SEPULUH TAHUN MENIKAH, TIBA-TIBA AKU MENERIMA SURAT PANGGILAN DARI PENGADILAN.

Malam itu aku tidak menangis.

Tidak ada piring yang kulempar. Tidak ada teriakan histeris seperti yang sering kulihat di sinetron. Aku hanya duduk di ruang tamu dengan secangkir teh yang sudah dingin, menatap amplop cokelat di depanku seolah sedang membaca naskah komedi yang ditulis oleh orang paling bodoh di dunia.

Kalau Liza tahu bahwa perempuan yang ia sebut pelakor itu adalah istri sah Joaquin, mungkin ia tak akan pernah mengirim gugatan itu.

Atau mungkin…

Joaquin memang sengaja menyembunyikan semua kenyataan.

Aku membuka lemari besi kecil di kamar. Di dalamnya tersimpan map biru yang sudah sepuluh tahun tidak pernah kusentuh.

Akta nikah.

Kartu keluarga.

Foto pernikahan kami.

Semuanya masih utuh.

Di salah satu foto, Joaquin menggenggam tanganku sambil tersenyum begitu tulus hingga aku hampir percaya laki-laki itu benar-benar pernah mencintaiku.

Aku menghela napas panjang.

Esok paginya aku tidak pergi menemui pengacara.

Aku justru mendatangi Kantor Dinas Kependudukan.

Aku meminta salinan beberapa dokumen yang masih tersimpan dalam arsip negara.

Petugas sempat heran melihat permintaanku, tetapi setelah semua identitas diverkas, ia memberikan salinan yang kubutuhkan.

Ketika membaca isinya, aku tidak terkejut.

Status pernikahan Joaquin masih tercatat sebagai suami sahku.

Tidak pernah ada perceraian.

Tidak pernah ada pembatalan.

Secara hukum, ia masih menjadi suamiku.

Artinya, jika ia memperkenalkan dirinya sebagai pria lajang kepada perempuan lain…

ia telah memulai semua kebohongan ini sejak awal.

Aku lalu menghubungi seorang teman lama, Maya, yang bekerja di sebuah bank swasta.

“Bisa bantu cek sesuatu?”

“Apa?”

“Transfer-transfer ini.”

Aku menyerahkan fotokopi bukti transfer milik Liza.

Maya tidak bisa membuka data rekening karena aturan kerahasiaan, tetapi ia memperhatikan bukti transfer itu beberapa detik.

“Yang aneh bukan rekeningnya.”

“Lalu?”

“Nominalnya.”

Aku mengernyit.

“Semua transfer ini berasal dari rekening yang sama.”

“Memangnya kenapa?”

“Kalau benar itu hadiah dari Liza untuk Joaquin, kenapa rekening tujuan beberapa kali justru rekening perusahaan milik Joaquin?”

Dadaku langsung berdegup keras.

Perusahaan?

Aku pulang dan membuka laporan keuangan keluarga yang selama ini tidak pernah kuperhatikan.

Selama bertahun-tahun, Joaquin selalu mengatakan bahwa bisnisnya sedang naik turun sehingga aku tidak pernah ikut campur.

Namun setelah membaca semua dokumen, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.

Mobil mewah.

Apartemen.

Jam tangan.

Bahkan vila di Puncak.

Sebagian besar dibeli menggunakan rekening perusahaan.

Bukan uang pribadi.

Dan transfer dari Liza…

masuk sebagai “investasi.”

Aku tertawa pelan.

Jadi perempuan itu bukan hanya dijadikan kekasih.

Ia juga dijadikan sumber modal.

Seminggu kemudian hari sidang pun tiba.

Ruang sidang dipenuhi orang.

Beberapa wartawan lokal juga hadir karena gugatan seperti ini cukup menarik perhatian.

Liza tampil sangat cantik.

Gaun putih.

Riasan sempurna.

Tatapan mata yang sengaja dibuat sembab.

Joaquin duduk di sampingnya.

Ia bahkan tidak berani menatapku.

Hakim memulai sidang dengan tenang.

Liza diberi kesempatan berbicara lebih dulu.

Dengan suara bergetar ia menceritakan bagaimana dirinya dikhianati.

Bagaimana aku disebut terus mengganggu hubungan mereka.

Bagaimana Joaquin begitu menderita karena kehadiranku.

Beberapa orang di ruang sidang terlihat mengangguk simpati.

Setelah hampir tiga puluh menit berbicara, ia mengusap air mata.

“Saya hanya ingin keadilan.”

Hakim lalu menoleh kepadaku.

“Ibu Trina, apakah ada tanggapan?”

Aku berdiri perlahan.

“Tentu ada.”

Aku berjalan ke depan sambil membawa map biru.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku mengeluarkan akta nikah asli.

Kertas itu kutaruh tepat di hadapan hakim.

“Yang Mulia, ini akta nikah saya.”

Hakim membacanya beberapa saat.

Matanya langsung berubah.

“Apa hubungan dokumen ini dengan perkara?”

Aku menoleh ke arah Liza.

“Karena pria yang ia sebut pacarnya…”

Aku menunjuk Joaquin.

“…adalah suami sah saya selama sepuluh tahun.”

Ruangan langsung gaduh.

Liza membeku.

“Apa?”

Wajahnya memucat.

“Itu bohong!”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menyerahkan kartu keluarga.

Kemudian salinan data kependudukan.

Lalu foto pernikahan.

Satu demi satu.

Hakim memeriksa semuanya dengan teliti.

Sementara Joaquin mulai berkeringat.

“Liza,” kataku pelan.

“Apa Joaquin pernah menunjukkan akta cerai?”

Ia menggeleng pelan.

“Tidak.”

“Apa ia pernah mengenalkanmu kepada keluarganya sebagai calon istri?”

Liza kembali menggeleng.

“Apa dia bilang dirinya masih lajang?”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Iya…”

Aku menghela napas.

“Kalau begitu…”

“Yang ditipu bukan cuma aku.”

“Tapi juga kamu.”

Kalimat itu membuat seluruh ruang sidang hening.

Liza menoleh perlahan ke arah Joaquin.

Tatapannya berubah dari bingung menjadi marah.

“Kamu bilang kalian sudah lama bercerai.”

Joaquin membuka mulut.

“Liza, aku bisa jelaskan…”

“Diam!”

Suara Liza menggema begitu keras hingga semua orang terkejut.

Ia berdiri sambil menunjuk wajah Joaquin.

“Kamu bilang dia mantan istrimu.”

“Kamu bilang kalian hanya tinggal mengurus administrasi.”

“Kamu bilang semua aset itu milikmu.”

Tangannya mulai gemetar.

Aku lalu mengeluarkan map terakhir.

“Kebetulan aku juga membawa beberapa bukti.”

Aku menyerahkan laporan transaksi perusahaan.

Dokumen kepemilikan aset.

Dan bukti bahwa uang yang dikirim Liza selama bertahun-tahun masuk ke rekening perusahaan Joaquin.

Hakim membaca semuanya cukup lama.

Wajah Joaquin semakin pucat.

Liza merebut salah satu salinan.

Begitu membaca nominal ratusan juta rupiah yang pernah ia transfer, lututnya langsung lemas.

“Kamu…”

Ia menatap Joaquin dengan mata merah.

“Selama ini kamu memanfaatkan aku?”

Joaquin mencoba mendekat.

“Liza, dengarkan dulu…”

Plak.

Tamparan keras itu menggema di seluruh ruang sidang.

Tidak ada seorang pun yang mencoba menghentikannya.

Liza menangis sejadi-jadinya.

“Aku menjual mobilku.”

“Aku mengambil tabungan orang tuaku.”

“Aku bahkan meminjam uang demi membantu bisnismu.”

“Ternyata semuanya bohong.”

Untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, aku merasa kasihan padanya.

Ia memang telah hadir sebagai orang ketiga dalam rumah tanggaku.

Tetapi ternyata ia juga korban dari kebohongan laki-laki yang sama.

Sidang hari itu ditunda.

Namun sebelum hakim meninggalkan ruangan, beliau memandang Joaquin dengan tajam.

“Saya sarankan Saudara segera mencari penasihat hukum.”

“Perkara ini tampaknya jauh lebih besar daripada gugatan yang diajukan hari ini.”

Seminggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.

Bukan hanya itu.

Penyelidikan terhadap keuangan perusahaan Joaquin juga mulai berjalan setelah beberapa investor melaporkan dugaan penipuan.

Liza mencabut seluruh gugatannya terhadapku.

Suatu sore ia datang ke rumah.

Tanpa riasan.

Tanpa gaun putih.

Ia hanya membawa sebuah kotak kecil.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Ia menyerahkan sebuah cincin.

“Ini cincin yang dia berikan saat melamarku.”

“Ternyata dibeli memakai uangku sendiri.”

Kami sama-sama tersenyum pahit.

Sebelum pulang, ia berkata pelan, “Aku datang ke pengadilan untuk menghancurkan perempuan yang kukira telah merebut laki-lakiku.”

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi aku baru sadar… laki-laki itu ternyata tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun. Karena sejak awal, yang ia cintai hanyalah kebohongannya sendiri.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang