Udara malam di Bonifacio Global City terasa begitu hangat, berpadu sempurna dengan kemeriahan pesta tahunan perusahaan tempatku bekerja. Lampu-lampu kota memantul indah dari gedung-gedung pencakar langit di Taguig, menciptakan atmosfer perayaan yang luar biasa mewah. Bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh ratusan karyawan malam itu akhirnya tiba, yakni pengundian hadiah utama berupa uang tunai senilai lima puluh dua juta peso. Jantungku berdegup kencang saat pembawa acara menyebut namaku, Angela, sebagai pemenang utama. Seluruh aula langsung bergemuruh dengan sorak sorai dan tepuk tangan meriah. Rekan-rekan kerjaku berhamburan memelukku, mengucapkan selamat atas keberuntungan yang terasa seperti mimpi di siang bolong itu.

Keesokan paginya, dengan koper besar berisi tumpukan uang tunai yang berat, aku melangkah masuk ke salah satu cabang Land Bank di Manila. Sebagai seorang manajer keuangan dengan pengalaman sepuluh tahun, aku terbiasa memegang uang dalam jumlah besar, tetapi membawa koper berisi kekayaan sebesar itu seorang diri tetap saja memicu adrenalin. Niatku sederhana, yakni menyetorkan seluruh dana tersebut ke rekening pribadiku agar lebih aman. Namun, mimpi indah itu berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan detik.
Teller bank bernama Melissa memasukkan beberapa bundel uang ke dalam mesin penghitung. Suara mesin berdengung nyaring, tetapi ekspresi wajah Melissa tiba-tiba berubah kaku. Ia menatapku tajam dari balik kacamata tebalnya, seolah aku adalah penjahat paling bodoh di muka bumi.
“Bu, semua uang ini palsu,” kata Melissa dengan suara keras yang kontan menarik perhatian seluruh orang di ruang tunggu.
Aku terpaku di depan konter, darahku seolah berhenti mengalir. “Tidak mungkin. Uang ini adalah hadiah resmi dari acara perusahaan kami tadi malam. Bagaimana mungkin semuanya palsu?”
Melissa menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu menyeringai sinis. “Ibu masih tidak mau mengaku? Dari lima puluh dua juta peso yang Ibu bawa, tidak ada satu lembar pun yang asli. Ibu kira bank ini bisa ditipu? Baru kali ini saya melihat seseorang cukup berani membawa uang palsu sebanyak ini ke konter resmi.”
Perasaan gelisah langsung menghantam dadaku. Sejak lama, aku menderita gangguan kecemasan dan paranoia yang cukup parah. Karena sifatku yang selalu berhati-hati dan penuh curiga, aku terbiasa mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Berkali-kali dalam hidupku, aku membayangkan skenario dijebak atau dijadikan kambing hitam. Namun, mendapati diriku benar-benar berada di situasi ini membuat napasku sesak. Tadi malam, di belakang panggung acara, aku telah menghitung dan memeriksa uang tersebut dengan sangat teliti menggunakan lampu ultraviolet portabel milikku sendiri. Semua uang itu seratus persen asli.
“Kalau begitu, kembalikan uang itu kepada saya. Saya akan membawanya ke bank lain untuk diperiksa,” kataku dengan suara tegas, berusaha menutupi kepanikan yang mulai menggerogoti jiwaku.
Melissa mendengus keras. “Mengembalikan uang palsu? Memiliki dan mengedarkan uang palsu adalah tindak pidana serius. Ibu harus tetap berada di sini bersama barang bukti ini sampai polisi datang.”
Ia segera menekan tombol darurat di bawah konter, dan seketika dua petugas keamanan berbadan tegap bergegas berdiri di sisi kiri dan kananku. Beberapa nasabah lain mulai mengeluarkan ponsel, mengarahkannya kepadaku, dan berbisik-bisik. Suasana di ruang pelayanan teller mendadak sangat mencekam.
Tak lama kemudian, sirene mobil polisi terdengar menderu di luar sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu bank. Seorang perwira muda bernama Sersan Daniel melangkah masuk dengan langkah tegas. Melissa langsung menyerahkan laporan tertulis kepada polisi tersebut dengan senyum penuh kemenangan.
“Pak, ini hasil pemeriksaan mesin kami. Seluruh uang senilai lima puluh dua juta peso yang dibawa wanita ini adalah uang palsu,” lapor Melissa tanpa keraguan.
Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat di sisi tubuhku, menggigit bibir bawahku hingga terasa perih agar aku tidak kehilangan kendali atas emosiku. Uang sebanyak itu memiliki bobot yang sangat berat di dalam koper. Secara logika, bagaimana mungkin sindikat pemalsu uang memproduksi berton-ton kertas palsu yang memiliki berat persis sama dengan uang asli, dan bagaimana mungkin aku begitu ceroboh membawanya secara terbuka jika aku adalah pelakunya?
“Pak, saya bersedia bekerja sama dalam seluruh proses penyelidikan,” kataku dengan nada tenang yang dibuat-buat, meskipun jantungku berdegup kencang seperti hendak meledak. “Namun, saya memiliki satu permintaan.”
Sersan Daniel yang sedang mencatat di buku saku kecilnya mengangkat kepala. “Permintaan apa?”
“Saya meminta agar kode segel resmi pada setiap bundel uang ini diperiksa dan dibandingkan dengan catatan bank asal.”
Itu adalah prosedur standar yang sangat mendasar dalam dunia perbankan. Setiap bundel uang tunai yang keluar dari brankas bank memiliki segel keamanan khusus dengan kode unik. Apabila uang tersebut benar-benar sama persis dengan uang yang kuterima dari pihak direksi perusahaan tadi malam, kode segelnya pasti cocok dengan catatan pengeluaran bank tempat perusahaan kami menarik dana tersebut. Sebaliknya, jika kode segelnya berbeda, itu adalah bukti telak bahwa uang tersebut telah ditukar seseorang di suatu tempat, atau bahkan di dalam bank ini sendiri.
Seketika, senyum angkuh di wajah Melissa memudar. Hanya butuh sepersekian detik, tetapi aku berhasil menangkap kilatan kepanikan yang nyata di dalam matanya.
“Maaf!” potong Melissa dengan nada tinggi yang sengaja dibuat panik. “Uang ini sekarang merupakan barang bukti resmi dalam sebuah kasus kriminal. Tidak seorang pun diperbolehkan menyentuhnya tanpa izin dari kepala cabang dan pihak kepolisian, terutama orang yang membawanya ke sini!”
Ia dengan cepat berbalik menghadap Sersan Daniel. “Pak, nasabah ini berniat menyentuh barang bukti. Mungkin dia sedang mencoba merusak atau menghilangkan jejak kejahatannya!”
Dua petugas keamanan langsung merangsek maju, sementara manajer layanan nasabah mulai mengarahkan para pengunjung lain keluar melalui pintu samping, meskipun banyak yang enggan beranjak karena penasaran. Aku dikelilingi, dihakimi sebelum persidangan, dan dipandang sebagai penjahat besar. Namun, paranoia yang selama ini menjadi kelemahanku justru berubah menjadi benteng pertahanan mentalku. Aku tahu persis apa yang sedang terjadi. Seseorang di dalam sistem ini sedang berusaha melindungi diri mereka sendiri.
Sersan Daniel menatapku lama, menilai eksp disiku yang tidak menunjukkan rasa bersalah yang lazim terlihat pada seorang penjahat tertangkap basah. “Permintaan Ibu masuk akal,” ujar sang Sersan akhirnya, membuat wajah Melissa langsung pucat pasi. “Kita akan membuka brankas arsip bank ini dan memanggil pihak manajemen perusahaan tempat Ibu bekerja untuk melakukan verifikasi kode segel secara terbuka.”
Mendengar keputusan itu, Melissa tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan hampir menjatuhkan tumpukan kertas di konternya. Aku menatapnya tajam, menyadari bahwa jebakan yang dipasang untuk menghancurkanku justru sedang berbalik arah untuk menjerat pembuatnya sendiri. Di tengah ketakutan yang melanda, aku tahu bahwa kebenaran tidak akan bisa disembunyikan begitu saja di balik tumpukan uang palsu.
