena diremehkan orang lain.
Dan terkadang, pintu yang ditutup dengan kejam justru menjadi jalan menuju kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang pernah kita bayangkan.
