Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan malam itu: hujan yang membasahi seluruh tubuhku atau kenyataan bahwa selama berbulan-bulan aku ternyata berdiri di pinggir sebuah hubungan yang seharusnya menjadi milikku sendiri.
Rangga masih mengikutiku beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti.
“Laras, jangan kekanak-kanakan.”

Aku menoleh.
Kalimat itu membuat semua rasa lelahku berubah menjadi dingin.
“Aku baru saja memenangkan perkara bernilai belasan miliar rupiah setelah bekerja hampir empat bulan. Kamu lupa. Tapi kamu ingat Maya mabuk perjalanan.”
Rangga membuka mulut, tetapi aku melanjutkan.
“Kamu tahu kopi kesukaannya. Kamu tahu dia gampang kedinginan. Kamu tahu rumahnya jauh. Kamu tahu kapan dia sedang stres. Tapi ulang tahunku bulan lalu kamu ingat setelah Maya mengingatkanmu.”
“Itu tidak berarti apa-apa.”
“Benar. Satu per satu mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi kalau dikumpulkan, semuanya berarti sesuatu.”
Wajah Rangga berubah.
Aku tidak menunggunya menjawab.
Aku memesan taksi daring dan pergi.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun, aku mematikan ponsel tanpa mengirim pesan selamat malam kepadanya.
Keesokan paginya, aku tiba di kantor pukul tujuh lewat dua puluh.
Kantor Hukum Adikara & Rekan masih sepi.
Aku masuk ke ruanganku, menyalakan komputer, lalu membuka folder perkara yang selama setahun terakhir kutangani bersama Maya.
Aku memeriksa semuanya.
Bukan karena cemburu.
Bukan pula karena dendam.
Aku hanya ingin berhenti melakukan satu kebiasaan buruk yang selama ini membuatku kelelahan: memperbaiki kesalahan Maya tanpa meninggalkan catatan.
Maya adalah sahabatku sejak kuliah.
Kami memulai karier hampir bersamaan. Ketika aku lebih dulu diterima di Adikara & Rekan, akulah yang merekomendasikannya enam bulan kemudian.
Ketika dia salah mengirim surat kepada klien, aku yang menghubungi klien dan mengaku ada kekeliruan dari tim.
Ketika dia terlambat menyusun memorandum, aku yang begadang menyelesaikannya.
Ketika dia salah menghitung tenggat pengajuan bukti tambahan, aku yang datang ke pengadilan pagi-pagi untuk menyelamatkan berkas.
Aku selalu berpikir begitulah persahabatan bekerja.
Kami saling menjaga.
Masalahnya, entah sejak kapan, hanya aku yang menjaga.
Pukul delapan lewat lima belas, Maya masuk.
Dia berhenti di depan meja kerjaku.
Matanya sembap seperti habis menangis.
“Bisa bicara?”
“Kalau soal pekerjaan, silakan.”
Dia menarik kursi.
“Laras, semalam aku tidak tidur.”
Aku tetap menatap layar.
“Aku sudah bilang, kalau soal pekerjaan silakan.”
Dia terdiam cukup lama.
“Aku tidak pernah berniat merebut Rangga.”
Tanganku berhenti di atas mouse.
Aku akhirnya menatapnya.
“Bagus. Karena mulai sekarang dia bukan urusanku.”
“Jangan seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Kita tujuh tahun berteman.”
Aku tersenyum tipis.
“Tujuh tahun itu cukup lama untuk belajar batas.”
Maya menggigit bibir.
“Rangga telepon aku semalam.”
Aku sudah menduganya, tetapi mendengar kalimat itu secara langsung masih terasa seperti sesuatu yang menusuk pelan.
“Untuk apa?”
“Dia marah. Katanya kamu terlalu sensitif.”
“Lalu?”
“Aku bilang dia harus memberimu waktu.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah menjadi penasihat hubungan kami.”
Wajahnya memucat.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
Aku membuka satu folder dan mengirim email.
Beberapa detik kemudian, komputer Maya berbunyi.
“Apa ini?”
“Daftar pekerjaanmu untuk perkara PT Lestari Mineral. Semua revisi yang sebelumnya kukerjakan untukmu sekarang kukembalikan.”
Dia membaca email itu.
Wajahnya perlahan berubah.
“Laras, tenggatnya sore ini.”
“Aku tahu.”
“Memorandum ini belum selesai.”
“Itu tanggung jawabmu.”
Biasanya, pada titik seperti itu, aku akan menyerah dan membantunya.
Hari itu aku tidak melakukannya.
Dan ternyata keputusan kecil itu menjadi awal runtuhnya semua kebohongan.
Tiga hari berikutnya, Maya melakukan lebih banyak kesalahan daripada yang pernah kulihat.
Satu surat dikembalikan partner karena argumentasinya tidak sesuai fakta perkara.
Satu lampiran bukti hilang dari daftar.
Satu analisis perjanjian mengutip pasal yang sudah tidak relevan.
Partner kami, Pak Adrian, mulai memperhatikan.
Jumat sore dia memanggilku ke ruangannya.
“Laras, apa ada masalah di timmu?”
“Tidak ada masalah personal yang memengaruhi pekerjaanku, Pak.”
“Kinerja Maya turun drastis.”
Aku diam.
Pak Adrian menyandarkan tubuh.
“Selama ini siapa yang memeriksa pekerjaannya?”
“Saya.”
“Seberapa banyak?”
Aku memilih kata dengan hati-hati.
“Cukup banyak.”
Tatapannya berubah.
“Berarti beberapa dokumen atas nama Maya sebenarnya sebagian besar pekerjaanmu?”
Aku tidak menjawab.
Diamku ternyata sudah cukup.
Pak Adrian menghela napas panjang.
“Mulai hari ini jangan memperbaiki apa pun tanpa komentar tertulis. Semua revisi pakai track changes.”
“Baik.”
Aku keluar dari ruangan dengan perasaan aneh.
Bukan lega.
Lebih seperti seseorang yang baru sadar bahwa selama ini ia mengangkat beban yang sebenarnya bukan miliknya.
Seminggu kemudian, pengumuman promosi internal keluar.
Ada satu posisi senior associate yang diperebutkan oleh empat orang, termasuk aku dan Maya.
Aku sudah menduga namaku berada di daftar teratas.
Selama dua tahun terakhir aku menangani beberapa klien besar dan menghasilkan billing tertinggi kedua di divisi litigasi.
Namun pada Senin pagi, Pak Adrian memanggilku.
Di dalam ruangannya sudah ada kepala HR.
Jantungku langsung tidak nyaman.
Pak Adrian mendorong sebuah surat ke arahku.
“Manajemen memutuskan menunjuk Maya sebagai senior associate sementara.”
Aku menatap surat itu.
Beberapa detik aku benar-benar tidak memahami apa yang kubaca.
“Boleh saya tahu alasannya?”
Kepala HR menjawab.
“Evaluasi kepemimpinan tim.”
Aku tertawa kecil karena tidak percaya.
“Kepemimpinan?”
Pak Adrian tampak tidak nyaman.
“Ada masukan bahwa beberapa bulan terakhir kamu sulit bekerja sama, terlalu dominan dalam pembagian tugas, dan belakangan ada konflik personal dengan anggota tim.”
Aku langsung tahu.
Maya.
“Siapa yang memberikan masukan?”
“Kami tidak bisa membuka identitas pemberi evaluasi.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Hari itu Maya tidak mendatangiku.
Dia hanya mengirim pesan sore hari.
Aku harap kamu tidak menganggap ini pribadi. Aku juga tidak tahu keputusan manajemen sampai pagi tadi.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Lalu menghapusnya.
Dua hari kemudian, aku mengetahui Rangga dan Maya makan malam bersama.
Bukan dari mereka.
Seorang teman lama mengirim foto karena mengira aku juga akan datang.
Mereka duduk berhadapan di sebuah restoran di Menteng.
Di atas meja ada sebotol anggur tanpa alkohol, makanan untuk dua orang, dan tangan Rangga berada sangat dekat dengan tangan Maya.
Aku tidak menangis.
Anehnya, rasa sakitku sudah melewati tahap itu.
Aku hanya memblokir nomor Rangga.
Masalah sebenarnya muncul seminggu kemudian.
Kantor kami mendapat pemberitahuan audit internal.
Salah satu klien besar mempertanyakan tagihan jasa hukum selama enam bulan terakhir. Beberapa jam kerja yang tercatat tidak sesuai dokumen yang dihasilkan.
Seluruh pengacara diminta menyerahkan catatan pekerjaan, email, riwayat revisi dokumen, dan timesheet.
Maya datang ke mejaku menjelang makan siang.
Wajahnya pucat.
“Laras.”
Aku tetap mengetik.
“Apa?”
“Audit ini cuma formalitas, kan?”
“Tidak tahu.”
“Dokumen lama kita banyak yang kamu revisi.”
“Benar.”
“Tapi file final biasanya aku yang kirim.”
Aku berhenti mengetik.
“Lalu?”
Dia menelan ludah.
“Kalau mereka melihat metadata, bisa kelihatan kamu yang mengerjakan.”
“Memang aku yang mengerjakan.”
Maya semakin gelisah.
“Maksudku, pembagian kerjanya selama ini fleksibel.”
Aku menatapnya.
“Tulis saja sesuai kenyataan.”
Dia berdiri beberapa detik, lalu pergi.
Sore itu audit menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Bukan sekadar persoalan siapa yang menyusun dokumen.
Ada tagihan hampir dua ratus juta rupiah yang dicatat atas nama Maya untuk pekerjaan yang sebenarnya dilakukan oleh tiga orang lain.
Lebih buruk lagi, beberapa jam kerja yang diklaim Maya tercatat pada waktu dia bahkan tidak berada di kantor.
Salah satunya malam saat dia mengaku kepada Rangga bekerja sampai pukul tiga pagi.
Data akses gedung menunjukkan Maya keluar pukul sembilan malam.
Komputernya tidak pernah tersambung lagi ke server setelah pukul sembilan lewat tujuh menit.
File yang dikirim ke partner pukul dua lewat empat puluh pagi dibuat dan disimpan dari akunku.
Pak Adrian memanggil kami berdua.
Di meja rapat terdapat beberapa lembar printout.
“Jelaskan.”
Maya menatapku cepat.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Pak Adrian menunjuk salah satu dokumen.
“Laras, kamu membuat memorandum ini?”
“Ya.”
“Atas instruksi siapa?”
“Maya meminta bantuan karena katanya kurang sehat.”
“Kenapa jam kerjanya seluruhnya dicatat atas nama Maya?”
“Saya tidak tahu.”
Wajah Maya langsung putih.
“Pak, itu hanya salah input.”
Auditor internal membuka file berikutnya.
“Ada tujuh belas kejadian serupa.”
Ruangan langsung sunyi.
Maya mulai menangis.
“Saya bisa menjelaskan.”
Namun pemeriksaan belum selesai.
Dari email kantor ditemukan beberapa percakapan Maya dengan kepala HR.
Di sana Maya berkali-kali menyebut aku emosional, sulit memimpin tim, dan berisiko terhadap hubungan dengan klien.
Itulah evaluasi yang membuat promosi jatuh ke tangannya.
Lalu ditemukan sesuatu yang membuat Pak Adrian benar-benar marah.
Satu proposal tender jasa hukum untuk sebuah perusahaan properti telah dikirim Maya menggunakan materi presentasi yang kususun.
Nama penyusun asli dihapus.
Proposal itu kemudian dipakai sebagai salah satu bukti pencapaian Maya dalam proses promosi.
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Maya tidak mampu menatapku kembali.
Pemeriksaan dilanjutkan dua hari.
Pada hari kedua, namaku dibersihkan dari semua tuduhan mengenai konflik tim.
Promosi Maya dibekukan.
Namun kejutan terbesar datang dari ponsel kantor yang diberikan perusahaan kepada beberapa staf.
Karena perangkat itu milik perusahaan, bagian IT memeriksa komunikasi terkait dokumen klien.
Di sana terdapat percakapan antara Maya dan Rangga.
Rangga memang bukan pegawai kantor kami, tetapi bekerja sebagai manajer keuangan di salah satu perusahaan yang menjadi calon klien.
Aku hanya mengetahui sebagian isi percakapan itu dari Pak Adrian.
Ternyata Rangga telah beberapa kali memberikan informasi internal mengenai proses tender agar Maya bisa menyesuaikan proposal.
Sebagai imbalannya, Maya berjanji jika kantor kami memenangkan tender, Rangga akan menjadi pihak yang mengelola koordinasi pembayaran.
Itu sudah cukup serius.
Tetapi ada satu percakapan yang akhirnya menjelaskan semuanya.
Tiga bulan sebelum kami putus, Maya mengirim pesan kepada Rangga.
Kalau Laras terus naik seperti ini, posisi senior pasti dia dapat. Aku akan selamanya jadi bayangannya.
Rangga menjawab.
Kamu tidak lebih buruk dari dia. Kamu cuma terlalu bergantung padanya.
Maya membalas.
Karena dia selalu mengambil alih semuanya.
Padahal selama bertahun-tahun dia sendiri yang datang kepadaku setiap kali pekerjaannya bermasalah.
Yang paling menyakitkan bukan percakapan itu.
Melainkan pesan setelahnya.
Rangga menulis.
Kalau kamu dapat posisi itu, mungkin kita tidak perlu lagi berpura-pura menjaga jarak.
Aku membaca salinan percakapan tersebut di ruang Pak Adrian.
Tanganku dingin.
“Mereka sudah bersama selama itu?”
Pak Adrian tidak menjawab langsung.
“Ada indikasi hubungan pribadi sebelum kamu putus.”
Aku menutup dokumen.
Ternyata hari saat aku turun dari mobil bukan hari aku kehilangan kekasih dan sahabat.
Hari itu hanya hari ketika aku akhirnya berhenti menjadi orang terakhir yang mengetahui bahwa keduanya sudah meninggalkanku.
Maya diberhentikan setelah pemeriksaan etik.
Perusahaan Rangga juga melakukan investigasi sendiri dan menonaktifkannya karena dugaan pelanggaran kerahasiaan proses tender.
Dua minggu kemudian Rangga menungguku di lobi apartemen.
Aku hampir melewatinya.
“Laras.”
Aku berhenti.
Wajahnya terlihat jauh lebih kurus.
“Aku cuma ingin menjelaskan.”
“Tidak perlu.”
“Aku memang dekat dengan Maya, tapi semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku hampir tertawa.
“Ada kalimat paling lucu daripada itu?”
“Dia sedang tertekan soal karier. Aku cuma mendukungnya.”
“Dengan berbohong kepadaku?”
Rangga terdiam.
“Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”
“Kamu tidak perlu berniat. Kamu tetap melakukannya.”
Dia menatap lantai.
“Aku kehilangan pekerjaanku.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
“Maya juga.”
“Aku tahu.”
Rangga mengangkat wajah.
“Kalau malam itu kamu tidak memutuskan hubungan, mungkin semua ini tidak akan terjadi.”
Untuk sesaat aku benar-benar terkejut.
Lalu aku memahami sesuatu.
Bahkan sekarang, dia masih mencari orang lain untuk menanggung akibat pilihannya.
Aku tersenyum.
“Tidak, Rangga. Kalau malam itu aku tidak berhenti menutupi Maya, semua ini justru akan terus terjadi.”
Aku meninggalkannya di lobi.
Tiga bulan kemudian, kantor mengumumkan hasil evaluasi baru.
Aku dipromosikan menjadi senior associate.
Namun kejutan sebenarnya datang ketika Pak Adrian menyerahkan satu folder kepadaku.
“Klien properti yang tendernya bermasalah akhirnya memilih kantor kita setelah proses diulang.”
Aku membuka halaman pertama.
Di bagian penanggung jawab perkara tertulis namaku.
Pak Adrian tersenyum.
“Mereka membaca hasil audit. Mereka justru meminta kamu memimpin tim.”
Aku memandang namaku beberapa lama.
Dulu aku berpikir kebaikan berarti selalu menolong orang yang kita sayangi, menutupi kesalahan mereka, dan memastikan mereka tidak jatuh.
Ternyata aku salah.
Kadang-kadang, terus menyelamatkan seseorang justru membuatnya merasa tidak pernah perlu belajar berdiri sendiri.
Malam itu aku pulang sendirian.
Hujan kembali turun di Jakarta, hampir sama derasnya seperti malam ketika aku meninggalkan mobil Rangga.
Sebuah taksi berhenti di depan gedung.
Aku membuka pintu belakang, lalu hampir tertawa ketika sopir bertanya,
“Mau duduk depan saja, Mbak? Biar tidak pusing.”
Aku menggeleng.
“Di belakang saja, Pak.”
Aku melihat lampu kota bergerak di balik kaca yang dipenuhi titik hujan.
Untuk pertama kalinya, kursi mana yang kududuki tidak lagi penting.
Karena akhirnya aku tahu satu hal.
Tempatku tidak pernah ditentukan oleh siapa yang mempersilakanku duduk di sampingnya.
Tempatku adalah tempat yang kubangun sendiri, dengan namaku sendiri, tanpa harus mengecilkan diri agar orang lain merasa lebih besar.
