Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Ibu meninggal, aku tidur tanpa takut seseorang akan mengunci pintu dari luar.
Kamar tempat aku menginap tidak besar. Dindingnya berwarna krem, lampunya redup, dan ada boneka beruang di atas meja kecil. Petugas perempuan yang menemaniku bernama Bu Sinta. Ia bekerja di unit perlindungan anak dan berbicara dengan suara pelan seolah takut membuatku terkejut.
Sebelum tidur, ia bertanya apakah aku lapar.
Aku menggeleng.
“Kalau haus?”

Aku kembali menggeleng.
“Kalau ingin menelepon seseorang?”
Aku memeluk ransel kelinciku lebih erat.
“Tidak ada.”
Bu Sinta tidak memaksaku. Ia hanya menarik selimut sampai ke dadaku.
“Baik. Kalau butuh apa pun, panggil Ibu.”
Aku hampir mengatakan bahwa aku tidak punya ibu lagi, tetapi urung.
Aku hanya menutup mata.
Namun, baru beberapa menit kemudian, terdengar suara ribut dari luar kamar.
“Aku ayahnya. Aku berhak bertemu anakku.”
Itu suara Ayah.
Aku langsung membuka mata.
Bu Sinta keluar sebentar, lalu kembali.
“Ayahmu datang.”
Aku menatap pintu.
“Dia marah?”
“Tidak.”
“Bu Ratih ikut?”
“Tidak.”
Aku diam cukup lama sebelum berkata, “Kalau cuma Ayah, boleh.”
Ayah masuk beberapa saat kemudian.
Ia masih memakai kemeja yang sama, tetapi sekarang kusut. Rambutnya tidak lagi rapi. Matanya merah, dan untuk pertama kalinya aku melihat seseorang yang biasanya tampak sangat besar mendadak terlihat kecil.
Ia duduk di kursi tanpa mencoba mendekatiku.
“Nara.”
Aku tidak menjawab.
“Ayah minta maaf.”
Aku menatap boneka beruang di meja.
“Ayah sudah bilang begitu waktu Ibu meninggal.”
Ia terdiam.
Saat Ibu meninggal, Ayah memang datang ke rumah sakit. Ia memelukku dan berkata akan menjagaku.
Tiga hari kemudian, aku dipindahkan ke rumah besar milik keluarga Wijaya.
Seminggu kemudian, Ayah kembali sibuk bekerja.
Sebulan kemudian, Bu Ratih memindahkanku ke kamar paling ujung.
Dua bulan kemudian, hampir semua barang peninggalan Ibu hilang.
Dan setiap kali aku mencoba menelepon Ayah, sekretarisnya selalu mengatakan hal yang sama.
Pak Arman sedang rapat.
Pak Arman sedang bertemu investor.
Pak Arman sedang di luar kota.
Pak Arman akan menelepon kembali.
Tetapi Ayah hampir tidak pernah menelepon kembali.
“Ayah membatalkan semua agenda besok,” katanya.
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Karena Ayah ingin bersamamu.”
Aku memikirkan jawabannya, lalu bertanya, “Kalau besoknya lagi?”
Wajah Ayah menegang.
Aku kembali menunduk.
“Kalau besoknya lagi Ayah rapat lagi, kan?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam lebih lama daripada sebelumnya.
“Ayah tidak mau menjanjikan sesuatu yang tidak bisa Ayah tepati lagi,” katanya akhirnya. “Tapi Ayah akan mengubah semuanya.”
Aku tidak tahu apakah aku percaya.
Malam itu, sebelum pergi, Ayah meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
“Hadiah ulang tahunmu.”
Aku tidak membukanya.
Keesokan pagi, seluruh Indonesia seolah mengenal namaku.
Video siaran langsungku telah ditonton jutaan kali. Wajah Bu Ratih muncul di akun berita, forum gosip, sampai acara televisi pagi.
Ada rekaman saat ia membentakku di depan gerbang.
Ada rekaman Kirana mengatakan bahwa aku akan dikunci di kamar.
Ada pula potongan suara ketika aku mengatakan aku takut tidur di rumah Ayah.
Grup Wijaya mengeluarkan pernyataan singkat bahwa perusahaan tidak akan mencampuri urusan keluarga pemiliknya.
Namun, komentar publik justru semakin keras.
Beberapa mitra bisnis meminta penjelasan.
Para wartawan berkumpul di depan kantor perusahaan.
Dan yang paling mengejutkan, seseorang mengunggah video lama tentang Ibu.
Video itu diambil lima tahun lalu.
Dalam rekaman tersebut, Ibu sedang keluar dari sebuah rumah sakit sambil menggendongku yang masih bayi.
Seorang wartawan bertanya, “Apakah benar anak Anda adalah putri Arman Wijaya?”
Ibu hanya menjawab, “Putri saya adalah putri saya. Itu sudah cukup.”
Video itu membuat orang-orang mulai bertanya tentang hubungan Ayah dan Ibu.
Selama ini banyak orang mengira Bu Ratih adalah satu-satunya istri Ayah.
Ternyata tidak.
Siang itu, seorang pria tua datang menemuiku.
Namanya Pak Hendra.
Ia adalah pengacara pribadi Ibu.
Bu Sinta mengizinkannya masuk setelah memeriksa identitas dan dokumennya.
Pak Hendra membawa map hitam tebal.
“Nara,” katanya sambil berjongkok di depanku, “Om kenal ibumu sejak lama.”
Aku langsung duduk tegak.
“Om kenal Ibu?”
Ia tersenyum sedih.
“Sangat kenal.”
“Om tahu kasurku dijual?”
Pertanyaanku membuat ekspresinya berubah.
“Apa?”
Aku menjelaskan bahwa Bu Ratih menjual barang-barang dari rumah lama kami.
Wajah Pak Hendra menjadi sangat serius.
“Nara, rumah itu bukan milik Bu Ratih.”
Aku mengerjapkan mata.
“Itu rumah Ibu.”
“Benar. Dan sekarang rumah itu milikmu.”
Aku tidak memahami maksudnya.
Pak Hendra kemudian membuka map.
Di dalamnya terdapat surat-surat yang terlalu sulit kubaca.
Ia menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelumnya, Ibu membeli rumah kecil kami dengan uangnya sendiri.
Selain rumah itu, Ibu memiliki tabungan, beberapa investasi, dan saham kecil di sebuah perusahaan logistik.
Semua aset itu diwariskan kepadaku.
“Ayah tahu?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
“Ayahmu tahu sebagian.”
“Tapi Bu Ratih menjual barang Ibu.”
“Dan itu akan kami periksa.”
Sore harinya, Ayah datang lagi.
Kali ini bersama pengacaranya.
Ketika melihat Pak Hendra, wajahnya langsung berubah.
“Hendra?”
Pak Hendra berdiri.
“Sudah lama, Arman.”
Aku memandang mereka bergantian.
“Kalian kenal?”
Ayah menghela napas.
“Pak Hendra dulu membantu urusan hukum ibumu.”
Pak Hendra menutup map.
“Lebih tepatnya, saya membantu Maya melindungi hak anaknya.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Ayah menatapnya tajam.
“Jangan bicara sembarangan di depan Nara.”
“Saya justru sudah terlalu lama diam.”
Pak Hendra mengeluarkan sebuah amplop.
“Ada sesuatu yang Maya titipkan kepada saya.”
Ia menyerahkannya kepada Ayah.
Tangan Ayah terlihat gemetar saat membukanya.
Di dalamnya ada surat.
Ayah membaca beberapa baris pertama, lalu wajahnya berubah pucat.
“Apa itu?” tanyaku.
Ayah tidak menjawab.
Pak Hendra menatapku.
“Ibumu menulis surat ini beberapa minggu sebelum kecelakaan.”
“Untuk siapa?”
“Untuk ayahmu.”
Aku turun dari tempat tidur.
“Aku boleh tahu?”
Ayah menutup surat itu cepat.
“Nara masih terlalu kecil.”
Aku menatapnya.
“Aku juga terlalu kecil waktu Bu Ratih menyebutku anak haram.”
Ayah seperti kehilangan kata-kata.
Pak Hendra akhirnya berkata, “Isi surat itu penting karena berkaitan dengan alasan ibumu tidak pernah tinggal di rumah keluarga Wijaya.”
Aku mulai bingung.
Selama ini aku mengira Ibu hanya tidak suka rumah besar.
Ternyata ada alasan lain.
Pak Hendra berkata bahwa bertahun-tahun lalu, sebelum aku lahir, Ayah dan Ibu pernah menikah secara resmi.
Pernikahan itu tidak pernah diumumkan kepada publik karena keluarga Wijaya menentangnya.
Kakek Ayah ingin Ayah menikah dengan perempuan dari keluarga bisnis lain.
Perempuan itu adalah Bu Ratih.
Aku menatap Ayah.
“Jadi Ibu bukan perempuan jahat?”
Ayah langsung menggeleng.
“Tidak pernah.”
“Tapi Bu Ratih bilang Ibu merebut Ayah.”
Ayah memejamkan mata.
“Tidak.”
Aku kembali bertanya, “Kalau Ibu menikah dengan Ayah, kenapa aku disebut anak haram?”
Tidak ada yang menjawab selama beberapa detik.
Akhirnya Pak Hendra berkata, “Karena orang dewasa kadang menggunakan kebohongan untuk membuat dirinya sendiri terlihat benar.”
Aku menoleh kepada Ayah.
“Kenapa Ayah membiarkan mereka bilang begitu?”
Itulah pertanyaan yang paling sulit dijawabnya.
Ia duduk dan menatap kedua tangannya.
“Karena Ayah pengecut.”
Aku tidak menyangka ia akan berkata seperti itu.
“Ayah pikir kalau Ayah diam, semuanya akan tenang. Ayah pikir bisa menjaga perusahaan, menjaga keluarga besar, menjaga pernikahan dengan Ratih, dan tetap menjadi ayahmu.”
Ia tertawa kecil, tetapi suaranya pahit.
“Ternyata dengan mencoba menjaga semuanya, Ayah justru tidak menjaga orang yang paling membutuhkan Ayah.”
Aku tidak langsung memaafkannya.
Namun, untuk pertama kalinya, aku merasa ia tidak sedang memberikan alasan.
Ia sedang mengatakan kebenaran.
Malam itu, berita baru muncul.
Polisi menemukan bahwa rumah lama milik Ibu telah dimasuki tanpa izin beberapa kali setelah kematiannya.
Beberapa barang dijual.
Namun, bukan hanya kasur dan perabot.
Sebuah brankas kecil juga hilang.
Ayah langsung berdiri ketika mendengar kabar itu.
“Brankas?”
Pak Hendra mengangguk.
“Di dalamnya ada salinan dokumen pernikahan Maya, surat wasiat, dan beberapa bukti transaksi.”
Wajah Ayah semakin tegang.
“Siapa yang mengambilnya?”
Jawaban itu datang dua hari kemudian.
Bukan Bu Ratih.
Melainkan ayah Bu Ratih sendiri.
Ia diam-diam memerintahkan seseorang mengambil brankas tersebut karena takut dokumen pernikahan Ayah dan Ibu akan muncul ke publik.
Jika dokumen itu tersebar, reputasi keluarga mereka bisa rusak karena selama bertahun-tahun mereka membangun narasi bahwa Bu Ratih adalah perempuan pertama dan satu-satunya dalam hidup Ayah.
Masalah menjadi lebih besar ketika ditemukan satu dokumen lain.
Sebelum meninggal, Ibu telah mengalihkan sebagian saham miliknya kepadaku.
Bukan saham perusahaan kecil.
Melainkan saham Grup Wijaya.
Ternyata Ibu pernah membantu Ayah saat perusahaan hampir bangkrut bertahun-tahun lalu.
Dengan uang hasil menjual tanah warisan keluarganya, Ibu membeli saham ketika tidak ada investor lain yang berani masuk.
Nilainya saat itu kecil.
Sekarang, nilainya luar biasa besar.
Pak Hendra menjelaskan semuanya kepada Ayah.
Aku hanya memahami satu bagian.
“Aku punya bagian dari perusahaan Ayah?”
Ayah mengangguk pelan.
“Ya.”
“Banyak?”
Pak Hendra tersenyum.
“Cukup banyak.”
Aku berpikir sebentar.
“Bisa dibeli es krim?”
Semua orang di ruangan itu terdiam.
Bu Sinta tiba-tiba tertawa kecil.
Bahkan Ayah akhirnya tersenyum untuk pertama kalinya sejak semua masalah dimulai.
“Bisa,” katanya. “Banyak sekali es krim.”
Namun, cerita belum selesai.
Setelah penyelidikan internal perusahaan dilakukan, ditemukan bahwa ayah Bu Ratih selama bertahun-tahun menggunakan pengaruhnya untuk mengatur beberapa keputusan bisnis Grup Wijaya.
Ia bahkan pernah menekan Ayah untuk menjauhkan Ibu dari perusahaan.
Skandal itu membuat dewan direksi turun tangan.
Ayah mengundurkan diri sementara dari beberapa jabatan untuk menyelesaikan masalah keluarga dan hukum.
Bu Ratih meninggalkan rumah besar itu.
Ia tidak lagi diizinkan mendekatiku tanpa persetujuan petugas perlindungan anak.
Kirana ikut ibunya.
Sebelum pergi, ia mendatangiku.
Ia tidak memakai gaun mahal.
Hanya kaus putih dan celana pendek.
Wajahnya terlihat berbeda tanpa ibunya berdiri di belakangnya.
“Nara.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Ia menggigit bibir.
“Aku minta maaf.”
Aku diam.
“Aku cuma bilang apa yang Mama bilang.”
Aku memeluk ransel.
“Itu tetap jahat.”
Kirana mengangguk.
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak menyebutku anak haram.
Ia hanya berkata, “Selamat ulang tahun.”
Tiga minggu kemudian, aku kembali ke rumah lama Ibu.
Rumah kecil itu berhasil dikembalikan kepadaku.
Barang-barangnya memang sudah banyak yang hilang, tetapi Ayah membeli kembali kasur lamaku dari orang yang membelinya.
Kasur itu terlihat lebih buruk daripada sebelumnya.
Ada noda di bagian samping, dan pegasnya berbunyi kalau aku melompat.
Namun, ketika aku melihatnya, aku langsung menangis.
Ayah berdiri di pintu kamar.
“Ayah bisa belikan kasur baru.”
Aku menggeleng.
“Aku mau ini.”
Ia tidak membantah.
Kami membersihkannya bersama.
Saat Ayah mengangkat bagian bawah kasur, sesuatu jatuh ke lantai.
Sebuah amplop tipis.
Namaku tertulis di bagian depan.
Nara.
Tulisan tangan Ibu.
Tanganku langsung gemetar.
Pak Hendra datang sore itu dan membantu membacakan suratnya.
Ibu menulis bahwa ia tahu hidupnya mungkin tidak selalu panjang. Ia menulis bahwa jika suatu hari aku merasa sendirian, aku harus ingat satu hal.
Rumah bukanlah bangunan besar.
Bukan alamat.
Bukan nama keluarga.
Rumah adalah orang yang memilih untuk tetap tinggal ketika kita sedang takut.
Aku menangis sepanjang surat dibacakan.
Di bagian terakhir, Ibu menulis satu kalimat untuk Ayah.
Jika suatu hari Nara harus memilih antara nama Wijaya dan kebahagiaannya, biarkan dia memilih kebahagiaannya.
Aku menoleh kepada Ayah.
Ia menangis.
Bukan seperti orang di film.
Tidak ada suara keras.
Air matanya hanya jatuh begitu saja.
Beberapa bulan kemudian, aku tidak kembali tinggal di rumah besar keluarga Wijaya.
Aku memilih tinggal di rumah kecil Ibu.
Ayah ikut pindah.
Ia masih bekerja.
Ia masih menghadiri rapat.
Tetapi sekarang, setiap malam sebelum tidur, ia pulang.
Kadang terlambat.
Kadang sangat lelah.
Namun, ia pulang.
Pada ulang tahunku yang keenam, kami tidak mengadakan pesta besar.
Hanya ada kue kecil, Bu Sinta, Pak Hendra, beberapa teman dari taman kanak-kanak, dan satu kursi kosong dengan foto Ibu di atasnya.
Ayah menyalakan lilin.
“Buat permintaan.”
Aku menutup mata.
Semua orang menunggu.
Lalu aku meniup lilin.
Ayah bertanya, “Apa permintaanmu?”
Aku tersenyum.
“Rahasia.”
Padahal sebenarnya sederhana.
Aku tidak meminta rumah besar.
Tidak meminta mainan.
Tidak meminta saham atau uang.
Aku hanya meminta agar ketika aku menelepon seseorang yang kusebut keluarga, kali ini ada yang menjawab.
Malam itu, sebelum tidur, aku meletakkan ponsel di meja.
Lalu, karena penasaran, aku menelepon Ayah yang sedang berada di dapur.
Telepon berdering sekali.
Dua kali.
Kemudian terdengar suara dari bawah.
“Nara?”
Aku tertawa kecil.
“Ayah angkat.”
“Tentu.”
Aku memeluk bantal.
“Tidak apa-apa. Aku cuma mau memastikan.”
“Memastikan apa?”
Aku melihat foto Ibu di samping tempat tidur.
“Memastikan rumahku masih ada.”
Di bawah, Ayah tidak langsung menjawab.
Kemudian suaranya terdengar pelan.
“Ada.”
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku benar-benar mempercayainya.
