Tiga tahun pernikahan kami dibangun di atas kebohongan yang bahkan tidak kuketahui.
Di depan keluarga, Tama selalu menjadi suami sempurna. Ia tersenyum, memanggilku sayang, dan sesekali meletakkan tangannya di pundakku seolah kami adalah pasangan paling bahagia di dunia. Namun, begitu pintu rumah tertutup dan tak ada siapa pun yang melihat, senyum itu lenyap. Ia kembali menjadi lelaki asing yang bahkan enggan duduk satu meja denganku.
Malam ulang tahunnya menjadi malam ketika seluruh harapanku runtuh.
Aku berdiri di balik pohon mangga di samping rumah, menahan napas saat mendengar suara Tama dan Amara. Awalnya, aku berpikir mereka hanya membicarakan pekerjaan. Namun, nada suara mereka terlalu lembut untuk sekadar hubungan antara atasan dan karyawan.
“Aku lelah berpura-pura di depan mereka,” kata Tama.

Amara terkekeh pelan. “Tapi kamu kelihatan sangat mesra saat menyuapinya kue.”
“Jangan mengejekku. Aku jijik harus melakukannya.”
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada apa pun.
Tanganku menutup mulut agar isakanku tidak terdengar.
Amara terdiam sesaat sebelum berkata, “Sampai kapan kamu akan mempertahankan pernikahan itu? Sudah tiga tahun, Tama. Kamu bahkan tidak pernah menyentuhnya.”
“Aku menikahinya hanya karena permintaan Papa. Kamu tahu itu.”
“Lalu kenapa kamu membencinya sampai segitunya?”
Tama mengembuskan napas panjang. “Karena aku tahu siapa dia sebenarnya. Perempuan yang tumbuh dari uang kotor ayahnya tidak mungkin benar-benar baik. Ayah Nara menghancurkan hidup Papa bertahun-tahun lalu. Dia mengambil proyek perusahaan, memfitnah Papa, lalu membuat Papa hampir dipenjara. Aku tidak akan pernah melupakan itu.”
Kepalaku berdenyut.
Ayahku memang meninggal saat aku masih duduk di bangku SMA, tetapi tak pernah sekali pun aku mendengar cerita bahwa beliau pernah menghancurkan keluarga Tama.
“Lagi pula,” lanjut Tama, “aku sudah punya kamu. Sejak dulu hanya kamu yang kuinginkan.”
Aku memejamkan mata ketika mendengar suara kecupan singkat di antara mereka.
Pada detik itu, aku merasa seperti perempuan paling bodoh di dunia.
Selama tiga tahun, aku bangun sebelum subuh untuk menyiapkan sarapannya. Aku menghafal makanan yang disukainya, menyetrika kemejanya, menunggunya pulang meski sering kali sudah lewat tengah malam. Setiap penolakan kuterima dengan keyakinan bahwa kesabaran akan meluluhkan hatinya.
Ternyata, hatinya tidak tertutup.
Hatinya hanya terbuka untuk perempuan lain.
Dan perempuan itu adalah sepupuku sendiri.
Aku mundur perlahan, tetapi kakiku menginjak ranting kering. Suaranya membuat percakapan mereka berhenti.
“Siapa di sana?” seru Tama.
Aku segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu belakang. Tanganku gemetar saat membawa nampan kopi yang tadi kutinggalkan di meja dapur. Ketika Tama masuk beberapa menit kemudian, aku sudah berdiri di ruang tamu bersama keluarga, berpura-pura tersenyum.
“Kamu dari mana, Mas?” tanyaku.
Tama menatapku tajam, seolah mencoba membaca apakah aku mendengar sesuatu.
“Menerima telepon dari kantor.”
“Dengan Amara?”
Suasana mendadak hening.
Amara yang baru masuk di belakang Tama tampak pucat. Namun, aku segera tersenyum.
“Tadi aku mencarimu. Kukira kalian sedang membicarakan pekerjaan.”
Tama terlihat lega. “Iya. Ada sedikit masalah dengan laporan.”
Aku mengangguk seolah percaya.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Tama masuk ke kamar kerjanya seperti biasa. Ia bahkan tidak mengucapkan terima kasih atas pesta yang kusiapkan sejak tiga hari sebelumnya.
Aku berdiri di depan pintu kamar kami dan memandang foto pernikahan yang tergantung di dinding. Dalam foto itu, aku tersenyum penuh harapan, sementara Tama menatap kamera dengan wajah tenang.
Kini aku baru menyadari bahwa bahkan pada hari pernikahan kami, tak ada cinta di matanya.
Aku mengambil koper dari lemari.
Tidak banyak yang kubawa. Beberapa helai pakaian, dokumen penting, laptop, serta sebuah kotak kayu peninggalan ayah. Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, aku tidak menangis ketika memasukkan barang-barangku.
Mungkin karena semua air mataku sudah habis di bawah pohon mangga tadi.
Pagi harinya, aku meletakkan amplop di meja makan.
Tama baru turun dari lantai atas ketika aku berdiri di dekat pintu dengan koper.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya dingin.
“Pergi.”
Ia mengernyit. “Ada acara keluarga?”
“Tidak. Aku meninggalkan rumah ini.”
Wajahnya berubah, tetapi bukan karena sedih. Lebih seperti terkejut karena benda yang selalu diam akhirnya bergerak tanpa izinnya.
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin bercerai.”
Tama menatapku lama, lalu tertawa pendek. “Jangan membuat drama pagi-pagi.”
“Aku mendengar percakapanmu dengan Amara.”
Tawanya menghilang.
Aku meletakkan cincin pernikahan di atas amplop.
“Aku juga mendengar semua yang kaukatakan tentang ayahku.”
“Nara, dengar dulu.”
“Selama tiga tahun aku selalu mendengarkanmu, Mas. Bahkan ketika kau hanya memberiku diam. Sekarang, biarkan aku mendengarkan diriku sendiri.”
“Aku bisa menjelaskan.”
“Tidak perlu. Kau jijik kepadaku. Kau mencintai Amara. Dan kau menikahiku untuk membalas kesalahan ayahku. Apa lagi yang perlu dijelaskan?”
Tama mengepalkan tangan. “Ayahmu memang menghancurkan keluargaku.”
“Kalau itu benar, mengapa kau menghukumku? Aku bahkan tidak tahu apa-apa.”
“Karena kamu menikmati semua yang dia dapatkan dari menghancurkan Papa.”
Aku menatap rumah besar di sekeliling kami. “Rumah ini milikmu. Mobil yang kupakai juga milikmu. Selama menikah, aku tidak pernah meminta satu rupiah pun di luar kebutuhan rumah tangga. Apa yang kunikmati?”
Tama terdiam.
Aku menarik gagang koper.
“Mulai hari ini, kau tidak perlu lagi berpura-pura menyentuh pundakku di depan keluargamu. Kau bebas bersama Amara.”
Aku meninggalkan rumah sebelum ia sempat menjawab.
Aku tinggal sementara di apartemen kecil milik sahabat kuliahku, Salma. Di sanalah aku membuka kotak kayu peninggalan ayah yang selama bertahun-tahun tak pernah berani kusentuh karena terlalu banyak kenangan di dalamnya.
Di bawah beberapa foto lama, aku menemukan map cokelat berisi dokumen perusahaan, salinan transfer, surat perjanjian, dan sebuah flashdisk.
Aku membawa semuanya kepada Arif, teman kuliahku yang kini bekerja sebagai pengacara.
Dua hari kemudian, Arif meneleponku dengan suara tegang.
“Nara, kamu harus datang ke kantor.”
“Ada apa?”
“Dokumen ayahmu bukan bukti bahwa beliau menghancurkan keluarga Tama.”
Aku menahan napas.
“Justru sebaliknya. Ayahmu berusaha menyelamatkan perusahaan Wijaya dari penggelapan dana.”
Di kantor Arif, aku melihat laporan transaksi lama yang menunjukkan bahwa seseorang dari internal perusahaan telah memindahkan uang proyek ke beberapa rekening pribadi. Ayahku menemukan transaksi itu dan menolak menandatangani laporan palsu.
“Lalu kenapa ayah Tama hampir dipenjara?” tanyaku.
“Karena tanda tangannya ada di semua dokumen. Namun, berdasarkan surat ini, ayahmu yakin Pak Wijaya juga dijebak.”
Arif menunjukkan sebuah nama yang muncul berulang kali dalam transaksi.
Drajat Alfatunnisa.
Pamanku sendiri.
Darahku seketika terasa dingin.
Paman Drajat adalah adik ayah. Setelah ayah meninggal, dialah yang mengurus sebagian besar peninggalan keluarga. Selama ini, ia juga yang selalu mengatakan bahwa ayah meninggal karena kelelahan dan masalah bisnis.
“Ini belum semuanya,” ujar Arif. “Ada rekaman di flashdisk.”
Dalam rekaman itu terdengar suara ayahku berbicara dengan Drajat.
Ayah memintanya mengembalikan uang perusahaan Wijaya sebelum semuanya terlambat. Namun, Drajat justru mengancam akan menghancurkan nama ayah dan memastikan seluruh keluarga Wijaya percaya bahwa ayahlah pelakunya.
Aku menangis ketika mendengar suara ayah berkata, “Aku tidak peduli namaku rusak, tetapi jangan sakiti anakku.”
Selama bertahun-tahun, ayah menanggung dosa yang tidak pernah ia lakukan demi melindungiku.
Sementara pamanku hidup tenang, datang ke rumahku, menikmati makanan yang kusajikan, bahkan tersenyum pada keluarga Tama seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun, pengkhianatan berikutnya terasa lebih menyakitkan.
Arif menemukan bukti bahwa Amara menerima transfer rutin dari rekening milik Drajat selama setahun terakhir. Jumlahnya besar dan selalu masuk beberapa hari setelah ia bertemu Tama di luar kantor.
Aku akhirnya mengerti.
Amara tidak sekadar menjalin hubungan dengan suamiku. Ia sengaja mendekati Tama atas perintah ayahnya.
Tujuannya adalah menguasai perusahaan Wijaya melalui Tama sekaligus memastikan aku tidak pernah membongkar dokumen peninggalan ayah.
Saat Arif melaporkan temuan itu kepada kepolisian, aku memilih tetap diam. Aku tidak menghubungi Tama. Aku juga tidak menghubungi Amara.
Sementara itu, Tama mengira aku benar-benar telah menyerah.
Dua minggu setelah aku pergi, ia membawa Amara ke rumah. Meski proses perceraian belum selesai, keduanya mulai tinggal bersama secara terbuka.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.
Perusahaan Wijaya tiba-tiba kehilangan beberapa klien penting. Sebuah proyek besar dibatalkan setelah dokumen rahasia perusahaan bocor kepada pesaing. Anehnya, semua berkas itu terakhir kali diakses dari komputer Amara.
Tama memergoki Amara sedang menyalin data lain ke flashdisk.
“Apa yang kamu lakukan?” bentaknya.
Amara membeku.
Tama merampas flashdisk itu dan membuka isinya. Ada laporan keuangan, daftar klien, hingga salinan kontrak terbaru.
“Untuk siapa semua ini?”
Amara mencoba menyangkal, tetapi Tama menemukan pesan dari Drajat di ponselnya.
Tinggal satu kontrak lagi. Setelah perusahaan mereka jatuh, kita ambil alih melalui investor baru.
Tama merasa seluruh dunianya runtuh.
Perempuan yang ia cintai ternyata hanya memanfaatkannya.
Ketika Drajat dan Amara ditangkap atas kasus penggelapan, pencurian data, serta pemalsuan dokumen lama, Tama akhirnya mengetahui kebenaran tentang ayahku.
Ia datang menemuiku pada suatu sore di kantor kecil yang baru kusewa. Setelah meninggalkan rumah, aku memutuskan bekerja kembali dan membangun usaha konsultasi kuliner bersama Salma. Untuk pertama kalinya, aku memiliki sesuatu yang benar-benar milikku.
Tama berdiri di depan meja dengan wajah kusut.
“Nara.”
Aku mengangkat kepala. “Ada keperluan apa?”
“Aku sudah tahu semuanya.”
“Bagus.”
“Ayahmu tidak bersalah.”
Aku menutup laptop perlahan. “Aku juga sudah tahu.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Karena selama tiga tahun, kau tidak pernah memberiku ruang untuk bicara. Bahkan bila aku memberitahumu, apakah kau akan percaya?”
Tama menunduk.
“Aku salah,” katanya lirih. “Aku terlalu percaya pada kebencian yang diwariskan kepadaku.”
“Kebencian itu pilihanmu, Mas.”
“Aku menyesal.”
Aku memandangnya tanpa kemarahan. Anehnya, melihatnya hancur tidak memberiku kepuasan apa pun.
“Aku ingin memperbaiki semuanya,” lanjut Tama. “Pulanglah. Kita bisa memulai dari awal.”
“Tidak.”
Jawabanku membuatnya mengangkat wajah.
“Aku akan berubah, Nara. Aku bersumpah.”
“Dulu aku menunggu kalimat itu setiap hari. Sekarang, aku tidak membutuhkannya lagi.”
“Aku mencintaimu.”
Aku tersenyum tipis. “Tidak. Kau hanya kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada untukmu.”
Tama mendekat. “Beri aku satu kesempatan.”
“Kesempatan itu sudah kuberikan selama tiga tahun.”
Matanya memerah. “Lalu apa tidak ada sedikit pun perasaanmu yang tersisa?”
“Ada.”
Wajahnya seketika dipenuhi harapan.
“Aku masih peduli padamu sebagai manusia. Karena itu, aku berharap kau belajar dari semua ini. Jangan pernah menghukum seseorang atas dosa yang tidak ia lakukan. Dan jangan menunggu seseorang pergi untuk menyadari nilainya.”
Aku menyerahkan berkas perceraian yang telah kutandatangani.
Tama menerimanya dengan tangan gemetar.
Sebelum pergi, ia berhenti di ambang pintu.
“Apakah ada orang lain?”
Aku menggeleng.
“Aku pergi bukan karena menemukan lelaki lain. Aku pergi karena akhirnya menemukan diriku sendiri.”
Setelah perceraian kami resmi, aku menjual beberapa aset warisan ayah yang selama ini dikelola Paman Drajat. Sebagian uangnya kugunakan untuk mengembangkan usaha, sementara sisanya kusumbangkan untuk mendirikan lembaga bantuan hukum bagi perempuan yang terjebak dalam pernikahan penuh manipulasi.
Enam bulan kemudian, Mama Linda datang menemuiku.
Ia menangis dan meminta maaf karena tidak pernah menyadari penderitaanku. Dari beliau pula aku mengetahui bahwa kondisi Tama semakin memburuk. Ia mengundurkan diri dari perusahaan dan memilih membantu ayahnya memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan Drajat.
“Tama masih menyimpan foto pernikahan kalian,” kata Mama Linda.
Aku hanya tersenyum.
Beberapa penyesalan memang tidak datang untuk memperbaiki masa lalu. Ia datang sebagai hukuman agar seseorang tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Setahun berlalu.
Pada hari ulang tahunku, aku menerima sebuah paket tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat sebuah kotak kecil berisi cincin pernikahanku yang dulu kutinggalkan di meja makan.
Ada secarik kertas dengan tulisan tangan Tama.
Dulu aku berpikir hukuman terberat adalah menikahi perempuan yang kubenci. Ternyata, hukuman terberat adalah kehilangan perempuan yang seharusnya kucintai.
Aku membaca kalimat itu sekali, lalu menutup kotaknya.
Di luar jendela, matahari pagi menyinari ruangan baru yang dipenuhi tawa para karyawanku. Salma memanggilku untuk menghadiri pertemuan dengan investor. Hidup yang dulu kupikir telah berakhir justru baru saja dimulai.
Aku menyimpan kotak itu di laci paling bawah, bukan sebagai kenangan tentang cinta yang gagal, melainkan sebagai pengingat bahwa aku pernah kehilangan harga diri demi seseorang.
Kemudian aku melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Sebab terkadang, akhir paling indah bukanlah ketika seseorang kembali dan memohon kesempatan.
Melainkan ketika kita akhirnya cukup mencintai diri sendiri untuk tidak memberikannya.
