Di sebuah gang sempit di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, suara ketukan palu tua selalu terdengar setiap pagi.
Mbah Joyo, seorang pria tua berusia enam puluh delapan tahun yang berjalan pincang, duduk di sudut trotoar dengan kotak peralatan usangnya.
Sudah hampir dua puluh delapan tahun ia bekerja sebagai tukang sol sepatu di pinggir jalan.
Ia dikenal pendiam, jarang tersenyum, bahkan sering memarahi anak-anak yang bermain terlalu dekat dengan lapaknya.
Karena itu, banyak warga menganggapnya sebagai kakek pemarah yang tidak peduli dengan siapa pun.
Namun, suasana di kampung itu mendadak memanas selama tiga minggu terakhir.
Setiap hari Jumat, setelah jemaah selesai menunaikan salat di masjid, selalu ada alas kaki yang hilang.
Mulai dari sepatu kulit mahal, sandal bermerek, hingga sepatu olahraga favorit warga lenyap begitu saja dari teras masjid.

Kejadian itu terus berulang hingga membuat warga saling curiga.
Tanpa bukti yang jelas, semua tuduhan perlahan mengarah kepada Mbah Joyo.
Pasalnya, beberapa orang mengaku sering melihat lelaki tua itu memikul karung goni besar saat dini hari, terutama ketika hujan turun deras.
Di warung kelontong dekat masjid, Ibu Ratna menjadi orang yang paling lantang menyebarkan kecurigaan.
“Siapa lagi kalau bukan kakek tua itu?” katanya sinis.
“Belakangan dia juga sudah jarang menerima servis sepatu murah.”
“Pasti dia mencuri sepatu-sepatu bagus dari masjid lalu menjualnya ke pasar loak di luar kota.”
Ucapan itu menyebar dari mulut ke mulut hingga dipercaya hampir seluruh warga.
Kemarahan mereka semakin memuncak ketika Pak RT kehilangan sepatu kulit impor kesayangannya.
Malam itu, emosi warga yang sudah lama dipendam akhirnya meledak.
Pak RT bersama puluhan warga dan pemuda karang taruna mendatangi gubuk kayu tempat tinggal Mbah Joyo.
Mereka membawa senter, kayu balok, dan tekad untuk menangkap orang yang mereka yakini sebagai pencuri.
Pak RT menggedor pintu seng tua itu sekuat tenaga.
“Joyo! Keluar sekarang juga! Kembalikan semua sepatu yang sudah kamu curi!” bentaknya.
Perlahan, pintu seng berderit terbuka.
Mbah Joyo muncul dengan tubuh gemetar sambil memeluk erat sebuah karung goni lusuh di dadanya.
Tanpa banyak bicara, dua pemuda langsung menarik lengannya dan menyeretnya keluar ke jalan yang masih basah oleh hujan.
Tubuh renta itu terjatuh keras di atas aspal dingin.
“Saya tidak pernah mencuri apa pun, Pak RT… Tolong jangan rusak barang-barang saya…” ucap Mbah Joyo dengan suara bergetar.
Namun, tak seorang pun mau mendengarkan.
Karung goni yang dipeluknya dirampas begitu saja.
Ibu Ratna menunjuk wajah Mbah Joyo dengan penuh amarah.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Pak Tua! Malam ini kami akan membuktikan semuanya!”
Beberapa pemuda langsung mendobrak pintu gubuk dan menggeledah setiap sudut ruangan.
Di bagian paling belakang, mereka menemukan sebuah pintu kayu tebal yang tertutup rapat dengan gembok besi besar.
Melihat pintu itu, Mbah Joyo mendadak panik.
Dengan sisa tenaganya, ia berusaha bangkit sambil berteriak memohon.
“Tolong… jangan buka pintu itu… apa pun yang terjadi, jangan buka…”
Namun permohonan itu justru semakin membuat warga yakin.
Mereka percaya, di balik pintu terkunci itulah Mbah Joyo menyembunyikan semua sepatu hasil curiannya dari masjid.
Salah seorang pemuda segera mengayunkan linggis ke arah gembok.
Sekali hantam.
Dua kali.
Pada hantaman ketiga, gembok itu terlepas dan jatuh membentur lantai semen.
Pintu kayu perlahan terbuka sambil mengeluarkan aroma kulit, lem, dan minyak pelumas yang sangat khas.
Semua orang yang berdiri di ambang pintu langsung membeku.
Ruangan itu sama sekali bukan gudang barang curian.
Di dalamnya terdapat ratusan rak kayu yang tersusun rapi.
Di setiap rak, berdiri puluhan pasang sepatu yang sudah dibersihkan hingga mengilap.
Masing-masing diberi label kecil berisi nama pemilik, tanggal ditemukan, ukuran kaki, bahkan catatan kerusakan.
Suasana yang semula penuh amarah mendadak berubah sunyi.
Pak RT melangkah masuk dengan napas tertahan.
Matanya langsung tertuju pada sepasang sepatu kulit hitam miliknya.
Sepatu itu tampak jauh lebih bagus daripada saat terakhir ia memakainya.
Solnya baru.
Jahitannya rapi.
Kulitnya dipoles hingga mengilap.
Di sampingnya terdapat secarik kertas.
“Pak Hendra. Sol mulai retak. Sudah saya ganti agar aman dipakai.”
Pak RT terdiam.
Ibu Ratna ikut masuk.
Ia menemukan sandal kulit miliknya.
Di bawah sandal itu terdapat tulisan.
“Ibu Ratna. Tali hampir putus. Sudah dijahit ulang. Semoga awet.”
Warga saling berpandangan.
Tidak ada satu pun sepatu yang terlihat rusak.
Semuanya justru tampak lebih baik daripada sebelumnya.
“Ini… apa maksudnya?” bisik seseorang.
Di sudut ruangan terdapat meja kerja sederhana.
Di atasnya berserakan jarum, benang, lem, paku kecil, dan buku catatan yang sudah kusam.
Pak RT membuka buku itu.
Halaman demi halaman membuat wajahnya berubah pucat.
Setiap Jumat selama bertahun-tahun, Mbah Joyo mencatat sepatu yang ditinggalkan terlalu lama di masjid setelah semua jemaah pulang.
Ia sengaja mengambilnya pada malam hari.
Bukan untuk mencuri.
Melainkan memperbaiki sepatu-sepatu yang rusak secara diam-diam.
Keesokan paginya sebelum waktu Subuh, ia selalu mengembalikannya ke teras rumah masing-masing pemilik.
Karena dilakukan saat semua orang masih tidur, tidak ada seorang pun yang pernah mengetahui.
“Kenapa beliau tidak pernah bilang?” tanya seorang pemuda pelan.
Mbah Joyo hanya menundukkan kepala.
“Saya tidak ingin orang merasa malu karena saya menganggap sepatu mereka rusak.”
“Tapi… kenapa ada yang benar-benar hilang beberapa minggu terakhir?” tanya Pak RT.
Mbah Joyo terdiam cukup lama.
Tatapannya berubah gelisah.
“Lima belas hari lalu… saya mulai melihat anak-anak muda yang bukan warga sini berkeliaran di sekitar masjid.”
“Mereka benar-benar mencuri.”
“Saya sempat mengejar mereka, tapi kaki saya sudah tidak kuat.”
“Saya berusaha mengganti sepatu yang hilang dengan sepatu bekas hasil donasi supaya orang yang kehilangan tetap bisa pulang memakai alas kaki.”
Ucapan itu membuat semua orang saling berpandangan.
Di rak paling bawah memang terdapat puluhan pasang sepatu bekas yang masih layak pakai.
Mbah Joyo ternyata selama ini membeli sepatu bekas dari pasar loak menggunakan uang tabungannya sendiri.
Jika ada jemaah kehilangan sepatu, ia diam-diam meninggalkan penggantinya.
Tak lama kemudian, seorang anak kecil bernama Fikri berlari masuk sambil membawa sebuah ponsel.
“Pak RT! CCTV minimarket depan gang!”
Video itu segera diputar.
Rekaman memperlihatkan tiga pria berhelm memasuki area masjid setiap Jumat.
Mereka mengambil beberapa pasang sepatu mahal, lalu memasukkannya ke dalam karung sebelum melarikan diri dengan sepeda motor.
Beberapa menit kemudian muncul sosok Mbah Joyo yang berjalan terpincang-pincang mengejar mereka sambil membawa tongkat.
Namun tentu saja ia tidak berhasil.
Ruangan itu kembali sunyi.
Tak ada lagi yang sanggup berkata-kata.
Ibu Ratna perlahan jatuh terduduk.
Air matanya mulai mengalir.
“Saya… saya sudah memfitnah orang baik…”
Pak RT menutup wajahnya.
Dadanya sesak oleh rasa bersalah.
Namun kejutan belum berakhir.
Seorang pemuda menemukan sebuah kotak besi tua di bawah meja kerja.
Kotak itu terkunci.
Mbah Joyo menghela napas panjang.
“Kalau memang sudah terbuka semua… sekalian saja.”
Ia menyerahkan sebuah kunci kecil.
Ketika kotak itu dibuka, isinya bukan uang.
Bukan emas.
Melainkan puluhan amplop cokelat yang sudah menguning.
Setiap amplop bertuliskan nama seseorang.
Pak RT membuka salah satunya.
Di dalamnya terdapat kuitansi pembayaran sekolah.
Ada pula bukti transfer biaya operasi.
Resep obat.
Tagihan rumah sakit.
Surat pelunasan utang koperasi.
Semuanya atas nama warga kampung itu.
“Ini semua…?”
Mbah Joyo tersenyum tipis.
“Dulu saya pernah bekerja di pabrik sepatu.”
“Saat pabrik tutup, saya mendapat uang pesangon.”
“Saya tidak punya istri lagi.”
“Anak saya juga meninggal bertahun-tahun lalu.”
“Jadi uang itu saya pakai membantu orang yang benar-benar kesulitan.”
“Tapi saya minta pihak sekolah, rumah sakit, dan koperasi agar nama saya dirahasiakan.”
Pak RT membaca satu kuitansi lagi.
Ternyata biaya kuliah putrinya beberapa tahun lalu dibayar lunas oleh seseorang yang meminta identitasnya disembunyikan.
Ia selama ini mengira bantuan itu berasal dari yayasan.
Ibu Ratna membuka amplop lain.
Air matanya langsung pecah.
Biaya operasi suaminya yang terkena stroke ternyata dibayar oleh Mbah Joyo.
Selama bertahun-tahun ia selalu berterima kasih kepada orang yang salah.
Satu per satu warga membuka amplop.
Semua menemukan kenyataan yang sama.
Ada yang pernah dibantu biaya melahirkan.
Ada yang dibelikan kursi roda.
Ada yang dibayar tunggakan sekolah anaknya.
Ada yang dibantu modal usaha kecil setelah tokonya terbakar.
Seluruh ruangan dipenuhi isak tangis.
Mbah Joyo hanya berdiri diam.
“Kenapa Bapak tidak pernah menceritakan semua ini?” tanya Pak RT dengan suara bergetar.
“Kebaikan yang diceritakan terus-menerus akan berubah menjadi kebanggaan.”
“Saya hanya ingin tetap menjadi tukang sol sepatu.”
“Tidak lebih.”
Malam itu, tak seorang pun mampu menahan air mata.
Satu demi satu warga mendekati Mbah Joyo.
Mereka memeluk tubuh renta yang beberapa menit sebelumnya mereka hina.
Ibu Ratna bersimpuh sambil menangis histeris.
“Maafkan saya… saya sudah menyakiti hati Bapak.”
Mbah Joyo mengangkatnya perlahan.
“Semua orang bisa salah menilai.”
“Yang penting setelah tahu kebenarannya, jangan ulangi lagi kepada orang lain.”
Seminggu kemudian, polisi berhasil menangkap komplotan pencuri sepatu berdasarkan rekaman CCTV.
Nama Mbah Joyo dipulihkan.
Warga bergotong royong memperbaiki gubuknya menjadi bengkel kecil yang lebih layak.
Anak-anak yang dulu takut kini setiap sore datang membantu membersihkan lapak.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar.
Dua bulan kemudian, Mbah Joyo meninggal dunia dalam tidurnya.
Seluruh kampung mengantar kepergiannya.
Di hari pemakaman, seorang petugas notaris datang membawa surat wasiat.
Isinya membuat semua orang kembali menangis.
Mbah Joyo mewariskan seluruh tabungannya untuk membangun perpustakaan kecil dan bengkel pelatihan gratis bagi anak-anak yatim agar mereka memiliki keterampilan memperbaiki sepatu dan bisa mencari nafkah dengan tangan mereka sendiri.
Di halaman terakhir surat wasiat itu tertulis satu kalimat sederhana.
“Sepatu yang rusak masih bisa diperbaiki. Hati manusia juga begitu, asalkan tidak terlalu cepat menghakimi.”
