Suamiku bilang dia berangkat kerja ke Jepang selama 4 tahun dan menitipkan kedua orang tuanya kepadaku. Aku mengantarnya sampai ke bandara sambil tersenyum. Tapi beberapa jam kemudian, sebuah notifikasi bank membuktikan bahwa semua yang keluar dari mulutnya hanyalah kebohongan… dan sejak saat itu, aku memutuskan menghancurkan seluruh sandiwara yang selama ini dia bangun.

Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.

“Dia tidak naik pesawat ke Jepang. Tiketnya dibatalkan tiga hari lalu.”

Aku menatap layar ponsel begitu lama sampai huruf-hurufnya terasa kabur.

Orang yang mengirim pesan itu adalah Rani, sahabatku sejak kuliah yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan pengelola perjalanan korporat. Aku tidak pernah meminta Rani melakukan sesuatu yang ilegal. Aku hanya memberinya nomor penerbangan yang disebut suamiku dan bertanya apakah jadwalnya berubah.

Jawabannya justru menghancurkan seluruh cerita yang kudengar selama berminggu-minggu.

Aku menelan ludah.

“Yakin?” ketikku.

Balasannya datang kurang dari satu menit.

“Yakin. Dan ada hal lain. Nama kantor suamimu tidak punya penugasan jangka panjang ke Jepang bulan ini.”

Aku tidak langsung membalas.

Di ruang tamu, ibu mertuaku masih menelepon putranya dengan suara keras. Namun ekspresinya mulai berubah.

“Kenapa tidak bisa dihubungi?” gumamnya.

Ayah mertuaku ikut mencoba.

Tidak ada jawaban.

Aku tahu penyebabnya.

Semua kartu tambahan sudah kublokir. Tidak hanya kartu milik suamiku, tetapi juga dua kartu yang selama ini digunakan kedua orang tuanya untuk berbelanja.

Beberapa menit kemudian, ibu mertuaku menatapku tajam.

“Kamu memblokir kartu kami?”

Aku berjalan ke dapur, menuangkan air ke dalam gelas.

“Itu rekening atas namaku.”

“Kartu itu diberikan anakku!”

“Dan tagihannya dibayar dari rekeningku.”

Wajahnya langsung memerah.

“Apa-apaan sikapmu ini?”

Aku menyesap air dengan tenang.

“Saya hanya sedang merapikan keuangan keluarga.”

Ayah mertuaku membanting telapak tangan ke meja.

“Kamu mulai kurang ajar sejak anak kami pergi.”

Aku hampir tertawa mendengar kata pergi.

Kalau saja mereka tahu anak mereka bahkan mungkin belum meninggalkan kota.

Namun aku belum mau membuka semuanya.

Belum.

Aku ingin mengetahui seberapa besar kebohongan ini.

Malam itu aku tidur dengan pintu kamar terkunci.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku membuka seluruh riwayat transaksi rekening bersama kami.

Aku biasanya tidak terlalu memeriksa karena sibuk bekerja. Suamiku selalu mengatakan bahwa pengeluaran rumah tangga berada dalam kendali.

Ternyata tidak.

Ada pembayaran apartemen servis beberapa kali dalam enam bulan terakhir.

Ada restoran mahal di hari-hari ketika dia mengaku lembur.

Ada transfer berkala ke rekening yang tidak kukenal.

Nominalnya tidak kecil.

Lima juta.

Sepuluh juta.

Dua puluh juta.

Kadang lebih.

Yang paling mengejutkan adalah transfer terakhir dilakukan dua hari sebelum keberangkatannya.

Seratus lima puluh juta rupiah.

Keterangan transaksi hanya dua kata.

“Untuk rumah.”

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Rumah siapa?

Aku mengambil laptop dan mulai menyusun semuanya berdasarkan tanggal.

Semakin kususun, semakin jelas polanya.

Setiap kali suamiku bilang sedang perjalanan dinas, ada pengeluaran di tempat-tempat tertentu.

Hotel.

Restoran.

Toko perlengkapan rumah.

Klinik anak.

Aku berhenti saat melihat nama klinik itu.

Klinik anak.

Kami tidak punya anak.

Tanganku menjadi dingin.

Untuk pertama kalinya malam itu, pertahananku mulai retak.

Aku tidak menangis.

Tetapi dadaku seperti ditekan sesuatu yang berat.

Aku teringat semua tahun yang kami lewati.

Semua percakapan tentang masa depan.

Semua malam ketika dia bilang belum siap memiliki anak karena ingin fokus pada karier.

Semua kali dia berkata biaya hidup terlalu tinggi.

Semua alasan yang selama ini kupercaya.

Ternyata mungkin dia memang belum ingin punya anak denganku.

Karena dia sudah membangun kehidupan lain.

Keesokan paginya aku berangkat kerja seperti biasa.

Sebelum pergi, ibu mertuaku menghadangku di dekat pintu.

“Uang belanja belum kamu tinggalkan.”

Aku menatapnya.

“Di kulkas masih ada makanan.”

“Aku mau belanja sendiri.”

“Pakai uang Ibu.”

Dia seperti tidak percaya mendengar jawabanku.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

“Ayahmu perlu obat.”

“Kalau obatnya memang diperlukan, kirim resepnya kepada saya. Saya akan bayar langsung ke apotek.”

Aku sengaja memilih kata-kata dengan hati-hati.

Aku tidak ingin memberi mereka alasan untuk memutarbalikkan keadaan.

Ibu mertuaku menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku sudah berjalan keluar.

Di kantor aku tidak bisa bekerja dengan normal.

Bukan karena emosiku kacau, melainkan karena pikiranku terlalu jernih.

Aku menyadari satu hal.

Kalau suamiku benar-benar merencanakan semua ini, berarti dia mungkin mengira aku akan tetap bekerja, membayar cicilan, dan mengurus orang tuanya selama dia menjalani kehidupan baru.

Sebuah rencana yang sangat nyaman.

Baginya.

Siang itu Rani kembali mengirim pesan.

“Aku dapat sesuatu.”

Sebuah foto menyusul.

Foto itu diambil dari kejauhan.

Suamiku sedang keluar dari sebuah apartemen servis di kawasan Jakarta Selatan.

Dia mengenakan kaus hitam, celana jins, dan topi.

Di sampingnya ada seorang perempuan muda.

Perempuan itu menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun.

Suamiku membukakan pintu mobil untuk mereka.

Anak itu memanggil sesuatu sambil mengangkat kedua tangannya.

Aku tidak bisa mendengar suara dari foto.

Tetapi aku tidak perlu mendengarnya.

Cara suamiku mengangkat anak itu ke dalam mobil terlalu akrab untuk seorang teman biasa.

Aku memperbesar foto.

Lalu melihat wajah anak tersebut.

Untuk beberapa detik aku sulit bernapas.

Bentuk alisnya.

Mata.

Garis rahang kecilnya.

Semua mengingatkanku pada seseorang.

Suamiku.

Aku menutup laptop.

Tanganku gemetar.

Namun lagi-lagi aku tidak menangis.

Bukan karena tidak sakit.

Justru karena rasa sakit itu terlalu besar hingga air mata terasa tidak cukup.

Aku menelepon seorang pengacara yang direkomendasikan rekan kerjaku.

Namanya Maya.

Setelah mendengar garis besar ceritaku, kalimat pertama yang dia katakan justru sangat sederhana.

“Jangan konfrontasi dulu.”

“Aku juga tidak berniat.”

“Bagus. Amankan dokumen, rekening, bukti kepemilikan aset, dan data transaksi. Kalau apartemen itu sebagian besar kamu bayar, kita harus lihat status hukumnya.”

Aku membuka map digital yang selama ini kusimpan.

Untungnya hampir semua pembayaran cicilan berasal dari rekening pribadiku.

Uang muka terbesar juga berasal dari tabunganku sebelum menikah.

“Dan satu hal lagi,” kata Maya.

“Ya?”

“Jangan biarkan siapa pun mengakses dokumen pribadi atau ruang kerja kamu.”

Aku langsung teringat kedua mertuaku.

Sore itu aku pulang lebih cepat.

Ketika pintu apartemen terbuka, aku langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Pintu kamar kerjaku sedikit terbuka.

Padahal pagi tadi aku menguncinya.

Aku berjalan masuk.

Laci dokumen terbuka.

Beberapa map bergeser.

Ayah mertuaku berdiri di dekat meja.

“Ayah sedang apa?”

Dia terlihat sedikit terkejut, tetapi segera memasang ekspresi marah.

“Hanya mencari surat apartemen.”

“Untuk apa?”

“Anakku bilang ada dokumen yang harus difoto.”

Jadi suamiku akhirnya menghubungi mereka.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya mengambil ponsel dan memotret keadaan ruangan.

Ayah mertuaku langsung mendekat.

“Kamu memotret apa?”

“Dokumentasi.”

Dia mendengus.

“Mau melaporkan orang tua sendiri?”

“Saya hanya mencatat siapa yang masuk kamar pribadi tanpa izin.”

Ibu mertuaku datang dari ruang tamu.

“Jangan sok berkuasa. Anak kami bilang apartemen ini akan dijual.”

Aku terdiam.

Nah.

Akhirnya ada potongan baru.

“Dijual?”

“Iya. Setelah dia sukses di Jepang, kalian akan pindah ke rumah lebih besar.”

Aku tersenyum tipis.

Suamiku ternyata tidak hanya ingin meninggalkanku dengan orang tuanya.

Dia juga mungkin berniat menjual apartemen yang sebagian besar kubayar.

“Dia bilang begitu?”

“Tentu.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Malam itu aku langsung menghubungi Maya.

Dia bergerak cepat.

Kami memastikan tidak ada proses penjualan tanpa persetujuanku sebagai pihak yang tercatat dalam dokumen kepemilikan.

Aku juga mengubah akses beberapa rekening, mengganti kata sandi email penting, serta menyimpan seluruh dokumen asli di tempat aman.

Dua hari berlalu.

Suamiku akhirnya menelepon.

Bukan dengan video.

Hanya suara.

“Aku baru mendarat dan sibuk sekali.”

Aku duduk di meja makan sambil melihat foto dirinya di Jakarta yang dikirim Rani.

“Oh ya?”

“Jepang dingin banget.”

Aku hampir tertawa.

Jakarta sore itu tiga puluh dua derajat.

“Capek?”

“Banget.”

“Kasihan.”

Dia terdiam sesaat, mungkin merasa nada suaraku terlalu datar.

“Orang tuaku bilang kamu memblokir kartu.”

“Benar.”

“Kenapa?”

“Aku sedang mengatur pengeluaran.”

“Mereka orang tuaku.”

“Aku tahu.”

“Tolong aktifkan lagi.”

“Tidak bisa.”

Nada suaranya mulai keras.

“Kamu kenapa, sih?”

Aku menatap jendela.

“Aku cuma ingin memastikan uang kita digunakan dengan benar.”

Dia diam cukup lama.

Kemudian suaranya berubah lembut.

“Sayang, jangan bikin masalah ketika aku jauh.”

Kalimat itu hampir membuatku muak.

“Aku tidak bikin masalah.”

“Kalau begitu aktifkan kartunya.”

“Tidak.”

Dia akhirnya membentak.

“Aku suamimu!”

Dan untuk pertama kalinya aku menjawab tanpa rasa takut.

“Dan aku pemilik rekeningnya.”

Telepon langsung terputus.

Malam berikutnya terjadi sesuatu yang tidak kuduga.

Ibu mertuaku mengetuk pintu kamar.

Biasanya dia tidak pernah mengetuk.

“Aku mau bicara.”

Aku membukakan pintu.

Wajahnya berbeda.

Tidak marah.

Justru pucat.

Dia duduk di ujung kursi.

“Anakku benar-benar di Jepang?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu berarti dia mulai curiga.

“Kenapa Ibu bertanya?”

“Dia selalu menghindari video call.”

Aku diam.

Lalu dia berkata pelan.

“Dulu pernah ada perempuan.”

Aku menahan napas.

“Kapan?”

“Sebelum kalian menikah.”

“Siapa?”

Dia menggigit bibir.

“Namanya Selvi.”

Nama itu tidak asing.

Aku pernah melihat transfer menuju rekening bernama Selvi Andriani.

“Kenapa Ibu baru bilang sekarang?”

Ibu mertuaku tidak langsung menjawab.

Kemudian kalimat berikutnya justru membuatku tertawa pahit.

“Karena kami pikir setelah menikah denganmu, dia akan berubah.”

Jadi mereka tahu.

Mungkin tidak tentang semuanya.

Tetapi mereka tahu cukup banyak untuk memilih diam.

“Apa ada anak?”

Wajahnya berubah.

Itu sudah menjadi jawaban.

“Ibu tahu?”

“Dulu katanya anak itu bukan miliknya.”

“Dan Ibu percaya?”

Dia menunduk.

Aku tiba-tiba mengerti sesuatu yang lebih kejam.

Mereka mungkin tidak datang hanya untuk dirawat.

Mereka mungkin dikirim ke sini agar tidak mengganggu kehidupan baru putra mereka.

Suamiku membuang semua tanggung jawab dalam satu langkah.

Istri lama mengurus orang tua.

Perempuan lain mendapatkan dirinya.

Dan dia tetap bisa mengakses uang yang sebagian besar berasal dariku.

Rencana yang hampir sempurna.

Hampir.

Seminggu kemudian aku menerima bukti terakhir.

Suamiku bukan hanya tinggal bersama Selvi.

Dia sedang mempersiapkan pembelian sebuah rumah di Bogor atas nama Selvi.

Uang seratus lima puluh juta itu adalah uang muka.

Dana tersebut berasal dari rekening bersama kami.

Aku akhirnya berhenti menunggu.

Aku mengundang suamiku pulang.

Bukan dengan ancaman.

Bukan dengan kemarahan.

Aku hanya mengirim pesan.

“Ayah sakit. Pulanglah kalau bisa.”

Dia datang dua hari kemudian.

Tentu saja bukan dari Jepang.

Dia muncul di apartemen dengan koper yang sama, memakai jaket tebal seolah baru turun dari penerbangan internasional.

Ketika masuk, dia bahkan membawa sekotak makanan Jepang dari bandara.

Aku duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.

Wajahnya langsung berubah melihat kami bertiga.

“Kenapa suasananya begini?”

Aku menunjuk kursi.

“Duduk.”

“Ayah sakit di mana?”

Ayahnya menatap lantai.

Aku menaruh beberapa lembar dokumen di meja.

Foto dirinya dengan Selvi.

Riwayat transaksi.

Bukti pembatalan tiket.

Dokumen pembayaran rumah.

Dia tidak menyentuh satu pun.

Wajahnya pucat.

“Aku bisa jelaskan.”

Kalimat paling klasik dari orang yang ketahuan berbohong.

Aku mengangguk.

“Silakan.”

Dia membuka mulut.

Menutupnya lagi.

Lalu menatap orang tuanya, seolah berharap ada yang membelanya.

Tidak ada.

Akhirnya dia mulai berbicara.

Katanya hubungan dengan Selvi hanya kesalahan lama.

Katanya anak itu baru diketahui sebagai darah dagingnya dua tahun lalu.

Katanya dia merasa bertanggung jawab.

Katanya dia takut mengatakan semuanya kepadaku.

Aku hampir percaya bahwa setidaknya ada sedikit penyesalan.

Sampai aku bertanya.

“Kalau cuma ingin bertanggung jawab, kenapa harus bohong soal Jepang?”

Dia terdiam.

“Kenapa orang tuamu ditinggalkan kepadaku?”

Diam.

“Kenapa uang kita dipakai membeli rumah untuk Selvi?”

Diam lagi.

“Kenapa apartemen ini mau dijual tanpa membicarakannya denganku?”

Wajahnya akhirnya kehilangan seluruh topeng.

“Kita suami istri. Semuanya milik bersama.”

Aku tersenyum.

“Benar. Karena itu semuanya harus dibicarakan bersama.”

Dia berdiri.

“Kamu terlalu membesar-besarkan.”

Aku menatapnya.

“Empat tahun.”

“Apa?”

“Kamu berencana menghilang selama empat tahun, menitipkan orang tuamu kepadaku, memakai uangku, lalu membangun keluarga lain. Dan menurutmu aku membesar-besarkan?”

Dia tidak menjawab.

Aku mengeluarkan satu amplop terakhir.

Surat dari pengacaraku.

“Aku sudah mengajukan proses perceraian.”

Ibu mertuaku terisak.

Suamiku langsung menatapku tidak percaya.

“Kamu tidak bisa melakukan ini.”

“Aku sudah melakukannya.”

“Apartemen ini?”

“Sedang diproses secara hukum. Semua bukti pembayaran sudah diserahkan.”

“Rekening?”

“Sudah dipisahkan.”

“Orang tuaku?”

Aku menatapnya lama.

Pertanyaan itulah yang akhirnya menunjukkan siapa dirinya.

Bahkan setelah semua terbongkar, hal pertama yang dia pikirkan masih tentang siapa yang akan mengambil alih tanggung jawabnya.

“Mereka orang tuamu.”

Suasana menjadi benar-benar sunyi.

Beberapa minggu kemudian dia pindah.

Kedua orang tuanya juga akhirnya kembali ke rumah mereka sendiri.

Anehnya, ibu mertuaku meminta maaf sebelum pergi.

Bukan permintaan maaf yang sempurna.

Bukan pula sesuatu yang bisa menghapus semua sikapnya.

Tetapi cukup jujur.

“Aku terlalu lama membela anakku hanya karena dia anakku.”

Aku tidak menjawab banyak.

Aku hanya berkata, “Semoga setelah ini Ibu tidak lagi membenarkan seseorang hanya karena takut kehilangan dia.”

Proses perceraian berjalan panjang.

Suamiku mencoba berbagai cara.

Memohon.

Menyalahkanku.

Mengatakan bahwa Selvi sudah memutuskan hubungan dengannya setelah mengetahui rumah yang dijanjikan ternyata bermasalah secara finansial.

Bagian itu tidak memberiku kepuasan seperti yang kubayangkan.

Justru terasa ironis.

Dia menghancurkan satu keluarga untuk membangun keluarga lain, lalu kehilangan keduanya karena fondasinya sejak awal adalah kebohongan.

Beberapa bulan setelah semuanya selesai, aku duduk sendirian di balkon apartemen.

Tempat itu akhirnya resmi menjadi milikku setelah penyelesaian aset.

Hujan turun persis seperti malam ketika semua sandiwara dimulai.

Namun kali ini aku tidak merasa terjebak.

Aku menerima satu pesan terakhir darinya.

“Aku menyesal. Kalau bisa mengulang waktu, aku akan jujur dari awal.”

Aku membacanya sekali.

Lalu menghapusnya.

Aku tidak pernah membalas.

Karena pada akhirnya aku memahami sesuatu.

Pengkhianatan memang bisa menghancurkan kepercayaan.

Tetapi hal paling berbahaya bukan saat seseorang membohongimu.

Melainkan saat kebohongan itu membuatmu mulai meragukan nilai dirimu sendiri.

Aku hampir menjadi perempuan yang menerima semuanya hanya demi disebut istri baik.

Hampir menjadi menantu yang mengorbankan seluruh hidup demi menghindari cap durhaka.

Hampir percaya bahwa menjaga rumah tangga berarti menanggung semua beban sendirian.

Untungnya, sebuah notifikasi bank muncul pada waktu yang tepat.

Orang-orang mungkin menganggapnya awal dari kehancuran pernikahanku.

Bagiku justru sebaliknya.

Itulah hari ketika hidupku akhirnya kembali menjadi milikku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang