Aku merangkak perlahan menuju genangan lumpur.
Jari-jariku yang kecil gemetar saat mengambil kembali kertas kusut yang sudah basah itu. Lumpur menempel di setiap lipatan, tetapi tulisan di dalamnya masih terlihat samar. Aku membersihkannya dengan ujung bajuku sebelum kembali menyodorkannya kepada Komisaris Arif.
“Pak… Ayah bilang Bapak harus membacanya.”
Suasana di halaman kantor polisi mendadak sunyi.
Entah karena rasa penasaran atau karena nama Mario Prasetyo kembali terdengar setelah bertahun-tahun menghilang.
Komisaris Arif menatap wajahku beberapa saat. Tatapannya masih penuh kebencian, tetapi kali ini ada keraguan yang perlahan muncul. Dengan gerakan kasar, ia mengambil kertas itu.
Begitu membukanya, alisnya langsung berkerut.

Di dalamnya hanya ada beberapa kalimat pendek.
“Kalau surat ini sampai kepadamu, berarti aku sudah gagal melindunginya.”
“Anak ini tidak tahu apa-apa.”
“Ruang bawah tanah Gedung Cendana, Jakarta Utara.”
“Kotak besi nomor tujuh.”
“Kebenaran tentang Sinta masih ada di sana.”
Tangan Komisaris Arif bergetar.
Nama itu.
Sinta.
Nama adik perempuan yang selama sepuluh tahun ia yakini telah dibunuh oleh Mario Prasetyo.
Tanpa berkata apa pun, ia melipat kembali surat itu.
“Lukman.”
Seorang polisi muda segera menghampiri.
“Bawa anak ini masuk. Beri dia makan.”
“Tapi, Pak…”
“Lakukan.”
Aku akhirnya dibawa ke ruang makan kantor polisi.
Sepiring nasi hangat diletakkan di depanku.
Sudah hampir seminggu aku tidak makan makanan sungguhan.
Aku melahap semuanya tanpa sempat mengangkat kepala.
Dari balik pintu, beberapa polisi memperhatikanku.
“Kasihan sekali.”
“Kalau memang anak Mario, kenapa dia ditelantarkan seperti ini?”
“Jangan mudah percaya. Bisa jadi cuma sandiwara.”
Sementara itu, di ruang kerja Komisaris Arif, suasana jauh lebih tegang.
Ia membuka kembali berkas lama yang telah menguning.
Kasus hilangnya Sinta Prameswari.
Korban berusia sembilan belas tahun.
Saksi terakhir yang melihat korban adalah Mario Prasetyo.
Sejak hari itu Mario menghilang.
Semua bukti mengarah kepadanya.
Namun…
Tak pernah ditemukan jasad.
Tak pernah ditemukan tempat kejadian.
Kasus itu perlahan membeku.
Arif selama bertahun-tahun hidup dengan satu keyakinan.
Mario adalah pembunuh.
Kini, hanya karena selembar surat, keyakinannya mulai retak.
Sore itu juga ia membentuk tim kecil.
Mereka berangkat menuju Jakarta Utara.
Gedung Cendana ternyata sudah lama terbengkalai.
Bangunannya dipenuhi lumut.
Sebagian lantainya bahkan sudah runtuh.
Seorang penjaga tua mendekati mereka.
“Bapak-bapak mencari apa?”
“Apakah dulu gedung ini punya ruang bawah tanah?”
Pria tua itu mengangguk pelan.
“Masih ada. Tapi sudah lama ditutup.”
Beberapa jam kemudian, polisi berhasil membuka pintu besi yang berkarat.
Udara lembap langsung menyergap.
Lampu senter menyorot lorong sempit yang dipenuhi debu.
Di ujung ruangan berdiri tujuh kotak besi tua.
Arif menghitung satu per satu.
Ketika membuka kotak nomor tujuh, semua orang terdiam.
Di dalamnya tidak ada uang.
Tidak ada emas.
Yang tersimpan hanyalah puluhan map, kaset video lama, foto-foto, dan sebuah hard disk.
Di bagian paling atas terdapat surat lain.
Tulisan tangan Mario.
“Kalau kau membaca ini, berarti aku sudah tidak sempat menjelaskan semuanya.”
Arif membacanya dengan napas berat.
Sepuluh tahun lalu Sinta ternyata menjadi saksi perdagangan manusia yang melibatkan sejumlah pejabat dan pengusaha besar.
Mario saat itu hanyalah sopir perusahaan logistik.
Tanpa sengaja ia membantu Sinta melarikan diri.
Namun pelarian mereka diketahui.
Orang-orang berpengaruh mulai memburu keduanya.
Sinta meminta Mario menyembunyikan seluruh bukti.
Beberapa hari kemudian, Sinta memutuskan menyerahkan diri sebagai umpan agar Mario bisa membawa seluruh dokumen keluar.
Sejak saat itu Sinta menghilang.
Mario mencoba melapor.
Tidak ada polisi yang percaya.
Bahkan ada oknum yang justru membocorkan keberadaannya.
Karena itulah Mario melarikan diri sambil membawa semua bukti.
Ia hidup berpindah-pindah selama sepuluh tahun.
Sampai akhirnya orang-orang yang sama kembali menemukannya.
Surat itu berakhir dengan satu kalimat.
“Kalau aku mati, tolong selamatkan anakku. Dia satu-satunya keluarga yang tersisa.”
Komisaris Arif tidak mampu berkata-kata.
Selama sepuluh tahun…
Ia membenci orang yang ternyata sedang berusaha melindungi adiknya.
Malam itu juga seluruh isi kotak dibawa ke Mabes.
Tim forensik bekerja tanpa henti.
Video-video lama dipulihkan.
Rekaman CCTV yang selama ini dianggap hilang ternyata masih tersimpan.
Nama-nama besar mulai bermunculan.
Beberapa di antaranya adalah tokoh yang selama bertahun-tahun dianggap bersih.
Penyelidikan besar pun dimulai secara diam-diam.
Sementara itu aku tinggal sementara di rumah singgah milik kepolisian.
Bu Maya, seorang pekerja sosial, mulai mengajariku membaca.
Beliau juga memberiku pakaian baru.
Untuk pertama kalinya aku tidur di kasur empuk.
Namun setiap malam aku tetap bertanya.
“Bu… Ayah kapan pulang?”
Bu Maya hanya mengusap rambutku.
“Semoga sebentar lagi.”
Beberapa minggu kemudian, operasi penangkapan besar dilakukan.
Belasan orang berhasil diamankan.
Berita itu memenuhi semua stasiun televisi nasional.
Kasus perdagangan manusia yang terkubur selama satu dekade akhirnya terbongkar.
Namun satu orang belum ditemukan.
Mario Prasetyo.
Sebagian mengira ia sudah meninggal.
Sebagian lagi percaya ia masih bersembunyi.
Komisaris Arif tidak pernah berhenti mencarinya.
Bukan lagi untuk menangkap.
Melainkan untuk meminta maaf.
Enam bulan kemudian, sebuah rumah sakit kecil di daerah Boyolali menghubungi kepolisian.
Ada seorang pasien tanpa identitas yang meninggal akibat gagal ginjal.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, pria itu hanya sempat menyebut satu nama.
“Nina.”
Di saku bajunya ditemukan foto kecil seorang anak perempuan dengan benang merah di pergelangan tangan.
Komisaris Arif datang sendiri ke rumah sakit.
Begitu melihat wajah jenazah itu, ia langsung mengenalinya.
Mario.
Tubuh pria itu tinggal kulit dan tulang.
Dokter menjelaskan bahwa penyakitnya sudah lama parah.
Ia menolak dirawat karena selalu berpindah tempat.
Di bawah bantal rumah sakit ditemukan sebuah amplop.
Di bagian depan hanya tertulis.
“Untuk Nina.”
Ketika aku membacanya, air mataku akhirnya jatuh.
“Nak, maaf Ayah tidak bisa membelikanmu es krim hari itu.”
“Ayah sengaja meninggalkanmu karena mereka sudah menemukan tempat persembunyian kita.”
“Kalau Ayah membawamu ikut, mereka akan membunuh kita berdua.”
“Ayah percaya hanya Komisaris Arif yang akhirnya akan menemukan kebenaran.”
“Jangan pernah membenci Ayah.”
“Ayah selalu menepati janji.”
“Es krimmu memang terlambat, tetapi kebenaran akhirnya datang.”
Aku memeluk surat itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya aku menangis sejadi-jadinya.
Komisaris Arif berdiri beberapa langkah di belakangku.
Matanya juga basah.
Ia berlutut hingga sejajar denganku.
“Nina.”
Aku menoleh.
“Maafkan saya.”
“Selama bertahun-tahun saya membenci ayahmu.”
“Saya salah.”
“Ayahmu bukan penjahat.”
“Dia pahlawan.”
Beberapa bulan setelah semuanya selesai, nama Mario Prasetyo resmi dipulihkan.
Negara memberikan penghargaan anumerta atas keberaniannya mengungkap jaringan kejahatan yang telah merenggut begitu banyak korban.
Di sebuah taman kecil di Klaten, tempat pohon beringin tua itu masih berdiri, dibangun sebuah monumen sederhana.
Aku datang setiap tahun membawa dua es krim.
Satu untukku.
Satu lagi kutaruh di bawah pohon.
Orang-orang yang dulu percaya bahwa seorang ayah tega membuang anaknya akhirnya mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
Seorang ayah tidak selalu pergi karena berhenti mencintai.
Kadang, ia memilih menanggung seluruh kebencian dunia agar anaknya tetap memiliki kesempatan untuk hidup.
