Namaku Michael Harrison, dan semuanya berubah pada suatu Kamis sore yang awalnya terasa biasa saja di Chicago.

Ponsel di tanganku terasa semakin berat, seolah layar kecil itu menahan beban ribuan ton kenyataan yang belum siap kuhadapi. Udara sore Chicago yang dingin tiba-tiba terasa seperti ribuan jarum kecil yang menusuk kulitku. Aku berdiri terpaku di trotoar yang mulai sibuk oleh orang-orang berlalu-lalang, mengabaikan klakson mobil dan deru mesin kota yang biasanya menjadi latar belakang hidupku yang monoton.

Siapa wanita di ranjang rumah sakit itu? Bagaimana ia tahu nomorku? Dan dari sekian banyak orang kaya di kota ini, mengapa takdir mempertemukannya—atau lebih tepatnya, mempertemukan putrinya—denganku?

Aku segera mengetik balasan singkat, jempolku bergetar hebat.

Di rumah sakit mana? Saya akan kesana sekarang.

Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk. Memorial West Hospital, Kamar 412. Tolong, Tuan Harrison.

Aku tidak memanggil sopir pribadiku. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku memesan taksi daring dan membiarkan diriku tersesat dalam keheningan kursi belakang. Sepanjang perjalanan, pikiranku berkecamuk. Sophie. Anak perempuan berambut pirang dengan kepang dua dan sepatu yang robek itu. Ia berlari dengan senyum cerah, tidak tahu bahwa di tempat putih yang steril, ibunya sedang berjuang melawan detik-detik terakhir kehidupan. Bayangan jari-jari kakinya yang menyembul keluar dari sepatu usang itu kembali berkelebat di benakku, mencabik-cabik pertahanan batinku.

Setibanya di rumah sakit, aku melangkah cepat melewati koridor berbau disinfektan yang khas. Nomor kamar 412 berada di ujung sayap barat lantai empat. Jantungku berdetak kencang, ritme yang tidak pernah kurasakan bahkan saat aku harus mempresentasikan laporan keuangan senilai seratus juta dolar kepada para investor paling kejam di Wall Street.

Pintu kayu itu sedikit terbuka. Dari celah pintu, kulihat Sophie sedang duduk di kursi plastik kecil di samping ranjang. Sepatu kets putih berhias merah muda yang baru saja kubelikan tergantung rapi di kakinya, terlihat sangat kontras dengan suasana kamar yang suram. Ia sedang memegang tangan seorang wanita dewasa yang wajahnya pucat pasi, matanya terpejam damai dengan selang oksigen melingkup di hidungnya.

Aku mendorong pintu perlahan. Engselnya berderit nyaris tanpa suara.

Sophie menoleh. Matanya membelalak kencang saat melihatku. Ia berdiri perlahan, seolah takut mengganggu ibunya yang sedang tidur.

“Om baik…” bisiknya, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi monitor detak jantung.

Wanita di atas ranjang itu perlahan membuka kelopak matanya. Suaranya serak, napasnya terdengar berat di balik masker oksigen. Ia menoleh ke arahku, dan pada detik itulah duniaku seakan berhenti berputar.

Wajah itu.

Mata hijau zamrud yang tajam, garis rahang yang tegas, senyum tipis yang meski tertutup pucat, tetap menyisakan bayangan masa lalu yang sangat kukenal.

“Michael…” bisik wanita itu. Suaranya lemah, tetapi cukup untuk membuat seluruh darah di tubuhku membeku.

Clara.

Nama itu keluar dari mulutku tanpa sadar, meluncur begitu saja dari lubuk hati terdalam yang telah kuciptakan tembok tinggi selama belasan tahun. Clara Miller. Cinta pertamaku. Wanita yang menghilang begitu saja dari hidupku tanpa sepatah kata pun sepuluh tahun lalu, meninggalkanku dalam kebingungan dan kepahitan yang akhirnya mendorongku menjadi seorang pecandu kerja yang dingin dan arogan.

“Clara…” ucapku tergagap, melangkah maju dengan lutut yang terasa lemas. “Bagaimana… apa yang terjadi?”

Clara tersenyum pahit, menatap Sophie yang berdiri bingung di antara kami berdua. “Sophie sayang, bisa ambilkan air minum di dekat jendela untuk Ibu? Di gelas kecil itu.”

