Tujuh tahun pacaran LDR, wanita asal Semarang ini nekat menyita mobil kekasihnya setelah pernikahan mereka batal.

“Siapa… kamu?”

Cengkeraman pria itu begitu kuat hingga jemari Ariella terasa kebas. Namun, ia tidak berusaha melepaskan tangannya. Ia hanya menatap wajah penuh luka di hadapannya dengan tenang.

“Orang yang cukup bodoh untuk menyelamatkanmu,” jawabnya datar. “Kalau mau hidup, lepaskan tanganku.”

Pria itu mengamati wajah Ariella beberapa detik, seolah mencoba memastikan apakah perempuan di depannya merupakan kawan atau ancaman. Setelah itu, kekuatannya melemah. Tangannya jatuh di atas ranjang.

“Aku di mana?”

“Hotel.”

“Kenapa bukan rumah sakit?”

“Karena kamu sendiri yang memohon.”

Pria itu mengembuskan napas berat. Wajahnya menegang ketika mencoba bangkit, tetapi rasa sakit membuat tubuhnya kembali ambruk.

“Jangan bergerak,” kata Ariella. “Aku bukan dokter. Kalau ada tulangmu yang patah, aku tidak bisa memperbaikinya.”

Pria itu menutup mata sesaat. “Namaku Rendra.”

“Aku tidak bertanya.”

Sudut bibir Rendra bergerak tipis, entah hendak tersenyum atau menahan sakit. “Kamu selalu sedingin ini kepada orang yang hampir mati?”

“Aku baru saja dikhianati. Jadi, untuk sementara, semua laki-laki terlihat sama buruknya.”

Rendra membuka mata lagi. Kali ini tatapannya tidak setajam sebelumnya.

“Kalau begitu, nasibku buruk sekali ditemukan olehmu.”

“Nasibmu justru bagus. Kalau ditemukan orang lain, mungkin kamu sudah dibawa ke rumah sakit atau dibiarkan mati di jalan.”

Ariella berbalik menuju meja. Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu menyerahkannya kepada Rendra. Pria itu menerimanya dengan tangan gemetar.

Saat itulah ponsel di saku celana Rendra bergetar. Layarnya retak, tetapi masih menyala. Sebuah nama muncul berulang kali.

Pak Darmawan.

Rendra segera meraih ponselnya, lalu mematikan panggilan itu.

“Orang yang mencarimu?” tanya Ariella.

“Orang yang seharusnya tidak tahu aku masih hidup.”

Jawaban itu membuat Ariella terdiam. Ia mulai menyadari bahwa pria ini bukan korban perampokan biasa.

“Siapa yang menyerangmu?”

Rendra tidak segera menjawab. Ia menatap hujan di balik jendela tinggi kamar hotel.

“Orang-orang suruhan pamanku.”

Ariella mengangkat alis.

“Ayahku meninggal enam bulan lalu,” lanjut Rendra. “Ia meninggalkan perusahaan ekspedisi dan beberapa properti. Pamanku ingin mengambil semuanya. Aku menemukan bukti bahwa selama bertahun-tahun dia menggelapkan dana perusahaan. Malam ini aku seharusnya menyerahkan dokumen itu kepada pengacara.”

“Lalu mereka menghadangmu?”

Rendra mengangguk. “Mereka mengambil tas dan laptopku. Tapi bukti terpenting masih aman.”

“Di mana?”

Rendra menatap Ariella, kemudian menunjuk jam tangan hitam di pergelangan kirinya.

“Di dalamnya ada kartu memori.”

Ariella memandang jam tangan itu sekilas. “Kalau mereka tahu, mereka akan mengejarmu.”

“Mereka pasti sudah tahu aku belum ditemukan.”

Seolah membenarkan ucapannya, ponsel Rendra kembali bergetar. Kali ini pesan singkat muncul di layar.

Kami tahu kamu bersama seorang perempuan. Serahkan data itu sebelum tengah malam, atau dia ikut mati.

Wajah Ariella berubah. Ia langsung berdiri dan meraih jaketnya.

“Aku tidak mau terlibat.”

“Kamu sudah terlibat sejak membawaku ke sini.”

“Aku bisa meninggalkanmu sekarang.”

