SUAMI PAMIT DINAS LUAR KOTA 3 HARI, TAPI SAAT AKU MENGANTAR KUE KE RUMAH JANDA SAHABATNYA, DIA YANG MEMBUKA PINTU SAMBIL MEMEGANG GELAS ANGGUR!

Maya Kirana tidak pernah menyangka bahwa sebaskom bolu kukus keju bisa menjadi awal dari kehancuran rumah tangga yang telah dibangunnya selama sebelas tahun.

Pagi setelah memergoki Dion di rumah Anita, Maya duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam ponsel suaminya. Suara pancuran dari kamar mandi masih mengalir deras, tetapi kalimat di layar terasa jauh lebih bising daripada air yang jatuh ke lantai marmer.

Kapan kamu akan memberi tahu dia tentang bayi ini?

Jari Maya membeku.

Ia membaca kembali percakapan itu, berharap susunan katanya berubah. Namun pesan tersebut tetap sama. Di atasnya, ada percakapan tiga minggu sebelumnya.

Rian meninggalkan sesuatu untukmu sebelum meninggal. Aku rasa dia sudah tahu semuanya.

Maya menggeser layar lebih jauh. Percakapan antara Dion dan Anita ternyata sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Tidak ada kalimat cinta yang terang-terangan. Mereka terlalu berhati-hati untuk itu. Pesan-pesan mereka dipenuhi kode tentang jadwal, transfer uang, dokumen, dan tempat pertemuan.

Namun di antara semua itu, Maya menemukan satu pesan yang membuat tengkuknya merinding.

Dion menulis, Kita harus memastikan surat itu tidak sampai ke tangan Maya.

Anita membalas, Aku sudah mencari di ruang kerja Rian. Tidak ada.

Dion menjawab, Berarti dia menitipkannya kepada orang lain.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

Maya segera mematikan layar dan meletakkan ponsel di posisi semula. Dion keluar dengan handuk melilit pinggang. Wajahnya tampak santai, seolah hari sebelumnya tidak pernah terjadi.

“Kamu bangun pagi sekali,” katanya.

“Aku tidak bisa tidur.”

Dion mendekati meja samping tempat tidur dan memeriksa ponselnya. Tatapannya sekilas berubah tajam, tetapi Maya sudah berdiri di depan lemari pakaian.

“Kamu masih memikirkan kemarin?” tanya Dion.

Maya mengeluarkan kemeja kerja berwarna putih. “Seharusnya aku tidak memikirkannya?”

Dion mengembuskan napas panjang. “Maya, aku sudah menjelaskan semuanya. Anita sedang kacau. Rian meninggalkan banyak masalah keuangan. Aku hanya membantu.”

“Dengan anggur merah?”

“Kami sedang mengenang Rian.”

“Dan gaun malam Anita juga bagian dari kenangan?”

Rahang Dion menegang.

Maya menatapnya melalui pantulan cermin. Untuk pertama kali dalam sebelas tahun, ia merasa tidak sedang melihat suaminya, melainkan seorang asing yang telah lama mempelajari cara tersenyum, meminta maaf, dan berbohong tanpa berkedip.

“Aku tidak mau bertengkar,” kata Maya kemudian. “Aku butuh waktu.”

Dion berjalan mendekat dan meletakkan tangan di bahunya. “Kita tidak perlu waktu. Kita hanya perlu saling percaya.”

Maya menahan diri agar tidak menepis tangannya.

“Benar,” jawabnya pelan. “Kepercayaan memang penting.”

Hari itu Maya tidak pergi ke kantor. Ia menghubungi asistennya dan mengatakan sedang sakit. Begitu Dion berangkat, Maya mengambil laptop lama yang biasa dipakai suaminya sebelum membeli perangkat baru.

Laptop itu tersimpan di rak atas ruang kerja. Dion pernah mengatakan isinya sudah kosong. Namun Maya tahu suaminya jarang benar-benar menghapus sesuatu.

Setelah mencoba beberapa kata sandi, layar akhirnya terbuka menggunakan tanggal kematian Rian.

Maya terdiam.

Di dalam folder bernama Audit Surabaya, ia menemukan salinan tiket pesawat yang tidak pernah digunakan, tagihan hotel di Jakarta, serta sejumlah transfer dari rekening perusahaan menuju rekening atas nama PT Arunika Konsultan.

Perusahaan itu terdengar asing.

Maya mencari namanya di internet. Alamat kantornya terdaftar di sebuah gedung kecil di kawasan Tebet. Direktur utamanya bernama Anita Prameswari.

Maya merasakan dadanya semakin sesak.

Nominal transfernya tidak kecil. Dalam sembilan bulan terakhir, perusahaan tempat Dion bekerja telah mengirim lebih dari empat miliar rupiah kepada PT Arunika Konsultan untuk jasa pengawasan logistik.

Masalahnya, Maya mengenal bisnis Dion dengan cukup baik. Perusahaan suaminya memiliki tim audit internal sendiri. Tidak ada alasan menyewa konsultan luar sebesar itu.

Di folder lain, Maya menemukan foto dokumen perjanjian yang belum ditandatangani. Isinya menyatakan bahwa Dion akan mengambil alih sebagian saham milik Rian dalam perusahaan keluarga mereka apabila Rian meninggal dunia.

Maya baru memahami bahwa Rian dan Dion bukan hanya sahabat kuliah. Mereka juga mitra bisnis diam-diam.

Pukul sebelas siang, telepon rumah berdering.

“Maya Kirana?” tanya suara pria tua di seberang.

“Benar.”

“Nama saya Samuel Adhitama. Saya pengacara almarhum Rian Prasetyo.”

Maya menggenggam gagang telepon lebih erat.

“Ada sesuatu yang dititipkan almarhum untuk Anda. Beliau meminta saya menyerahkannya tujuh minggu setelah kematiannya.”

“Kenapa tujuh minggu?”

“Karena menurut beliau, dalam waktu itu seseorang pasti akan melakukan kesalahan.”

Maya menatap kalender di dinding. Rian meninggal enam minggu lalu.

“Besok tepat tujuh minggu,” lanjut Samuel. “Bisakah Anda datang ke kantor saya pukul sepuluh pagi?”

“Apakah Dion tahu?”

Hening sejenak.

“Justru karena Tuan Dion tidak boleh tahu, saya menghubungi Anda melalui telepon rumah.”

Keesokan harinya, Maya tiba di sebuah kantor hukum di Kuningan. Samuel Adhitama adalah pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut putih rapi dan suara tenang.

Ia meletakkan sebuah kotak logam kecil di atas meja.

“Rian datang menemui saya lima hari sebelum meninggal,” katanya. “Dia tampak sangat ketakutan.”

“Takut kepada siapa?”

“Dion.”

Samuel membuka kotak itu menggunakan kunci kecil. Di dalamnya terdapat sebuah kartu memori, sebuah amplop cokelat, dan kunci loker bank.

Maya membuka amplop tersebut.

Tulisan tangan Rian memenuhi tiga lembar kertas.

Maya, jika surat ini sampai kepadamu, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya secara langsung. Maaf karena aku pernah memilih diam. Aku pikir dengan melindungi Dion, aku juga melindungi persahabatan kami. Ternyata aku justru membantu seseorang menyakiti banyak orang.

Rian menulis bahwa dua tahun terakhir ia menemukan manipulasi laporan keuangan di perusahaan Dion. Dana perusahaan dialihkan melalui perusahaan cangkang milik Anita. Awalnya Anita mengaku hanya membantu membuat dokumen, tetapi hubungan mereka kemudian berubah menjadi perselingkuhan.

Saat Rian mengetahui hubungan itu, Anita menangis dan mengaku Dion berjanji akan menikahinya setelah meninggalkan Maya.

Namun bukan hanya perselingkuhan yang membuat Rian takut.

Dion juga diduga memalsukan tanda tangan Rian untuk mengalihkan kepemilikan saham dan menggunakan namanya sebagai penanggung jawab transaksi ilegal.

Aku bilang aku akan melapor, tulis Rian. Dion menjawab bahwa aku tidak akan sempat melakukannya.

Maya berhenti membaca.

“Apa maksudnya?” tanyanya.

Samuel mengambil kartu memori dan memasukkannya ke laptop.

Sebuah rekaman suara diputar.

Suara Rian terdengar lemah, tetapi jelas.

“Aku sudah punya salinan semua transaksi.”

Kemudian suara Dion terdengar.

“Kamu terlalu emosional. Kita bisa menyelesaikan ini.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menyeret Anita dan keluargaku lebih jauh.”

“Anita sudah memilih.”

“Kamu tidur dengan istriku, mengambil uang perusahaan, lalu masih bicara soal pilihan?”

Maya menatap Samuel dengan napas tertahan.

“Anita adalah istri Rian,” bisiknya.

Samuel mengangguk.

Di rekaman itu, Rian terdengar menuduh Dion telah menjalin hubungan dengan Anita selama hampir satu tahun. Ia juga mengatakan bahwa bayi yang dikandung Anita mungkin bukan anak Dion.

Maya tercekat.

Rekaman berlanjut.

Rian berkata, “Anita hamil sebelum hubungan kalian dimulai. Dia berbohong kepadamu karena dia tahu kamu akan terus membiayainya.”

Terdengar suara benda jatuh, lalu Dion membentak.

“Jangan mengarang cerita.”

“Aku punya hasil pemeriksaan. Bayi itu anakku.”

Rekaman berhenti.

Maya menatap layar kosong. Semua yang ia pikir sudah buruk ternyata masih menyimpan lapisan lain yang lebih gelap.

“Bagaimana Rian meninggal?” tanyanya.

Samuel merapatkan kedua tangan di atas meja. “Secara resmi, gangguan fungsi organ dada mendadak. Namun Rian sempat mengirim pesan kepada saya malam sebelum meninggal. Ia mengatakan seseorang mengganti obat rutinnya.”

Maya merasa darahnya mengalir dingin.

“Apakah Anda menuduh Dion membunuhnya?”

“Saya tidak menuduh siapa pun. Saya hanya menyimpan bukti yang diberikan klien saya.”

Samuel kemudian menyerahkan kunci loker bank kepada Maya.

“Di dalamnya ada dokumen asli transaksi dan hasil pemeriksaan kehamilan Anita. Rian meminta Anda menyerahkan semuanya kepada penyidik jika Dion mencoba membohongi atau mengancam Anda.”

Maya pulang dalam keadaan diam. Sepanjang perjalanan, ia memikirkan Dion yang menangis di samping peti Rian. Tangisan itu dulu terlihat tulus. Kini Maya tidak tahu apakah suaminya sedang berduka atau sedang memastikan bahwa rahasianya ikut terkubur.

Malamnya, Dion pulang membawa bunga lili putih.

“Aku ingin kita makan malam di luar,” katanya. “Kita lupakan kejadian kemarin.”

Maya menerima bunga itu dan meletakkannya di meja.

“Aku sudah melupakannya.”

Dion tersenyum lega.

“Tapi aku ingin tahu satu hal,” lanjut Maya. “Apa isi surat yang ditinggalkan Rian?”

Senyum Dion lenyap.

“Surat apa?”

“Surat yang kamu takutkan sampai ke tanganku.”

Dion tidak langsung menjawab.

Maya mengeluarkan salinan surat Rian dan meletakkannya di meja makan.

Dion membacanya sekilas. Wajahnya berubah pucat.

“Kamu bertemu Samuel?”

“Ya.”

“Dia memanipulasimu. Pengacara itu membenci aku sejak lama.”

“Apakah rekaman suara juga manipulasi?”

Dion menatap Maya tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian, sikap lembutnya runtuh.

“Kamu tidak mengerti apa yang terjadi,” katanya dingin. “Rian sakit. Dia paranoid.”

“Apakah dia juga paranoid saat menuduhmu tidur dengan istrinya?”

Dion berjalan mendekat.

“Maya, dengarkan aku. Semua dokumen itu bisa menghancurkan kita. Rumah ini, tabungan kita, masa depan kita.”

“Bukan kita. Kamu.”

Dion mencengkeram tepi meja.

“Aku melakukan semua ini untuk keluarga.”

Maya tertawa kecil, tetapi matanya terasa panas. “Keluarga mana? Keluarga denganku atau keluarga yang ingin kamu bangun dengan Anita?”

Dion mendekat dan berbisik, “Berikan kunci lokernya.”

Maya menatapnya dengan tenang. “Sudah terlambat.”

Bel apartemen berbunyi.

Dion menoleh.

Maya berjalan ke pintu dan membukanya. Dua petugas kepolisian berdiri di luar bersama Samuel.

Dion mundur satu langkah.

Pada saat yang sama, ponselnya berdering. Nama Anita muncul di layar.

Salah satu petugas meminta Dion duduk. Polisi menjelaskan bahwa mereka akan membawanya untuk diperiksa terkait dugaan penggelapan, pemalsuan dokumen, dan kematian Rian yang sedang dibuka kembali.

Dion menatap Maya dengan kebencian yang tidak pernah dilihatnya selama sebelas tahun.

“Kamu menghancurkan suamimu sendiri.”

Maya menjawab pelan, “Tidak. Aku hanya berhenti melindungi orang yang sudah lama menghancurkan dirinya sendiri.”

Dion dibawa pergi malam itu.

Namun kejutan terakhir datang tiga hari kemudian.

Anita meminta bertemu Maya di sebuah rumah sakit swasta. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak rapuh, dan perutnya yang membesar mulai terlihat jelas.

“Aku tidak meminta maaf agar kamu memaafkanku,” kata Anita. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku juga dibohongi.”

Maya duduk tanpa menjawab.

Anita mengaku Dion mendekatinya saat pernikahannya dengan Rian sedang bermasalah. Dion mengatakan Rian memiliki perempuan lain dan berniat meninggalkannya. Ketika Anita hamil, ia tidak tahu siapa ayah bayi itu karena hubungannya dengan Dion dan Rian terjadi dalam waktu berdekatan.

“Rian mengetahui kehamilan ini sebelum meninggal,” katanya sambil menangis. “Dia tetap berkata akan merawat bayi ini, siapa pun ayahnya.”

Maya menatap wanita di depannya. Kemarahannya belum hilang, tetapi untuk pertama kali ia melihat bahwa Anita bukan hanya pelaku. Ia juga seorang perempuan yang membuat pilihan buruk, lalu terperangkap di dalam kebohongan yang lebih besar.

“Hasil tes menunjukkan bayi ini anak Rian,” lanjut Anita. “Dion baru mengetahuinya kemarin dari penyidik.”

Maya teringat pesan Anita.

Kapan kamu akan memberi tahu dia tentang bayi ini?

Ternyata pesan itu bukan tentang meminta Dion mengakui anak mereka. Anita ingin Dion memberi tahu Maya bahwa Rian telah meninggalkan ahli waris sah yang dapat menggagalkan pengambilalihan saham.

“Kenapa kamu tidak menyerahkan bukti sejak awal?” tanya Maya.

Anita menunduk. “Karena Dion mengancam akan membuatku dituduh sebagai dalang semua transaksi. Sebagian dokumen memang menggunakan tanda tanganku.”

Maya berdiri.

“Aku tidak bisa membantumu menghapus kesalahanmu.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada penyidik. Tidak lebih, tidak kurang.”

Anita mengangguk sambil menangis.

Enam bulan kemudian, Dion ditetapkan sebagai tersangka utama dalam kasus penggelapan dan pemalsuan dokumen. Penyelidikan atas kematian Rian masih berlangsung, tetapi ditemukan cukup banyak bukti bahwa obat Rian telah ditukar beberapa hari sebelum kematiannya.

Anita menyerahkan diri dan bekerja sama dengan penyidik. Karena keterlibatannya, ia tetap harus menghadapi proses hukum.

Maya menggugat cerai Dion.

Pada sidang terakhir, Dion menatapnya dari seberang ruangan. Wajah pria itu tampak lebih tua, tetapi sorot matanya masih sama, penuh keyakinan bahwa semua orang selain dirinya adalah penyebab kehancurannya.

Hakim mengetukkan palu.

Sebelas tahun pernikahan berakhir dalam waktu kurang dari dua puluh menit.

Saat keluar dari gedung pengadilan, Maya melihat Samuel menunggunya sambil membawa sebuah kotak kecil.

“Ini titipan terakhir Rian,” katanya.

Di dalam kotak itu terdapat sebuah foto lama. Maya, Dion, Rian, dan Anita berdiri bersama di acara kelulusan universitas, tertawa tanpa mengetahui bagaimana hidup akan mengubah mereka.

Di belakang foto, Rian menulis satu kalimat.

Kebohongan tidak selalu hancur karena orang jahat membuat kesalahan. Kadang-kadang kebohongan hancur karena orang baik akhirnya berhenti diam.

Maya memandangi tulisan itu cukup lama.

Kemudian ia melangkah keluar menuju cahaya matahari Jakarta. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi bertanya ke mana Dion pergi, siapa yang meneleponnya, atau kebohongan apa yang sedang disusunnya.

Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang.

Dan di tangannya, bukan lagi nampan perak berisi kue untuk orang lain, melainkan kunci rumah baru yang dibelinya dengan uangnya sendiri, tempat ia akan memulai hidup yang tidak dibangun di atas rasa percaya buta, melainkan keberanian untuk melihat kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang