Rumahku tenggelam dalam kegelapan yang begitu pekat hingga suara napas Emma terdengar lebih keras daripada angin malam yang berembus dari sela-sela jendela. Aku mengangkat telapak tangan, memberi isyarat agar ia tetap diam. Selama dua puluh tiga tahun menjadi penyidik pembunuhan, aku belajar satu hal yang tak pernah salah. Kepanikan selalu menjadi senjata terbaik bagi pelaku.
Klik logam itu terdengar lagi.
Lebih dekat.
Berasal dari pintu belakang.
Aku meraih senter kecil yang selalu kusimpan di laci dapur. Tangan kiriku menggenggam sebuah tongkat besi lipat yang kubeli setelah pensiun. Aku tidak pernah mengira benda itu akan kugunakan untuk melindungi anakku sendiri.

“Naik ke lantai dua,” bisikku.
Emma menggeleng sambil memegang lenganku.
“Dia tidak datang sendirian.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Ada tiga orang.”
Belum sempat aku bertanya lebih jauh, suara kaca pecah memecah kesunyian.
Seseorang baru saja memecahkan jendela dapur.
Aku segera menarik Emma menuju tangga, tetapi suara langkah kaki terdengar memasuki rumah.
“Mereka masuk,” bisik Emma dengan napas tersengal.
Aku mematikan senter.
Rumah yang gelap kini menjadi keuntungan bagiku. Aku mengenal setiap sudut rumah ini, sementara mereka tidak.
Suara laki-laki terdengar pelan.
“Cari flash drive itu.”
Bukan Tyler.
Suara orang lain.
Berarti Emma benar.
Mereka datang bertiga.
Aku membawa Emma masuk ke kamar kerjaku di lantai dua. Di balik lemari buku terdapat ruang kecil yang dahulu kubangun untuk menyimpan dokumen kasus-kasus penting. Hampir tak ada orang yang mengetahui keberadaannya.
“Masuk.”
“Aku tidak mau meninggalkan Ibu.”
“Dengar. Kalau terjadi sesuatu, kau tetap di sini sampai polisi datang.”
Emma menggigit bibirnya.
“Aku tidak akan kehilangan Ibu juga.”
Aku menyentuh pipinya yang lebam.
“Kau tidak akan.”
Aku menutup pintu rahasia itu perlahan.
Kemudian aku turun seorang diri.
Suara langkah kaki kini berada di ruang tamu.
Aku melihat siluet seorang pria mengarah ke meja televisi.
Saat itulah listrik kembali menyala.
Lampu ruang tamu menyala terang.
Pria itu menoleh kaget.
Aku langsung menghantamkan tongkat besi ke lengannya hingga pistol yang ia pegang terlempar ke lantai.
Ia meraung kesakitan.
Dua pria lain berlari dari arah dapur.
Sebelum mereka sempat mendekat, sirene polisi menggema dari kejauhan.
Mereka saling berpandangan.
“Sial! Cepat pergi!”
Ketiganya kabur melalui pintu belakang.
Aku mengejar hingga halaman, tetapi mereka sudah melompat masuk ke sebuah mobil abu-abu tanpa pelat nomor dan menghilang.
Beberapa menit kemudian polisi tiba.
Petugas muda yang memimpin terlihat terkejut saat melihatku.
“Bu Rina?”
Aku mengangguk.
“Aku butuh perlindungan untuk putriku.”
Ia memandang rumah yang berantakan.
“Siapa pelakunya?”
“Orang-orang Tyler.”
Nama itu membuat beberapa petugas saling berpandangan.
Tyler Prasetyo.
Semua orang mengenalnya.
Pengusaha sukses.
Pemilik beberapa perusahaan konstruksi.
Dermawan.
Pembicara seminar.
Wajahnya sering muncul di televisi.
Tak seorang pun tahu wajah lain yang ia sembunyikan.
Setelah rumah diamankan, Emma akhirnya mengeluarkan flash drive itu.
Kami membukanya menggunakan laptop lamaku.
Di dalamnya terdapat puluhan folder.
Foto.
Video.
Rekaman suara.
Dokumen keuangan.
Semakin lama kami melihat isinya, wajahku semakin pucat.
Tyler bukan sekadar suami yang kasar.
Ia menjalankan bisnis pencucian uang melalui yayasan amal miliknya.
Ia menyuap sejumlah pejabat.
Merekayasa proyek pemerintah.
Memalsukan laporan pajak.
Bahkan terdapat video kamera tersembunyi yang memperlihatkan Tyler memukuli beberapa perempuan berbeda.
Emma menunduk.
“Aku bukan perempuan pertama.”
Dadaku sesak.
“Maksudmu?”
“Ada tiga perempuan sebelum aku.”
“Kenapa tidak pernah dilaporkan?”
“Satu meninggal karena katanya bunuh diri.”
Emma berhenti berbicara.
“Yang satu pindah ke luar negeri.”
“Yang terakhir menghilang.”
Aku menatap layar.
Di folder terakhir terdapat nama yang membuat napasku terhenti.
ARMAN SANTOSO.
Nama itu tidak asing.
Ia adalah jurnalis investigasi yang ditemukan tewas lima tahun lalu.
Kasusnya dinyatakan bunuh diri.
Aku ikut menangani penyelidikannya.
Namun sejak awal aku yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Video berdurasi dua menit mulai diputar.
Arman sedang berbicara kepada kamera.
“Kalau kalian melihat video ini, berarti aku sudah mati. Semua bukti yang kukumpulkan kusimpan di tempat yang hanya diketahui satu orang. Tyler Prasetyo memimpin jaringan korupsi yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Jangan percaya siapa pun.”
Video berhenti.
Emma memandangku.
“Itu sebabnya Tyler sangat panik.”
Aku mengangguk pelan.
“Flash drive ini bukan hanya menghancurkan Tyler.”
“Lalu?”
“Ini bisa menghancurkan banyak orang.”
Esok paginya aku membawa seluruh salinan data ke mantan rekanku di Divisi Kriminal Khusus.
Namanya Komisaris Budi.
Selama bertahun-tahun aku mempercayainya.
Namun saat melihat isi flash drive, wajahnya berubah aneh.
“Kau yakin tidak ada salinan lain?”
Aku langsung merasakan firasat buruk.
“Maksudmu?”
“Kalau data ini bocor, negara bisa gempar.”
Aku memperhatikannya dalam diam.
Cara matanya menghindar.
Cara jemarinya mengetuk meja.
Sikap gugup yang berlebihan.
Insting lamaku kembali bekerja.
Aku tersenyum tipis.
“Boleh aku ke toilet sebentar?”
“Tentu.”
Begitu keluar dari ruangannya, aku langsung menarik Emma.
“Kita pergi.”
“Ibu belum menyerahkan buktinya.”
“Justru karena itu kita harus pergi sekarang.”
Kami meninggalkan gedung melalui pintu belakang.
Lima menit kemudian ponselku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
“Bu Rina.”
Suara Tyler.
“Kau pintar.”
“Aku lebih pintar daripada yang kau kira.”
“Kau sadar tidak mungkin menang?”
“Aku sudah sering mendengar ancaman seperti itu.”
Tyler tertawa pelan.
“Kau masih percaya Komisaris Budi?”
Aku mematikan telepon.
Emma memandangku.
“Dia juga?”
Aku mengangguk.
“Jaringan ini lebih besar daripada dugaan kita.”
Hari itu kami bersembunyi di rumah sahabat lamaku, seorang jaksa senior bernama Maya.
Aku menyerahkan satu salinan flash drive kepadanya.
Maya membaca sebagian dokumen lalu berkata pelan,
“Kalau ini asli, puluhan orang akan masuk penjara.”
“Itu memang tujuannya.”
Kami segera menghubungi Komisi Pemberantasan Korupsi dan unit investigasi internal kepolisian secara bersamaan.
Kali ini bukti dikirim ke beberapa tempat sekaligus.
Tak seorang pun bisa menghilangkannya.
Dua hari kemudian berita besar meledak.
Beberapa kantor perusahaan Tyler digeledah.
Puluhan rekening dibekukan.
Sejumlah pejabat diperiksa.
Komisaris Budi ditangkap saat hendak meninggalkan Indonesia.
Tyler sendiri menghilang.
Media nasional dipenuhi pemberitaan.
Masyarakat terkejut.
Pria yang selama ini dipuja ternyata menjalani kehidupan ganda.
Namun semua itu belum selesai.
Suatu malam, saat aku dan Emma hendak pulang dari kantor kejaksaan, sebuah mobil melaju kencang ke arah kami.
Aku mendorong Emma sekuat tenaga.
Mobil itu menghantam pagar.
Pengemudinya turun.
Tyler.
Matanya merah.
Wajahnya penuh amarah.
“Semua karena kalian!”
Ia mengeluarkan pisau.
“Aku kehilangan semuanya!”
“Apa yang hilang darimu bukan karena kami,” kataku tenang. “Melainkan karena pilihanmu sendiri.”
Ia berlari ke arahku.
Belum sempat pisau itu menyentuhku, suara tembakan peringatan terdengar.
“Letakkan senjatamu!”
Tim kepolisian yang sejak tadi membuntuti kami langsung mengepung lokasi.
Tyler memandang ke segala arah.
Tak ada jalan keluar.
Namun yang mengejutkan, ia justru tertawa.
“Kalian pikir aku pemimpinnya?”
Semua terdiam.
Tyler menoleh kepadaku.
“Aku cuma pion.”
Lalu ia menjatuhkan pisaunya.
Ia menyerahkan diri.
Kalimat terakhir itu terus terngiang di kepalaku.
Aku kembali membuka seluruh isi flash drive.
Kali ini aku memeriksa folder yang sebelumnya kami abaikan.
Ada satu file terenkripsi.
Setelah beberapa jam, akhirnya file itu terbuka.
Isinya hanya sebuah foto.
Foto rapat makan malam di sebuah vila mewah.
Di meja itu duduk Tyler bersama beberapa tokoh penting.
Politikus.
Pengusaha.
Seorang hakim.
Dan satu wajah yang membuat tubuhku membeku.
Suamiku.
Pria yang meninggal delapan tahun lalu karena kecelakaan mobil.
Aku menatap foto itu tanpa berkedip.
Emma menghampiriku.
“Ibu?”
Tanganku gemetar saat memperbesar gambar tersebut.
Tidak mungkin aku salah mengenali wajah laki-laki yang hidup bersamaku selama tiga puluh tahun.
Di bagian belakang foto tertulis sebuah tanggal.
Tanggal itu diambil enam bulan setelah suamiku dinyatakan meninggal.
Air mataku perlahan jatuh.
Selama ini aku percaya telah kehilangan suami karena kecelakaan tragis.
Namun kini satu foto sederhana menghancurkan seluruh keyakinanku.
Tyler memang sudah tertangkap.
Jaringannya mulai runtuh.
Tetapi ternyata semua yang kulalui selama bertahun-tahun baru membuka lapisan pertama dari rahasia yang jauh lebih besar.
Dan untuk pertama kalinya sejak pensiun menjadi penyidik, aku sadar bahwa kasus paling berbahaya dalam hidupku bukanlah pembunuhan yang pernah kutangani.
Melainkan kebohongan yang selama ini hidup di dalam keluargaku sendiri.
