Notifikasi itu muncul hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk mengubah duka di ruangan itu menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Upaya penghapusan data terdeteksi.
Akun pengguna: Adrian Mahendra.
Folder: Yayasan Jantung Valeria.

Aku menekan layar ponsel dan mengaktifkan penguncian jarak jauh. File-file itu tidak benar-benar berada di akun Adrian. Sejak tiga hari sebelumnya, semuanya sudah kucadangkan ke server kantor dan disalin ke sebuah perangkat terenkripsi yang kini tersimpan di brankas pengacaraku.
Adrian masih berdiri di samping Renata. Wajahnya terlihat tenang, tetapi rahangnya menegang.
Dia tahu aku melihat notifikasi itu.
“Ada apa?” tanya Ibu dengan suara gemetar.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan sebelum Valeria dimakamkan.”
Upacara dilanjutkan, tetapi tidak ada lagi yang benar-benar mendengarkan doa Pastor Gabriel. Renata berdiri di dekat peti putrinya sambil menutupi mulut dengan saputangan. Sesekali tubuhnya bergetar, tetapi aku tidak tahu apakah dia menangis karena kehilangan Valeria atau karena menyadari bahwa rahasianya mulai terbuka.
Adrian beberapa kali mencoba mendekatiku.
Aku menghindar.
Ketika peti putih itu perlahan diturunkan ke liang lahat, kakiku hampir tidak sanggup menopang tubuhku. Di kepalaku, suara Valeria kembali terdengar.
Tante Lucia, bilang ke Mama kalau aku tidak takut.
Tanah pertama jatuh di atas peti.
Renata menjerit dan berusaha maju, tetapi Adrian memegang lengannya. Orang-orang mengira dia sedang menenangkan seorang ibu yang berduka.
Aku melihat cara jari-jari Adrian mencengkeram pergelangan tangan Renata.
Bukan lembut.
Bukan penuh kasih.
Itu peringatan.
Setelah pemakaman selesai, keluarga berkumpul di rumah Ibu di Menteng. Meja panjang dipenuhi makanan yang hampir tidak disentuh siapa pun. Foto-foto Valeria dipasang di ruang tamu, dari hari pertamanya masuk sekolah hingga ulang tahunnya yang kedelapan.
Dalam salah satu foto, Valeria duduk di pangkuanku sambil memegang lumba-lumba kaca berwarna biru. Hadiah itu kubelikan setelah operasi jantung keduanya.
Renata berdiri di depan foto tersebut cukup lama.
“Aku tidak tahu kondisinya separah itu,” katanya pelan.
Aku menatapnya.
“Kamu ibunya.”
“Aku sudah bilang ponselku dicuri.”
Aku mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas dan meletakkannya di atas meja.
Ruangan langsung sunyi.
“Ponselmu tidak dicuri.”
Adrian berdiri. “Lucia, ini bukan waktunya.”
“Justru sekarang waktunya.”
Aku membuka map pertama.
Di dalamnya terdapat rekaman lokasi digital dari ponsel Renata. Perangkat itu aktif sepanjang hari ketika Valeria berada di rumah sakit. Pukul 10.28, lokasinya terdeteksi di sebuah vila di Nusa Dua. Pukul 11.17, ponsel tersebut digunakan untuk memesan layanan spa. Pukul 12.03, Renata mengunggah foto matahari terbenam ke akun privat yang tidak diketahui keluarga.
Pukul 13.46, dia membaca pesan dariku.
Renata memucat.
“Itu tidak membuktikan aku yang memegang ponsel.”
Aku mengeluarkan lembar berikutnya.
“Pembayaran spa menggunakan sidik jari digital dari ponselmu. Setelah itu kamu memesan dua gelas sampanye tanpa alkohol dan makan siang atas nama Nyonya Mahendra.”
Mata semua orang beralih kepada Adrian.
Dia tidak lagi berusaha terlihat sedih.
“Ini keterlaluan,” katanya. “Kamu memata-matai kami.”
“Tidak. Kalian menggunakan kartu perusahaan yang terhubung ke sistem audit yang kubangun sendiri.”
Renata menatap Adrian, seolah baru mengetahui hal itu.
Aku melanjutkan.
“Perjalanan itu dibayar dengan dana Yayasan Jantung Valeria.”
Ibu terhuyung dan segera duduk.
Yayasan itu dibentuk empat tahun lalu setelah operasi besar Valeria. Tujuannya membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan perawatan jantung. Aku yang menyusun sistem keuangannya. Adrian bertugas sebagai penasihat investasi. Renata menjadi wajah publik yayasan, muncul di acara amal, memberikan wawancara, dan menangis di depan kamera tentang perjuangan putrinya.
Masyarakat menyumbang miliaran rupiah.
Aku menemukan bahwa selama delapan belas bulan terakhir, sejumlah uang dialihkan ke perusahaan konsultan palsu bernama Samudra Strategi Nusantara. Perusahaan itu terdaftar atas nama seorang sopir yang sudah meninggal dua tahun lalu.
Dari sana, dana dipindahkan ke rekening luar negeri, kartu kredit pribadi, vila, hotel, perhiasan, dan perjalanan rahasia.
Totalnya hampir sebelas miliar rupiah.
“Bohong,” kata Renata. “Aku tidak pernah mengurus keuangan yayasan.”
“Benar,” jawabku. “Kamu hanya menandatangani dokumen yang diberikan Adrian.”
Renata menoleh cepat kepada suamiku.
Adrian tersenyum tipis.
“Jangan bertingkah seolah kamu tidak menikmati hasilnya.”
Wajah Renata berubah.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di pemakaman, kesedihannya terlihat nyata. Bukan karena Valeria. Karena dia menyadari bahwa Adrian tidak akan melindunginya.
“Kamu bilang semua itu dari investasi,” katanya.
“Aku bilang apa pun yang perlu kamu dengar.”
Ibu menatap mereka dengan wajah seperti orang yang baru terbangun dari mimpi buruk.
“Kalian memakai nama Valeria untuk mencuri?”
Renata mulai menangis.
“Aku tidak tahu sebanyak itu. Adrian yang mengatur semuanya.”
Aku membuka map kedua.
“Renata, kamu memang tidak menyusun skemanya. Tapi kamu tahu dana yayasan digunakan untuk perjalanan. Kamu juga tahu Valeria sedang sakit saat berangkat ke Bali.”
Renata menggeleng cepat.
“Tidak. Kondisinya stabil.”
“Kamu mendapat surat dari dokter tiga hari sebelum keberangkatan. Valeria harus menjalani pemeriksaan darurat karena ritme jantungnya memburuk.”
“Aku pikir Lucia akan mengurusnya.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa sengaja.
Tanpa perhitungan.
Ruangan kembali sunyi.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Kamu pikir aku akan mengurusnya?” tanyaku.
Renata memeluk dirinya sendiri.
“Kamu selalu mengurus semuanya.”
“Karena kamu selalu pergi.”
“Aku butuh istirahat.”
“Anakmu membutuhkan ibunya.”
“Aku juga manusia, Lucia!”
Suaranya meninggi. “Delapan tahun hidupku hanya rumah sakit, obat, operasi, dan rasa takut. Semua orang melihatku sebagai ibu yang harus kuat. Tidak ada yang bertanya apakah aku sanggup.”
Aku memandangnya lama.
Untuk sesaat, aku melihat adikku seperti dulu. Seorang gadis yang mudah panik, selalu takut dianggap gagal, selalu lari ketika keadaan menjadi sulit.
Aku bisa memahami kelelahan.
Aku bisa memahami ketakutan.
Namun aku tidak bisa memahami seseorang yang membaca pesan bahwa anaknya mungkin hanya punya waktu satu jam, lalu mematikan layar dan memesan makan siang.
“Kamu boleh lelah,” kataku. “Kamu boleh takut. Tetapi kamu tidak boleh meninggalkan anakmu untuk mati sendirian.”
“Aku tidak tahu dia akan meninggal.”
“Kamu tahu. Kamu hanya berharap dia bertahan sampai liburanmu selesai.”
Renata menangis semakin keras.
Adrian mengambil kunci mobil dari meja.
“Aku tidak perlu mendengarkan ini.”
Dua pria berpakaian sipil yang sejak tadi berdiri di teras masuk ke ruang tamu.
Adrian berhenti.
Aku sudah menghubungi penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus pada pagi hari sebelum pemakaman. Mereka setuju menunggu hingga upacara selesai karena aku telah memberikan bukti awal yang cukup untuk mencegah penghapusan data dan pelarian.
Salah satu penyidik menunjukkan surat tugas.
“Bapak Adrian Mahendra, kami perlu meminta Anda ikut untuk pemeriksaan terkait dugaan penggelapan dana yayasan, pencucian uang, dan pemalsuan dokumen.”
Adrian menatapku dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.
“Kamu pikir kamu menang?”
“Aku tidak sedang bertanding.”
“Kamu akan kehilangan semuanya. Rumah, rekening, reputasi.”
Aku tersenyum pahit.
“Rumah itu dibeli sebelum kita menikah. Rekening utama atas namaku. Dan reputasimu tidak pernah menjadi milikku.”
Dia tertawa pendek.
“Kamu terlalu percaya diri. Bukti-bukti itu juga akan menyeret Renata.”
“Aku tahu.”
Renata menatapku dengan ngeri.
“Kamu akan membiarkan mereka menangkapku?”
“Aku tidak menangkap siapa pun. Kamu membuat pilihanmu sendiri.”
Saat penyidik membawa Adrian pergi, dia menoleh kepada Renata.
“Jangan bicara tanpa pengacara.”
Namun Renata sudah tidak mendengarkannya. Dia duduk di lantai, tepat di bawah foto putrinya, dengan gaun putih yang kini kusut dan kotor.
Aku mengira semuanya berakhir malam itu.
Ternyata belum.
Tiga hari kemudian, aku menerima hasil pemeriksaan forensik dari laptop Adrian. Di antara ribuan file, terdapat sebuah rekaman suara yang disimpan dengan nama acak.
Rekaman itu dibuat dua minggu sebelum Valeria meninggal.
Suara Adrian terdengar jelas.
“Kita tidak bisa terus membayar pengobatannya dari uang pribadi.”
Lalu suara Renata.
“Yayasan masih punya banyak dana.”
“Dana itu lebih berguna kalau diinvestasikan.”
“Dokter bilang dia butuh prosedur lagi.”
“Apa gunanya? Bahkan kalau berhasil, tahun depan akan ada operasi lain.”
Hening beberapa detik.
Kemudian Adrian berkata, “Lucia akan membayar. Dia selalu membayar.”
Suara Renata terdengar lebih kecil.
“Dia mulai curiga.”
“Kalau begitu kita harus selesaikan semuanya sebelum dia menemukan rekening Singapura.”
Aku menghentikan rekaman.
Tanganku gemetar.
Namun bagian terburuk belum terdengar.
Setelah jeda panjang, Renata berkata, “Kalau kondisi Valeria memburuk saat kita pergi, Lucia pasti akan menanganinya.”
Adrian menjawab, “Dan kalau tidak tertolong, orang-orang akan menyumbang lebih banyak setelah pemakamannya.”
Aku muntah di wastafel kantor.
Selama berhari-hari aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat wajah Valeria dan mendengar kalimat itu.
Orang-orang akan menyumbang lebih banyak setelah pemakamannya.
Aku menyerahkan rekaman tersebut kepada penyidik.
Kasus itu meledak di media. Nama Yayasan Jantung Valeria muncul di semua kanal berita. Para donatur marah. Keluarga pasien yang pernah dibantu yayasan merasa dikhianati. Adrian ditahan. Renata ditetapkan sebagai tersangka karena mengetahui penggunaan dana dan ikut menikmati hasilnya.
Namun ada satu fakta yang tidak kuberikan kepada media.
Dalam pemeriksaan berikutnya, ditemukan bahwa beberapa minggu sebelum kematian Valeria, Adrian telah mengganti salah satu obat rutinnya dengan pil yang dosisnya lebih rendah. Resep asli dibatalkan menggunakan surat elektronik palsu atas nama dokter.
Dia tidak secara langsung meracuni Valeria.
Dia hanya memastikan kondisinya menjadi lebih rapuh.
Ketika penyidik menunjukkan bukti itu, Renata menjerit dan mencoba menyerang Adrian di ruang pemeriksaan.
“Aku tidak tahu!” katanya berulang kali. “Aku bersumpah aku tidak tahu!”
Mungkin dia benar.
Mungkin dia tidak tahu Adrian telah mengubah obat.
Tetapi dia tahu putrinya sakit.
Dia tahu dokter memperingatkannya.
Dia membaca pesan-pesan kami.
Dan dia memilih tetap berada di pantai.
Enam bulan kemudian, persidangan dimulai.
Aku hadir setiap hari.
Adrian menyangkal semuanya, tetapi jejak transaksi, dokumen palsu, komunikasi terenkripsi, dan rekaman suaranya terlalu kuat. Dia akhirnya dijatuhi hukuman panjang atas penggelapan, pencucian uang, pemalsuan, dan tindakan yang membahayakan nyawa seorang anak.
Renata menerima hukuman lebih ringan setelah bekerja sama dengan penyidik. Sebelum dibawa keluar dari ruang sidang, dia meminta bicara denganku.
Kami berdiri dipisahkan kaca.
Dia terlihat jauh lebih tua. Tidak ada riasan, parfum mahal, atau kacamata besar. Hanya seorang perempuan yang akhirnya tidak punya tempat untuk bersembunyi.
“Apa Valeria benar-benar memanggilku?” tanyanya.
Aku ingin menghukumnya dengan diam.
Namun aku teringat keponakanku yang selalu percaya orang masih bisa berubah jika diberi satu kesempatan jujur.
“Ya,” jawabku. “Sampai napas terakhirnya.”
Renata menunduk dan menangis.
“Apa yang dia katakan?”
Aku menatap adikku.
Untuk pertama kalinya, aku tidak berbohong demi melindunginya.
“Dia bilang dia tidak takut. Lalu dia meminta maaf karena merasa sudah merepotkanmu.”
Renata memukul kaca dengan telapak tangannya dan jatuh berlutut.
Aku pergi tanpa menoleh lagi.
Setahun setelah kematian Valeria, yayasan itu dibuka kembali dengan pengurus baru. Semua aset yang berhasil dipulihkan digunakan untuk membiayai operasi jantung anak-anak di berbagai rumah sakit di Indonesia.
Namanya tetap sama.
Yayasan Jantung Valeria.
Di ruang utama kantor, aku meletakkan foto Valeria dengan pita ungu di rambutnya. Di bawah foto itu terdapat sebuah kalimat yang dia tulis untuk tugas sekolah beberapa bulan sebelum meninggal.
Orang dewasa sering bilang anak kecil tidak mengerti apa-apa, padahal kami mengerti siapa yang benar-benar tinggal ketika kami takut.
Pada peringatan kematiannya, aku pergi sendiri ke makam.
Aku membawa lumba-lumba kaca, pita ungu baru, dan surat dari seorang anak bernama Bima yang baru saja berhasil menjalani operasi dengan dana yayasan.
Aku membacakan surat itu keras-keras.
Bima menulis bahwa dia ingin menjadi dokter jantung agar bisa menyelamatkan anak-anak lain.
Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.
Aku meletakkan surat itu di samping batu nisan Valeria.
Saat hendak pulang, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor lembaga pemasyarakatan.
Renata telah mengajukan permohonan agar seluruh bagian warisannya dijual dan diserahkan kepada yayasan. Dia juga menolak pengurangan masa tahanan yang ditawarkan karena kerja samanya.
Di bawah dokumen itu, dia menulis satu kalimat.
Aku tidak bisa kembali menjadi ibu bagi Valeria, tetapi mungkin aku masih bisa membantu seorang ibu lain pulang bersama anaknya.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Aku tidak memaafkannya.
Belum.
Mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.
Namun sebelum meninggalkan makam, aku mengikatkan pita ungu pada lumba-lumba kaca dan menatap nama keponakanku yang terukir di batu.
Ada orang-orang yang baru memahami nilai sebuah kehidupan setelah kehilangan hak untuk berada di dalamnya.
Dan ada anak-anak seperti Valeria, yang hidupnya begitu singkat, tetapi meninggalkan cukup keberanian untuk menyelamatkan banyak orang setelah mereka pergi.