“Bisa,” jawab Rendra tenang. “Tapi kamera jalanan pasti merekam taksi yang kamu gunakan. Mereka akan menemukanmu lebih dulu sebelum kamu sempat pulang.”

Ariella menatapnya dengan marah. “Jadi, karena menolongmu, sekarang aku ikut diburu?”

“Aku minta maaf.”

“Aku tidak butuh permintaan maaf.”

Ariella berjalan mondar-mandir. Kepalanya sedang dipenuhi Cakra, Gisel, mobil yang dibeli dengan uangnya, dan kini seorang pria asing dengan masalah warisan bernilai miliaran rupiah.

Ia seharusnya pergi.

Namun, sebuah pikiran lain muncul. Selama tujuh tahun, ia selalu lari dari konflik. Ia memilih diam ketika Cakra meminta uang. Ia mengalah ketika Gisel meremehkan pekerjaannya di Korea. Ia terus percaya meski berkali-kali merasa ada yang janggal.

Malam ini, ia tidak mau lari lagi.

“Apa rencanamu?” tanyanya akhirnya.

“Aku harus menemui pengacaraku, Surya Pranoto.”

“Di mana?”

“Dia seharusnya menunggu di sebuah rumah kosong milik ayahku di daerah Candi.”

Ariella mengambil ponselnya. “Kita tidak menggunakan kendaraan yang sama. Dan kamu harus menyamar.”

Rendra memandangnya tak percaya. “Kamu mau membantu?”

“Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau ikut mati karena masalah orang lain.”

Satu jam kemudian, Rendra mengenakan pakaian yang dibeli Ariella melalui layanan antar. Topi, masker, jaket hitam, dan celana longgar menutupi sebagian besar tubuhnya. Ariella juga mengganti pakaiannya dan mengikat rambutnya.

Mereka keluar melalui lift servis, bukan lobi utama. Ariella memesan dua kendaraan berbeda. Ia berangkat lebih dulu, sementara Rendra mengikuti lima menit kemudian.

Namun, ketika Ariella tiba di depan rumah tua di kawasan Candi, firasat buruk segera menyergapnya.

Pintu pagar terbuka.

Lampu teras padam.

Sebuah mobil hitam terparkir tanpa pengemudi.

Ariella mengirim pesan kepada Rendra.

Jangan masuk. Ada yang tidak beres.

Belum sempat pesan itu terkirim, seseorang menarik tubuhnya dari belakang. Sebuah tangan membekap mulutnya.

“Jangan teriak.”

Ariella mengenali suara itu.

“Cakra?”

Pria itu melepaskan tangannya. Ariella berbalik dengan mata membelalak. Cakra berdiri di hadapannya, basah oleh hujan, wajahnya tampak panik.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ariella.

“Aku mengikuti mobilmu dari hotel.”

“Kamu mengikutiku?”

“Ariella, dengarkan aku. Kamu tidak tahu siapa laki-laki yang kamu selamatkan.”

“Dan kamu tahu?”

Cakra menatap ke arah jalan, memastikan tidak ada orang lain yang mendekat.

“Rendra Mahardika adalah anak pemilik Mahardika Logistik. Pamannya sedang mencarinya. Orang-orang itu berbahaya.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

Cakra tidak menjawab.

Saat itulah sebuah sedan berhenti tak jauh dari mereka. Rendra keluar dengan langkah pincang. Tatapannya langsung berubah tajam ketika melihat Cakra.

“Kamu,” desis Rendra.

Cakra mundur satu langkah.

Ariella menatap keduanya bergantian. “Kalian saling kenal?”

Rendra mengepalkan tangan. “Dia bekerja untuk pamanku.”

Dunia Ariella seakan berhenti.

Cakra segera menggeleng. “Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?” suara Ariella bergetar. “Kamu mengikuti aku sejak hotel karena ingin memastikan Rendra ditemukan?”

“Aku hanya diminta mencari tahu siapa perempuan yang membawanya.”

“Dengan bayaran berapa?”

Cakra terdiam.

Ariella tertawa hambar. “Jadi, uangku belum cukup untukmu? Kamu masih menjual informasi kepada penjahat?”

“Aku butuh uang untuk membayar utang.”

