Aku menghabiskan lebih dari dua juta peso untuk membangun rumah kami. Namun suamiku berkata bahwa rumah itu adalah milik orang tuanya.
Keesokan paginya, aku menelepon beberapa orang untuk mengangkut semua barang yang kubeli.
Ketika ibu mertuaku datang membawa para kerabat untuk membuat keributan, satu lembar kuitansi membuat seluruh keluarganya gemetar.
Sebelum menikah, ibuku pernah menarikku ke beranda belakang rumah. Angin laut mengibaskan tirai tipis, sementara ia memegang kedua tanganku erat.

“Kalau nanti sudah berumah tangga, jangan selalu ingin menang. Bagi laki-laki, harga diri itu penting.”
Aku mengangguk waktu itu.
Aku benar-benar percaya bahwa mengalah adalah cara menjaga sebuah pernikahan.
Namaku Mariel.
Aku lahir di sebuah kota kecil di pesisir Sulawesi. Ayah meninggal saat aku masih SMA. Ibuku membesarkanku dengan berjualan makanan di warung sederhana dekat pasar ikan.
Setelah lulus kuliah, aku merantau ke Jakarta.
Sepuluh tahun bekerja membuatku mengumpulkan tabungan yang tidak sedikit. Aku hidup sangat hemat. Tidak membeli tas bermerek, tidak pergi liburan ke luar negeri, bahkan ponselku baru kuganti setelah benar-benar rusak.
Awalnya, uang itu ingin kupakai membangun rumah kecil untuk Ibu.
Lalu aku bertemu Adrian.
Dia bekerja sebagai manajer proyek di perusahaan konstruksi. Pembawaannya tenang, sopan, dan selalu terlihat sangat menghormati orang tua.
Saat pertama kali datang ke rumahku, dia membantu mencuci piring bersama ibuku.
Sejak hari itu, aku yakin telah menemukan pasangan hidup yang tepat.
Beberapa bulan setelah kami bertunangan, keluarganya membeli sebuah unit apartemen di Jakarta Selatan.
“Kalian tinggal di sana saja,” kata Bu Lourdes, ibu Adrian. “Kami sudah siapkan tempat tinggal. Kamu tinggal mengisinya. Selera perempuan pasti lebih bagus.”
Aku merasa diterima.
Tanpa berpikir panjang, aku mulai membeli semua kebutuhan rumah.
Kulkas premium.
Mesin cuci dan pengering.
Kompor, oven, dishwasher.
Sofa kulit impor.
Meja makan kayu solid.
Smart TV.
Sistem lampu otomatis.
Kamera keamanan.
Robot vacuum.
Kasur king size.
Semuanya kubayar dengan uangku sendiri.
Aku bahkan membelikan kursi pijat untuk ayah mertua karena ia sering mengeluh sakit pinggang.
Setiap kali barang datang, Bu Lourdes selalu memuji.
“Mariel memang calon istri yang hebat.”
“Rumah ini jadi cantik karena kamu.”
Aku tersenyum setiap mendengarnya.
Aku pikir mereka benar-benar menyayangiku.
Sampai malam setelah pernikahan.
Adrian duduk santai di sofa yang kubeli.
Sambil menyeruput wedang jahe, ia berkata dengan suara datar,
“Sekadar mengingatkan saja. Apartemen ini atas nama Papa dan Mama. Namamu tidak ada di sertifikat ataupun dokumen apa pun.”
Aku bertanya pelan,
“Maksudmu?”
“Aku cuma ingin semuanya jelas sejak awal.”
“Lalu bagaimana dengan semua barang di dalam rumah?”
Dia tertawa kecil.
“Kalau sudah masuk ke rumah, ya otomatis jadi bagian dari rumah.”
Aku hanya tersenyum.
“Baik.”
Malam itu juga aku mulai membuka semua email pembelian.
Semua faktur.
Semua kuitansi.
Semua foto pemasangan.
Semuanya atas namaku.
Jam satu dini hari aku menelepon sahabatku, Camille.
Camille memiliki perusahaan jasa pindahan dan pemasangan furnitur.
Begitu mendengar ceritaku, dia hanya berkata singkat.
“Jam tujuh pagi kami sampai.”
Keesokan harinya, tepat pukul tujuh, tiga truk besar berhenti di depan apartemen.
Lebih dari dua puluh pekerja masuk membawa peralatan.
Adrian yang sedang bersiap ke kantor langsung membeku.
“Apa ini?”
Aku menyerahkan daftar inventaris kepada kepala tim.
“Semua barang dalam daftar ini milik saya. Tolong bongkar dengan hati-hati.”
Adrian langsung mencengkeram lenganku.
“Kamu sudah gila?”
Aku menatap matanya.
“Rumah ini bukan milikku. Aku hanya mengambil barang-barangku.”
Satu per satu sofa dibungkus.
Televisi dilepas.
Mesin cuci diangkat.
Kulkas dipindahkan.
Robot vacuum dimasukkan ke kardus.
Lampu pintar dilepas.
Apartemen yang semalam masih terlihat mewah perlahan berubah menjadi ruangan kosong.
Adrian menelepon ibunya sambil berteriak.
Bu Lourdes datang bersama suami dan beberapa kerabat.
Begitu melihat apartemen kosong, wajahnya memerah.
“Kamu perempuan tidak tahu malu!”
Aku menjawab tenang.
“Saya hanya mengambil barang milik saya.”
“Barang itu sudah jadi milik keluarga kami!”
“Kalau begitu, apakah saya juga memiliki bagian dari apartemen ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengeluarkan ponsel.
Percakapan semalam ketika Adrian berkata bahwa apartemen itu bukan milikku masih terekam jelas.
Lalu kusetel rekaman telepon pagi tadi ketika Bu Lourdes berkata bahwa aku tidak berhak memiliki apa pun.
Para kerabat mulai saling berpandangan.
Camille kemudian meletakkan map tebal di atas meja.
“Masih ada satu hal lagi.”
Ia mengeluarkan berkas pembayaran.
“Kami menemukan sesuatu saat memeriksa seluruh transaksi.”
Aku melihat wajah Adrian berubah pucat.
Camille membuka halaman terakhir.
“Seluruh pembelian elektronik mendapat cashback hampir seratus lima puluh juta rupiah.”
Aku mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah menerima uang itu.”
Camille menunjuk rekening tujuan.
Nama penerimanya adalah Adrian.
Ruangan langsung sunyi.
Aku menatap suamiku.
“Kamu mengambil uang itu?”
Adrian terbata-bata.
“Itu… itu cuma sementara.”
“Sementara?”
“Aku berniat memberitahumu nanti.”
Bu Lourdes buru-buru menyela.
“Itu kan tetap untuk keluarga.”
Aku tersenyum tipis.
“Uangku untuk keluarga.”
“Barangku untuk keluarga.”
“Tapi apartemen bukan untuk keluarga kami. Hanya keluarga kalian.”
Tidak ada yang mampu menjawab.
Saat itulah dua pria berpakaian formal masuk bersama petugas keamanan apartemen.
“Permisi. Kami mencari Bapak Adrian Pratama.”
Adrian tampak panik.
“Ada apa?”
Salah satu pria menunjukkan kartu identitas.
“Kami dari divisi investigasi internal perusahaan.”
Semua orang langsung diam.
Pria itu melanjutkan,
“Kami ingin meminta klarifikasi mengenai dugaan mark-up beberapa proyek pengadaan interior.”
Wajah Adrian berubah putih.
Bu Lourdes langsung berdiri.
“Ini pasti salah orang.”
Pria itu menggeleng.
“Kami sudah memiliki bukti transfer.”
Ia mengeluarkan beberapa dokumen.
Namaku tercantum di beberapa pembelian.
Namun penerima komisi dan cashback selalu Adrian.
Bahkan ada beberapa faktur yang nilainya sengaja dinaikkan agar selisihnya masuk ke rekening pribadinya.
Aku membaca lembar demi lembar.
Tanganku mulai dingin.
Selama ini Adrian bukan hanya memanfaatkan uangku.
Ia juga memanfaatkanku untuk menyembunyikan transaksi perusahaan.
Pria investigasi berkata pelan,
“Kami sebenarnya sudah mengawasi sejak beberapa bulan lalu. Kami hanya menunggu seluruh transaksi selesai.”
Adrian mencoba membela diri.
“Itu bukan korupsi.”
“Itu bonus.”
“Semua orang juga begitu.”
Pria itu hanya menjawab singkat.
“Kalau memang bonus, mengapa tidak dilaporkan?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa menit kemudian telepon Adrian berdering tanpa henti.
Direkturnya menelepon.
Kemudian HR.
Lalu bagian legal.
Tak satu pun berani ia angkat.
Bu Lourdes mulai menangis.
“Katakan sesuatu!”
Adrian hanya terduduk di lantai kosong.
Aku memandang apartemen yang kini tinggal menyisakan dinding putih.
Aneh sekali.
Semalam aku menganggap tempat itu adalah rumah.
Hari ini aku sadar, itu hanyalah bangunan.
Rumah tidak pernah dibangun oleh furnitur mahal.
Rumah juga tidak dibangun oleh sertifikat.
Rumah dibangun oleh rasa saling menghargai.
Dan ketika penghargaan itu hilang, semewah apa pun tempat tinggalnya, ia hanya menjadi ruangan kosong.
Aku mengambil map berisi seluruh kuitansi.
“Kalian tidak perlu khawatir.”
Semua orang menoleh kepadaku.
“Aku tidak akan memperebutkan apartemen ini.”
Wajah Bu Lourdes sedikit lega.
Aku melanjutkan,
“Karena aku memang tidak pernah menginginkannya.”
“Tapi seluruh barang milikku akan tetap kubawa.”
“Dan mengenai uang cashback, mark-up, serta transaksi perusahaan…”
Aku menatap Adrian lurus-lurus.
“Itu bukan lagi urusanku.”
“Itu urusanmu dengan perusahaan dan hukum.”
Aku berjalan menuju pintu bersama Camille.
Saat pintu lift terbuka, Adrian berlari mengejarku.
“Mariel… jangan pergi.”
Aku berhenti tanpa menoleh.
“Untuk pertama kalinya sejak kita bertemu, aku ingin mengikuti nasihat ibuku.”
“Apa maksudmu?”
Aku tersenyum tipis.
“Ibu bilang jangan selalu ingin menang.”
“Aku akhirnya mengerti.”
“Yang harus dipertahankan bukan kemenangan dalam pernikahan.”
“Melainkan harga diri.”
Pintu lift menutup perlahan.
Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa Adrian diberhentikan dari pekerjaannya dan sedang menjalani proses hukum atas penyalahgunaan dana proyek. Cashback yang selama ini ia sembunyikan hanyalah awal dari rangkaian transaksi yang jauh lebih besar. Keluarganya terpaksa menjual apartemen itu untuk membayar utang dan biaya hukum.
Sementara itu, aku kembali ke kota kelahiranku.
Aku menggunakan tabungan yang masih tersisa untuk membangun warung makan yang lebih besar bagi ibuku.
Di depan warung itu kupasang sebuah papan kayu sederhana bertuliskan, “Rumah bukan tempat di mana namamu tercantum di sertifikat. Rumah adalah tempat di mana keberadaanmu dihargai.”
Setiap kali ada pelanggan bertanya mengapa aku memilih kalimat itu, aku hanya tersenyum.
Karena aku pernah kehilangan sebuah apartemen yang bukan milikku.
Namun sebagai gantinya, aku menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.
Diriku sendiri.
