SEORANG MAGANG MENYIRAMKU DENGAN KOPI LALU MENGAKU SEBAGAI ISTRI CEO—AKU PUN MENELEPON SUAMIKU DAN BERKATA

Arga memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Selama beberapa detik, Tiffany masih berusaha mempertahankan senyumnya. Namun senyum itu mulai retak ketika suara lift eksekutif berbunyi dan pintunya perlahan terbuka.

Seluruh lobi spontan menoleh.

Arga Pratama berjalan keluar dengan langkah cepat, diikuti sekretaris pribadi, kepala keamanan, dan dua anggota direksi. Wajahnya tegang. Jas hitam yang biasanya selalu rapi kini bahkan belum sempat dikancingkan dengan benar.

“Mas!” seru Tiffany sambil tersenyum manis. “Syukurlah kamu datang. Perempuan ini menggangguku. Dia bahkan mengaku mengenalmu.”

Arga tidak menjawab.

Tatapannya langsung tertuju pada setelan putihku yang dipenuhi noda kopi.

Kemudian matanya bertemu dengan mataku.

Dalam sekejap, wajahnya berubah pucat.

“Katherine…”

Suaranya nyaris berbisik.

Tiffany segera merangkul lengannya.

“Mas, suruh satpam usir dia. Dia mempermalukanku di depan semua orang.”

Arga perlahan melepaskan tangan Tiffany, seolah sentuhan gadis itu membuatnya muak.

“Apa… yang baru saja terjadi?” tanyanya dengan suara berat.

Tiffany tertawa kecil.

“Aku cuma memberi pelajaran sedikit. Dia tidak tahu siapa aku.”

“Siapa kamu?” tanya Arga.

Tiffany tampak bingung.

“Aku istrimu.”

Kalimat itu membuat seluruh lobi kembali sunyi.

Arga menutup mata selama beberapa detik, lalu menarik napas panjang.

“Aku bahkan tidak mengenalmu.”

Ucapan itu menghantam Tiffany lebih keras daripada tamparan.

“Apa?”

“Aku bertanya sekali lagi,” kata Arga dingin. “Siapa kamu?”

Wajah Tiffany memerah.

“Mas, jangan bercanda. Bukankah selama ini semua orang tahu aku perempuan spesialmu?”

Arga menoleh kepada kepala HR yang baru saja tiba.

“Siapa yang merekrut pegawai magang ini?”

Kepala HR langsung gemetar.

“Pak… dia masuk melalui program rekomendasi dari Pak Bima, Kepala Administrasi.”

Arga belum sempat menjawab ketika aku mengangkat tangan.

“Cukup.”

Semua mata beralih kepadaku.

“Aku ingin mendengar penjelasan langsung darinya.”

Aku memandang Tiffany.

“Kapan tepatnya Arga menikahimu?”

Tiffany menelan ludah.

“Dia… dia bilang hubungan kami serius.”

“Itu bukan jawaban.”

“Dia… dia sering mengajakku makan.”

“Ada surat nikah?”

“Tidak.”

“Ada foto pernikahan?”

“Tidak.”

“Ada keluarga yang hadir?”

“Tidak.”

“Lalu dasar apa kamu mengaku sebagai istri CEO?”

Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran dimulai, Tiffany kehilangan kata-kata.

Dia melihat sekeliling.

Ribuan mata memandangnya.

Siaran langsung di ponselnya masih aktif.

Puluhan ribu penonton menyaksikan semuanya.

“Aku… aku cuma…”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, seorang perempuan paruh baya berlari memasuki lobi.

“Tiffany!”

Perempuan itu ternyata ibunya.

Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Begitu melihatku dan Arga berdiri berdampingan, tubuhnya langsung lemas.

“Maaf… maafkan anak saya…”

Tiffany memandang ibunya dengan bingung.

“Ibu ngapain ke sini?”

Ibunya menangis.

“Kamu bilang sudah menjadi istri CEO. Kamu bilang sebentar lagi akan jadi direktur. Kamu bilang semua orang harus menghormatimu.”

“Aku memang hampir…”

“Diam!”

Tangisan perempuan itu semakin keras.

“Semua itu bohong, kan?”

Lobi menjadi semakin sunyi.

Aku memandang Arga.

“Menurutmu?”

Arga menggeleng pelan.

“Aku hanya pernah bertemu dia dua kali.”

“Dua kali?”

“Pertama saat orientasi magang. Kedua ketika dia memaksaku berfoto bersama setelah acara donor darah perusahaan.”

Sekretaris Arga langsung mengeluarkan tablet.

“Pak, kami masih menyimpan rekaman CCTV.”

Video diputar.

Terlihat jelas Tiffany sengaja mendekati Arga, meminta swafoto, lalu mengedit foto itu sehingga tampak seperti pasangan kekasih.

Foto hasil editan itulah yang selama ini dia unggah ke media sosial.

Suara gaduh langsung memenuhi lobi.

“Ternyata editan.”

“Pantas saja.”

“Berani sekali.”

Wajah Tiffany berubah putih.

“Tapi… tapi semua orang percaya.”

“Bukan karena mereka percaya,” kataku tenang.

“Melainkan karena tidak ada yang berani memeriksanya.”

Aku mengambil ponsel Tiffany yang masih melakukan siaran langsung.

Ribuan komentar terus bermunculan.

Sebagian masih membelanya.

Sebagian mulai menghujat.

Aku mematikan siaran itu.

“Lain kali,” kataku pelan, “jangan jadikan kebohongan sebagai identitas.”

Tiffany tiba-tiba berlutut.

“Bu… maafkan saya…”

Air matanya mulai mengalir.

“Saya cuma ingin hidup lebih baik.”

“Semua orang ingin hidup lebih baik.”

“Saya iri melihat orang kaya.”

“Itu bukan alasan untuk menghina orang lain.”

Dia menangis semakin keras.

“Saya takut kembali miskin.”

Aku memandang Pak Hendro yang sejak tadi hanya diam.

“Pak.”

Beliau mengangkat kepala.

“Saya yang meminta maaf karena Bapak harus diperlakukan seperti itu di rumah sakit ini.”

Pak Hendro buru-buru menggeleng.

“Jangan, Bu…”

Aku membungkuk hormat kepadanya.

“Tanpa orang-orang seperti Bapak, rumah sakit ini tidak akan pernah berdiri sampai hari ini.”

Beberapa perawat ikut menitikkan air mata.

Arga berdiri tanpa berkata apa pun.

Aku lalu menoleh kepadanya.

“Kita perlu bicara.”

Kami masuk ke ruang rapat direksi.

Pintu ditutup.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Arga terlihat benar-benar kehilangan wibawanya.

“Aku minta maaf.”

“Bukan kepadaku.”

Dia menundukkan kepala.

“Aku terlalu sibuk menjaga citra perusahaan sampai lupa melihat apa yang terjadi di dalamnya.”

Aku mengeluarkan map hasil audit yang kubawa dari Jerman.

“Karena itulah aku tidak langsung pulang.”

Arga mengangkat wajah.

“Ini bukan hanya soal Tiffany.”

Aku membuka halaman pertama.

Puluhan laporan penyalahgunaan wewenang, praktik nepotisme, pengadaan fiktif, dan rekrutmen titipan memenuhi meja.

“Aku sudah mencurigainya sejak enam bulan lalu.”

Arga membacanya dengan tangan gemetar.

“Semuanya terjadi ketika aku terlalu sering menyerahkan keputusan operasional kepada orang lain.”

Aku mengangguk.

“Dan hari ini, seorang pegawai magang yang merasa kebal hukum tanpa sadar membuka pintu untuk melihat penyakit yang sebenarnya.”

Sore itu juga, rapat darurat direksi digelar.

Pak Bima diberhentikan.

Beberapa manajer dinonaktifkan.

Audit independen dimulai di seluruh cabang Apex Medical Indonesia.

Tiffany resmi diberhentikan dari program magang, tetapi aku menolak menuntutnya secara pidana.

Sebagai gantinya, dia diwajibkan meminta maaf secara terbuka kepada seluruh staf rumah sakit dan khususnya kepada Pak Hendro.

Seminggu kemudian, video permintaan maaf itu tersebar luas.

Banyak orang mengejeknya.

Namun Pak Hendro justru memaafkannya.

“Kesalahan terbesar manusia,” kata beliau pelan, “bukan jatuh, tetapi menolak belajar setelah jatuh.”

Enam bulan berlalu.

Budaya kerja di Apex berubah drastis.

Semua karyawan, dari petugas kebersihan hingga direktur, diwajibkan mengikuti pelatihan etika pelayanan.

Setiap laporan penyalahgunaan kekuasaan langsung diperiksa.

Tidak ada lagi jabatan yang kebal.

Suatu pagi, ketika aku berjalan melewati lobi yang sama, kulihat Pak Hendro sedang tersenyum menyambut seorang pasien lanjut usia.

Di sudut lain, seorang perempuan mengenakan seragam sederhana sedang membantu membagikan kursi roda.

Aku mengenalinya.

Tiffany.

Dia tidak lagi memakai riasan berlebihan.

Tidak lagi mengenakan pakaian mencolok.

Dia hanya menunduk sambil bekerja dengan tenang sebagai relawan di yayasan sosial yang bekerja sama dengan rumah sakit.

Saat mata kami bertemu, dia membungkuk hormat.

Aku membalas dengan anggukan kecil.

Aku akhirnya menyadari satu hal yang pernah diajarkan ayahku.

Rumah sakit bukan diukur dari megahnya gedung, canggihnya alat, atau besarnya keuntungan.

Rumah sakit akan tetap hidup selama orang-orang di dalamnya tidak pernah lupa bahwa setiap manusia, apa pun jabatannya, pantas diperlakukan dengan hormat.

Dan pada hari ketika seorang petugas valet dihormati setara dengan seorang direktur, aku tahu warisan ayahku benar-benar telah kembali ke tangan yang semestinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang