Pelukan hangat Zavian malam itu seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahan diriku agar tidak benar-benar tenggelam dalam lautan kepedihan. Di bawah temaram lampu taman kota yang sunyi, isak tangisku akhirnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Bayangan wajah Mas Rizal, pria yang telah menghiasi hari-hariku selama beberapa tahun terakhir, berkelebat silih berganti dengan kalimat-kalimat kejam yang diucapkannya di hadapan Zavian dan Queen.
Semuanya terasa begitu absurd. Bagaimana mungkin pria yang kemarin masih menggenggam tanganku sambil tersenyum manis, berbicara tentang masa depan, dan merajut persiapan pernikahan, bisa dengan tega mengatakan bahwa ia tidak pernah menyukaiku? Bahwa ia terpaksa menikahiku karena desakan orang tuanya, sementara di belakangku ia menjalin hubungan selama satu tahun penuh dengan Queen, putri kandung dari suami sahku sendiri?

Ya, takdir memang gemar mempermainkan hidup manusia. Pernikahanku dengan Zavian, seorang pengusaha sukses yang terpaut usia cukup jauh dariku, awalnya didasari oleh rasa bakti kepada orang tua dan kebutuhan akan stabilitas hidup. Ibu yang dulunya hancur karena pengkhianatan ayah, selalu berpesan agar aku mencari pendamping yang mapan dan bertanggung jawab. Zavian hadir sebagai jawaban atas doa-doa ibu. Seorang duda matang yang tegas, tenang, dan terlihat sangat menghargai komitmen. Namun, siapa sangka bahwa ikatan suci yang baru saja kami bina justru menyeretku ke dalam pusaran drama yang jauh lebih rumit daripada bayanganku.
Zavian tidak melepaskan pelukannya. Ia terus mengelus punggungku dengan lembut, membiarkan segala amarah, kecewa, dan air mata keluar tanpa sisa. Bisikannya di telingaku terasa tulus, kontras dengan dinginnya dunia yang baru saja menghantamku.
“Sudah, Khalisa. Jangan siksa dirimu untuk laki-laki yang tidak tahu cara menghargai ketulusan,” ucap Zavian lirih, suaranya sarat akan kehangatan yang membuat hatiku sedikit bergetar.
Malam itu, di dalam mobil mewahnya dalam perjalanan pulang menuju rumah, tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Zavian menggenggam jemariku erat, seolah menyalurkan kekuatan yang telah terkuras habis dari diriku. Sesampainya di rumah besar yang sunyi, ia tidak langsung menyuruhku istirahat. Pria itu membuatkan secangkir teh hangat, menuntunku duduk di sofa ruang keluarga, dan duduk berlutut di hadapanku.
“Khalisa, tatap aku,” pinta Zavian dengan suara rendah namun penuh wibawa.
Aku mengangkat wajahku, menatap manik matanya yang tajam namun memancarkan kelembutan khusus untukku.
“Aku tahu pernikahan kita terjadi karena perjodohan kilat dan rasa hormatmu padaku. Aku tahu kamu belum sepenuhnya mencintaiku saat kita mengucap janji pernikahan. Tapi dengar baik-baik, sejak hari pertama jari ini melingkarkan cincin di manismu, kamu adalah tanggung jawabku. Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Rizal tadi. Bagi dunia, dia mungkin calon suamimu di masa lalu, tapi bagiku, kamu adalah istriku satu-satunya yang harus kujaga,” kata Zavian tegas.
Kalimat itu menohok hatiku. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di dada, meredakan perih akibat luka yang ditorehkan Rizal. Untuk pertama kalinya semenjak pernikahan kami, aku melihat ketulusan yang begitu nyata di mata Zavian. Pria yang selama ini kulihat kaku dan dingin ternyata menyimpan kepedulian yang begitu besar.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan bayang-bayang kejadian di taman malam itu. Aku memutuskan untuk memblokir seluruh akses komunikasi dengan Rizal. Nomor teleponnya, akun media sosialnya, hingga pesan-pesan teror penyesalan yang dikirimkannya lewat berbagai platform, kuabaikan begitu saja. Aku ingin bangkit. Aku tidak ingin menjadi wanita lemah seperti ibuku yang terus meratapi nasib sialnya. Aku adalah Khalisa, dan aku berhak bahagia.
Namun, dunia rupanya belum ingin membiarkanku tenang begitu saja.
Suatu sore, saat Zavian sedang dinas luar kota selama beberapa hari, sebuah pesan asing masuk ke ponselku. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan foto dan sebuah alamat kafe di pusat kota Jakarta.
[Jika kamu ingin tahu rahasia besar tentang suamimu dan siapa sebenarnya Queen, datanglah ke kafe ini pukul empat sore. Jangan bawa siapa-siapa, atau kamu akan menyesal seumur hidup.]
Jantungku berdegup kencang. Jemariku gemetar di atas layar ponsel. Siapa pengirim pesan ini? Apakah ini ulah Queen atau Rizal yang ingin balas dendam? Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalaku. Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan akhirnya mendesakku untuk melangkah. Aku harus tahu apa lagi yang disembunyikan oleh takdir dariku.
Pukul empat sore tepat, aku melangkah masuk ke dalam kafe bernuansa klasik yang cukup sepi itu. Mataku menyapu setiap sudut ruangan hingga akhirnya menangkap sosok wanita paruh baya berpenampilan elegan duduk di dekat jendela kaca besar. Wanita itu mengenakan kacamata hitam, namun dari garis wajahnya, aku bisa merasakan aura ketegasan yang tidak asing.
Aku mendekatinya dengan langkah ragu. “Permisi… apakah Anda yang mengirim pesan kepadaku?”
Wanita itu perlahan melepas kacamata hitamnya, menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa penasaran, iba, sekaligus kebencian yang samar.
“Duduklah, Khalisa. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan istri sah dari mantan suami siriku, atau lebih tepatnya… istri dari pria yang telah merusak keluarga orang lain.”
Kalimat pembuka itu langsung menghantamku telak. Napasku tercekat.
“Apa maksud Anda?” tanyaku dengan suara bergetar.
Wanita itu tersenyum sinis, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja. “Buka dan lihat sendiri. Kamu pikir Zavian adalah pria malaikat pelindung yang tulus menyelamatkanmu dari Rizal? Kamu terlalu naif, nak.”
Dengan tangan gemetar, aku membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen serta foto-foto lama. Mataku melebar, napasku seakan berhenti berdetak saat melihat isi dokumen itu. Akta nikah lama, foto-foto masa lalu, dan beberapa surat perjanjian bisnis yang melibatkan nama Zavian dan… ibu kandungku.
“Tidak… ini tidak mungkin,” gumamku menggelengkan kepala dengan cepat.
“Kamu terkejut?” Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar getir. “Zavian bukan hanya sekadar pengusaha kaya yang kebetulan menikahimu karena perjodohan. Zavian adalah mantan suami kedua dari mendiang ibumu, wanita yang bertahun-tahun lalu menghancurkan rumah tanggaku demi harta! Dan Queen… Queen adalah anak kandung Zavian dari pernikahan gelap mereka setelah ibumu berhasil merebut Zavian dariku!”
Dunia di sekelilingku mendadak runtuh. Suara musik kafe di latar belakang berubah menjadi dengungan kosong yang memekakkan telinga. Sekujur tubuhku mendadak dingin. Jadi… semua ini bukan kebetulan? Pernikahan Zavian denganku bukanlah takdir indah yang menyelamatkannya dari rasa sakit, melainkan sebuah rencana balas dendam yang sangat terencana dengan rapi?
“Kamu mengerti sekarang, Khalisa?” lanjut wanita itu dengan tatapan tajam menusuk. “Zavian sengaja mendekatimu, memperdaya ibumu yang saat itu sudah sakit-sakitan, lalu menikahimu agar ia bisa mengendalikan hidupmu. Dan hubungan Queen dengan Rizal? Itu hanyalah bagian dari permainan psikologis mereka untuk menghancurkan mentalmu perlahan-lahan, membuatmu bergantung penuh pada Zavian, sebelum akhirnya ia membuangmu ke jurang kehancuran yang sama seperti yang dilakukan ibumu kepadaku dulu!”
“Cukup! Jangan bicara omong kosong!” teriakku histeris, membuat beberapa pengunjung lain melirik ke arah meja kami.
Air mataku tumpah seketika, bukan lagi karena sedih ditinggal Rizal, melainkan karena ngeri menyadari bahwa aku hidup di tengah sarang penyamun yang dikendalikan oleh pria yang selama ini kupeluk sebagai tempat berlindung.
Aku bangkit dari kursi dengan kaki yang lemas, meninggalkan wanita itu sendirian di meja bersama dokumen-dokumen mengerikan tersebut. Aku berlari keluar kafe, menembus rintakan hujan gerimis yang mulai turun di ibu kota. Pikiranku kacau balau. Rasa sakit, dikhianati, dan rasa jijik bercampur menjadi satu.
Sesampainya di rumah besar milik Zavian, rumah yang selama ini terasa hangat namun kini berubah menjadi sangkar emas yang menakutkan, aku langsung membereskan pakaianku dengan tangan gemetar. Aku harus pergi. Aku tidak boleh tinggal sedetik pun lagi bersama monster berkedok suami itu.
“Mau pergi ke mana, Khalisa?”
Suara berat yang sangat kukenal itu tiba-tiba menggelegar dari ambang pintu kamar.
Aku terperanjat, berbalik dengan cepat. Zavian berdiri di sana dengan jas kerjanya yang sedikit basah oleh hujan, menatapku dengan sorot mata yang begitu dingin—sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyuman hangat yang biasa ia tunjukkan telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi datar tanpa ampun.
“Jangan mendekat!” seruku sambil mengangkat tangan, mencoba menjaga jarak darinya. “Aku sudah tahu semuanya, Zavian! Aku tahu siapa kamu sebenarnya! Permainan busuk apa yang sedang kamu mainkan?!”
Zavian tidak terkejut sama sekali. Ia justru melangkah pelan mendekatiku, menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat darahku membeku.
“Wah… rupanya kamu lebih pintar dari perkiraanku, sayang,” ucap Zavian dengan nada suara yang begitu tenang, begitu mengerikan. “Wanita tua itu rupanya tidak sabar memberikan kebenaran padamu. Ya, semua yang kamu dengar itu benar, Khalisa.”
Ia berhenti tepat beberapa langkah di hadapanku, menatapku lekat-lekat tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Ibumu merebut kebahagiaanku di masa lalu, menghancurkan keluargaku, dan membuat anakku hidup tanpa kasih sayang yang utuh. Maka, adalah tugas suci bagiku untuk memastikan keturunan wanita itu merasakan kepedihan yang sama persis,” lanjut Zavian dengan suara berbisik yang menusuk relung jiwa. “Rizal hanyalah alat kecil dalam skenario besar ini. Dan kamu… adalah mahakarya pembalasanku yang paling indah.”
Kaki-kakiku lemas. Koper di hadapanku terasa begitu berat, seolah membawa seluruh beban dosa masa lalu yang tidak pernah kutahu asalnya. Di luar, petir menyambar dengan begitu keras, seakan menertawakan takdir malang yang kembali berulang, menjeratku dalam lingkaran dendam yang tidak berujung.
