Malam pertama mereka di vila tidak pernah benar-benar tenang bagi Tiara.
Bukan karena udara pegunungan yang terlalu dingin, bukan pula karena suara angin yang terus menghantam kaca jendela kamar, melainkan karena satu pertanyaan yang sejak siang berputar-putar di kepalanya.
Apa yang sebenarnya disembunyikan Arsen?
Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin banyak hal kecil yang terasa janggal. Cara para staf vila memperlakukan Arsen tidak seperti memperlakukan tamu biasa. Mereka terlalu sigap, terlalu hormat, bahkan beberapa kali Tiara memergoki kepala pelayan menundukkan badan lebih dalam setiap kali berbicara dengan suaminya.
Belum lagi vila itu sendiri.

Bangunannya terlalu mewah untuk sekadar tempat berbulan madu. Berdiri di atas lahan luas dengan kolam renang berpemanas, taman pribadi, ruang kerja berlapis kayu mahal, dan penjagaan di gerbang depan.
Tiara sempat bertanya kepada seorang pelayan saat Arsen sedang menerima telepon.
“Vila ini punya siapa, Mbak?”
Pelayan itu tampak terkejut.
“Bukannya Ibu sudah tahu?”
Tiara mengernyit. “Tahu apa?”
Namun sebelum perempuan itu sempat menjawab, suara Arsen terdengar dari belakang.
“Tiara.”
Tiara menoleh cepat.
Arsen berada beberapa meter darinya dengan kursi roda, menatap sang pelayan tajam. Anehnya, perempuan itu langsung menunduk.
“Saya permisi, Bu.”
Tiara memandang Arsen penuh curiga.
“Kok dia jadi takut begitu?”
“Dia memang gampang gugup,” jawab Arsen santai.
“Vila ini punya siapa?”
Arsen terdiam sesaat.
Lalu sudut bibirnya terangkat.
“Besok kamu akan tahu.”
Jawaban itu bukannya membuat Tiara lega, malah membuat rasa penasarannya semakin menjadi.
Malamnya, setelah makan malam, Tiara masuk ke kamar lebih dulu. Ia berdiri cukup lama di depan ranjang besar yang dihias bunga putih. Wajahnya langsung panas.
Sejak menikah kemarin, ia belum benar-benar memikirkan bagaimana kehidupan mereka sebagai suami istri akan berlangsung. Apalagi kondisi Arsen yang selama ini diyakininya lumpuh permanen.
Saat pintu terbuka, Tiara refleks menoleh.
Arsen masuk bersama kursi rodanya.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Takut?”
Tiara cepat-cepat menggeleng.
Arsen tertawa kecil. “Wajah kamu gampang dibaca.”
Tiara pura-pura sibuk merapikan bantal.
“Mas tidur di ranjang saja. Aku bisa tidur di sofa.”
Arsen menatap sofa panjang di dekat jendela.
“Kenapa kamu yang pindah?”
“Karena Mas lebih butuh tempat nyaman.”
“Kalau aku bilang kita tidur di ranjang yang sama?”
Tangan Tiara langsung berhenti.
Wajahnya memerah sampai ke telinga.
Arsen terkekeh melihat reaksinya.
“Aku cuma bercanda.”
Tiara memukul pelan bantal di tangannya ke arah bahu Arsen. “Mas Arsen!”
Tawa Arsen pecah untuk pertama kalinya sejak mereka menikah.
Dan entah kenapa, suara tawa itu membuat hati Tiara ikut menghangat.
Pada akhirnya, Tiara tidur di ranjang sementara Arsen memilih sofa. Sebelum memejamkan mata, Tiara sempat menatap siluet suaminya dalam gelap.
Pria itu ternyata tidak sedingin yang ia bayangkan.
Pagi berikutnya, Tiara terbangun saat matahari baru muncul di balik pegunungan.
Namun sisi sofa sudah kosong.
“Mas Arsen?”
Tidak ada jawaban.
Tiara keluar kamar dan bertanya kepada staf. Kepala pelayan mengatakan Arsen sedang berada di taman belakang.
Tiara berjalan ke sana.
Begitu sampai di teras, langkahnya terhenti.
Di kejauhan, ia melihat Arsen berdiri.
Berdiri.
Bukan duduk di kursi roda.
Bukan ditopang siapa pun.
Arsen berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Tiara merasa seluruh dunia berhenti bergerak.
Arsen sedang membelakanginya, mengenakan kaus hitam dan celana olahraga, lalu perlahan berjalan beberapa langkah di atas rumput.
“Mas…”
Suara Tiara terdengar nyaris seperti bisikan.
Arsen membeku.
Ia menoleh perlahan.
Wajah Tiara sudah pucat.
“Kamu… bisa jalan?”
Tidak ada lagi gunanya menyembunyikan apa pun.
Arsen menghela napas, lalu berjalan mendekatinya.
Tiara mundur satu langkah.
“Mas bisa jalan?”
“Tiara, dengarkan dulu.”
“Jadi selama ini Mas bohong?”
“Aku akan jelaskan.”
Air mata Tiara mulai memenuhi mata.
Bukan karena Arsen bisa berjalan.
Justru karena ia merasa dibohongi.
“Semua orang bilang Mas lumpuh. Nadia menghina Mas karena itu. Mama juga. Dan aku…”
Tiara menahan napas.
“Aku bahkan membela Mas karena kupikir mereka benar-benar mempermalukan seseorang yang sedang sakit.”
Arsen menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.
“Kamu memang berhak marah.”
“Kenapa?”
Arsen terdiam beberapa detik.
“Tiga tahun lalu aku mengalami kecelakaan mobil. Tulang belakangku cedera cukup parah. Dokter bilang kemungkinan aku berjalan lagi sangat kecil.”
Tiara mendengarkan.
“Selama hampir dua tahun aku benar-benar tidak bisa berjalan. Tapi rehabilitasi berhasil. Beberapa bulan terakhir aku sudah bisa berdiri dan berjalan, walau tidak bisa terlalu lama.”
“Kenapa tetap pakai kursi roda?”
“Karena aku belum ingin publik tahu.”
“Publik?”
Arsen menatapnya dalam.
“Itu bagian kedua yang harus aku jelaskan.”
Ia mengajak Tiara masuk ke ruang kerja vila.
Di sana, Arsen membuka laptop dan menunjukkan sebuah situs perusahaan besar.
Nama perusahaan itu membuat Tiara tertegun.
Arganta Group.
Salah satu perusahaan properti dan perhotelan terbesar di Indonesia.
Tiara pernah membaca tentang grup bisnis itu berkali-kali.
Kemudian Arsen membuka halaman struktur direksi.
Foto seorang pria muncul.
Arsen Mahardika.
Founder dan CEO Arganta Group.
Tiara membeku.
“Ini… Mas?”
Arsen mengangguk.
Tiara menatap layar lalu menatap Arsen lagi.
“Kamu CEO Arganta?”
“Ya.”
“Vila ini?”
“Milik perusahaan.”
“Rumah kemarin?”
“Milik keluargaku.”
“Mas kawin satu miliar itu…”
“Bukan sesuatu yang memberatkan bagiku.”
Tiara mendadak terduduk.
Semua potongan keanehan yang ia rasakan sejak kemarin akhirnya tersusun.
“Kenapa menyembunyikan semuanya?”
Arsen tidak langsung menjawab.
“Setelah kecelakaan, aku kehilangan banyak hal. Rekan bisnis yang dulu menjilat mulai meremehkanku. Seorang perempuan yang hampir menikah denganku pergi setelah dokter mengatakan aku mungkin lumpuh selamanya.”
Rahang Arsen mengeras.
“Sejak itu aku ingin tahu siapa yang benar-benar melihatku sebagai manusia, bukan sebagai uang atau jabatan.”
Tiara mengangkat wajah.
“Jadi pernikahan kita juga ujian?”
Pertanyaan itu menusuk.
Arsen segera menjawab, “Awalnya, mungkin iya.”
Wajah Tiara berubah.
“Tapi bukan lagi.”
Arsen berlutut perlahan di hadapannya.
Gerakannya belum sempurna, tetapi cukup membuat Tiara terdiam.
“Aku memilih menerima perjodohan ini karena ingin tahu seperti apa kamu. Aku sudah mendengar cerita bahwa keluarga kamu lebih menyayangi Nadia. Aku juga tahu kamu dipaksa menggantikan dia setelah Nadia menolak menikah denganku.”
Tiara menahan napas.
“Tapi sejak kamu berdiri di sampingku kemarin, saat semua orang mempermalukanku, semuanya berubah.”
Arsen menatap lurus ke matanya.
“Kamu bahkan tidak tahu siapa aku. Kamu tidak tahu aku bisa berjalan. Kamu tidak tahu berapa banyak uang yang kumiliki. Tapi kamu tetap membelaku.”
Air mata Tiara akhirnya jatuh.
“Aku nggak suka dibohongi, Mas.”
“Aku tahu.”
“Aku juga bukan perempuan hebat seperti yang Mas pikir.”
“Aku tidak butuh perempuan hebat.”
Arsen tersenyum tipis.
“Aku cuma butuh seseorang yang tidak menjadikanku merasa rendah karena kekuranganku.”
Tiara terdiam lama.
Ia belum sepenuhnya bisa memaafkan kebohongan Arsen.
Namun kemarahannya sedikit mereda.
Siang itu, mereka meninggalkan vila lebih cepat dari rencana.
Arsen bersikeras bahwa masalah mas kawin harus diselesaikan segera.
Tiara sempat menolak, tetapi Arsen hanya berkata satu kalimat.
“Kalau hari ini kamu membiarkan mereka mengambil cincinmu, besok mereka akan mengambil sesuatu yang lebih besar.”
Sekitar pukul tiga sore, mobil hitam panjang berhenti di depan rumah keluarga Tiara.
Sarah yang sedang duduk di ruang tamu bersama Nadia langsung berdiri ketika mendengar suara kendaraan.
Nadia berlari ke jendela.
“Ma, kayaknya Tiara pulang.”
Sarah tersenyum sinis.
“Paling mau minta barang.”
Namun senyum mereka lenyap ketika melihat siapa yang turun dari mobil.
Arsen.
Berdiri tegak.
Tiara berjalan di sampingnya.
Nadia membuka pintu dan membeku di tempat.
“Mas…”
Wajahnya seketika pucat.
“Kamu… bisa jalan?”
Arsen tidak menjawab.
Ia masuk bersama Tiara.
Di belakang mereka, dua pria berpakaian rapi mengikuti.
Sarah berdiri dengan ekspresi panik.
“Arsen, ini bagaimana…”
“Aku datang mengambil barang milik istriku.”
Nada suara Arsen tenang.
Tapi cukup membuat seluruh ruangan terasa dingin.
Sarah tertawa kaku.
“Barang apa? Semua yang kemarin itu kan cuma titipan.”
“Titipan?”
Arsen melihat cincin ruby yang sedang melingkar di jari Sarah.
Sarah cepat-cepat menyembunyikan tangannya.
Arsen tersenyum tipis.
“Cincin itu.”
Wajah Sarah berubah.
Nadia menyela.
“Tiara kan anak keluarga ini. Apa salahnya berbagi?”
Tiara yang biasanya diam tiba-tiba menatap Nadia.
“Itu bukan berbagi kalau kalian mengambilnya tanpa izin.”
Nadia tertegun.
Itu pertama kalinya Tiara membalasnya tanpa takut.
“Sejak kapan kamu berani bicara begitu?”
“Sejak aku sadar diam tidak pernah membuat kalian berhenti.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arsen terlihat puas.
Sarah akhirnya melepas cincin itu dan meletakkannya di meja.
Namun Arsen belum selesai.
“Uang dolar.”
Nadia menggertakkan gigi.
“Sudah dipakai sebagian.”
“Untuk apa?”
Nadia tidak menjawab.
Salah satu pria yang datang bersama Arsen membuka tablet.
“Berdasarkan unggahan media sosial Saudari Nadia pagi tadi, uang tersebut digunakan sebagai uang muka mobil baru.”
Nadia membelalak.
“Kalian nguntit aku?”
“Tidak perlu.”
Pria itu menjawab tenang.
“Anda mengunggah semuanya sendiri.”
Tiara hampir ingin tertawa jika situasinya tidak sedang serius.
Sarah mulai kehilangan kesabaran.
“Kalian jangan mempermalukan keluarga sendiri cuma karena uang!”
Arsen akhirnya menatap Sarah.
“Justru karena keluarga, seharusnya Anda malu mengambil milik anak Anda sendiri.”
Sarah terdiam.
Arsen kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Ada satu hal lagi.”
Ia meletakkan sejumlah dokumen di meja.
Sarah melihatnya lalu wajahnya langsung berubah.
Tiara ikut mendekat.
“Apa ini?”
Arsen menyerahkan dokumen itu kepadanya.
Tiara membacanya perlahan.
Itu adalah dokumen kepemilikan rumah yang selama ini ditinggali Sarah dan Nadia.
Namanya tercantum sebagai pemilik sah.
Tiara sampai kehilangan suara.
“Mas… ini apa?”
Arsen menatap Sarah.
“Katakan sendiri.”
Sarah terduduk.
Nadia menatap ibunya dengan bingung.
“Ma?”
Air muka Sarah semakin pucat.
Akhirnya ia mengaku.
Rumah itu ternyata milik ibu kandung Tiara.
Sebelum meninggal, ibu Tiara mewariskannya kepada putri satu-satunya. Namun karena Tiara masih kecil, ayahnya menjadi wali sementara.
Setelah ayah Tiara meninggal, Sarah tidak pernah memberitahu Tiara tentang hak tersebut.
Selama bertahun-tahun, Tiara hidup sebagai tamu di rumahnya sendiri.
“Aku cuma menjaga rumah itu,” kata Sarah terbata.
Tiara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Menjaga?”
Suara Tiara bergetar.
“Selama ini Mama bilang aku cuma numpang.”
Sarah tidak mampu menjawab.
Tiara mengingat semua malam ketika Sarah menyuruhnya tidur di kamar kecil belakang. Semua hinaan Nadia. Semua ucapan bahwa ia tidak punya apa-apa.
Ternyata bahkan atap tempat mereka tinggal adalah warisan ibunya.
Arsen menggenggam tangan Tiara.
“Kamu mau bagaimana?”
Tiara menatap Sarah dan Nadia.
Untuk sesaat, ada begitu banyak kemarahan di dadanya.
Namun kemudian ia menarik napas panjang.
“Kalian boleh tinggal di sini.”
Nadia terkejut.
Sarah menatap Tiara tidak percaya.
“Tapi mulai hari ini, berhenti memperlakukan aku seolah aku tidak punya harga diri.”
Tiara meletakkan dokumen itu kembali.
“Aku tidak akan mengusir kalian. Bukan karena kalian benar, tapi karena aku tidak mau berubah menjadi orang yang sama seperti kalian.”
Mata Sarah perlahan berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu menundukkan kepala di hadapan Tiara.
Arsen tidak mengatakan apa pun sampai mereka kembali ke mobil.
Begitu pintu tertutup, ia menatap istrinya.
“Kamu benar-benar membiarkan mereka tinggal?”
Tiara mengangguk.
“Mereka tetap keluarga ayahku.”
Arsen tersenyum.
“Kamu terlalu baik.”
“Mas sendiri terlalu banyak rahasia.”
Arsen tertawa kecil.
“Berarti kita impas?”
Tiara melotot.
“Belum.”
“Jadi aku harus bagaimana supaya dimaafkan?”
Tiara menoleh ke jendela, menyembunyikan senyum.
“Pikir sendiri.”
Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah itu.
Beberapa menit kemudian, Arsen meraih tangan Tiara.
Kali ini Tiara tidak menariknya.
Namun perjalanan mereka ternyata baru benar-benar dimulai.
Saat mobil berhenti di lampu merah, ponsel Arsen berdering.
Ia membaca pesan yang masuk.
Wajahnya mendadak serius.
Tiara memperhatikannya.
“Ada apa?”
Arsen menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menunjukkan pesan itu kepada Tiara.
Pesan tersebut datang dari rumah sakit tempat Arsen menjalani rehabilitasi.
Dokter meminta Arsen datang secepatnya karena hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan masalah baru pada saraf tulang belakangnya.
Tiara menatap Arsen.
“Kondisi Mas memburuk?”
Arsen tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak semua rahasianya terbongkar, wajah pria itu benar-benar menunjukkan ketakutan.
Tiara langsung menggenggam tangannya lebih erat.
Arsen menoleh.
“Kamu nggak marah lagi?”
“Aku masih marah.”
Tiara mengusap air mata yang tanpa sadar jatuh di pipinya.
“Tapi aku tetap istri Mas.”
Arsen menatap perempuan di sampingnya lama sekali.
Hari itu ia akhirnya mengerti.
Selama bertahun-tahun ia menggunakan kursi roda untuk menguji siapa yang akan bertahan ketika dirinya terlihat lemah.
Namun pada akhirnya, justru ketika ia mengetahui mungkin saja suatu hari ia benar-benar kembali kehilangan kemampuan berjalan, ia menemukan seseorang yang tidak membutuhkan kebohongan, kekayaan, ataupun kesempurnaannya untuk tetap tinggal.
Tiara menggenggam tangannya semakin erat saat mobil berbelok menuju rumah sakit.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen tidak lagi takut menghadapi kemungkinan terburuk.
Karena kali ini, apa pun yang terjadi pada kedua kakinya, ia tahu ada seseorang yang tidak akan meninggalkannya hanya karena ia tidak mampu berdiri.
