Seorang ayah tunggal tanpa sengaja melihat direktur perempuan perusahaannya duduk menangis di sudut wastafel kantor sambil memeluk sebuah baju bayi yang sudah usang.

Namaku Raka.

Empat tahun lalu, istriku meninggal setelah berjuang melawan kanker. Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia menggenggam tanganku erat sambil berbisik dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Tolong jaga Aira… Jangan biarkan dia merasa kehilangan kedua orang tuanya.”

Sejak hari itu, seluruh hidupku hanya berputar pada satu nama.

Aira.

Putriku yang kini berusia lima tahun.

Aku bekerja siang malam agar ia tetap bisa tumbuh bahagia. Meski hidup tidak pernah mudah, setiap kali melihat senyumnya, aku merasa semua pengorbanan itu layak.

Hari ketika Aira memeluk kaki Direktur Maya dan memanggilnya “Mama”, hidup kami berubah selamanya.

Aku tidak pernah bisa melupakan tatapan Maya saat itu.

Tatapan seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap telah hilang.

Namun sekaligus tatapan orang yang takut berharap.

Sejak kejadian itu, Maya tidak lagi memarahiku karena membawa anak ke kantor.

Bahkan, setiap kali melewati ruang kerjaku, pandangannya selalu berhenti beberapa detik pada Aira yang sedang menggambar.

Tidak pernah berbicara.

Hanya memandang.

Tatapan itu penuh kerinduan yang sulit dijelaskan.

Beberapa hari kemudian, rasa penasaranku membawaku kembali ke ruang arsip tua yang pernah kulihat malam itu.

Ruangan itu ternyata tidak dikunci.

Aku mendorong pintunya perlahan.

Di dinding tergantung puluhan foto anak-anak dari berbagai usia.

Sebagian merupakan foto dari panti asuhan.

Sebagian lagi foto yang diambil dari koran.

Di tengah ruangan terdapat papan besar yang dipenuhi benang merah, tanggal, nama rumah sakit, kantor polisi, hingga berbagai kota di Indonesia.

Di bagian paling tengah tertempel sebuah foto bayi perempuan.

Di bawahnya tertulis satu nama.

Anindya.

Hilang.

Usia enam bulan.

Lima tahun yang lalu.

Di samping foto itu terdapat baju bayi kuning yang kulihat dipeluk Maya.

Dadaku mendadak terasa berat.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

Suara Maya membuatku terkejut.

Aku langsung membalikkan badan.

“Maaf, Bu… saya tidak sengaja…”

Maya tidak marah.

Ia hanya berjalan perlahan menuju papan itu.

Tangannya mengusap foto bayi tersebut.

“Dia anak saya.”

Aku terdiam.

“Lima tahun lalu, seseorang menculiknya dari ruang perawatan rumah sakit.”

Suara Maya terdengar datar.

Terlalu datar untuk sebuah tragedi sebesar itu.

“Suami saya menyalahkan saya.”

“Keluarganya juga.”

“Mereka bilang aku terlalu sibuk bekerja.”

“Aku kehilangan suami… kehilangan anak… dalam hari yang sama.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Selama bertahun-tahun seluruh kantor membencinya.

Tak seorang pun tahu bahwa setiap malam ia mencari anaknya.

“Polisi tidak pernah menemukan petunjuk.”

“Kasusnya dihentikan.”

“Tapi aku tidak pernah berhenti mencari.”

Air matanya kembali jatuh.

“Aira… wajahnya sangat mirip Anindya.”

Aku pulang hari itu dengan hati yang kacau.

Saat melihat Aira tidur di kamarnya, untuk pertama kalinya aku memperhatikan wajahnya lebih lama.

Entah kenapa…

Aku mulai melihat sesuatu.

Bentuk mata.

Lesung pipi.

Cara bibirnya melengkung ketika tidur.

Samar-samar…

Ada kemiripan dengan Maya.

Aku langsung menepis pikiran itu.

Tidak mungkin.

Aira adalah putriku.

Aku sendiri yang membesarkannya sejak bayi.

Malam itu aku membuka album lama.

Foto-foto istriku saat hamil.

Saat melahirkan.

Saat menggendong Aira.

Semuanya tampak biasa.

Namun ada satu hal yang tiba-tiba kusadari.

Tidak ada satu pun foto istriku bersama Aira di rumah sakit.

Semuanya baru dimulai ketika kami sudah berada di rumah.

Aku mencoba mengingat.

Saat itu aku memang sempat keluar membeli obat karena istriku mengalami pendarahan ringan setelah melahirkan.

Ketika kembali, bayi sudah berada di pelukan istriku.

Aku tidak pernah berpikir macam-macam.

Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri bertanya kepada ibu mertuaku.

“Ibu… dulu waktu Aira lahir… apa ada sesuatu yang terjadi?”

Wajah beliau langsung berubah pucat.

Tangannya gemetar.

“Ada apa memang?”

Aku menceritakan semuanya.

Tentang Maya.

Tentang anaknya yang hilang.

Tentang kemiripan wajah mereka.

Ibu mertuaku tiba-tiba menangis.

Tangis yang selama ini tidak pernah kulihat.

“Aku sudah berjanji pada almarhumah putriku untuk membawa rahasia ini sampai mati.”

Jantungku berdegup semakin keras.

“Rahasia apa, Bu?”

Beliau memejamkan mata.

“Lima tahun lalu…”

“Anak kandung kalian lahir dalam keadaan tidak bernapas.”

Aku merasa dunia berhenti.

“Apa?”

“Dokter mengatakan bayi itu tidak bisa diselamatkan.”

“Aku takut putriku tidak sanggup menerima kenyataan.”

“Saat itulah…”

Beliau menangis semakin keras.

“Seorang perawat datang membawa bayi lain.”

“Bayi perempuan.”

“Ia berkata bayi itu tidak punya keluarga.”

“Katanya orang tuanya meninggal karena kecelakaan.”

“Aku… aku percaya.”

“Kami membawa bayi itu pulang.”

Aku hampir tidak mampu berdiri.

“Jadi…”

“Aira…”

“Bukan anak kandung kami.”

Air mataku mengalir begitu saja.

Selama lima tahun…

Aku sama sekali tidak tahu.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku terus memandangi wajah Aira.

Apa pun kenyataannya…

Dialah putriku.

Tak ada yang bisa mengubah itu.

Keesokan harinya aku menemui Maya.

Kami berbicara di ruang kerjanya.

Aku menceritakan semuanya.

Maya tidak langsung percaya.

Kami sepakat melakukan tes DNA secara diam-diam.

Tiga minggu kemudian hasilnya keluar.

Tanganku gemetar saat membuka amplop.

Kemungkinan hubungan biologis.

99,9999 persen.

Maya menutup mulutnya.

Tangisnya pecah.

Seluruh tubuhnya bergetar.

“Itu… putriku…”

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun…

Ia memeluk seseorang tanpa ragu.

Ia memeluk Aira.

Namun yang membuatku semakin terkejut adalah ucapan berikutnya.

“Aku tidak akan mengambilnya darimu.”

Aku menatap Maya.

“Apa?”

“Aku kehilangan lima tahun.”

“Kamu memberinya seluruh hidupmu.”

“Yang pantas dipanggil Papa adalah kamu.”

Aku tidak mampu menahan air mata.

Namun kenyataan belum selesai.

Polisi membuka kembali kasus penculikan.

Penyelidikan mengarah kepada seorang mantan perawat yang kini hidup mewah di luar Jakarta.

Perempuan itu akhirnya ditangkap.

Dalam pemeriksaan, ia mengaku bukan bekerja sendirian.

Ada sindikat perdagangan bayi yang beroperasi bertahun-tahun.

Anindya sebenarnya dijual kepada pasangan kaya yang tidak memiliki anak.

Namun transaksi gagal karena pasangan tersebut ketakutan.

Bayi itu akhirnya dititipkan kepada seorang calo rumah sakit.

Dalam kekacauan itulah ibu mertuaku menerima bayi yang salah.

Selama lima tahun, tak seorang pun menyadari semuanya.

Berita itu menggemparkan media.

Nama Maya yang selama ini dikenal sebagai direktur paling kejam mendadak berubah.

Orang-orang baru mengetahui alasan mengapa ia selalu pulang paling malam.

Mengapa ia tidak pernah merayakan ulang tahun.

Mengapa setiap tahun ia diam-diam menyumbang ke puluhan panti asuhan.

Ia selalu berharap menemukan putrinya.

Beberapa bulan kemudian, hubungan kami berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Setiap akhir pekan Maya datang ke rumah.

Ia belajar menjadi ibu.

Bukan dengan memaksa.

Melainkan perlahan.

Mengantar Aira ke taman.

Membuatkan bekal.

Membacakan dongeng.

Suatu hari Aira bertanya dengan polos.

“Papa… kenapa sekarang aku punya dua orang yang sayang sama aku?”

Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya.

“Karena Tuhan sedang mengembalikan sesuatu yang pernah hilang.”

Aira memandang Maya.

Lalu menggenggam tangan kami berdua.

“Kalau begitu…”

“Aku boleh tetap panggil Papa?”

Aku tertawa sambil memeluknya.

“Tentu.”

“Lalu…”

Ia menoleh kepada Maya.

“Aku boleh panggil Mama juga?”

Maya tidak mampu menjawab.

Ia hanya mengangguk sambil menangis.

Setahun kemudian, tepat pada ulang tahun keenam Aira, kami merayakannya dengan sederhana di halaman rumah.

Tak ada pesta mewah.

Hanya beberapa balon, kue kecil, dan orang-orang yang benar-benar mencintainya.

Saat lilin ditiup, Aira menutup mata lalu berdoa.

Ketika kami bertanya apa isi doanya, ia tersenyum lebar.

“Aku cuma minta satu.”

“Apa?”

“Semoga nggak ada lagi anak yang hilang dari mamanya.”

Kalimat sederhana itu membuat semua orang terdiam.

Aku memandang langit sore yang cerah.

Empat tahun lalu aku kehilangan istriku.

Lima tahun lalu Maya kehilangan putrinya.

Takdir telah mempertemukan dua orang yang sama-sama hancur dalam cara yang paling mustahil.

Kami memang tidak bisa mengubah masa lalu.

Namun kami masih diberi kesempatan untuk menciptakan masa depan yang tidak lagi dipenuhi kehilangan, melainkan cinta yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang