BAGIAN 2
Hari-hari berikutnya di kantor berjalan seperti badai kecil yang tidak pernah benar-benar reda. Menjadi asisten sementara di lantai paling atas berarti aku harus berhadapan langsung dengan Arga setiap hari. Awalnya, aku mengira pria itu adalah sosok dingin yang hanya tahu cara memberi perintah dan memeriksa laporan tanpa ampun. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat sisi lain dari dirinya.
Suatu malam, ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan lampu-lampu di gedung perkantoran mulai dipadamkan satu per satu, aku masih berkutat dengan tumpukan dokumen desain kemasan ramah lingkungan yang harus diselesaikan keesokan paginya. Mataku sudah terasa berat, dan kepalaku mulai pusing. Tiba-tiba, sebuah cangkir berisi cokelat panas diletakkan di atas meja kerjaku.
“Jangan mati di kantor saya,” suara berat Arga terdengar dari atas.
Aku mendongak, terkejut melihat sang CEO berdiri di samping mejaku tanpa balutan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang dilipat sekenanya. “Terima kasih, Pak,” kataku canggung.

“Panggil saja Arga kalau tidak ada orang lain di sini,” ujarnya pelan, namun ada nada lelah yang terselip di balik suaranya. Kalimat itu sempat membuat jantungku berdegup kencang, mengingatkanku pada suami kontrakku yang juga bernama Arga dan memiliki suara yang persis sama. Tapi aku segera menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Suami kontrakku adalah seorang pria biasa, bukan CEO miliarder yang memimpin perusahaan multinasional sebesar ini.
“Baiklah… Mas Arga,” ralatku tanpa sengaja terpeleset menyebut panggilan yang biasa kuberikan pada suamiku.
Pria itu sempat terdiam, menatapku lekat-lekat selama beberapa detik, seolah mencari sesuatu di balik mata bulatkanku. Namun ia tidak mengatakan apa-apa lagi, melainkan berbalik dan kembali ke ruangannya.
Sementara itu, di lantai bawah, direktur wanita yang menyimpan dendam kesumat padaku tidak tinggal diam. Ia bekerja sama dengan manajer pemasaran yang baru saja dipecat untuk menjatuhkanku. Mereka tahu bahwa kontrak kerjaku sebagai asisten tinggal menghitung hari, dan ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk memastikan aku diusir dari perusahaan dengan hinaan.
Dua hari sebelum batas akhir masa percobaan satu sekaligus akhir dari kontrak pernikahanku, sebuah insiden besar terjadi. Perusahaan kami bersiap meluncurkan produk kosmetik organik terbesar tahun ini, dan aku dipercaya untuk memegang draf akhir desain kemasan yang dikhususkan untuk klien VIP. Menjelang siang, dokumen digital dan cetak berkualitas tinggi itu tiba-tiba hilang dari sistem dan meja kerjaku.
Tidak lama kemudian, direktur wanita itu datang bersama kepala bagian keamanan dengan wajah penuh kemenangan.
“Naya, kami mendapat laporan bahwa desain eksklusif perusahaan telah bocor ke kompetitor. Dan salinan terakhirnya ditemukan di dalam laci meja kamu!” teriaknya di hadapan seluruh staf divisi.
Semua mata tertuju padaku. Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan. Hatiku terasa hancur seketika. Aku tahu aku tidak pernah melakukan hal semacam itu, tetapi bukti fisik di dalam laciku tampaknya tidak bisa dibantah.
“Bukan saya yang melakukannya! Saya bahkan tidak tahu bagaimana dokumen itu bisa ada di laci saya!” pembelaanku terdengar lemah di tengah kepungan orang-orang yang siap menghakimiku.
“Cukup!” suara dingin memotong keributan itu. Arga berjalan mendekat dari ujung koridor, dikawal oleh sekretaris pribadinya. Wajahnya tampak sangat gelap dan menakutkan.
Direktur wanita itu segera maju dengan senyum licik yang ditutupi raut prihatin palsu. “Pak Arga, gadis ini jelas-jelas berkhianat. Kita tidak bisa membiarkan mata-mata perusahaan seperti dia berkeliaran.”
Arga tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati meja kerjaku, mengambil map berisi dokumen yang dimaksud, lalu memandang tajam ke arah direktur dan kepala keamanan. “Kalian yakin ini ditemukan di meja Naya?”
“Sangat yakin, Pak. Petugas keamanan yang menemukannya sendiri,” jawab sang direktur dengan penuh percaya diri.
“Kalau begitu, bagus,” ucap Arga tenang. Ia menoleh ke arah sekretarisnya. “Putar rekaman CCTV sudut utara lantai dua belas mulai pukul dua malam tadi.”
Wajah direktur wanita dan mantan manajer pemasaran yang berdiri di kerumunan mendadak pucat pasi.
Layar besar di ruang rapat utama langsung menampilkan rekaman video. Terlihat jelas pada pukul dua malam, sosok direktur wanita tersebut dengan diam-diam menyelinap ke meja kerjaku dan menyelipkan map dokumen itu ke dalam laci, sementara seorang kaki tangannya berjaga di ujung lorong.
Suasana lobi mendadak sunyi mencekam. Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Arga menoleh perlahan ke arah wanita paruh baya di depannya. Suaranya terdengar sangat rendah namun penuh ancaman yang mematikan. “Kamu mencoba menjebak karyawan saya, mencuri aset perusahaan, dan merusak nama baik divisi ini. Keamanan, bawa dia keluar sekarang juga dan serahkan semua bukti ini ke bagian hukum. Kita tuntut dia sampai tuntas.”
Direktur itu berteriak histeris saat dua petugas keamanan menyeretnya menjauh, memohon ampun namun diabaikan begitu saja oleh Arga.
Setelah ruangan kembali tenang, Arga menyuruh semua orang bubar. Ia berdiri di hadapanku yang masih terpaku karena shock. Tangannya terulur merapikan beberapa helai rambutku yang berantakan. Sentuhan itu terasa sangat hangat, begitu akrab, hingga membuat air mataku hampir tumpah.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lembut, sama sekali berbeda dengan sosok CEO galak yang ditakuti semua orang.
“Aku takut… hampir saja kehilangan segalanya,” kataku lirih sambil menunduk.
“Kamu tidak akan pernah kehilangan apa pun selama aku ada di sini,” bisiknya pelan.
Malam itu, tepat malam terakhir sebelum masa kontrak satu tahun pernikahanku berakhir, aku duduk di tepi tempat tidur di rumah nenekku yang sudah pulih sepenuhnya. Telepon genggamku berdering. Itu adalah panggilan dari Mas Arga, suami kontrakku yang selama ini hanya kukenal lewat suara di ujung telepon.
“Naya,” suara di seberang sana terdengar serak dan penuh emosi.
“Ya, Mas? Ada apa?” tanyaku heran karena suaranya terdengar tidak biasa.
“Besok adalah hari terakhir kontrak kita. Apakah kamu ingin kita memperpanjangnya… atau kita bertemu besok pagi di kantor pusat perusahaan?”
Aku mengernyit bingung. “Kantor pusat? Apa hubungannya?”
“Besok pagi, datanglah ke lantai paling atas gedung utama. Ada seseorang yang sangat ingin menemuimu, seseorang yang selama ini menjadi suamimu sekaligus orang yang paling bodoh karena menyembunyikan identitasnya darimu.”
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, sambungan telepon itu terputus.
Keesokan paginya dengan perasaan campur aduk, aku mengenakan pakaian terbaikku dan melangkah memasuki gedung pencakar langit tempatku bekerja sebagai asisten. Ketika aku keluar dari lift di lantai teratas, suasana terasa berbeda. Tidak ada kesibukan kantor seperti biasa. Lorong menuju ruang CEO dipenuhi dengan taburan kelopak bunga putih, dan pintu kaca ruangannya terbuka lebar.
Aku melangkah masuk dengan jantung berdegup kencang. Di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke panorama kota Jakarta yang megah, berdiri seorang pria berjas rapi membelakangiku. Di sampingnya, berdiri seorang kakek tua bertongkat yang tersenyum lebar ke arahku—kakek gelandangan yang pernah kubela di hari pertama aku datang ke tempat ini.
Pria berjas itu perlahan membalikkan badan.
Wajah itu. Mata itu. Garis rahang itu.
Dia adalah Arga. Bosku yang dingin, atasanku yang tegas, dan pria yang selama setahun ini menjadi suaminya di dalam kontrak pernikahan rahasia.
Aku terpaku, napasku tertahan di tenggorokan. “M-Mas Arga…?” cicitku tak percaya.
Arga berjalan mendekatiku perlahan, tatapannya memuat lautan rindu dan rasa bersalah yang teramat sangat. Ia berhenti tepat di depanku, lalu meraih kedua tanganku yang terasa dingin.
“Maafkan aku karena telah menyembunyikan ini semua darimu, Naya,” ucapnya tulus dengan suara hangat yang selama ini menemaniku setiap malam lewat sambungan telepon. “Aku ingin pernikahan kita bukan lagi sebuah kontrak atas dasar keterpaksaan, tapi awal dari kisah kita yang sesungguhnya. Maukah kamu tetap menjadi istriku, selamanya?”
Kakek di sudut ruangan tertawa kecil sambil menyeka sudut matanya yang basah karena terharu.
Aku menatap Arga, pria yang mengira dirinya adalah orang biasa, namun ternyata adalah pemilik seluruh dunia di sekitarku. Air mata bahagia akhirnya tumpah, dan aku mengangguk pelan sambil memeluk tubuhnya erat-erat, menyadari bahwa pembelaan kecilku terhadap seorang kakek tua di hari itu telah membawaku pada cinta sejati yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
