Pukul dua siang, lobi Kos Griya Kirana mendadak riuh oleh suara bentakan bernada tinggi. Clarissa berdiri berkacak pinggang di depan meja resepsionis, melemparkan selembar kertas tagihan tepat ke dada Pak Joko yang menunduk pasrah. Wajah kakek paruh baya itu pucat pasi, kedua tangannya bergetar hebat menahan malu di hadapan beberapa penghuni kos lain yang sengaja memperlambat langkah untuk menonton pertunjukan gratis itu.

“Kamu ini tuli atau gimana sih, Pak Joko! Sudah saya bilang, jangan berani-beraninya menagih uang sewa ke saya sebelum tanggal dua puluh! Mau cari masalah sama saya? Asal kamu tahu ya, saya ini kenal dekat sama Pak Prasetyo, Direktur Utama PT Kirana Property Utama! Sekali saya telepon, detik ini juga kamu bisa langsung dipecat jadi penjaga kos!” maki Clarissa dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
Beberapa penghuni kos berbisik-bisik, menatap Clarissa dengan pandangan kagum bercampur segan, sementara Pak Joko hanya bisa meminta maaf berulang kali demi mempertahankan pekerjaannya. Suasana semakin panas ketika Clarissa dengan angkuhnya melipat tangan di dada, merasa di atas angin dan menikmati kekuasaan semu yang ia ciptakan sendiri.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki terdengar tenang namun tegas memecah keheningan lobi.
“Tidak perlu menelepon Pak Prasetyo, Mbak Clarissa. Beliau sedang sibuk di kantor pusat. Biar saya saja yang mendengarkan masalahnya langsung dari sini,” sebuah suara lembut namun berwibawa menghentikan ocehan panjang Clarissa.
Semua mata sontak menoleh ke sumber suara. Dari arah lorong belakang dekat area jemuran, Arini berjalan mendekat. Wanita itu tidak lagi mengenakan daster batik pudar dan sandal jepitnya. Kini, ia mengenakan setelan blazer hitam elegan berpotongan rapi, rambut panjangnya digelung modern, dan tatapan matanya begitu tajam, memancarkan aura kekuasaan mutlak yang membuat siapa pun langsung terbungkam.
Clarissa tertegun sedetik sebelum akhirnya mendengus sinis, tertawa meremehkan. “Eh, si Ibu Dasteran dari kamar pojok dekat tempat sampah! Mau jadi pahlawan kesiangan, hah? Urus dulu tuh anak ingusanmu sebelum ikut campur urusan orang elit!”
Arini tidak terpancing. Ia melangkah anggun melewati Clarissa, lalu menepuk pelan bahu Pak Joko yang masih gemetar. “Pak Joko, ambil kursi dan duduklah. Biar saya yang ambil alih.”
Pak Joko mengangguk patuh, sementara Clarissa melipat tangan dengan senyum mencemooh. “Wah, hebat juga aktingnya. Pakai blazer pinjaman dari mana tuh, Mbak? Biar kelihatan keren pas diusir dari kos?”
Arini mengabaikan sindiran itu. Ia membuka tablet tipis bermerek mewah yang dikeluarkan dari tas kulit aslinya, lalu mengetuk beberapa kali layar tersebut sebelum menyambungkannya ke televisi LED besar yang tergantung di dinding lobi.
Seketika, layar datar di lobi menampilkan sebuah dokumen resmi berlogo perusahaan raksasa properti nasional, lengkap dengan tanda tangan basah dan stempel emas.
“Nama lengkap: Clarissa Anindita. Nomor Kamar: 201. Status kepemilikan sewa: Menunggak selama dua bulan sembilan belas hari,” baca Arini dengan suara jernih yang menggema ke seluruh sudut ruangan. “Total tunggakan beserta denda keterlambatan mencapai dua belas juta rupiah. Dan yang lebih menarik, atas nama PT Kirana Property Utama, saya menyatakan kontrak sewa Anda resmi diputus per detik ini.”
Lelaki paruh baya yang tadinya mengejek kini terdiam. Wajah Clarissa memerah, antara malu dan tidak percaya. “Halah, jangan mengada-ada! Dokumen palsu macam apa itu? Jangan mentang-mentang mau pamer, kamu bikin-bikin surat kayak gitu! Security! Usir perempuan halu ini!” teriak Clarissa panik, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum.
Namun, tidak ada satu pun petugas keamanan yang bergerak. Yang terjadi justru sebaliknya, dua orang pria berjas rapi membawa koper hitam melangkah masuk ke lobi, langsung membungkuk hormat kepada Arini.
“Selamat siang, Bu Direktur Utama,” sapa salah seorang pria itu serempak, membuat seluruh penghuni lobi ternganga lebar.
Clarissa terhuyung ke belakang, lututnya mendadak lemas. “D-Direktur Utama? Maksudnya apa ini?!” teriaknya histeris.
Arini berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapan Clarissa yang kini tampak sekecil remah-remah roti di bawah tatapannya.
“Kamu benar, Clarissa. Kos Griya Kirana ini memang milik PT Kirana Property Utama. Dan perusahaan itu seratus persen berada di bawah kepemilikan mendiang ayah saya, yang kini sepenuhnya saya kelola,” ucap Arini dengan nada tenang namun menusuk tulang. “Kamu bilang saya pembantu karena tinggal di kamar pojok dekat tempat sampah? Asal kamu tahu, kamar nomor tujuh itu sengaja saya jadikan tempat tinggal sementara karena saya ingin memantau langsung kondisi fasilitas bawah dan kinerja staf tanpa ada birokrasi palsu yang menutupi kejujuran.”
Clarissa menggelengkan kepala dengan panik, air matanya mulai menetes karena ketakutan yang luar biasa. “Mbak Arini… saya mohon maaf… saya tidak tahu… saya khilaf…”
“Penghinaan terhadap staf saya, ancaman pemecatan semena-mena, dan tunggakan sewa yang menumpuk adalah pelanggaran berat terhadap aturan etika penghuni kos ini,” potong Arini tegas. Ia berbalik, memberikan isyarat kepada petugas untuk segera mengeluarkan barang-barang milik Clarissa dari kamar 201.
“Dalam waktu satu jam, pastikan seluruh barang-barang Mbak Clarissa sudah berada di luar gerbang. Dan mulai hari ini, nama yang bersangkutan masuk dalam daftar hitam seluruh properti di bawah naungan PT Kirana Property Utama,” perintah Arini mutlak.
Setelah memberikan instruksi tersebut, Arini kembali melangkah menuju lorong belakang tanpa menoleh lagi ke arah Clarissa yang kini terduduk lemas di lantai marmer, menangis histeris menanggung akibat dari kesombongannya sendiri.
Di kamar nomor tujuh yang sederhana, Rumi menyambut ibunya dengan senyuman lebar sambil mengangkat mobil-mobilan plastiknya yang sudah diperbaiki oleh Pak Joko tadi pagi. Arini tersenyum hangat, memeluk putra kecilnya penuh kasih sayang, membuktikan bahwa kemuliaan hidup tidak pernah diukur dari seberapa mahal parfum yang dikenakan, melainkan dari seberapa besar ketulusan hati yang dijaga di balik kesederhanaan.
