DIPECAT DAN DITUDUH MENGHIANATI MAJIKAN, GADIS INI PERGI TANPA SUARA. NAMUN JERITAN SANG ANAK DAN REKAMAN TERSEMBUNYI UNGKAP SIAPA PENGHIANAT SEBENARNYA!

Hendra menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Rekaman dari kamera tersembunyi yang selama ini bahkan nyaris ia lupakan memperlihatkan sesuatu yang sama sekali berbeda dari tuduhan yang baru saja ia lontarkan kepada Maya. Di layar itu, Rina masuk ke ruang kerja saat rumah sedang sepi. Dengan gerakan yang terbiasa, ia menyalakan komputer, memasukkan sebuah flash disk berwarna hitam, lalu menyalin beberapa berkas yang diberi label rahasia. Setelah itu, Rina sengaja meletakkan flash disk lain ke dalam laci yang biasa dipakai Maya menyimpan catatan belanja rumah.

Tubuh Hendra terasa lemas.

Rekaman itu bahkan memperlihatkan saat Maya masuk beberapa menit kemudian hanya untuk meletakkan secangkir kopi di atas meja sebelum kembali keluar. Maya sama sekali tidak menyentuh komputer maupun dokumen perusahaan.

“Astaga…” gumam Hendra lirih.

Ia langsung berlari keluar rumah.

Gerbang sudah terbuka.

Maya sudah tidak terlihat.

Yang tersisa hanyalah Cinta yang masih terduduk di teras sambil menangis tersedu-sedu.

“Papa bohong…” ucap Cinta dengan mata merah.

Hendra berlutut di depan putrinya.

“Papa yang salah.”

Namun kalimat itu tidak mampu menghentikan tangis anak kecil tersebut.

Di sisi lain kota, Maya berjalan tanpa tujuan. Langit Jakarta mulai gelap. Tas lusuh di punggungnya terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Ia hanya memiliki tabungan yang cukup untuk beberapa hari dan belum tahu akan tinggal di mana malam itu.

Meski begitu, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan pekerjaan.

Yang membuat dadanya sesak adalah tatapan tidak percaya dari Hendra.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa tiga bulan pengabdian bisa runtuh hanya dalam beberapa menit.

Ponselnya berdering berkali-kali.

Nama Hendra muncul di layar.

Maya menatapnya beberapa detik, lalu mematikan panggilan itu.

Beberapa saat kemudian muncul pesan.

“Maya, aku sudah melihat rekamannya. Tolong beri aku kesempatan menjelaskan.”

Maya tidak membalas.

Ia terlalu lelah.

Malam itu ia menyewa kamar kecil di sebuah rumah kos sederhana di Kebayoran. Kamar itu sempit, hanya cukup untuk sebuah ranjang besi dan kipas angin tua yang berderit setiap beberapa menit.

Saat hendak tidur, Maya membuka tasnya.

Di dalamnya ternyata terdapat boneka kecil berbentuk kelinci.

Ia langsung mengenalinya.

Itu boneka kesayangan Cinta.

Maya memeluk boneka itu sambil menangis dalam diam.

Sementara itu, di rumah besar Pondok Indah, suasana berubah mencekam.

Hendra memanggil seluruh staf keamanan.

“Mulai malam ini, jangan izinkan Rina masuk ke rumah sebelum saya memberi izin.”

Rina yang baru turun dari lantai atas langsung tersenyum sinis.

“Apa maksudmu?”

Hendra memutar rekaman CCTV di layar televisi ruang keluarga.

Senyum Rina perlahan menghilang.

“Itu… pasti rekaman yang sudah dimanipulasi.”

“Masih mau berbohong?”

“Aku melakukan semua ini demi keluargamu.”

“Demi keluarga atau demi perusahaan?”

Rina terdiam.

Hendra kemudian menghubungi kepala divisi keamanan perusahaan.

Dalam waktu dua jam, tim forensik digital mulai memeriksa seluruh aktivitas jaringan komputer.

Hasilnya jauh lebih mengejutkan.

Selama hampir enam bulan terakhir, ada kebocoran data perusahaan secara bertahap.

Seluruh jejak digital mengarah pada akun yang digunakan Rina.

Namun Rina bukan pelakunya seorang diri.

Ia bekerja sama dengan kompetitor utama perusahaan.

Sebagai imbalannya, ia dijanjikan saham dan uang miliaran rupiah.

Hendra menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ia baru menyadari bahwa rasa percaya butanya kepada keluarga sendiri hampir menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah.

Keesokan paginya polisi datang membawa surat penangkapan.

Rina mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, tetapi berhasil diamankan.

Sebelum dibawa pergi, ia menoleh tajam kepada Hendra.

“Semua ini gara-gara perempuan itu.”

“Bukan,” jawab Hendra pelan.

“Semua ini karena keserakahanmu.”

Berita penangkapan Rina segera menyebar.

Media bisnis mulai memberitakan percobaan pencurian rahasia perusahaan.

Namun Hendra sama sekali tidak peduli pada citra perusahaannya.

Yang ada di pikirannya hanya satu.

Maya.

Selama dua hari penuh, Hendra mencari ke berbagai tempat.

Ia mendatangi alamat yang pernah ditulis Maya saat melamar kerja.

Tetangga lama mengatakan Maya sudah lama pindah.

Ia menghubungi agen penyalur tenaga kerja.

Tidak ada kabar.

Ia bahkan mencetak foto Maya dan meminta bantuan beberapa staf untuk mencarinya.

Sementara itu Maya memilih memulai hidup baru.

Ia diterima bekerja di sebuah taman penitipan anak sederhana.

Gajinya jauh lebih kecil.

Namun anak-anak di sana menyambutnya dengan pelukan yang mengingatkannya pada Cinta.

Setiap kali mendengar tawa mereka, Maya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa hidup harus terus berjalan.

Di rumah, keadaan Cinta semakin mengkhawatirkan.

Anak itu kembali menolak makan.

Ia kembali tidur sambil memeluk foto ibunya.

Guru di sekolah menelepon Hendra karena Cinta tidak mau berbicara kepada siapa pun.

Saat Hendra mencoba mengajaknya bermain, Cinta hanya bertanya satu hal.

“Papa masih suka mengusir orang baik?”

Pertanyaan sederhana itu menusuk hati Hendra lebih dalam daripada kata-kata siapa pun.

Malam itu Hendra duduk sendirian di ruang kerja.

Di meja masih ada secangkir kopi.

Persis seperti yang biasa dibuat Maya.

Namun kini kopi itu terasa pahit.

Ia membuka laci.

Di sana masih tersimpan gambar buatan Cinta.

Gambar itu memperlihatkan tiga orang bergandengan tangan.

Di bawahnya tertulis dengan tulisan anak-anak.

“Keluarga.”

Air mata Hendra akhirnya jatuh.

Seminggu kemudian, secara tidak sengaja seorang sopir perusahaan melihat Maya sedang membantu anak-anak menyeberang jalan di dekat tempat penitipan.

Kabar itu langsung sampai kepada Hendra.

Tanpa menunggu lama, Hendra datang ke sana.

Maya sedang mengikat tali sepatu seorang anak kecil ketika melihat mobil hitam berhenti di depan gerbang.

Ia berdiri perlahan.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

“Aku datang untuk meminta maaf.”

Maya tetap diam.

“Aku tidak datang sebagai atasan.”

Hendra menarik napas panjang.

“Aku datang sebagai seseorang yang telah menghancurkan kepercayaan orang lain.”

Maya tersenyum tipis.

“Pak Hendra, ada beberapa kesalahan yang bisa diperbaiki.”

“Lalu yang lainnya?”

“Ada yang meninggalkan bekas seumur hidup.”

Hendra menundukkan kepala.

“Aku pantas mendengarnya.”

“Cinta bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat Hendra semakin merasa bersalah.

“Dia terus memanggil namamu.”

Mata Maya mulai berkaca-kaca.

“Cinta tidak bersalah.”

“Itulah sebabnya aku memohon. Temuilah dia. Bukan demi aku.”

Maya menutup mata sejenak.

Setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan.

Sore itu Hendra membawa Maya pulang.

Begitu mobil memasuki halaman, Cinta yang sedang duduk di teras langsung berlari.

“Kak Maya!”

Anak itu memeluk Maya sekuat tenaga sambil menangis tanpa henti.

“Aku pikir Kakak juga ninggalin Cinta.”

Maya berlutut dan mengusap rambutnya.

“Kakak tidak pernah ingin pergi.”

“Janji jangan hilang lagi.”

Maya memandang Hendra sebentar sebelum menjawab.

“Kalau Cinta masih membutuhkan Kakak, Kakak akan selalu datang.”

Hendra menyaksikan pemandangan itu dengan mata basah.

Untuk pertama kalinya setelah istrinya meninggal, rumah itu kembali dipenuhi tawa.

Beberapa hari kemudian, Hendra mengadakan pertemuan seluruh karyawan perusahaan.

Di hadapan ratusan pegawai, ia berdiri tanpa membawa naskah pidato.

“Hari ini saya ingin mengakui kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Saya memecat seseorang tanpa bukti.”

“Saya memilih percaya pada hubungan darah daripada kebenaran.”

“Saya telah menyakiti orang yang justru paling tulus menjaga keluarga saya.”

Ia kemudian memanggil Maya naik ke panggung.

Seluruh ruangan terkejut.

“Saya menawarkan posisi yang lebih baik kepada Maya. Tetapi keputusan sepenuhnya ada di tangannya.”

Semua mata tertuju kepada Maya.

Ia menggenggam mikrofon dengan tenang.

“Terima kasih atas kepercayaannya.”

“Saya memaafkan Pak Hendra.”

“Tapi saya tidak akan kembali bekerja di rumah ini.”

Ruangan kembali hening.

“Saya ingin membangun jalan hidup saya sendiri.”

Hendra mengangguk pelan.

“Aku menghormati keputusanmu.”

Semua mengira perpisahan itu akan menjadi akhir.

Namun beberapa minggu kemudian, Hendra diam-diam mendanai sebuah pusat pengasuhan anak bagi keluarga kurang mampu.

Saat peresmian, nama bangunan itu membuat Maya terpaku.

Rumah Harapan Cinta.

Di bawah nama itu terdapat sebuah kalimat sederhana.

“Tempat di mana setiap anak berhak merasa aman, dan setiap orang baik pantas dipercaya.”

Hendra menyerahkan dokumen kepemilikan yayasan kepada Maya.

“Bukan sebagai ganti rugi.”

“Bukan untuk membeli maafmu.”

“Tapi karena aku percaya tidak ada orang yang lebih layak memimpin tempat ini selain dirimu.”

Maya menatap dokumen itu lama sekali.

Lalu ia mengangkat wajah dan tersenyum.

Senyum yang dulu mengembalikan tawa seorang anak kecil kini kembali muncul.

Cinta berlari di halaman bersama anak-anak lain sambil tertawa lepas.

Hendra memandang putrinya dari kejauhan.

Hari itu ia akhirnya memahami bahwa keluarga tidak dibentuk oleh hubungan darah semata, melainkan oleh orang-orang yang tetap memilih menjaga kita, bahkan ketika mereka tidak diwajibkan untuk melakukannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang