AYAH KONGLEMERAT TEGA MENGORBANKAN ARWAH SAYA DEMI ANAK ANGKATNYA, TANPA TAHU BAHWA ARWAH YANG DISIKSA ITU ADALAH PUTRI KANDUNGNYA SENDIRI!

Air mata Pak Surya jatuh tepat ketika sesuatu di dalam ingatan saya pecah seperti bendungan yang selama bertahun tahun menahan banjir.

Saya melihat taman bermain.

Balon merah.

Sebuah pusat perbelanjaan yang ramai.

Lalu tangan besar menggenggam tangan kecil saya.

Jangan ke mana mana, Kirana. Ayah cuma pergi sebentar.

Kirana.

Nama itu mengguncang seluruh wujud saya.

Saya menatap Pak Surya dengan tubuh gemetar.

Ayah.

Potongan kenangan berikutnya datang begitu cepat.

Saya berusia sembilan tahun. Saya duduk di bahu seorang pria sambil tertawa. Pria itu berlari mengelilingi ruang keluarga sementara seorang perempuan memarahi kami karena hampir menjatuhkan vas bunga.

Pria itu adalah Surya Adinata.

Ayah saya.

Saya membuka mulut, tetapi suara yang keluar hanya berupa isakan.

Nama saya Kirana.

Pak Surya menatap saya.

Apa?

Nama saya Kirana Adinata.

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Bella yang sejak tadi berdiri di sampingnya mendadak menjatuhkan mangkuk kecil dari tangannya.

Tidak mungkin, katanya cepat.

Pak Surya seperti tidak mendengarnya.

Dia maju selangkah mendekati lingkaran ritual.

Kamu bilang siapa namamu?

Kirana.

Saya menatap matanya.

Kirana Adinata.

Putri Surya Adinata.

Ruangan mendadak sunyi.

Nyala lilin bergetar meskipun semua jendela tertutup.

Pak Surya menatap wajah saya lama sekali. Tangannya perlahan terangkat seakan ingin menyentuh saya, tetapi berhenti sebelum melewati batas lingkaran.

Kirana punya tanda lahir kecil di belakang telinga kiri.

Saya menyibakkan rambut arwah saya.

Ada bayangan tanda kecil di sana.

Lutut Pak Surya langsung melemas.

Namun Bella tiba tiba berteriak.

Ayah, jangan percaya!

Dia menunjuk saya.

Dia arwah. Dia pasti membaca pikiran Ayah. Dukun sendiri bilang arwah bisa menipu manusia.

Pak Surya menoleh kepada dukun.

Benarkah?

Dukun itu tidak segera menjawab.

Wajahnya justru terlihat semakin tegang.

Pak Surya, katanya akhirnya, saya menyarankan ritual dihentikan.

Kenapa?

Ada sesuatu yang tidak beres.

Bella langsung menyela.

Tadi katanya harus selesai sebelum tengah malam!

Dukun menatapnya tajam.

Saya tidak sedang berbicara dengan kamu.

Bella terdiam.

Untuk pertama kalinya saya melihat kepanikan nyata di wajahnya.

Pak Surya kembali menatap saya.

Kalau kamu benar Kirana, jawab satu hal.

Saat kecil, apa panggilanmu untukku?

Saya mencoba mengingat.

Gelap.

Kemudian muncul sebuah ruang makan, kue ulang tahun, dan Pak Surya dengan wajah penuh krim.

Saya tersenyum sambil menangis.

Kapten Surya.

Pak Surya membeku.

Itu panggilan rahasia kami.

Dulu Ayah bilang Ayah kapten pesawat yang akan membawaku melihat seluruh dunia.

Bibir Pak Surya bergetar.

Tidak ada orang lain yang tahu.

Saya melanjutkan.

Di ulang tahunku yang kedelapan, aku meminta Ayah membawaku melihat salju. Ayah bilang setelah pekerjaanku selesai. Aku marah dan menyembunyikan kunci mobil Ayah di dalam pot tanaman.

Cukup.

Pak Surya menutup mulutnya.

Air matanya jatuh semakin deras.

Kirana.

Ia melangkah mendekati saya.

Anakku.

Bella langsung menarik lengannya.

Ayah!

Lepaskan.

Suara Pak Surya berubah.

Bella terkejut.

Ayah percaya arwah ini dibanding aku?

Pak Surya tidak menjawab.

Dia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar dan menghubungi sekretarisnya.

Bawa jasad anak itu ke rumah sakit terbaik. Hubungi polisi. Lakukan pemeriksaan identitas. Saya ingin hasilnya secepat mungkin.

Bella semakin pucat.

Tidak perlu sejauh itu, Ayah.

Kenapa tidak?

Karena ritualnya bisa gagal.

Pak Surya menatapnya lama.

Atau karena kamu takut hasil pemeriksaannya keluar?

Bella mundur.

Saya tidak mengerti maksud Ayah.

Dukun tiba tiba berdiri.

Pak Surya, lihat lilin ketujuh di sebelah kanan.

Semua orang menoleh.

Api lilin itu berubah sangat kecil.

Dukun mengambil sebuah benang merah dari altar, mengikatkannya pada sebuah benda milik Pak Surya, kemudian mengarahkan ujung lainnya ke arah saya.

Benang itu bergerak sendiri.

Perlahan.

Lalu menunjuk lurus ke arah saya.

Dukun menarik napas panjang.

Ikatan darah.

Pak Surya memejamkan mata.

Bella berteriak.

Tipuan!

Cukup!

Bentakan Pak Surya membuatnya terdiam.

Pria yang beberapa menit lalu memanggil saya arwah kotor kini berdiri di depan lingkaran dengan wajah hancur.

Kirana, katanya lirih. Kalau benar kamu anak Ayah, kenapa kamu bisa menjadi seperti ini?

Pertanyaan itu kembali membuka bagian paling gelap dari ingatan saya.

Sepuluh tahun lalu.

Hari ketika saya hilang.

Pak Surya membawa saya menghadiri pembukaan salah satu pusat perbelanjaan miliknya di Jakarta. Tempat itu penuh wartawan dan tamu.

Saya bosan.

Ayah menyuruh saya menunggu dekat toko buku sementara ia menemui seseorang.

Jangan ke mana mana.

Aku janji.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan datang.

Kirana?

Saya mengenalnya.

Dia bekerja di rumah kami.

Katanya Ayah menyuruhnya menjemput saya.

Saya mengikutinya.

Di parkiran, sebuah mobil sudah menunggu.

Setelah itu ingatan saya menjadi potongan potongan yang tidak utuh.

Rumah asing.

Pintu terkunci.

Orang orang yang terus bertanya tentang keluarga saya.

Kemudian saya dipindahkan berkali kali.

Saya tumbuh tanpa mengetahui apakah Ayah masih mencari saya.

Sampai bertahun tahun kemudian, saya bertemu seseorang yang mengenali nama keluarga Adinata.

Orang itu berjanji membantu saya pulang.

Tetapi sebelum saya berhasil kembali, seseorang lebih dulu menemukan saya.

Saya memandang Bella.

Wajahnya berubah.

Kamu.

Pak Surya menoleh tajam.

Apa maksudmu?

Saya menunjuk Bella.

Saya pernah melihat dia sebelum saya meninggal.

Tidak!

Bella mundur.

Kamu bohong!

Ingatan terakhir saya semakin jelas.

Saat itu saya sudah remaja.

Saya berhasil mendapatkan akses internet dan mencari berita tentang keluarga Adinata.

Di layar muncul foto Pak Surya bersama seorang gadis.

Bella.

Anak angkat konglomerat Surya Adinata.

Saya menangis bahagia karena tahu Ayah masih hidup.

Saya menghubungi nomor kantor perusahaan dan mengatakan bahwa saya adalah Kirana.

Dua hari kemudian seseorang menghubungi saya.

Dia mengaku dikirim Ayah.

Saya percaya.

Saya pergi menemui orang itu.

Tetapi yang datang justru Bella.

Pak Surya menatap anak angkatnya seperti baru pertama kali melihatnya.

Bella?

Gadis itu menggeleng cepat.

Jangan dengarkan dia.

Saya melanjutkan.

Bella bilang Ayah sudah memiliki keluarga baru.

Dia bilang kalau aku kembali, hidup semua orang akan hancur.

Bohong!

Lalu kenapa kamu mengenal wajahku?

Bella terdiam.

Pak Surya langsung menangkap perubahan ekspresinya.

Kamu pernah bertemu Kirana?

Tidak.

Jawab Ayah!

Tidak pernah!

Ponsel Pak Surya tiba tiba berbunyi.

Sekretarisnya.

Pak Surya menyalakan pengeras suara.

Pak, polisi menemukan beberapa barang di lokasi penemuan jasad. Ada gelang anak dengan ukiran huruf K dan A. Kami juga menemukan kartu memori lama. Tim sedang mencoba memulihkan datanya.

Pak Surya memejamkan mata.

Gelang itu saya yang buat.

Ia menatap saya.

Hadiah ulang tahun Kirana yang kesembilan.

Bella tiba tiba berlari menuju pintu.

Dua pengawal Pak Surya langsung menahannya.

Lepaskan aku!

Pak Surya menatapnya tanpa ekspresi.

Mau ke mana?

Aku takut.

Takut pada arwah, atau takut pada kebenaran?

Bella menangis.

Ayah, aku anak Ayah juga.

Kalimat itu membuat Pak Surya terdiam.

Saya melihat rasa sakit di matanya.

Selama bertahun tahun, Bella memang menjadi anak yang menemaninya. Saya bisa melihat foto foto mereka di meja kecil dekat altar. Ulang tahun. Wisuda. Liburan.

Pak Surya benar benar menyayanginya.

Karena itu pengkhianatan tersebut terasa jauh lebih berat.

Sekretaris menelepon lagi beberapa menit kemudian.

Pak, kartu memorinya berhasil dibuka sebagian.

Ada rekaman suara.

Putar.

Suara berisik terdengar.

Kemudian suara saya sendiri.

Saya mengenalinya meskipun terdengar jauh lebih muda.

Bella, aku tidak mau mengambil tempatmu. Aku cuma ingin pulang.

Lalu terdengar suara perempuan.

Suara Bella.

Kalau kamu pulang, semua yang aku punya akan hilang.

Aku tidak akan mengusirmu.

Kamu tidak mengerti. Selama kamu tidak ada, aku adalah putri Surya Adinata.

Rekaman berhenti.

Bella jatuh terduduk.

Pak Surya tidak berkata apa apa.

Justru kesunyian itulah yang terasa mengerikan.

Beberapa saat kemudian Bella menangis keras.

Aku cuma takut!

Dia menatap Pak Surya.

Sejak kecil aku hidup di panti. Setelah Ayah mengangkatku, baru pertama kali aku punya rumah. Tetapi setiap hari Ayah mencari Kirana. Setiap ulang tahunku, Ayah masih membicarakan dia.

Karena dia anak Ayah.

Lalu aku apa?

Bella memukul dadanya sendiri.

Aku selalu merasa cuma pengganti!

Pak Surya menatapnya dengan mata merah.

Ayah tidak pernah menganggapmu pengganti.

Bella menangis semakin keras.

Tapi aku menganggap diriku begitu.

Ia akhirnya mengaku bahwa setelah menerima kabar tentang keberadaan saya, ia diam diam mendatangi saya. Pertemuan itu berubah menjadi pertengkaran. Bella kemudian meminta bantuan seseorang untuk menyembunyikan keberadaan saya agar saya tidak pernah kembali ke keluarga Adinata.

Semua keputusan setelah itu berkembang jauh melampaui kendalinya.

Yang paling menyakitkan, setelah saya menghilang untuk kedua kalinya, Bella tetap pulang ke rumah dan menemani Pak Surya memasang poster pencarian saya.

Dia bahkan ikut menangis di depan kamera.

Pak Surya terduduk di lantai.

Sepuluh tahun.

Suaranya pecah.

Sepuluh tahun Ayah mencari kamu.

Saya mendekati batas lingkaran.

Dan malam ini Ayah hampir memusnahkan arwahku sendiri.

Pak Surya menatap tungku ritual.

Wajahnya langsung berubah.

Matikan semuanya!

Dukun segera membatalkan ritual.

Api mengecil.

Lingkaran yang menahan saya perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya malam itu saya bisa keluar.

Pak Surya berusaha memeluk saya.

Tangannya menembus tubuh saya.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak bisa.

Akhirnya ia hanya berlutut di depan saya.

Maafkan Ayah.

Saya menangis.

Saya sudah menunggu kalimat itu selama bertahun tahun tanpa mengetahui siapa yang saya tunggu.

Polisi datang tidak lama kemudian.

Bella dibawa untuk dimintai keterangan bersama semua bukti yang ditemukan.

Sebelum pergi, ia menoleh kepada saya.

Untuk sesaat saya tidak lagi melihat gadis angkuh yang tadi menambahkan bubuk ke dalam api.

Saya melihat seorang anak ketakutan yang membuat pilihan salah karena takut kehilangan kasih sayang.

Kirana.

Saya menatapnya.

Maaf.

Saya tidak menjawab.

Ada luka yang tidak selesai hanya dengan satu kata maaf.

Namun kebencian pun tidak bisa mengembalikan hidup saya.

Menjelang subuh, telepon dari rumah sakit datang.

Identitas jasad telah dipastikan melalui pemeriksaan keluarga.

Kirana Adinata akhirnya ditemukan.

Pak Surya menangis sampai tidak mampu berdiri.

Beberapa hari kemudian, pemakaman saya dilakukan secara layak.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada wartawan.

Pak Surya hanya berdiri di dekat makam ditemani beberapa orang terdekat.

Ia membawa sebuah kotak tua.

Di dalamnya ada tiket pesawat.

Dua tiket menuju Jepang yang sudah menguning.

Ternyata Ayah sudah membelinya sepuluh tahun lalu.

Perjalanan untuk melihat salju yang pernah ia janjikan kepada saya.

Ayah terlambat, Kirana.

Saya berdiri di sampingnya meskipun ia tidak lagi bisa melihat saya.

Tidak, Yah.

Ayah akhirnya datang.

Saat matahari pagi menyentuh batu nisan, tubuh saya perlahan berubah menjadi cahaya.

Saya akhirnya memahami alasan saya bertahan selama ini.

Bukan karena dendam.

Bukan karena takut meninggalkan dunia.

Saya hanya sedang menunggu Ayah menemukan saya.

Sebelum benar benar menghilang, saya melihat Pak Surya mengeluarkan ponselnya.

Ia menelepon sekretaris.

Hentikan semua ritual pencarian.

Kemudian ia menarik napas.

Mulai hari ini, dana pencarian Kirana dialihkan untuk membantu menemukan anak anak hilang dan mendampingi keluarga mereka. Jangan sampai ada orang tua lain menunggu sepuluh tahun seperti saya.

Saya tersenyum.

Namun tepat ketika cahaya hampir membawa saya pergi, dukun yang berdiri jauh di belakang Pak Surya tiba tiba menatap langsung ke arah saya.

Seharusnya ia sudah tidak bisa melihat saya.

Tetapi ia tersenyum.

Kemudian bibirnya bergerak pelan.

Sekarang kamu sudah ingat semuanya.

Saya membeku.

Dukun itu melanjutkan tanpa suara.

Kecuali satu hal.

Siapa perempuan yang membawa kamu dari pusat perbelanjaan sepuluh tahun lalu?

Cahaya di sekitar saya mendadak berhenti.

Ingatan terakhir terbuka.

Perempuan yang menggandeng tangan saya menuju parkiran.

Perempuan yang mengatakan bahwa Ayah menyuruhnya menjemput saya.

Saya akhirnya melihat wajahnya dengan jelas.

Saya pernah melihat wajah itu lagi bertahun tahun kemudian.

Di sebuah foto keluarga yang dipajang Pak Surya di ruang ritual.

Saya menoleh kepada Ayah dan berteriak sekuat tenaga.

Tetapi ia sudah tidak bisa mendengar saya.

Karena perempuan yang menculik saya bukan orang asing.

Dia adalah ibu kandung Bella.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang