Baskara berjongkok di hadapanku dengan gerakan yang terlalu cepat, seolah ingin menutupi kegugupannya sebelum aku sempat membacanya.
“Aira, jangan disentuh. Nanti lukanya makin parah.”
Tangannya meraih pergelangan tanganku. Hangat, kokoh, dan selama lima tahun terakhir selalu terasa seperti rumah. Malam itu, sentuhannya terasa seperti lilitan ular.
Aku menunduk, membiarkan rambutku menutupi sebagian wajah.
“Maaf, Mas. Aku cuma mau bawakan teh untuk kamu dan Naya. Kupikir kalian sedang membicarakan kondisiku.”
Baskara menegang sesaat.
Di belakangnya, Naya muncul dengan piyama satin berwarna krem. Rambutnya sudah disisir dengan jari, tetapi pipinya masih merah dan napasnya belum sepenuhnya teratur.

“Kami memang sedang membicarakanmu, Mbak,” katanya cepat. “Mas Baskara khawatir karena akhir-akhir ini Mbak sering melamun.”
Aku mengangkat wajah dengan tatapan bingung.
“Benarkah?”
“Benar,” jawab Baskara. Ia tersenyum, lalu mencium punggung tanganku seperti biasa. “Aku selalu memikirkanmu.”
Aku hampir tertawa.
Betapa mengerikannya manusia yang mampu berdusta sambil menatap mata orang yang sedang dihancurkannya.
Baskara membawaku kembali ke kamar utama, membersihkan luka jariku, lalu membalutnya dengan plester. Setelah itu, ia mengambil segelas susu dari meja samping ranjang.
“Minum dulu. Biar kamu bisa tidur nyenyak.”
Aku menatap cairan putih itu.
Dulu, segelas susu dari tangannya adalah bentuk perhatian yang membuatku merasa dicintai. Kini, susu itu terlihat seperti kubangan racun.
“Aku mual, Mas.”
“Sedikit saja.”
Ia mengangkat gelas ke bibirku.
Aku sengaja membuat tanganku bergetar. Gelas itu tersenggol, dan sebagian susu tumpah ke seprai.
“Maaf…”
Baskara mengembuskan napas panjang, tetapi wajahnya tetap lembut.
“Tidak apa-apa. Aku ambilkan yang baru.”
Begitu ia keluar, aku segera meraih tisu, menyerap sisa susu di kain, lalu memasukkannya ke kantong plastik kecil yang biasa kupakai menyimpan perhiasan. Aku menyelipkannya ke dalam lapisan bawah koper.
Malam itu, aku tidak tidur.
Aku berbaring memunggungi Baskara, berpura-pura lemas, sementara pikiranku bekerja lebih jernih daripada sebelumnya. Rekaman suara di ponsel telah kukirim ke alamat surel rahasia yang hanya diketahui oleh satu orang.
Armand.
Sepupuku yang selama ini tinggal di Surabaya dan mengelola kantor cabang perusahaan keluarga. Ia satu-satunya kerabat yang masih hidup setelah kecelakaan yang merenggut Papa dan Mama.
Tiga bulan lalu, Armand pernah memperingatkanku bahwa beberapa laporan keuangan perusahaan terlihat janggal. Ada aliran dana besar ke perusahaan cangkang yang terhubung dengan Baskara. Namun saat itu, kepalaku terus terasa berat. Aku justru marah dan menuduh Armand ingin memecah rumah tanggaku.
Sekarang aku sadar, kemarahanku mungkin juga dipengaruhi obat-obatan yang mereka berikan.
Pukul tiga dini hari, ponselku bergetar pelan.
Pesan dari Armand masuk.
Aku sudah dengar rekamannya. Jangan lakukan apa pun sendirian. Besok tanda tangani dokumen palsu yang sudah kusiapkan. Pengacara dan polisi sedang bergerak.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku merasa tidak sendirian.
Pagi berikutnya, Baskara mengenakan kemeja putih dan dasi biru tua. Ia tampak seperti suami sempurna yang sedang bersiap membantu istrinya melewati masa sulit.
Di meja makan sudah tersedia beberapa lembar dokumen.
Naya duduk di sebelahnya, mengenakan blus merah muda dan ekspresi penuh perhatian.
“Mbak harus sarapan dulu,” katanya manis.
Aku duduk perlahan, sengaja menjatuhkan sendok hingga bunyinya berdenting.
Baskara segera mengambilnya.
“Kamu masih gemetar?”
Aku mengangguk.
“Kepalaku juga pusing.”
Ia menatap Naya sekilas. Tatapan singkat yang mungkin tidak akan kusadari kemarin. Namun pagi itu, aku melihat kepuasan samar di mata mereka.
“Karena itu,” kata Baskara sambil mendorong dokumen ke arahku, “Mas ingin membantu mengurus perusahaan sementara waktu. Kamu hanya perlu tanda tangan.”
Aku menatap halaman pertama dengan mata kabur pura-pura.
“Apa ini?”
“Surat kuasa sementara. Sampai kondisi kamu stabil.”
“Semua aset juga?”
Baskara diam sepersekian detik.
“Bukan mengambil, Sayang. Hanya mengelola.”
Aku memegang pena dengan tangan bergetar. Sesuai pesan Armand, aku tidak menandatangani halaman yang disiapkan Baskara. Aku menarik selembar dokumen lain dari map biru yang sejak tadi terselip di bawah meja.
Map itu sudah diletakkan oleh Sumi, kepala rumah tangga yang diam-diam berpihak kepadaku.
“Aku mau tanda tangan yang ini saja,” kataku.
Wajah Baskara berubah.
“Itu apa?”
“Armand mengirimkannya semalam. Katanya format dari notaris perusahaan lebih aman.”
Naya langsung berdiri.
“Kenapa harus melibatkan Mas Armand?”
Aku menatapnya dengan wajah polos.
“Bukankah dia keluarga?”
Baskara merebut dokumen itu dan membacanya cepat. Ia tidak tahu bahwa beberapa halaman di tengah telah diganti. Dokumen tersebut memang memberi kuasa terbatas kepadanya, tetapi hanya untuk transaksi rutin di bawah nilai tertentu. Di halaman terakhir, ada klausul audit menyeluruh dan pembekuan otomatis bila ditemukan penyalahgunaan dana.
Baskara terlalu terburu-buru untuk memeriksa semuanya.
Ia hanya memastikan ada tanda tanganku dan cap perusahaan.
“Baik,” katanya sambil tersenyum. “Kalau ini membuatmu tenang.”
Aku menandatanganinya.
Naya mengembuskan napas lega.
Setelah sarapan, Baskara mengatakan bahwa seorang dokter akan datang untuk memeriksa kondisiku. Aku sudah menduga bagian itu.
Dokter bernama Rahmat tiba pukul sepuluh. Ia pernah memeriksaku dua kali dan selalu menyimpulkan bahwa aku mengalami gangguan psikotik akibat trauma.
Ia menyuruhku duduk di ruang keluarga dan mengajukan pertanyaan yang sama.
Apakah aku mendengar suara?
Apakah aku melihat sesuatu yang tidak nyata?
Apakah aku merasa orang lain berniat mencelakaiku?
Kali ini aku menjawab dengan sangat hati-hati.
“Aku sering mendengar bisikan,” kataku.
Baskara duduk di sampingku dan menggenggam tanganku.
“Apa yang mereka katakan?” tanya dokter.
Aku menatapnya.
“Mereka bilang suamiku ingin memasukkanku ke rumah sakit jiwa setelah mengambil seluruh asetku.”
Ruangan mendadak senyap.
Naya menjatuhkan cangkir kopinya.
Baskara tertawa kaku.
“Kamu lihat, Dok? Pikirannya makin tidak terkendali.”
Dokter Rahmat menulis sesuatu di buku catatannya.
Aku melanjutkan, “Bisikan itu juga bilang obat yang diberikan padaku bukan vitamin. Katanya dosis obat penenangku sudah dilipatgandakan.”
Wajah dokter Rahmat pucat.
Baskara berdiri.
“Cukup, Aira.”
“Kenapa, Mas? Bukankah aku hanya menjawab pertanyaan dokter?”
Pintu depan terbuka.
Armand masuk bersama dua orang pengacara, tiga polisi, dan seorang perempuan berkacamata yang kukenal sebagai dokter toksikologi dari rumah sakit swasta ternama di Jakarta.
Baskara mundur satu langkah.
“Apa-apaan ini?”
Armand meletakkan sebuah map tebal di meja.
“Ini audit transaksi perusahaan selama enam bulan terakhir. Dua puluh tiga miliar rupiah dialihkan melalui perusahaan fiktif yang terhubung denganmu.”
Naya berlari ke arah tangga, tetapi seorang polisi perempuan menghentikannya.
Baskara menoleh kepadaku. Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi menampilkan kelembutan palsu.
“Kamu menjebakku.”
Aku berdiri perlahan.
“Tidak, Mas. Aku hanya berhenti percaya.”
Dokter toksikologi menunjukkan hasil pemeriksaan awal dari sampel susu dan beberapa kapsul yang berhasil dikumpulkan Sumi.
“Ditemukan kombinasi obat penenang dosis tinggi dan zat yang dapat memicu kebingungan, tremor, serta halusinasi bila dikonsumsi terus-menerus.”
Dokter Rahmat langsung berdiri.
“Saya tidak pernah meresepkan dosis sebesar itu.”
“Bohong!” bentak Baskara. “Kau yang memberi resep!”
Dokter Rahmat gemetar. Namun setelah polisi menunjukkan salinan transfer ke rekening pribadinya, keberaniannya runtuh.
“Saya hanya diminta menandatangani laporan,” katanya lirih. “Saya tidak tahu mereka mencampurkan obat lain.”
Naya tiba-tiba menangis.
“Aku tidak bersalah. Semua ini ide Baskara.”
Baskara menatapnya tajam.
“Kau yang menyarankan mengganti obatnya!”
“Aku melakukan itu karena kau janji akan menikahiku!”
“Diam!”
Suara tamparan keras menggema.
Bukan Baskara yang menampar Naya.
Aku.
Tanganku bergetar, bukan karena obat, tetapi karena seluruh luka yang selama ini kupendam.
Naya memegangi pipinya sambil menatapku tidak percaya.
“Aku membawamu pulang ketika tidak ada seorang pun yang menginginkanmu,” kataku. “Aku membayar sekolahmu, rumah sakitmu, bahkan usaha kecil yang kau katakan ingin kau bangun. Kau memanggilku Mbak sambil merencanakan kematianku.”
Naya tertawa getir di antara tangisnya.
“Kau pikir aku berutang hidup padamu? Sejak masuk rumah ini, semua orang selalu membandingkanku denganmu. Aira yang cantik. Aira yang kaya. Aira yang sempurna. Bahkan Baskara awalnya mendekatiku hanya untuk mengetahui kelemahanmu.”
Aku menoleh kepada Baskara.
“Apa maksudnya?”
Baskara tidak menjawab.
Armand membuka map lain.
“Baskara tidak bertemu denganmu secara kebetulan lima tahun lalu. Ia sudah mempelajari keluarga kita sejak jauh sebelumnya.”
Ia menunjukkan foto lama Baskara bersama seseorang yang sangat kukenal.
Papa.
Foto itu diambil dua belas tahun lalu di sebuah lokasi proyek.
“Baskara adalah anak dari mantan rekan bisnis Om Darma,” lanjut Armand. “Ayahnya dipenjara setelah terbukti menggelapkan dana perusahaan. Sejak saat itu, keluarganya kehilangan segalanya.”
Aku menatap Baskara.
“Jadi semua ini balas dendam?”
Rahangnya mengeras.
“Ayahmu menghancurkan keluargaku.”
“Ayahku melaporkan kejahatan ayahmu.”
“Keluargaku hidup miskin karena keluargamu!”
“Lalu kau menikahiku, meracuniku, dan mencuri perusahaanku?”
Baskara mendekat, tetapi polisi segera menahannya.
Ia masih menatapku dengan kemarahan yang selama ini disembunyikan di balik pelukan dan ciuman.
“Aku memang mendekatimu untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku,” katanya. “Tapi aku tidak pernah menyangka kau akan benar-benar mencintaiku.”
Dadaku terasa sesak.
“Apakah kau pernah mencintaiku?”
Untuk sesaat, matanya berubah. Ada sesuatu yang tampak seperti penyesalan.
Lalu Naya berteriak dari belakang.
“Jangan percaya, Mbak! Dia tidak pernah mencintaimu. Bahkan kecelakaan orang tuamu bukan kecelakaan biasa!”
Dunia seperti berhenti bergerak.
Aku menatap Naya.
“Apa katamu?”
Wajah Baskara langsung kehilangan warna.
“Naya, tutup mulutmu.”
Naya tertawa histeris.
“Kenapa? Kita sudah selesai, kan? Katakan saja semuanya!”
Armand mencengkeram bahuku saat lututku hampir lemas.
Naya menunjuk Baskara.
“Dia menyuruh seseorang merusak rem mobil Papa dan Mama. Dia pikir setelah mereka meninggal, Mbak akan lebih mudah dikendalikan.”
Baskara memberontak.
“Itu bohong!”
“Aku punya rekamannya!” teriak Naya. “Aku menyimpannya untuk berjaga-jaga kalau kau mengkhianatiku.”
Polisi langsung menyita ponselnya.
Aku tidak menangis.
Anehnya, setelah semua rasa sakit yang datang bertubi-tubi, air mataku justru berhenti. Aku hanya menatap pria yang pernah menjadi pusat hidupku.
Baskara masih memanggil namaku saat borgol dipasang di tangannya.
“Aira, dengarkan aku. Aku tidak merencanakan kematian mereka. Aku hanya ingin menakut-nakuti mereka. Orang suruhanku yang bertindak terlalu jauh.”
Aku berjalan mendekat.
“Masih saja kau menyalahkan orang lain.”
“Aku mencintaimu.”
Aku tersenyum tipis.
“Tidak. Kau mencintai kendali yang kau miliki atasku.”
Mereka membawa Baskara, Naya, dan dokter Rahmat keluar dari rumah.
Beberapa bulan kemudian, hasil persidangan membuktikan semuanya. Baskara terlibat dalam penggelapan dana, pemberian obat tanpa izin, percobaan mengambil alih aset, serta persekongkolan dalam kecelakaan yang menewaskan orang tuaku. Naya menjadi saksi kunci demi meringankan hukumannya, tetapi bukti menunjukkan bahwa ia ikut mencampurkan obat ke dalam susu dan vitaminku.
Perusahaan berhasil kuselamatkan. Sebagian besar dana dikembalikan melalui penyitaan aset mereka.
Namun kemenangan tidak membuat luka langsung sembuh.
Aku menjalani terapi, bukan karena aku gila, tetapi karena aku harus belajar menerima bahwa cinta dapat dipalsukan dengan sangat sempurna.
Setahun kemudian, aku mengubah rumah besar tempat pengkhianatan itu terjadi menjadi pusat pemulihan bagi perempuan korban kekerasan psikologis dan manipulasi finansial.
Di ruang tamu yang dulu dipakai Baskara memaksaku menandatangani surat kuasa, kini berdiri sebuah papan kecil.
Tertulis satu kalimat yang kupilih sendiri.
Orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu meragukan kewarasanmu demi mempertahankan kuasanya.
Pada hari peresmian, Armand datang membawa sebuah amplop.
“Surat dari penjara,” katanya.
Aku mengenali tulisan Baskara di bagian depan.
Tanganku sempat gemetar saat membukanya.
Isinya hanya satu lembar.
Aira, aku tahu kau tidak akan memaafkanku. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu. Malam ketika kau menjatuhkan cangkir itu, aku sebenarnya sadar ponselmu sedang merekam. Aku bisa saja menghancurkannya. Namun aku tidak melakukannya. Mungkin, jauh di dalam diriku, aku sudah lelah menjadi monster.
Aku membaca surat itu sekali, lalu merobeknya menjadi dua.
Bukan karena aku membencinya.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa pengakuan seorang pelaku tidak selalu merupakan penyesalan. Kadang-kadang, itu hanya cara terakhir untuk tetap hidup di dalam pikiran korbannya.
Aku menjatuhkan potongan surat ke tempat sampah, lalu berjalan menuju halaman.
Di sana, puluhan perempuan sedang menanam bunga chamomile.
Aromanya mengalir lembut bersama angin sore.
Dulu, wangi itu mengingatkanku pada malam ketika hidupku pecah berkeping-keping.
Kini, aku memilih mengingatnya sebagai malam ketika aku akhirnya terbangun.