Sophie mengangguk patuh, melangkah dengan sepatu barunya yang sama sekali tidak bersuara, menuju meja di sudut ruangan.

Clara menarik napas panjang, meremas jemariku yang kini telah menggenggam tangannya yang kurus kering. Kulitnya terasa dingin. “Maafkan aku, Michael. Maaf karena baru mencarimu sekarang. Aku tidak punya pilihan lain. Penyakit ini menggerogotiku begitu cepat, dan tabunganku… semua habis untuk pengobatan. Aku tidak ingin Sophie hidup sendirian di dunia ini tanpa arah.”

“Kenapa kau tidak mencariku dulu? Kenapa kau pergi, Clara?” tanyaku, nada suaraku bergetar, memendam amarah dan rindu yang bercampur aduk menjadi satu.

“Ayahku…” Clara memejamkan mata sejenak, menahan sakit. “Ayahku terlilit utang judi yang sangat besar. Orang-orang itu mengancam keselamatanmu, Michael. Mereka bilang mereka akan menghancurkan kariermu yang baru mulai merintis jika aku tetap bersamamu. Jadi, aku memilih pergi demi melindungimu. Aku mengandung Sophie setelah kita berpisah, dan aku membesarkannya seorang diri, menyembunyikan identitasku karena aku tahu kau telah menjadi orang penting di kota ini.”

Air mata menetes di pipiku. Semua kemarahan yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang kesedihan yang teramat sangat. Ternyata kesunyian di apartemen mewakiku selama ini bukanlah kutukan karena aku tidak mampu mencintai, melainkan karena separuh jiwaku telah lama hilang di masa lalu.

Sophie kembali dengan segelas air di tangannya. Ia menyerahkannya kepada ibunya dengan hati-hati.

“Terima kasih, sayang,” ucap Clara lembut, mengelus rambut pirang Sophie. Lalu ia menatapku lurus-lurus, sorot matanya menyiratkan sebuah permohonan terakhir yang mutlak. “Michael, aku tahu ini permintaan yang sangat egois. Aku tahu aku tidak berhak meminta apa pun darimu setelah apa yang kulakukan. Tapi… maukah kau berjanji kepadaku? Jaga Sophie. Anggap dia sebagai anakmu sendiri.”

Sophie menatap kami bergantian, keningnya berkerut bingung. “Ibu, apa maksud Ibu? Kenapa Ibu bicara begitu? Ibu kan akan segera sembuh.”

Clara tersenyum getir, mencium kening putrinya untuk terakhir kalinya. “Ibu sangat mencintaimu, Sophie. Ingat itu selamanya.”

Beberapa detik kemudian, garis pada monitor detak jantung di samping ranjang berubah menjadi lurus. Bunyi nyaring yang konstan memenuhi ruangan.

“Ibu?” Sophie mengguncang tangan ibunya. “Ibu… bangun, Bu. Ibu…”

Aku berlutut di samping Sophie, menarik tubuh kecil itu kedalam pelukan eratku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan tangisan yang begitu tulus, bukan karena kehilangan harta atau jabatan, melainkan karena aku baru saja menemukan apa arti hidup yang sesungguhnya di saat ia direbut dariku.

Enam bulan kemudian.

Apartemen mewaiku di Chicago tidak lagi sunyi. Suara gelak tawa anak kecil memenuhi setiap sudut ruangan. Sepatu-sepatu kecil berjejer rapi di dekat pintu depan, bersanding dengan sepatu kerjaku yang mahal.

Aku tidak lagi memikirkan rapat dewan direksi atau proyeksi keuntungan perusahaan dengan obsesi yang sama. Setiap kali aku pulang dan melihat Sophie berlari menyambutku dengan sepatu kets putihnya, aku tahu bahwa takdir tidak pernah salah jalan.

Ia kehilangan seorang ibu, dan aku kehilangan separuh hidupku. Namun di dalam pelukan satu sama kami berdua, kami saling melengkapi, menyembuhkan luka masa lalu, dan merajut masa depan yang terang. Karena pada akhirnya, kekayaan sejati bukanlah apa yang kau miliki di rekening bankmu, melainkan siapa yang menunggumu pulang saat pintu apartemenmu terbuka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang