Suamiku Mempertaruhkan Nyawa untuk Menyelamatkanku dari Mobil yang Meledak, tetapi Saat Terbangun Tengah Malam di Rumah Sakit, Aku Mendapati Dia Sedang Memeluk Selingkuhannya yang Hamil di Ranjang Sebelah—Diam-Diam Aku Menyusun Rencana yang Akan Membuatnya Menyesal Seumur Hidup.

“Kalau begitu, aku belikan bubur polos.”

Arga sama sekali tidak menunjukkan keberatan. Ia bahkan meletakkan mangkuk sup itu kembali ke meja, lalu membungkuk untuk merapikan selimut Nadira.

“Kamu mau pakai ayam suwir sedikit?”

“Tidak usah.”

“Telur?”

“Tidak.”

Arga tersenyum kecil.

“Baik, Nyonya Nadira. Saya patuh.”

Dulu, candaan seperti itu selalu membuat Nadira tertawa. Kini, ia hanya memandang wajah suaminya seolah sedang melihat seorang aktor yang memainkan perannya terlalu sempurna.

Arga mengambil dompet dan keluar dari kamar.

Begitu pintu tertutup, wanita di ranjang sebelah menoleh ke arahnya.

Namanya Keisya.

Setidaknya itulah nama yang tertera pada gelang pasien di pergelangan tangannya.

Sejak awal Nadira mengetahui siapa dia bukan karena Arga melakukan kesalahan besar, melainkan karena kesalahan kecil yang sangat sederhana.

Pada malam pertama dirawat, ketika Keisya tertidur, layar ponselnya menyala.

Nama pengirim pesan muncul jelas.

Mas Arga.

Pesannya hanya singkat.

Jangan khawatir. Aku di sebelahmu.

Sejak saat itu, Nadira tidak pernah lagi melihat ranjang sebelah sebagai ranjang milik pasien asing.

Keisya mengusap perutnya perlahan.

“Suami Mbak perhatian sekali.”

Nadira menoleh.

Keisya tersenyum ramah, bahkan sedikit malu.

“Jarang ada suami seperti itu sekarang.”

Nadira hampir tertawa.

“Benarkah?”

“Iya. Dia kelihatan sangat sayang sama Mbak.”

“Menurutmu begitu?”

Keisya terdiam sejenak.

Mungkin perempuan itu merasa ada sesuatu yang aneh dalam nada suara Nadira.

Namun beberapa detik kemudian, ia kembali tersenyum.

“Kalau saya punya suami seperti itu, mungkin saya tidak akan pernah membiarkannya pergi.”

Tatapan Nadira jatuh pada perut Keisya.

“Kadang-kadang kita tidak perlu membiarkan seseorang pergi. Mereka sendiri yang memilih pergi.”

Keisya tidak menjawab.

Tepat saat itu, pintu terbuka.

Arga masuk membawa bubur polos.

Wajah Keisya langsung berubah.

Senyumnya hilang terlalu cepat.

Arga juga tampak kaku sepersekian detik sebelum kembali bersikap normal.

Nadira melihat semuanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ternyata kebohongan sebesar apa pun tetap memiliki celah.

Hanya saja orang yang sedang jatuh cinta sering memilih tidak melihatnya.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang hampir sama.

Arga menemani Nadira pada siang hari.

Pada malam hari, ketika mengira istrinya sudah tertidur, ia berpindah ke sisi Keisya.

Kadang ia membawakan buah.

Kadang susu kehamilan.

Kadang ia menempelkan telinganya ke perut Keisya dan tersenyum seperti seorang calon ayah yang paling bahagia di dunia.

Nadira tidak pernah membuka mata.

Ia hanya menghitung hari.

Dua puluh tujuh hari.

Dua puluh enam hari.

Dua puluh lima hari.

Sementara itu, ia diam-diam mengurus semua dokumen keberangkatannya.

Ayahnya telah menyiapkan apartemen kecil untuknya di Melbourne dan mengatur agar Nadira bisa bergabung dengan kantor cabang perusahaan keluarga.

Namun Nadira tidak ingin sekadar pergi.

Jika ia hanya menghilang, Arga mungkin akan sedih.

Mungkin mencarinya.

Mungkin menangis.

Lalu beberapa bulan kemudian, ia akan menikahi Keisya dan melanjutkan hidup seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tidak.

Nadira ingin Arga mengetahui dengan jelas apa yang telah hilang darinya.

Kesempatan itu datang seminggu setelah mereka pulang dari rumah sakit.

Pada suatu sore, ketika Arga sedang mandi, sebuah pesan masuk ke tablet yang biasa mereka gunakan bersama.

Perangkat itu tersinkronisasi dengan ponsel Arga.

Nadira tidak berniat membukanya.

Namun nama pengirimnya muncul di layar.

Keisya.

Mas, dokter bilang jadwal kontrol berikutnya tanggal 18. Kita harus bicara juga tentang biaya persalinan. Aku takut Nadira mulai curiga.

Nadira duduk diam cukup lama.

Kemudian layar kembali menyala.

Ada pesan kedua.

Mas sudah benar-benar yakin soal rumah di Depok itu? Kalau bayi kita lahir, aku tidak mau terus tinggal sendirian.

Rumah di Depok.

Nadira mengenal rumah itu.

Sebuah rumah dua lantai di kawasan Margonda yang dibeli Arga delapan bulan sebelumnya.

Ketika Nadira bertanya, Arga mengatakan rumah itu adalah investasi.

Ternyata bukan.

Dengan tangan dingin, Nadira membuka folder dokumen yang tersinkronisasi di tablet tersebut.

Ia menemukan surat pemesanan rumah.

Nama pembeli tertulis Arga Mahendra.

Namun pembayaran uang muka berasal dari rekening bersama mereka.

Nadira menatap angka itu berulang kali.

Tiga ratus lima puluh juta rupiah.

Uang yang selama ini ia pikir masih berada dalam deposito keluarga.

Saat itulah luka karena perselingkuhan berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya pengkhianatan cinta.

Arga telah menggunakan uang mereka untuk menyiapkan kehidupan bagi wanita lain.

Malam itu, untuk pertama kalinya Nadira tidak menangis.

Ia menelepon pengacara keluarga mereka, Pak Hendra, dan menjelaskan semuanya.

“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya pria itu.

Nadira memandang Arga yang tertidur di sebelahnya.

“Aku ingin memastikan ketika aku pergi, semua yang menjadi milikku ikut pergi bersamaku.”

Dalam dua minggu berikutnya, Nadira bekerja dalam diam.

Ia mengumpulkan bukti transaksi.

Salinan percakapan.

Dokumen rumah.

Bukti transfer biaya kontrol kehamilan.

Bahkan catatan hotel yang ternyata telah beberapa kali dibayar Arga dengan kartu kredit tambahan milik Nadira.

Semakin banyak yang ia temukan, semakin aneh perasaannya.

Ia tidak lagi merasa marah.

Yang tersisa hanyalah kehampaan.

Arga masih memasakkan sarapan untuknya.

Masih mencium keningnya sebelum berangkat kerja.

Masih mengirim pesan setiap siang.

Sudah makan, Sayang?

Jangan lupa obat.

Aku pulang cepat hari ini.

Suatu malam, Nadira tidak tahan lagi.

“Arga.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku meninggalkan kamu, apa yang akan kamu lakukan?”

Arga yang sedang membaca laporan di laptop langsung menutup layarnya.

“Kenapa bicara begitu?”

“Cuma bertanya.”

Arga meraih tangan Nadira.

“Aku akan mencarimu sampai ketemu.”

“Kalau aku tidak mau ditemukan?”

“Aku tetap cari.”

“Kalau aku pergi karena kamu menyakitiku?”

Wajah Arga berubah.

Hanya sedikit.

Namun Nadira melihatnya.

Kemudian pria itu tersenyum dan menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang membuatmu pergi.”

Kebohongan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada perselingkuhan itu sendiri.

Tiga hari sebelum keberangkatan, keluarga Arga mengadakan makan malam kecil di rumah Ibu Ratna.

Alasannya sederhana.

Merayakan kesembuhan Nadira.

Keisya tentu tidak hadir.

Namun sepanjang makan malam, ponsel Arga terus bergetar.

Ia beberapa kali pergi ke toilet.

Ibu Ratna menyajikan rendang kesukaan Nadira sambil tersenyum.

“Kalian ini sudah hampir enam tahun menikah. Ibu tidak mau menekan, tapi kalau suatu hari diberi cucu, Ibu pasti bahagia sekali.”

Tangan Arga berhenti bergerak.

Nadira memandangnya.

Kemudian ia bertanya pelan.

“Kalau Arga punya anak dari perempuan lain, Ibu tetap bahagia?”

Ruangan mendadak sunyi.

Sendok Ibu Ratna jatuh ke piring.

Arga menatap Nadira.

“Apa maksud kamu?”

Nadira tersenyum.

“Bercanda.”

Ibu Ratna tertawa canggung.

“Jangan bercanda begitu. Arga itu dari dulu cuma punya mata buat kamu.”

Nadira menunduk.

Ternyata kebohongan tidak selalu dilakukan seorang diri.

Kadang orang-orang di sekitarnya ikut membantu menjaganya tetap terlihat indah.

Malam sebelum keberangkatan tiba.

Arga pulang membawa bunga.

Dua puluh empat mawar putih.

“Ada acara apa?”

Nadira bertanya.

“Tidak ada.”

Arga menaruh bunga itu di meja makan.

“Aku cuma kepikiran pertama kali kita pacaran dulu. Kamu bilang mawar putih kelihatan lebih jujur daripada mawar merah.”

Nadira memandang bunga-bunga tersebut.

“Lucu.”

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

Malam itu, Arga tertidur lebih dulu.

Nadira duduk di balkon apartemen mereka sampai hampir subuh.

Jakarta terlihat penuh lampu.

Kota tempat ia kuliah.

Kota tempat ia jatuh cinta.

Kota tempat ia membangun rumah tangga.

Dan kota tempat semuanya berakhir.

Pada pukul lima pagi, ia berdiri.

Kopernya sudah menunggu di dekat pintu.

Semua dokumen sudah siap.

Namun sebelum pergi, Nadira meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja makan.

Ia tidak menulis surat cinta.

Tidak ada kata-kata panjang.

Tidak ada tuduhan.

Hanya satu kalimat.

Aku tahu tentang Keisya dan anak kalian.

Di bawahnya terdapat salinan gugatan cerai dan dokumen pembekuan sementara rekening bersama hingga proses pembagian aset selesai.

Nadira menatap Arga untuk terakhir kalinya.

Pria itu tidur dengan tenang.

Wajah yang sama yang pernah menangis di tengah kobaran api karena takut kehilangan dirinya.

Nadira akhirnya memahami sesuatu.

Seseorang bisa benar-benar mencintaimu dan tetap menghancurkanmu.

Perasaan tidak selalu membuat seseorang menjadi setia.

Dan pengorbanan besar tidak bisa menghapus pengkhianatan yang dilakukan berulang kali.

Ia membuka pintu.

Lalu pergi.

Arga terbangun pukul tujuh lewat dua puluh menit.

“Nadira?”

Tidak ada jawaban.

Ia mencari ke kamar mandi.

Kosong.

Dapur.

Kosong.

Barulah matanya melihat amplop di atas meja.

Beberapa menit kemudian, Nadira menerima puluhan panggilan.

Ia sudah berada di dalam mobil menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Telepon pertama ia abaikan.

Kedua.

Ketiga.

Hingga akhirnya pada panggilan ketujuh belas, ia menjawab.

“Nadira!”

Suara Arga terdengar kacau.

“Kamu di mana?”

“Dalam perjalanan.”

“Kamu tahu?”

“Iya.”

Keheningan panjang.

Kemudian suara Arga pecah.

“Aku bisa jelaskan.”

Nadira menatap jalan tol dari balik kaca.

Dulu, kalimat itu mungkin bisa membuatnya berhenti.

Sekarang tidak.

“Berapa lama?”

Arga terdiam.

“Berapa lama kamu dengan dia?”

“Hampir setahun.”

Nadira memejamkan mata.

“Anaknya?”

“Nadira…”

“Berapa bulan?”

“Enam.”

Jawaban itu akhirnya menutup semua pintu di dalam hati Nadira.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tidak tahu?”

“Aku melakukan kesalahan.”

“Kesalahan itu sekali, Arga. Kamu melakukannya selama hampir setahun.”

“Nadira, aku mencintai kamu.”

Kali ini Nadira benar-benar tertawa.

Tangis terdengar di seberang telepon.

“Aku memang mencintai kamu. Waktu kecelakaan itu, aku benar-benar siap mati bersama kamu.”

“Aku percaya.”

Arga terdiam.

Mungkin ia tidak menyangka Nadira akan mengatakan itu.

“Aku percaya kamu mencintaiku,” lanjut Nadira. “Tapi ternyata mencintaiku tidak cukup membuatmu menghormatiku.”

“Nadira, jangan pergi. Tolong.”

“Aku sudah pergi.”

Ia menutup telepon.

Namun cerita itu belum selesai.

Dua hari setelah tiba di Melbourne, Nadira menerima pesan dari nomor Indonesia yang tidak dikenal.

Mbak Nadira, saya Keisya. Saya harus bicara dengan Mbak.

Nadira hampir menghapusnya.

Namun beberapa menit kemudian, sebuah foto masuk.

Foto hasil pemeriksaan laboratorium.

Di bawahnya terdapat satu kalimat.

Anak ini bukan anak Arga.

Nadira menatap layar lama sekali.

Malam itu mereka melakukan panggilan video.

Keisya menangis sejak awal.

“Aku memang punya hubungan dengan Mas Arga,” katanya. “Aku tidak akan membela diri. Aku salah.”

“Lalu anak itu?”

Keisya menghapus air matanya.

“Sebelum kenal Arga, aku punya pacar. Kami putus. Beberapa minggu kemudian aku mulai dekat dengan Arga. Waktu tahu aku hamil, aku pikir anak itu punya Arga.”

“Sekarang?”

“Hasil tes menunjukkan usia kehamilanku lebih tua dari perkiraan awal. Aku periksa lagi. Dokter bilang kemungkinan besar bayi ini dikandung sebelum aku bersama Mas Arga.”

Nadira tidak tahu harus tertawa atau merasa kasihan.

“Arga tahu?”

“Baru tadi.”

“Apa katanya?”

Keisya menunduk.

“Dia marah. Lalu pergi.”

Dua minggu kemudian, Arga datang ke Melbourne.

Ia berdiri di depan rumah ayah Nadira selama hampir tiga jam.

Nadira akhirnya keluar menemuinya.

Arga tampak jauh lebih kurus.

Matanya merah.

“Aku tidak datang untuk memintamu kembali,” katanya.

“Lalu?”

“Aku cuma ingin minta maaf.”

Nadira tidak menjawab.

“Aku kehilangan kamu. Keisya juga meninggalkanku. Rumah di Depok akan kujual dan bagian uangmu akan kukembalikan.”

“Bagus.”

“Aku bodoh.”

“Iya.”

Arga tertawa pahit.

“Aku kira aku bisa memiliki semuanya.”

Nadira memandang pria yang pernah menjadi pusat dunianya.

“Akhirnya kamu kehilangan semuanya.”

Arga mengangguk.

Namun sebelum berbalik, ia mengatakan sesuatu yang membuat Nadira terdiam.

“Waktu mobil itu meledak, aku tidak menyesal masuk kembali untuk menyelamatkanmu.”

Nadira menatapnya.

“Kalau waktu bisa diputar, aku akan melakukan hal yang sama.”

Air mata mengalir di wajah Arga.

“Aku cuma berharap setelah menyelamatkan hidupmu hari itu, aku tidak menjadi orang yang menghancurkan hidupmu setelahnya.”

Nadira tidak mengejarnya ketika Arga pergi.

Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi selesai.

Rumah Depok terjual.

Uang Nadira dikembalikan.

Keisya melahirkan seorang bayi laki-laki dan membesarkannya bersama keluarga kandungnya.

Arga tidak pernah menikah lagi.

Setidaknya bukan dalam beberapa tahun berikutnya.

Sementara Nadira memulai hidup baru di Melbourne.

Suatu sore, ia berjalan sendirian di tepi Sungai Yarra setelah pulang dari kantor.

Ayahnya pernah bertanya apakah ia masih mencintai Arga.

Nadira tidak bisa menjawab waktu itu.

Kini ia tahu jawabannya.

Mungkin sebagian kecil dirinya akan selalu mencintai lelaki yang menerobos api untuk menyelamatkannya.

Namun ia tidak akan pernah kembali kepada lelaki yang setelah itu memilih membakar kepercayaannya sendiri.

Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang bersedia mati untukmu dalam satu momen dramatis.

Cinta adalah tentang siapa yang memilih tidak menghancurkanmu dalam ribuan keputusan kecil ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang