SUAMIKU MELAKUKAN HAL MENJIJIKAN SAAT AKU KOMA. DIA KIRA AKU TIDAK TAHU APA PUN YANG IA LAKUKAN DI ATAS TUBUHKU. SAAT AKU BANGUN, AKU MEMBERINYA PELAJARAN, KARENA DIA…

Hari-hari berlalu di rumah mewah itu dengan keheningan yang menyesakkan dada. Arfan benar-benar menepati ucapannya untuk membawa Audi masuk ke dalam rumah. Pernikahan siri yang dilakukan secara diam-diam tanpa restu hukum yang sah itu digelar sederhana, hanya dihadiri oleh segelintir orang kepercayaan Audi. Bagi Arfan, ini adalah bentuk pembalasan dendam yang sempurna untuk mematahkan harga diri Saras, wanita yang dulu sangat ingin diceraikannya namun kini justru bersikap dingin seolah keberadaan mereka tidak lebih dari angin lalu.

Saras sama sekali tidak ambil pusing. Setiap kali melihat Audi berjalan dengan angkuh mengenakan gaun mewah di ruang tamu, Saras hanya tersenyum tipis sambil menyesap teh hangatnya. Di balik senyuman itu, tersimpan rahasia besar yang belum diketahui siapapun. Selama berbulan-bulan terbaring dalam koma di rumah sakit, jiwa Saras tidak benar-benar mati. Ia terjebak dalam kegelapan, namun indra pendengarannya tetap tajam. Ia mendengar setiap bisikan, setiap pengakuan, dan yang paling mengerikan, ia merasakan setiap sentuhan kotor yang dilakukan Arfan di atas tubuhnya yang tak berdaya ketika perawat dan dokter sedang tidak ada.

Arfan mengira Saras adalah boneka bisu yang tidak tahu apa-apa. Pria itu bahkan pernah dengan kejam membisikkan betapa jijiknya ia pada tubuh Saras, dan bagaimana ia tidak sabar menunggu wanita itu mati agar bisa bebas menikahi Audi. Kebencian yang membakar jiwa Saras bukanlah isapan jempol. Kebangkitannya dari koma bukanlah sebuah keajaiban biasa, melainkan sebuah misi pembalasan dendam yang elegan dan mematikan.

Suatu malam, suasana rumah terasa sangat dingin. Audi sengaja membuat keributan di dapur, membanting piring dan berteriak memanggil Arfan untuk melayaninya. Arfan yang baru saja pulang dengan wajah lelah langsung menghampiri Audi, berusaha menenangkan wanita manja itu. Sementara itu, Saras duduk santai di balkon kamar utama, menikmati angin malam yang berhembus pelan menerpa kulitnya yang mulai pulih sepenuhnya.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar. Arfan berdiri di ambang pintu dengan napas memburu, menatap Saras yang tampak tenang membaca sebuah buku tebal.

“Apa yang kamu rencanakan sebenarnya, Saras? Kenapa kamu tidak pernah marah? Kenapa kamu membiarkan Audi tinggal di sini dan menguasai semuanya?” bentak Arfan, frustrasi karena reaksi Saras jauh di luar prediksinya. Ia ingin melihat air mata, jeritan histeris, atau permohonan ampun, bukan ketenangan yang terkesan meremehkan.

Saras perlahan menutup bukunya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arfan tepat di mata pria yang telah menghancurkan hidupnya. Tatapan itu begitu tajam, dingin, dan penuh dengan aura intimidasi yang belum pernah Arfan lihat sebelumnya.

“Marah? Untuk apa aku marah pada dua orang sampah yang sedang menggali kuburan mereka sendiri?” jawab Saras dengan suara lembut namun menusuk.

Arfan tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa sinis. “Kamu sudah gila. Merasa paling tersiksa, padahal kamu hanya wanita lemah yang bergantung pada harta keluarga Pradana.”

“Oh, benarkah? Coba pikirkan kembali, Arfan. Selama ini perusahaan keluargamu hampir bangkrut, bukan? Dan siapa yang menyelamatkannya? Ayahku. Tapi sekarang, semua aset itu sudah diam-diam aku alihkan atas nama diriku sendiri sebelum aku masuk rumah sakit,” ucap Saras santai sambil bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Arfan.

Wajah Arfan mendadak pucat pasi. “Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan!”

“Aku tidak sembarangan. Coba cek ponselmu. Pesan dari pengacaraku pasti sudah masuk.”

Ponsel di saku Arfan bergetar hebat. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia membuka pesan tersebut. Matanya membelalak lebar saat membaca surat gugatan cerai sekaligus penyitaan seluruh aset perusahaan dan rumah mewah tempat mereka berdiri saat ini. Semuanya jatuh ke tangan Saras. Tanpa sepeser pun harta tersisa untuk Arfan.

“Kamu… kamu merencanakan ini semua?!” Arfan kehilangan kata-kata.

“Tentu saja. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan saat aku koma? Kamu pikir ciuman jijikmu dan kata-kata kasarmu tidak terekam dalam ingatanku? Aku mendengar semuanya, Arfan. Setiap sentuhan menjijikkanmu di atas tubuhku yang tak berdaya adalah alasan kenapa aku bangkit kembali. Bukan untuk hidup bersamamu, tapi untuk menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya,” bisik Saras tepat di telinga Arfan, membuat bulu kuduk pria itu merinding seketika.

Dari arah tangga, Audi muncul dengan wajah bingung melihat situasi yang berubah drastis. “Arfan, ada apa ini? Kenapa perempuan itu menatapmu seperti itu?”

Sebelum Arfan sempat menjawab, suara sirene mobil polisi terdengar meraung-raung di halaman depan rumah. Beberapa petugas kepolisian masuk ke dalam rumah bersama seorang pria berseragam rapi yang membawa map dokumen.

“Arfan Pradana, Anda dan saudari Audi ditangkap atas laporan pencemaran nama baik, penggelapan dana medis, serta tindak kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan bukti rekaman dan medis yang diserahkan oleh Nyonya Saras,” ucap petugas kepolisian tegas.

Audi menjerit histeris, menolak untuk diborgol, sementara Arfan terduduk lemas di lantai. Seluruh rencana licik yang ia susun bersama Audi runtuh seketika dalam hitungan detik. Ia menatap Saras dengan penuh penyesalan dan ketakutan, namun wanita itu hanya berdiri tegak dengan senyuman kemenangan di wajahnya.

Saras berbalik, membiarkan para petugas membawa pergi dua orang yang telah mencoba merenggut nyawa dan martabatnya. Rumah itu kini kembali sunyi, tetapi kali ini, udara di dalamnya terasa jauh lebih segar. Saras melangkah keluar ke halaman, menatap langit malam yang bertabur bintang, siap menyambut lembaran baru dalam hidupnya yang sepenuhnya berada di dalam genggamannya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang