Suara bip dari dalam Unit 17 terdengar semakin cepat, tajam, dan teratur, seolah sedang menghitung mundur sesuatu yang tidak ingin kuketahui.
Aku menatap agen perempuan di depanku. Wajahnya tetap tenang, tetapi tangannya bergerak cepat membuka jaket dan meraih pistol di pinggang.
“Menjauh dari pintu,” katanya.
“Apa itu bom?”
“Belum tentu.”
Jawaban itu sama sekali tidak menenangkan.

Ia memberi isyarat kepada dua pria yang sejak tadi berdiri di dalam kantor pengelola. Keduanya segera berlari mendekat sambil membawa peralatan pemindai. Salah seorang menempelkan alat kecil ke pintu besi Unit 17, sementara yang lain memeriksa sambungan kabel dan celah di bawahnya.
Ponselku terus berdering.
Nama Ibu memenuhi layar.
Agen itu merebut ponselku sebelum aku sempat menolak, lalu menekan tombol senyap.
“Nama saya Maya Pradana,” katanya. “Saya penyidik dari unit kejahatan keuangan. Ayah Anda bekerja sama dengan kami selama delapan belas bulan terakhir.”
Aku menatapnya tanpa mengerti.
“Ayah saya pensiunan konsultan properti.”
“Itulah yang dia ingin semua orang percayai.”
Bip itu tiba-tiba berhenti.
Kesunyian yang muncul setelahnya terasa lebih mengerikan daripada suara sebelumnya.
Salah seorang petugas mengangkat ibu jarinya.
“Bukan bahan peledak. Sensor pintu dengan pengatur waktu.”
Maya mengembuskan napas pendek, lalu menyerahkan kunci kuningan kepadaku.
“Pintu ini hanya bisa dibuka oleh Anda.”
“Kenapa?”
“Karena sidik jari dan sampel biologis Anda sudah didaftarkan pada sistem keamanan di dalam.”
Aku hampir tertawa karena kalimat itu terdengar tidak masuk akal. Namun tidak ada satu pun wajah di sana yang menunjukkan bahwa mereka sedang bercanda.
Aku memasukkan kunci ke lubang pintu. Begitu diputar, terdengar bunyi klik, lalu pemindai kecil di samping gagang menyala. Aku menempelkan ibu jari pada permukaannya.
Lampu berubah hijau.
Pintu besi terangkat perlahan.
Di dalamnya tidak ada tumpukan furnitur atau kardus tua seperti yang kubayangkan. Ruangan itu telah diubah menjadi kantor sempit. Ada meja, dua layar komputer, lemari besi, beberapa kotak dokumen, dan sebuah papan besar yang dipenuhi foto, kuitansi, peta, serta benang merah yang menghubungkan satu nama dengan nama lainnya.
Di bagian tengah papan terdapat foto keluargaku.
Ayah.
Ibu.
Aku.
Celeste.
Dan dua anak kami.
Darahku terasa membeku.
“Mengapa keluarga saya ada di situ?”
Maya berdiri di sampingku.
“Karena salah satu dari mereka terlibat.”
Aku menoleh cepat.
“Terlibat dalam apa?”
Ia membuka sebuah map bertuliskan Proyek Arunika.
Ayahku selama bertahun-tahun menangani pembebasan lahan untuk pembangunan kawasan industri di Bekasi dan Karawang. Menurut Maya, proyek itu menjadi kedok untuk mencuci uang hasil korupsi, penggelapan pajak, dan penjualan tanah menggunakan dokumen palsu.
Orang-orang yang terlibat bukan penjahat kecil. Ada pengusaha, pejabat, notaris, mantan aparat, bahkan pengurus yayasan yang sering muncul di televisi sebagai tokoh dermawan.
Ayah menemukan pola transaksi itu hampir dua puluh tahun lalu.
Ia sempat mencoba melapor.
Namun laporan pertamanya bocor.
Dua saksi menghilang. Seorang akuntan ditemukan tewas dalam kecelakaan yang tidak pernah benar-benar diselidiki. Sejak saat itu, Ayah memilih berpura-pura diam sambil mengumpulkan bukti sedikit demi sedikit.
“Lalu kenapa dia memalsukan kematiannya?” tanyaku.
“Karena tiga hari lalu identitasnya sebagai informan terbongkar.”
Aku menatap peti-peti dokumen di hadapanku.
“Jadi dia masih hidup?”
Maya tidak langsung menjawab.
“Terakhir kali kami berkomunikasi dengannya, iya.”
Harapan muncul begitu cepat hingga terasa menyakitkan.
“Di mana dia?”
“Kami tidak tahu.”
Maya menyalakan salah satu komputer. Sebuah rekaman video terbuka. Wajah ayahku muncul di layar, duduk di ruangan yang sama. Ia tampak lelah. Rambutnya berantakan, dan untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan yang selama ini selalu berhasil ia sembunyikan.
“Julian,” katanya dalam video, “kalau kamu melihat ini, berarti pemakamanku sudah selesai dan rencanaku gagal berjalan sempurna.”
Dadaku sesak.
“Ayah tidak pernah ingin melibatkanmu. Namun orang-orang yang mengejarku sudah terlalu dekat. Mereka tahu bukti terakhir kusimpan atas namamu.”
Aku menatap Maya.
“Bukti apa?”
Di video, Ayah mengangkat sebuah gelang perak tipis.
Aku mengenalinya. Gelang itu hadiah ulang tahunku untuk Ibu lima tahun lalu.
“Semua transaksi utama tersimpan dalam perangkat mikro yang disembunyikan di gelang ibumu,” lanjut Ayah. “Aku menaruhnya di sana karena kupikir tidak seorang pun akan mencurigainya.”
Aku teringat tangan Ibu di pemakaman.
Ia tidak memakai gelang itu.
Ayah menarik napas panjang dalam rekaman.
“Jika ibumu memintamu pulang sendirian, jangan langsung mempercayainya. Namun jangan pula menganggap dia musuhmu. Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan kepadamu. Ibumu tahu sebagian dari penyelidikan ini. Dia membantuku sejak awal.”
Rekaman berhenti mendadak.
Aku menatap layar hitam.
“Sebagian?”
Maya mengangguk. “Kami belum tahu seberapa banyak yang dia ketahui. Atau apakah pesan tadi benar-benar dikirim olehnya.”
Saat itu ponselku bergetar lagi.
Bukan telepon.
Sebuah foto masuk dari nomor Ibu.
Foto ruang makan rumah masa kecilku.
Ibu duduk di kursi dengan tangan terikat. Di belakangnya berdiri Celeste.
Istriku memegang gelang perak itu.
Di bawah foto terdapat pesan singkat.
Bawa semua isi Unit 17. Datang sendiri. Kalau tidak, ibumu mati.
Dunia di sekelilingku seolah berhenti bergerak.
Aku memperbesar foto berkali-kali, berharap mataku salah melihat. Namun itu benar-benar Celeste. Perempuan yang sudah sebelas tahun menjadi istriku. Perempuan yang memegang tanganku ketika anak-anak kami lahir. Perempuan yang beberapa jam lalu berdiri di pemakaman sambil menangis di sampingku.
“Tidak mungkin,” bisikku.
Maya mengambil ponselku.
“Kapan terakhir kali Anda melihat istri Anda?”
“Di pemakaman. Dia bersama anak-anak.”
“Kami harus menemukan anak-anak Anda sekarang.”
Aku menelepon pengasuh kami. Tidak ada jawaban.
Aku menghubungi sekolah anak-anak, meski tahu hari itu mereka tidak masuk. Lalu aku menelepon adik Celeste.
Ia menjawab setelah dering kedua.
“Julian?”
“Anak-anak di mana?”
Hening.
“Celeste mengantar mereka ke rumahku satu jam lalu,” katanya. “Dia bilang kalian harus mengurus sesuatu setelah pemakaman.”
Aku hampir jatuh karena lega.
“Mereka aman?”
“Ya. Tapi sebenarnya ada apa?”
Aku menutup telepon tanpa menjawab.
Maya segera mengatur tim untuk mengamankan anak-anak. Setelah itu ia memintaku duduk.
“Kami bisa menyerbu rumah itu,” katanya.
“Kalau mereka melihat polisi datang, Ibu bisa dibunuh.”
“Kami tidak tahu berapa orang di dalam.”
“Aku akan pergi.”
“Tidak.”
“Mereka meminta aku datang.”
“Itulah alasan Anda tidak boleh pergi.”
Aku menatap foto Ibu di layar. Wajahnya pucat, tetapi matanya mengarah sedikit ke kiri, bukan ke kamera. Aku mengenal tatapan itu. Sejak kecil, Ibu selalu memberi petunjuk dengan matanya ketika ia tidak bisa berbicara langsung.
Aku memperhatikan latar belakang foto.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat dua belas.
Namun jam itu rusak sejak dua bulan lalu. Jarumnya selalu berhenti pada pukul tujuh lewat dua belas.
Di atas meja terdapat vas bunga biru yang biasanya disimpan di kamar tamu.
Dan di kaca lemari, terlihat pantulan samar seseorang yang mengambil foto.
Bukan Celeste.
Sosoknya lebih tinggi.
“Foto ini dibuat untuk menipu kita,” kataku.
Maya mendekat.
“Maksud Anda?”
“Celeste memang ada di sana, tapi bukan dia yang memegang kendali. Lihat tangannya.”
Gelang itu berada di tangan kanan Celeste. Namun istriku kidal. Jika ingin menunjukkan barang ke kamera, ia hampir selalu menggunakan tangan kiri.
Selain itu, ada luka kemerahan di pergelangan tangannya, seolah ikatan baru saja dilepas sebelum foto diambil.
“Dia juga tahanan,” kataku.
Maya terdiam sesaat, lalu mengangguk.
Kami menyusun rencana. Aku membawa dua kotak kosong dari Unit 17. Dokumen asli dipindahkan ke kendaraan FBI. Mikrofon kecil diselipkan di kerah jas, sementara pelacak dipasang di sol sepatuku.
Perjalanan menuju rumah terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Jalanan Bekasi dipenuhi kendaraan pulang kerja, lampu toko menyala satu demi satu, dan pengendara motor bergerak di antara mobil seolah malam itu hanyalah malam biasa.
Padahal bagiku, setiap lampu merah terasa seperti kesempatan terakhir untuk berbalik.
Ketika tiba, pagar rumah terbuka.
Pintu depan juga tidak terkunci.
Aku masuk sambil membawa dua kotak.
Ruang tamu kosong.
“Ibu?”
“Ke ruang makan,” terdengar suara pria.
Aku mengenali suara itu.
Paman Adrian, adik ayahku.
Ia berdiri di belakang Ibu sambil menempelkan pisau kecil ke bahunya. Celeste duduk di lantai dekat dinding dengan tangan terikat. Bibirnya pecah, tetapi matanya tetap tajam.
Paman Adrian adalah orang yang paling keras menangis di pemakaman. Ia memelukku lama, mengatakan bahwa sekarang akulah kepala keluarga.
“Akhirnya,” katanya sambil tersenyum. “Letakkan kotaknya.”
Aku menuruti perintahnya.
“Di mana Ayah?”
Senyumnya menghilang.
“Masih memikirkan dia? Bahkan setelah dia membuat kita semua menjadi pion?”
“Dia hidup?”
Adrian menekan pisau lebih kuat ke bahu Ibu.
“Dia hidup ketika terakhir kali kulihat.”
Ibu memejamkan mata.
“Jangan dengarkan dia, Julian.”
Adrian menampar meja.
“Diam!”
Celeste bergerak, tetapi seorang pria dari dapur menendang kursi di dekatnya sebagai peringatan.
Aku menghitung setidaknya tiga orang. Adrian, pria di dapur, dan satu bayangan di lorong.
“Gelangnya,” kata Adrian. “Berikan kepadaku.”
“Celeste yang memegangnya.”
Adrian tertawa.
“Gelang itu palsu. Ayahmu tidak pernah menyimpan data di sana. Itu umpan untuk memancing pengkhianat keluar.”
Aku terdiam.
Adrian menatapku dengan puas.
“Bukti sebenarnya ada di tempat yang hanya bisa dibuka dengan darah keluarga Mercer. Unit 17.”
Aku memahami semuanya.
Ia mengirimku ke sana agar sistem keamanan terbuka. Ia membutuhkan aku untuk mendapatkan dokumen yang selama ini tidak bisa disentuhnya.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanyaku.
Wajah Adrian berubah.
“Karena perusahaan itu seharusnya menjadi milikku juga. Kakakku mengambil semuanya. Nama baik, uang, kepercayaan orang. Lalu ketika kami menemukan cara menghasilkan jauh lebih banyak, dia mendadak ingin menjadi orang suci.”
“Jadi kau bagian dari Proyek Arunika.”
“Aku yang membangunnya.”
Ibu mulai menangis, tetapi bukan karena takut.
“Raymond selalu tahu kau akan menghancurkan semuanya,” katanya.
Adrian menatapnya tajam.
“Dan kau selalu memilih suamimu daripada keluarga sendiri.”
Saat itulah lampu rumah padam.
Celeste menjatuhkan tubuhnya ke samping. Ibu merunduk. Aku menerjang Adrian tepat ketika suara kaca pecah terdengar dari bagian belakang rumah.
Dalam kegelapan, terdengar teriakan, langkah kaki, dan perintah aparat.
Adrian berusaha mengayunkan pisau, tetapi aku menahan pergelangan tangannya. Kami jatuh menabrak meja makan. Pisau terlepas dan meluncur ke lantai.
Beberapa detik kemudian, cahaya senter memenuhi ruangan.
“FBI dan kepolisian. Jangan bergerak!”
Adrian diborgol. Dua anak buahnya ditangkap saat mencoba keluar melalui dapur.
Aku segera memeluk Ibu. Tubuhnya gemetar hebat.
Celeste dibebaskan dari ikatan, lalu berlari kepadaku.
“Aku tidak tahu mereka akan datang,” katanya sambil menangis. “Adrian menyusup saat aku mengantar anak-anak. Dia memaksaku mengirim pesan.”
Aku memeluknya erat, tetapi satu pertanyaan belum terjawab.
“Ayah di mana?”
Ibu menatap Maya yang baru memasuki rumah.
“Dia menunggumu,” kata Ibu.
Kami dibawa ke sebuah klinik kecil di pinggiran Bogor menjelang tengah malam. Di kamar paling ujung, seorang pria duduk di dekat jendela dengan perban di dada.
Ayahku.
Ia tampak lebih tua daripada tiga hari lalu, tetapi hidup.
Aku berdiri di ambang pintu tanpa mampu bergerak.
Ayah bangkit perlahan.
“Maaf,” katanya.
Hanya itu.
Semua kemarahan, ketakutan, dan kesedihan yang kutahan sejak pemakaman meledak sekaligus. Aku memukul dadanya sekali, tidak keras, lalu memeluknya seperti anak kecil yang baru menemukan jalan pulang.
“Kau membiarkan kami menguburkan peti kosong.”
“Aku harus membuat Adrian percaya aku mati.”
“Kau juga membuatku percaya.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana dengan jasad yang kulihat?”
“Patung medis dengan rekonstruksi wajah. Peti tidak pernah dibuka lagi setelah upacara perpisahan pribadi.”
Aku ingin marah lebih lama, tetapi tangan Ayah gemetar di punggungku.
Ia hampir mati sungguhan malam itu. Serangan di ruang kerjanya memang terjadi, tetapi bukan serangan jantung. Adrian mengirim seseorang untuk meracuninya. Agen FBI berhasil mengeluarkannya melalui pintu belakang sebelum ambulans resmi tiba.
Pemakaman palsu menjadi satu-satunya cara untuk memancing Adrian bergerak dan mengungkap seluruh jaringan.
“Lalu kenapa melibatkan aku?” tanyaku.
Ayah menatapku lama.
“Karena Adrian mengira kau lemah. Aku tahu dia salah.”
Beberapa bulan kemudian, Proyek Arunika terbongkar. Puluhan orang ditangkap. Tanah milik ratusan keluarga dikembalikan melalui proses hukum. Adrian dijatuhi hukuman berat bersama para pejabat dan pengusaha yang selama bertahun-tahun melindunginya.
Ayah masuk program perlindungan saksi.
Bagi dunia, Raymond Mercer tetap seorang pria yang meninggal karena serangan jantung.
Kami tidak pernah membongkar makam itu. Di bawah batu nisan bertuliskan namanya, peti kosong tersebut tetap terkubur sebagai simbol kehidupan yang pernah ia tinggalkan.
Setahun kemudian, aku berdiri di sana bersama Ibu, Celeste, dan kedua anak kami.
Putriku meletakkan bunga di atas makam lalu bertanya, “Kalau Kakek masih hidup, kenapa namanya ada di sini?”
Aku menatap batu nisan itu.
“Karena kadang-kadang seseorang harus menguburkan nama lamanya agar bisa menyelamatkan hidup orang lain.”
Di kejauhan, seorang pria tua dengan topi abu-abu berdiri di bawah pohon. Ia tidak mendekat. Hanya mengangkat tangan sebentar sebelum berbalik dan berjalan pergi.
Anak-anakku tidak mengenalinya.
Namun aku tahu.
Ayah masih hidup.
Hanya saja, Raymond Mercer memang telah dikuburkan hari itu.
Bukan tubuhnya.
Melainkan seluruh kebohongan yang selama dua puluh tahun membuat keluarga kami tetap selamat.