“Utang dari barang-barang mewah yang kamu belikan untuk Gisel?”

Wajah Cakra berubah pucat.

Rendra memandang Ariella, kemudian Cakra. “Dia kekasihmu?”

“Mantan,” jawab Ariella tegas.

Suara kendaraan mendekat dari ujung jalan. Dua mobil hitam memasuki halaman rumah. Cakra langsung menarik Ariella ke balik dinding.

“Mereka datang. Kita harus pergi.”

“Surya ada di dalam,” kata Rendra.

“Pengacaramu sudah ditangkap,” jawab Cakra. “Pamannya memaksa dia mengirim alamat ini.”

Rendra hendak bergerak, tetapi Cakra menahannya.

“Kalau kamu masuk, kamu mati.”

“Kenapa aku harus percaya kepadamu?”

“Karena aku tahu jalan keluar di belakang rumah.”

Mereka bertiga berlari melalui gang sempit di samping bangunan. Dari belakang terdengar teriakan dan langkah kaki. Ariella hampir terpeleset, tetapi Rendra meraih lengannya.

Mereka mencapai tembok rendah yang berbatasan dengan kebun kosong. Cakra melompati tembok terlebih dahulu, lalu membantu Ariella. Rendra menyusul meski luka di tubuhnya kembali terbuka.

Di ujung kebun terdapat sepeda motor tua milik penjaga rumah. Kuncinya masih tergantung.

“Hanya muat dua orang,” kata Cakra.

“Kamu bawa Rendra,” ujar Ariella. “Aku cari jalan lain.”

“Tidak,” kata Rendra. “Mereka mengejar dataku, bukan dia. Kamu ikut denganku.”

Cakra menatap Ariella. Untuk sesaat, kesedihan muncul di wajahnya.

“Aku akan mengalihkan mereka.”

Ariella menatap pria yang pernah dicintainya selama tujuh tahun itu. “Kenapa?”

Cakra tersenyum pahit. “Karena mungkin ini satu-satunya kesempatan bagiku melakukan sesuatu yang benar.”

Sebelum Ariella sempat menjawab, Cakra berlari kembali ke arah rumah sambil berteriak, menarik perhatian para pengejar.

Rendra menyalakan motor dan membawa Ariella keluar melalui jalan kecil. Dari kejauhan terdengar suara benturan, tetapi Ariella tidak menoleh.

Mereka berhenti di Griya Ariella hampir satu jam kemudian. Rendra tertegun ketika melihat bangunan kos modern dua lantai yang berdiri megah di hadapannya.

“Ini milikmu?”

Ariella membuka pintu dengan kunci yang sejak tadi disimpannya. “Tempat ini tidak tercatat atas alamat tempat tinggalku. Mereka tidak akan mudah menemukannya.”

Penjaga kos, seorang pria bernama Bayu, segera membantu membawa Rendra ke kamar kosong. Ariella lalu menghubungi dokter langganan Bayu yang bersedia datang secara pribadi.

Setelah luka Rendra ditangani, mereka memindahkan kartu memori dari jam tangannya ke laptop Ariella. Di dalamnya terdapat laporan transaksi, rekaman percakapan, dan daftar perusahaan fiktif yang digunakan paman Rendra untuk mencuci uang.

Namun, satu nama dalam dokumen itu membuat Ariella membeku.

Cakra Adinata.

Namanya tercatat sebagai penerima transfer sebesar tiga ratus juta rupiah.

“Dia bukan sekadar pencari informasi,” kata Rendra. “Dia membantu pamanku memindahkan uang.”

Ariella merasa dadanya sesak. “Tidak mungkin. Cakra bahkan tidak punya pekerjaan tetap.”

“Itulah kedoknya.”

Ariella membuka folder lain. Di sana terdapat foto Cakra bersama Gisel, berdiri di depan sebuah mobil mewah yang selama ini dikira Ariella dibeli menggunakan tabungannya. Namun, dokumen kendaraan menunjukkan bahwa mobil itu bukan milik Cakra.

Mobil tersebut milik perusahaan fiktif paman Rendra.

Sedangkan mobil yang dibeli Ariella ternyata telah digadaikan enam bulan lalu.

“Aku akan membunuhnya,” bisik Ariella.

“Jangan,” kata Rendra. “Biarkan hukum melakukannya.”

Pagi harinya, mereka mengirim seluruh bukti kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, kepolisian, dan beberapa media nasional melalui akun anonim. Dalam hitungan jam, berita tentang penggelapan dana Mahardika Logistik menyebar.

Paman Rendra ditangkap ketika mencoba kabur ke luar negeri.

Surya ditemukan dalam keadaan hidup di rumah tua itu.

Cakra juga ditahan. Ia ternyata sengaja menyerahkan diri setelah mengalihkan para pengejar. Dalam pemeriksaan, ia mengakui seluruh perbuatannya dan memberikan informasi tambahan.

Beberapa hari kemudian, Ariella mengunjunginya di ruang tahanan.

Cakra terlihat jauh lebih kurus. Tidak ada lagi pakaian mahal atau kesombongan di wajahnya.

“Aku tidak meminta kamu memaafkanku,” katanya pelan.

“Aku memang tidak akan memaafkanmu sekarang.”

Cakra mengangguk. “Mobilmu sudah ditemukan di gudang milik rentenir. Aku sudah memberikan alamatnya.”

“Kenapa kamu melakukan semua ini?”

Cakra menatap lantai. “Awalnya aku hanya ingin cepat kaya. Lalu aku terjebak semakin dalam. Gisel tahu semuanya. Dia yang mengenalkanku kepada orang-orang itu.”

Ariella terdiam.

“Gisel bukan selingkuhanku,” lanjut Cakra. “Dia atasanku dalam jaringan itu. Hubungan kami hanya sandiwara agar kamu percaya aku menghabiskan uang untuk perempuan lain, bukan terlibat pencucian uang.”

Ariella menatapnya tajam. Pengkhianatan itu ternyata jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan.

“Namun, aku memang memanfaatkanmu,” kata Cakra. “Dan itu lebih buruk daripada perselingkuhan.”

Ariella berdiri.

“Aku pernah berpikir kehilanganmu adalah akhir hidupku,” katanya. “Ternyata, kehilanganmu justru menyelamatkanku.”

Ia meninggalkan ruang tahanan tanpa menoleh.

Tiga bulan kemudian, mobilnya berhasil dikembalikan. Ariella menjualnya dan menggunakan uangnya untuk memperluas Griya Ariella. Ia juga mendirikan tempat singgah sementara bagi perempuan pekerja migran yang pulang tanpa tabungan atau menjadi korban penipuan pasangan.

Rendra pulih dan mengambil alih perusahaan ayahnya. Ia menawarkan Ariella posisi sebagai konsultan investasi, tetapi perempuan itu menolak.

“Aku sudah punya kerajaan kecilku sendiri,” katanya sambil tersenyum.

Rendra berdiri di halaman rumah kos, menatap papan bertuliskan Griya Ariella.

“Kalau begitu, bolehkah aku datang bukan sebagai rekan bisnis?”

Ariella menatapnya cukup lama.

“Aku belum percaya pada laki-laki.”

“Aku tidak meminta kamu percaya sekarang.”

“Lalu?”

“Aku hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa tidak semua orang datang untuk mengambil sesuatu darimu.”

Ariella tidak menjawab. Ia berjalan melewatinya menuju pintu.

Namun, sebelum masuk, ia melemparkan sebuah kunci kecil kepada Rendra.

Pria itu menangkapnya dengan bingung.

“Kunci apa ini?”

“Kunci kamar tamu,” jawab Ariella. “Kamu masih harus kontrol luka setiap minggu. Jangan salah paham.”

Rendra tersenyum.

Ariella menutup pintu sambil menahan senyum tipis yang tanpa sadar muncul di wajahnya.

Selama tujuh tahun, ia mengira cinta berarti mengirim uang, menunggu, dan mengorbankan diri tanpa batas. Namun, pengkhianatan mengajarinya sesuatu yang tak pernah diberikan oleh kesetiaan buta.

Cinta yang sehat tidak meminta seseorang mengecilkan dirinya agar orang lain terlihat besar.

Kadang-kadang, kehilangan orang yang salah bukanlah hukuman.

Itu adalah cara hidup mengembalikan seseorang kepada dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang