Suasana di dalam Royale Jewelry & Pawnshop mendadak berubah hening begitu tumpukan koin rupiah itu berserakan di atas meja kaca etalase yang bersih berkilau. Suara dentingan logam yang beradu dengan permukaan kaca terdengar begitu nyaring, memecah keheningan toko gadai mewah di kawasan menteng tersebut.
Popoy berdiri tegak dengan napas yang masih memburu. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok di balik etalase, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi dengan name tag emas bertuliskan Ratna. Wanita itu adalah kepala penilai di toko tersebut, yang wajahnya kini menyiratkan campuran antara rasa jijik, kebingungan, dan kejengkelan yang luar biasa.
“Hei, anak jalanan! Sudah kubilang keluar!” geram Manong Kardo, satpam bertubuh besar yang langsung mencengkeram pundak kurus Popoy dengan kasar. Tenaga pria dewasa itu membuat Popoy terhuyung ke samping, namun bocah itu sama sekali tidak menangis. Sebaliknya, sorot matanya tajam, memancarkan ketegasan yang sama sekali tidak lazim dimiliki anak seusianya.

“Tunggu, Kardo,” suara Ibu Ratna dingin namun tajam, menghentikan tangan satpam tersebut sebelum sempat menyeret Popoy keluar. Ratna merapikan blazernya, lalu menatap tumpukan koin receh yang tampak kotor itu dengan sebelah alis terangkat. “Apa yang kamu lakukan di sini, Nak? Ini bukan warung kopi di pinggir jalan. Ini tempat untuk barang-barang berharga.”
Alih-alih ciut, Popoy merogoh saku celananya yang juga sudah koyak, lalu mengeluarkan sebuah benda terbungkus kain kasa putih yang sudah menguning. Dengan tangan kecilnya yang gemetar namun hati-hati, ia membuka bungkusan itu dan meletakkannya tepat di tengah-tengah genangan koin receh.
Sebuah cincin emas tua.
Bentuknya sederhana, tanpa berlian besar yang memantulkan cahaya lampu gantung kristal toko tersebut. Namun, di bagian dalamnya, terukir inisial nama yang membuat napas Bu Ratna seketika tertahan. Para pelanggan kaya di sekitar mereka yang tadinya berniat kembali mengobrol kini mematung, tertarik oleh keheningan aneh yang menyelimuti konter utama.
“Berapa nilai cincin ini?” tanya Popoy dengan suara parau. Tenggorokannya terasa kering, tetapi suaranya terdengar tegas di ruangan ber-AC dingin itu.
Bu Ratna tidak langsung menjawab. Ia mengambil sarung tangan putih dari laci, memakainya dengan gerakan lambat, lalu meraih cincin itu menggunakan penjepit khusus. Ia mendekatkannya ke mata, menyalakan kaca pembesar kecil yang melingkar di mata kanannya, dan mengamati setiap detail ukiran serta kadar kemurnian logam tersebut. Semakin lama ia mengamati, semakin pucat wajah wanita itu. Tangannya bahkan sedikit bergetar.
“Di… di mana kamu dapatkan ini?” tanya Bu Ratna, suaranya kehilangan nada angkuh yang tadi mendominasi. Matanya menatap tajam ke arah wajah kotor Popoy, mencari kemiripan pada garis-garis wajah anak itu yang tertutup debu jalanan.
“Itu milik ibuku,” jawab Popoy singkat. “Ibu bilang, kalau kami benar-benar tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup, cincin ini harus dibawa ke sini. Katanya, pemilik tempat ini akan tahu nilainya.”
Manong Kardo yang berdiri di sebelah Popoy berdehem canggung, merasa situasinya mulai di luar kendali. “Bu Ratna, jangan-jangan anak ini mencuri dari rumah orang kaya di sekitar sini. Biar saya serahkan saja ke kantor polisi terdekat.”
“Diam, Kardo!” bentak Bu Ratna tiba-tiba. Suaranya begitu keras hingga membuat beberapa pelanggan berjingkat kaget.
Bu Ratna meletakkan penjepitnya, lalu menatap lurus ke arah Popoy. Ingatannya melayang mundur ke masa belasan tahun lalu, ketika toko ini masih berupa sebuah kios kecil sederhana di sudut pasar tradisional. Ia teringat pada seorang wanita muda berhati malaikat yang pernah mempertaruhkan segalanya—bahkan masa depannya—untuk menyelamatkan nyawa seorang bayi dari keluarga miskin. Wanita itu pergi tanpa jejak setelah memberikan seluruh tabungannya, hanya menyisakan sebuah janji bahwa suatu hari nanti, keturunannya mungkin akan datang menagih budi.
“Hitung koin-koin itu,” perintah Bu Ratna pada staf kasir di sebelahnya dengan suara bergetar.
“Tapi, Bu… koin sebanyak ini kotor dan nilainya tidak seberapa jika dibandingkan dengan standar toko kita,” protes sang kasir bingung.
“KUBILANG HITUNG!” seru Bu Ratna, air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Suasana toko langsung senyap total. Tidak ada lagi bisik-bisik merendahkan dari para wanita berkerah mahal. Semua orang terpaku menyaksikan drama yang terjadi di hadapan mereka.
Bu Ratna kemudian berjalan keluar dari balik konter, mengabaikan lantai keramik mahal yang tadi sempat dikotori oleh jejak lumpur Popoy. Ia berlutut di hadapan bocah itu, menyetarakan tinggi badannya dengan anak laki-laki yang sekujur tubuhnya bergetar menahan lelah dan lapar.
“Siapa nama lengkapmu, Nak?” tanya Bu Ratna lembut, nyaris berbisik.
“Popoy Mahendra. Ibuku bernama Rini Mahendra,” jawab anak itu.
Mendengar nama itu, pertahanan Bu Ratna runtuh. Air mata menetes begitu saja membasahi pipinya yang bersepuh bedak mahal. Ia menarik tubuh kurus Popoy ke dalam pelukannya, memeluk erat anak itu tanpa peduli debu dan bau keringat yang menempel di kaus bolong sang bocah. Para pelanggan di dalam toko ternganga. Manong Kardo bahkan mundur beberapa langkah, merasa bersalah luar biasa karena hampir mengusir anak dari seseorang yang ternyata memiliki ikatan emosional begitu besar dengan bos besar mereka.
“Ibumu… di mana ibumu sekarang, Popoy?” tanya Bu Ratna terisak di bahu anak itu.
Popoy perlahan melepaskan pelukan itu, menatap Bu Ratna dengan tatapan kosong yang menyimpan kepedihan mendalam. “Ibu ada di rumah petak kontrakkan di ujung rel kereta. Dua hari lalu, dokter bilang penyakit paru-parunya sudah parah karena terlalu lama bekerja di pabrik tekstil. Kami butuh uang tiga juta rupiah untuk biaya operasi malam ini juga, atau… atau ibu tidak akan bertahan.”
Suasana toko seketika terasa semakin mencekam. Tiga juta rupiah bagi orang-orang kaya yang sedang berbelanja di tempat itu mungkin hanya harga secangkir kopi atau aksesori kecil tas tangan mereka. Namun bagi Popoy, jumlah itu adalah batas antara kehidupan dan kematian satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.
Bu Ratna berdiri dengan cepat. Ia menghapus air matanya, lalu menoleh ke arah brankas utama di sudut ruangan. Tanpa ragu, ia membuka kunci pengamannya dan mengambil sebuah amplop tebal berisi uang tunai pecahan seratus ribu rupiah dalam jumlah yang jauh melampaui apa yang diminta bocah itu.
“Kardo!” panggil Bu Ratna tegas.
“Si… siap, Bu?” jawab sang satpam tergagap.
“Ambil mobil operasional saya sekarang juga. Siapkan supir pribadi. Kita antar Popoy ke rumah sakit tempat ibunya dirawat saat ini juga. Sediakan kamar perawatan VIP terbaik, dan panggil dokter spesialis terbaik di kota ini!” perintah Bu Ratna mutlak.
Para pelanggan yang tadinya memandang rendah kini hanya bisa terdiam, menyaksikan bagaimana sebuah lingkaran nasib berputar dalam hitungan detik. Koin-koin receh yang tadinya berhamburan di lantai kini dipungut sendiri oleh Bu Ratna dengan penuh takzim, dimasukkan kembali ke dalam kantong plastik hitam itu dengan hati-hati, seolah-olah koin-koin tersebut adalah berlian paling berharga di muka bumi.
Sebelum meninggalkan toko, Popoy menatap cincin emas ibunya yang kini berada di genggaman tangan Bu Ratna. “Apakah cincin itu bisa kembali pada kami nanti?” tanyanya polos.
Bu Ratna tersenyum hangat di balik sisa air matanya, lalu menggeleng pelan sambil mengembalikan cincin itu ke tangan Popoy. “Tidak, Nak. Cincin ini bukan untuk digadaikan. Cincin ini adalah bukti bahwa kebaikan yang ditanam di masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Dan sekarang, izinkan saya melunasi hutang nyawa itu kepada keluargamu.”
Popoy menatap cincin di telapak tangannya, lalu beralih memandang tumpukan koin receh yang kini tersusun rapi di dalam kantong plastik di samping kakinya. Di luar sana, rintik hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta yang sibuk, namun di dalam dada bocah kecil itu, secercah harapan akhirnya bersinar terang setelah sekian lama hidup dalam kegelapan malam.
