Dendam yang membara di dalam dada rasanya hampir membakar kewarasanku sendiri, namun aku tahu kemarahan saja tidak cukup untuk menghancurkan dua orang yang telah merusak hidup anakku. Malam itu aku tidak bisa tidur, mataku terus mengawasi Isabel yang berbaring di atas ranjang empuk, napasnya masih terdengar sesak meskipun ia sudah berada di tempat yang layak. Setiap kali ia mengigau ketakutan dalam tidurnya, hatiku serasa diiris-iris sembilu. Pagi harinya, saat matahari baru saja menembus celah jendela kamar mewah tersebut, aku sudah melangkah turun menuju ruang makan dengan tekad yang bulat. Di sana, Anton dan Lianne sudah duduk berdampingan, menikmati sarapan pagi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Lianne bahkan masih sempat memasang senyum manis palsunya saat melihatku, mencoba menunjukkan dominasinya di rumah ini karena merasa didukung penuh oleh Anton.

“Pagi, Ma,” sapa Anton dengan nada setengah acuh tak acuh, masih menyimpan kekesalan karena insiden kamar kemarin. “Mau sampai kapan Ibu bersikap tidak adil pada Lianne? Dia sedang mengandung darah dagingku, cucu kandung Ibu sendiri.” Aku menarik kursi tepat di seberang mereka, duduk dengan punggung tegak dan tatapan tajam yang membuat Anton seketika terdiam. “Cucu kandung?” tanyaku dingin, sengaja menekankan setiap kata. “Atau jangan-jangan anak dalam perut wanita itu bahkan bukan darah daging keluarga kita?” Lianne langsung tersedak makanannya, wajahnya memucat seketika sebelum ia menatapku dengan mata berkaca-kaca penuh drama. “Ibu bicara apa? Bagaimana bisa Ibu memfitnahku seperti itu di depan Anton?” Anton pun langsung berdiri, memukul meja makan dengan keras karena tidak terima kekasih kesayangannya disudutkan. “Ma! Batas kesabaranku ada akhirnya! Jangan karena Ibu melahirkanku, Ibu bisa menghina Lianne sembarangan!”
Aku tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai mataku, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja tepat di hadapan mereka. “Kalau kalian tidak percaya, buka saja isi amplop itu.” Anton mengerutkan kening, keraguan melintas di matanya saat ia melihat ekspresi Lianne yang mendadak panik luar biasa. Dengan tangan sedikit gemetar, Anton mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas hasil tes DNA serta foto-foto lama yang disembunyikan rapat-rapat oleh Lianne. Seketika itu juga, warna darah di wajah Anton menguap habis, menyisakan pucat pasi yang mengerikan. “Ini… apa ini, Lianne?” suara Anton bergetar hebat saat ia membaca hasil laboratorium yang menyatakan bahwa usia kandungan Lianne tidak sesuai dengan garis waktu hubungan mereka, melainkan hasil dari hubungan wanita itu dengan pria lain di luar negeri sebelum ia kembali ke Indonesia.
Lianne langsung terduduk lemas di lantai, merangkul kaki Anton sambil menangis histeris dan memohon-mohon pengampunan. “Jangan percaya itu, Anton! Itu semua palsu! Itu buatan mamamu untuk memisahkan kita!” teriak Lianne histeris, namun usahanya sudah terlambat karena bukti digital dan rekaman transfer dana dari pria lain ke rekening Lianne juga terlampir di dalam amplop tersebut. Anton menatap wanita yang selama ini ia bela setengah mati, wanita yang rela ia korbankan istrinya sendiri demi hidup bersama, ternyata hanya mempermainkannya demi harta dan status keluarga kami. Kebodohan Anton akhirnya berbuah petaka baginya sendiri, rasa malu dan penyesalan terpancar jelas di wajah pria itu saat ia menyadari betapa kejamnya ia telah menyia-nyiakan Isabel yang tulus mencintainya demi seekor ular berbulu domba.
Belum sempat Anton berkata apa-apa untuk meminta maaf kepadaku, suara langkah kaki lemah terdengar dari arah tangga utama. Kami semua menoleh dan melihat Isabel berdiri di sana dengan piyama putihnya, wajahnya pucat namun sorot matanya kini jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Ia telah mendengar semuanya, setiap pengakuan dan setiap kebusukan yang terbongkar di ruang makan ini. Isabel menatap suaminya dengan tatapan kosong, tidak ada lagi cinta atau harapan di matanya, yang tersisa hanyalah kehampaan yang teramat dalam. “Anton,” bisik Isabel dengan suara pelan namun menusuk hati siapa pun yang mendengarnya. “Aku sudah menandatangani surat perceraian kita sejak semalam. Ambilah, dan pergilah dari rumah ini bersama wanita pilihanmu.”
Anton menggelengkan kepalanya panik, ia bangkit dan mencoba mendekati Isabel, namun aku langsung berdiri dan merentangkan tangan untuk menghalanginya. “Jangan berani-berani menyentuhnya lagi dengan tangan kotor itu,” ancamku dengan suara rendah yang penuh wibawa. Di saat yang sama, pintu utama rumah terbuka lebar dan beberapa pengacara keluarga bersama aparat kepolisian masuk ke dalam atas panggilan yang telah kuurus sejak subuh tadi. Tuduhan penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh Lianne menggunakan fasilitas Anton serta bukti-bukti penganiayaan terhadap Isabel resmi diproses hukum saat itu juga. Lianne diseret keluar rumah sambil menjerit-jerit histeris, sementara Anton hanya bisa berlutut di lantai dengan air mata penyesalan yang terlambat, menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya—keluarga, harta, dan wanita satu-satunya yang benar-benar mencintainya dengan tulus.
Beberapa bulan kemudian, rumah besar itu terasa jauh lebih hangat dan damai tanpa kehadiran parasit-parasit yang membebaninya. Isabel melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat dengan selamat, tangisan bayi mungil itu memenuhi ruangan, membawa kehidupan baru yang menyembuhkan segala luka masa lalu. Aku duduk di kursi goyang sambil memandangi cucuku yang tidur pulas di pelukan Isabel, sementara anakku tersenyum tulus, senyum bahagia yang sudah lama sekali tidak kulihat di wajahnya. Meskipun tubuhku kini hanyalah wadah pinjaman dari seorang wanita kaya raya yang tadinya tak peduli pada dunia, aku tahu bahwa misi terakhirku di bumi ini telah tercapai dengan sempurna. Aku telah membalaskan setiap tetes air mata anakku, dan kini, di bawah sinar matahari sore yang hangat menyinari taman, aku memejamkan mata untuk terakhir kalinya dengan senyuman paling tenang di dalam hidupku yang kedua.
