“Sepulang dari Satgas nanti, aku sendiri yang akan membatalkan pernikahan ini. Jadi, jangan berharap terlalu banyak padaku.”

“Itu bukan urusanku.”

Kalimat itu membuat Alana berhenti bernapas selama beberapa detik.

Di luar jendela, hujan turun semakin deras. Cahaya lampu kendaraan memantul di permukaan jalan yang basah, membentuk garis-garis panjang berwarna merah dan putih. Namun di dalam ruang VIP itu, dunia Alana terasa membeku.

Ia menatap cincin emas di jari manisnya. Lima belas menit lalu, benda itu terasa seperti awal dari sesuatu yang selama bertahun-tahun diam-diam ia doakan. Kini cincin yang sama terasa seperti borgol.

Alana bangkit perlahan.

Ryu mengangkat wajah. “Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Orang tua kita masih di ruangan sebelah.”

“Aku tahu.”

“Kita harus keluar bersama. Mereka bisa curiga.”

Alana tersenyum tipis, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. “Bukankah kita akan bersandiwara? Anggap saja ini latihan pertama.”

Tanpa menunggu jawaban, Alana berjalan menuju pintu. Tangannya baru menyentuh gagang ketika suara Ryu menghentikannya.

“Alana.”

Ia menoleh.

Untuk sesaat, tatapan Ryu tampak goyah. Namun ekspresi itu segera menghilang.

“Jangan membuat keadaan lebih sulit.”

Alana mengangguk kecil. “Tenang saja, Kapten. Aku tidak akan memaksamu mencintaiku.”

Ia membuka pintu dan kembali memasang senyum saat memasuki ruangan tempat kedua keluarga mereka berkumpul.

Malam itu, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa di balik senyum tenang Alana, sebuah keputusan telah lahir. Jika Ryu ingin menjadikan pertunangan mereka sebuah sandiwara, Alana akan memainkan perannya dengan sempurna. Bukan untuk mempertahankan pria itu, melainkan untuk menjaga harga dirinya sendiri.

Sebulan kemudian, Ryu berangkat ke Republik Demokratik Kongo sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di Bandara Soekarno-Hatta, kedua keluarga mengantarnya dengan mata berkaca-kaca. Yoga masih terlihat pucat setelah serangan jantung yang dialaminya, tetapi wajahnya bersinar bangga. Widya berkali-kali membetulkan kerah seragam putranya, sementara Ratih sibuk mengingatkan Ryu agar menjaga kesehatan.

Alana berdiri sedikit menjauh. Ia mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam, dengan rambut panjang yang diikat sederhana.

Ryu mendekatinya setelah berpamitan kepada semua orang.

“Jangan lupa kesepakatan kita,” bisiknya.

Alana menatap papan nama di dada seragamnya, lalu mengangkat wajah. “Aku tidak lupa.”

“Sesekali aku akan menghubungimu.”

“Tidak perlu terlalu sering. Aku tahu kamu sibuk.”

Jawaban itu seharusnya membuat Ryu lega. Anehnya, justru ada perasaan tidak nyaman yang menyelinap di dadanya.

“Jaga Ayah dan Ibu kalau mereka butuh sesuatu.”

Alana tersenyum hambar. “Itu memang sudah kulakukan bahkan sebelum kamu memintanya.”

Ryu ingin mengatakan sesuatu, tetapi panggilan keberangkatan terdengar. Ia akhirnya hanya mengangguk lalu berbalik.

Alana memandang punggungnya menjauh hingga hilang di balik pintu pemeriksaan. Tidak ada air mata yang jatuh. Perasaan yang selama ini ia simpan telah ia kunci rapat-rapat sejak malam pertunangan.

Hari-hari pertama setelah keberangkatan Ryu berjalan sesuai rencana. Ia mengirim pesan singkat setiap beberapa hari.

Aku sudah tiba.

Hari ini patroli.

Sinyal buruk.

Jangan lupa balas pesan supaya orang tua tidak curiga.

Alana selalu membalas seperlunya.

Baik.

Jaga diri.

Semoga tugasmu lancar.

Namun tanpa disadari Ryu, Alana tidak hanya menjalani hidup sebagai tunangannya. Ia juga bekerja sebagai dokter di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta, menangani pasien-pasien dari berbagai latar belakang. Ketika wabah penyakit tropis merebak di salah satu wilayah penampungan pengungsi di Kongo, rumah sakit tempat Alana bekerja bekerja sama dengan organisasi kemanusiaan internasional untuk mengirim tenaga medis.

Alana mendaftarkan diri.

Keputusannya membuat Darwin marah besar.

“Kamu baru bertunangan, Lana. Untuk apa pergi ke daerah konflik?”

“Aku dokter, Yah. Mereka membutuhkan tenaga medis.”

“Ryu juga ada di sana. Orang-orang akan mengira kamu mengejarnya.”

Alana menatap ayahnya dengan tenang. “Aku tidak bisa mengatur pikiran orang. Aku pergi karena pekerjaanku.”

Ratih mencoba membujuk, tetapi Alana tidak berubah pikiran. Hanya Yoga yang memandangnya lama, kemudian berkata pelan, “Biarkan dia pergi. Tidak semua orang berani mengabdikan diri di tempat yang jauh dari rumah.”

Dua minggu kemudian, Alana tiba di sebuah kamp pengungsian dekat Goma.

Udara panas bercampur debu menyambutnya. Tenda-tenda putih berjejer di atas tanah kemerahan. Tangisan anak-anak, suara kendaraan militer, dan percakapan dalam berbagai bahasa bersatu menjadi kebisingan yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Alana bekerja nyaris tanpa istirahat. Ia menangani demam, infeksi, luka akibat kecelakaan, hingga komplikasi kehamilan. Dalam waktu singkat, para relawan mengenalnya sebagai dokter yang tidak mudah panik.

Ia baru bertemu Ryu pada hari kelima.

Saat itu, sebuah kendaraan lapis baja berhenti di depan pos medis. Beberapa tentara turun membawa dua warga sipil yang terluka akibat ledakan ranjau sisa konflik.

Alana sedang memasang infus ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya.

“Dokter, pasien kedua mengalami pendarahan di kaki.”

Tangannya terhenti sesaat.

Ia menoleh dan mendapati Ryu berdiri beberapa meter darinya. Seragam militernya penuh debu. Wajahnya lebih gelap dan tubuhnya tampak lebih kurus. Tatapan pria itu berubah terkejut saat melihatnya.

“Kamu?”

Alana kembali fokus kepada pasien. “Bawa dia ke ranjang sebelah.”

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Bekerja.”

“Alana, ini bukan tempat wisata.”

Alana menatapnya tajam. “Dan aku bukan turis.”

Perdebatan mereka terputus oleh erangan pasien. Selama dua jam berikutnya, Alana bekerja tanpa henti. Ryu melihat sendiri bagaimana perempuan yang selama ini dianggapnya manja berdiri di tengah darah, debu, dan kepanikan tanpa sekali pun mundur.

Setelah keadaan terkendali, Ryu menunggunya di belakang tenda medis.

“Kamu harus pulang.”

Alana mencuci tangannya di bawah aliran air dari tangki portabel. “Kamu bukan atasanku.”

“Daerah ini berbahaya.”

“Kamu boleh berada di sini, tetapi aku tidak?”

“Aku tentara.”

“Aku dokter.”

Ryu mengepalkan rahang. “Kalau sesuatu terjadi padamu, apa yang harus kukatakan kepada keluargamu?”

“Katakan saja itu bukan urusanmu.”

Kalimat itu menghantam Ryu tepat di tempat yang tidak ia duga.

Alana meninggalkannya tanpa menoleh.

Sejak hari itu, mereka sering bertemu karena satuan Ryu bertugas mengawal distribusi obat dan makanan ke kamp-kamp terpencil. Perlahan, pandangan Ryu tentang Alana mulai runtuh.

Ia melihat Alana tidur hanya tiga jam lalu bangun untuk membantu persalinan seorang pengungsi. Ia melihatnya memberikan jatah makan siangnya kepada seorang anak yang kehilangan orang tua. Ia juga melihat Alana menangis diam-diam ketika seorang pasien lanjut usia meninggal, lalu kembali bekerja seolah hatinya tidak sedang hancur.

Suatu sore, konvoi mereka terjebak akibat longsor kecil. Mereka harus bermalam di sebuah pos militer darurat. Hujan turun sangat deras, membuat atap seng bergetar.

Ryu menemukan Alana duduk di sudut ruangan sambil menjahit sobekan pada lengan jas medisnya.

“Kamu bisa membeli yang baru,” kata Ryu.

“Di sini tidak ada toko.”

“Maksudku, setelah pulang.”

Alana tersenyum kecil. “Tidak semua yang rusak harus langsung dibuang.”

Ryu terdiam.

“Kamu dulu sudah tahu aku akan pergi ke Kongo?” tanya Alana.

“Tidak.”

“Jadi kamu tidak datang untuk mengawasiku?”

Alana menatapnya datar. “Jangan terlalu percaya diri.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertunangan, Ryu tertawa sungguhan. Suaranya rendah dan hangat. Alana sempat terpaku, lalu segera memalingkan wajah.

Malam itu, mereka berbicara lebih lama daripada biasanya. Alana bercerita tentang keinginannya menjadi dokter setelah kehilangan adik laki-lakinya akibat keterlambatan penanganan medis. Ryu bercerita tentang tekanan menjadi anak tunggal yang selalu dituntut kuat.

Namun ketika pembicaraan menyentuh Imelda, wajah Ryu kembali tertutup.

“Aku tidak pernah menyesal dia pergi,” katanya.

“Kamu berbohong.”

Ryu menatap hujan di luar. “Aku menyesal karena pernah percaya.”

Alana tidak menjawab. Ia menyadari luka Ryu bukan sekadar karena ditinggalkan. Ada sesuatu yang lebih dalam, tetapi pria itu belum siap menceritakannya.

Beberapa bulan berlalu.

Hubungan mereka berubah tanpa disadari. Ryu mulai mengirim makanan ke pos medis ketika Alana lupa makan. Alana menyimpan obat maag untuk Ryu yang sering melewatkan sarapan. Mereka masih bertengkar, tetapi pertengkaran itu tidak lagi penuh kebencian.

Suatu malam, kamp pengungsian diserang kelompok bersenjata yang mencoba merampas persediaan obat.

Suara tembakan terdengar dari kejauhan. Para relawan diperintahkan berlindung di bangunan beton. Namun Alana menyadari seorang anak bernama Kito masih berada di tenda perawatan.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar.

“Alana!” teriak Ryu.

Ia mengejarnya di tengah hujan. Ketika Alana hampir mencapai tenda, sebuah ledakan menghantam sisi jalan. Ryu menjatuhkan tubuh Alana ke tanah dan melindunginya dengan tubuhnya sendiri.

Ledakan itu membuat telinga Alana berdenging. Ketika ia membuka mata, Ryu masih berada di atasnya, tetapi wajah pria itu pucat.

“Ryu?”

“Ambil anak itu,” katanya dengan suara tertahan.

Alana baru menyadari darah mengalir dari bahunya.

Dengan bantuan tentara lain, mereka membawa Kito dan Ryu ke tempat aman. Selama berjam-jam, Alana merawat luka Ryu dengan tangan yang terus gemetar.

“Pelurunya hanya menyerempet,” kata Alana, berusaha terdengar tenang. “Kamu akan baik-baik saja.”

Ryu menatap wajahnya. “Kamu menangis?”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Diam. Aku sedang menjahit lukamu.”

Ryu mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Jemarinya menghapus setetes air mata yang gagal Alana sembunyikan.

“Aku takut kehilanganmu,” bisik Alana.

Kalimat itu keluar sebelum sempat ia tahan.

Ryu terdiam. Tatapannya berubah, tetapi sebelum ia menjawab, seorang petugas masuk membawa telepon satelit.

“Kapten, ada panggilan dari Indonesia. Tentang ayah Anda.”

Yoga mengalami serangan jantung kedua.

Ryu mendapat izin darurat untuk pulang. Alana ikut kembali karena masa tugas tim medisnya telah selesai.

Setibanya di Jakarta, mereka langsung menuju rumah sakit. Yoga terbaring lemah di ruang perawatan intensif. Ketika melihat Alana dan Ryu datang bersama, pria tua itu tersenyum.

“Akhirnya kalian pulang.”

Ryu menggenggam tangan ayahnya. “Ayah harus sembuh.”

Yoga menggeleng pelan. “Ada sesuatu yang harus Ayah katakan.”

Ia meminta semua orang keluar kecuali Ryu dan Alana.

Dengan napas tersendat, Yoga mengaku bahwa perjodohan itu bukan sekadar keinginan dua sahabat lama. Bertahun-tahun lalu, ketika bisnis Darwin hampir bangkrut, Yoga diam-diam membantu menyelamatkannya. Sebagai balasan, Darwin pernah berjanji akan menyatukan keluarga mereka.

“Ayah tahu janji itu salah,” kata Yoga. “Ayah juga tahu kalian mungkin tidak saling mencintai. Karena itu, Ayah sudah membatalkan semua rencana pernikahan sejak tiga bulan lalu.”

Alana dan Ryu sama-sama terkejut.

“Kenapa Ayah tidak bilang?” tanya Ryu.

“Karena Ayah ingin melihat apakah kalian akan tetap memilih satu sama lain ketika tidak ada lagi kewajiban.”

Yoga kemudian menatap Alana. “Maafkan kami karena menjadikan hidupmu bagian dari utang masa lalu.”

Air mata Alana jatuh. “Om tidak perlu meminta maaf.”

Dua hari kemudian, kondisi Yoga membaik. Namun sebuah kejutan lain datang ketika Imelda muncul di rumah sakit.

Perempuan itu mengenakan gaun mahal dan kacamata hitam besar. Ia meminta berbicara dengan Ryu sendirian, tetapi Alana tanpa sengaja mendengar percakapan mereka dari balik pintu.

“Aku kembali karena kontrakku di Eropa berakhir,” kata Imelda. “Aku tahu kamu masih mencintaiku.”

Ryu tertawa dingin. “Kamu datang terlambat.”

“Karena dokter itu?”

“Karena aku akhirnya tahu siapa yang benar-benar tinggal ketika hidup tidak nyaman.”

Imelda mendengus. “Jangan naif. Kamu tahu kenapa aku meninggalkanmu dulu. Ayahmu yang memintaku pergi. Dia membayar agensiku supaya memindahkanku ke luar negeri. Dia takut kariermu terganggu.”

Ryu membeku.

Imelda mengeluarkan beberapa dokumen lama. Bukti transfer dari perusahaan milik Yoga kepada agensinya.

“Aku memang memilih karier,” lanjut Imelda. “Tapi keluargamu yang membuka pintunya.”

Setelah Imelda pergi, Ryu berdiri lama di koridor. Dunia yang selama ini ia yakini kembali berubah. Ia memasuki ruang ayahnya dan meminta penjelasan.

Yoga tidak menyangkal.

“Ayah takut kamu meninggalkan militer demi dia,” katanya lemah. “Ayah pikir Ayah sedang melindungimu.”

“Dengan menghancurkan kepercayaanku kepada semua perempuan?”

Yoga menutup mata, diliputi penyesalan.

Ryu keluar dari ruangan dengan wajah pucat. Alana mengikutinya hingga ke taman rumah sakit.

“Kamu berhak marah,” kata Alana.

“Aku sudah menuduhmu tanpa mengenalmu. Aku memperlakukanmu seperti seseorang yang pasti akan meninggalkanku.”

“Karena kamu terluka.”

“Itu bukan alasan.”

Ryu menatapnya. “Pertunangan kita sudah dibatalkan. Kamu bebas.”

Alana merasakan dadanya sesak. “Itu yang kamu inginkan sejak awal.”

“Dulu.”

“Sekarang?”

Ryu mendekat, tetapi berhenti satu langkah di hadapannya.

“Sekarang aku ingin meminta sesuatu tanpa tekanan keluarga, tanpa janji masa lalu, dan tanpa sandiwara.”

Ia perlahan melepaskan cincin pertunangan dari jari Alana.

Alana menahan napas.

Ryu menggenggam cincin itu lalu berlutut di tengah taman rumah sakit.

“Aku tidak meminta kamu meneruskan pertunangan kita,” katanya. “Aku meminta kesempatan memulainya kembali. Dari nol. Sebagai dua orang yang akhirnya saling mengenal.”

Mata Alana basah.

“Bagaimana kalau aku menolak?”

“Aku akan menerima. Lalu aku akan mencoba lagi ketika kamu sudah tidak marah.”

Alana tertawa di sela tangisnya. “Kamu keras kepala.”

“Aku tentara.”

“Aku dokter. Aku tahu keras kepala juga bisa menjadi gejala penyakit.”

Ryu tersenyum. “Jadi, Dokter Alana, apa diagnosisnya?”

Alana mengulurkan tangan.

“Penyakitnya cukup serius, Kapten. Pengobatannya mungkin seumur hidup.”

Ryu menyematkan kembali cincin itu ke jarinya, kali ini bukan sebagai simbol utang atau perjodohan, melainkan sebuah pilihan.

Enam bulan kemudian, mereka menikah dalam upacara sederhana. Tidak ada gedung mewah, tidak ada ribuan tamu, dan tidak ada janji antarorang tua yang mengikat mereka.

Setelah akad selesai, Ryu berbisik di telinga Alana, “Dulu aku bilang sepulang dari satgas, aku akan membatalkan pernikahan ini.”

Alana menatapnya sambil tersenyum. “Dan kamu benar-benar membatalkannya.”

Ryu terlihat bingung.

Alana menggenggam tangannya. “Kamu membatalkan pernikahan yang dibangun dari kebohongan, lalu menggantinya dengan pernikahan yang kita pilih sendiri.”

Ryu mencium keningnya.

Di barisan depan, Yoga menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ia akhirnya mengerti bahwa cinta tidak dapat diwariskan melalui janji, dipaksakan lewat rasa bersalah, atau diatur demi melunasi utang masa lalu.

Cinta hanya tumbuh ketika dua orang diberi kebebasan untuk pergi, tetapi tetap memilih pulang kepada satu sama lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang