Aku membiarkan seorang pria tidur di sofa ruang tamu karena putraku tidak tega melihatnya menggigil kedinginan

Aku berdiri mematung di ambang pintu, menatap sekeliling ruangan yang telah bertransformasi total dalam hitungan jam. Bau apek dari sisa hujan semalam telah tergantikan oleh aroma harum sup hangat dan wangi sabun yang menenangkan. Pintu kayu yang engselnya sudah copot sejak tiga bulan lalu kini tertutup rapat dan terbuka dengan mulus tanpa suara berdecit sedikit pun. Di sudut dapur, tumpukan piring kotor yang sejak kemarin kubiarkan menggunung kini telah bersih mengkilap, tertata rapi di rak piring.

Ethan berlari masuk, langsung berseru gembira saat melihat kompor masih menyala kecil dengan panci yang mengepulkan uap hangat.

Adrian muncul dari arah kamar mandi. Dia sudah mengenakan kaus polo bersih milik almarhum suamiku yang dulu kutaruh di lemari pakaian bekas, dan rambutnya yang tadinya kusut kini tersisir rapi. Penyangga logam di kakinya masih terpasang, tetapi cara berdirinya jauh lebih tegap dibandingkan kemarin sore.

“Ibu sudah pulang,” kata Adrian dengan suara bariton yang tenang. Senyum tipis terukir di wajahnya yang kini tampak jauh lebih muda dari perkiraanku semula. “Aku memberanikan diri merapikan sedikit rumah ini. Anggap saja sebagai balas budi kecil untuk tempat tidur semalam.”

Aku masih terdiam, belum sepenuhnya percaya dengan apa yang kulihat.

“Kau memperbaiki pintunya?” tanyaku akhirnya, suaranya terdengar serak karena lelah.

“Engselnya hanya butuh dikencangkan dan sedikit pelumas,” jawabnya sambil tersenyum kecil. “Dulu aku cukup sering bekerja dengan peralatan bengkel. Sebelum kakiku patah.”

Malam itu berlalu dengan suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Rumah kontrakan kami yang biasanya suram kini terasa hangat dan hidup. Adrian memasak makan malam sederhana dari bahan-bahan seadanya di kulkas, dan rasanya ternyata jauh lebih enak daripada masakanku sendiri. Ethan tidak berhenti tertawa mendengar cerita Adrian tentang berbagai jenis burung yang sering singgah di pohon-pohon besar di Jakarta.

Keesokan paginya, Adrian tidak langsung pergi.

Ketika aku bersiap berangkat kerja, dia menawarkan diri untuk mengantar Ethan ke sekolah sekalian membeli beberapa kebutuhan dapur di pasar tradisional dekat gang. Awalnya aku ragu, mengingat kondisi kakinya. Namun melihat cara Adrian memegang tangan Ethan dengan penuh kehati-hatian dan ketulusan, keraguan itu perlahan sirna.

Hari-hari berikutnya berjalan di luar dugaan. Adrian tidak pergi. Dia justru menjadi bagian tak terpisahkan dari ritme hidup kami yang sempit.

Setiap kali aku pulang kerja, rumah selalu dalam keadaan bersih, makanan siap saji tersaji di atas meja, dan Ethan tampak begitu gembira karena memiliki seseorang yang selalu mendengarkan cerita-ceritanya sepulang sekolah. Pria itu bahkan mulai membantu tetangga sekitar memperbaiki keran air yang rusak atau kursi kayu yang patah, membuat orang-orang di kampung mulai mengenalnya dan menghormatinya.

Aku mulai merasa nyaman. Terlalu nyaman, bahkan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun berjuang seorang diri, ada bahu lain yang ikut menopang beban hidupku yang berat. Rasa curiga yang selalu kupelihara perlahan luntur oleh kebaikan-kebaikan kecil yang ditunjukkan Adrian setiap hari.

Hingga sebuah sore di akhir pekan, ketika hujan kembali mengguyur Jakarta dengan derasnya, segalanya berubah dalam sekejap.

Adrian sedang keluar untuk membelikan obat asma Ethan di apotek terdekat. Ponselnya tertinggal di atas meja makan. Layar ponsel itu tiba-tiba menyala terang, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal dengan foto profil yang terpampang jelas di layar.

Jantungku mendadak berhenti berdetak.

Foto di layar itu adalah wajah seorang pria paruh baya yang sangat bersih, mengenakan jas mewah, tersenyum lebar bersama seorang wanita anggun dan dua orang anak remaja di sebuah ruang tamu yang sangat luas. Wajah itu… wajah yang sama persis dengan pria berjanggut kusut yang kutemukan di halte TransJakarta beberapa hari lalu.

Aku tertegun, jemariku gemetar saat membaca notifikasi pesan singkat yang muncul di bawah layar ponsel tersebut.

Pesan itu dikirim dari sebuah kantor berita nasional ternama, menanyakan kabar terbaru mengenai hilangnya seorang arsitek ternama sekaligus pemilik perusahaan konstruksi besar di Jakarta yang dikabarkan mengalami depresi berat dan hilang ingatan setelah kecelakaan tragis yang merenggut nyawa istri dan kedua anaknya dua tahun lalu.

Nama lengkap yang tertera di layar ponsel itu bukanlah Adrian.

Melainkan Aris.

Pintu depan terdengar berderit pelan. Langkah kaki pincang itu masuk membawa kantong plastik berisi obat, disertai suara tawa renyah Ethan yang menyambutnya di teras. Aku berdiri terpaku di dekat meja makan, menatap layar ponsel yang masih menyala terang, menyadari bahwa pria yang kubiarkan tidur di sofa rumahku bukanlah seorang gelandangan biasa, melainkan seseorang yang sedang melarikan diri dari bayang-bayang masa lalunya yang paling gelap, dan kini, tanpa kusadari, aku telah menyeretnya masuk terlalu jauh ke dalam hidupku yang rapuh.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang