Pada hari ulang tahun pernikahan kami, sahabat terbaikku melahirkan dan mengaku bahwa bayi itu adalah anak suamiku

Tapi ada satu hal yang tidak pernah Adrian ketahui.

Alasan sebenarnya aku bertahan selama tiga tahun bukan karena aku mencintainya.

Setidaknya, bukan lagi.

Aku bertahan karena sebuah janji.

Tiga hari sebelum Ibu Elena meninggal, perempuan tua itu menggenggam tanganku di kamar tidurnya. Tubuhnya sudah sangat lemah, tetapi matanya masih setajam biasanya.

“Lucia, jangan percaya siapa pun di keluarga ini hanya karena mereka tersenyum kepadamu.”

Aku terdiam.

Ibu Elena kemudian meminta asistennya mengambil sebuah amplop cokelat dari brankas.

“Kalau suatu hari Adrian mengkhianatimu, jangan langsung pergi. Tunggu tiga tahun.”

“Kenapa tiga tahun?”

“Karena setelah tiga tahun, kamu akan tahu siapa dia sebenarnya.”

Saat itu aku tidak memahami maksudnya.

Sekarang aku mengerti.

Tujuh hari setelah Bianca melahirkan, kami kembali berkumpul di sebuah ruang konsultasi rumah sakit.

Aku datang bersama Pak Salim.

Adrian datang bersama ibunya, Regina Gunawan, sementara Bianca duduk di kursi roda sambil memeluk bayinya.

Di atas meja terdapat amplop putih berisi hasil pemeriksaan DNA.

Dokter membuka dokumen itu perlahan.

“Berdasarkan pemeriksaan terhadap sampel Tuan Adrian Gunawan dan bayi laki-laki yang dilahirkan Nyonya Bianca Wijaya…”

Bianca menggenggam selimut bayi semakin erat.

Adrian terlihat tenang.

Bahkan terlalu tenang.

Dokter melanjutkan.

“Probabilitas hubungan biologis sebagai ayah adalah nol persen.”

Ruangan langsung membeku.

Adrian menatap lembar hasil pemeriksaan.

Bianca pucat.

Regina berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

“Apa maksudnya nol persen?”

“Artinya,” jawab dokter hati-hati, “Tuan Adrian bukan ayah biologis bayi tersebut.”

Adrian menoleh kepada Bianca.

“Bianca?”

Perempuan itu tidak menjawab.

“Bianca!”

“Aku bisa menjelaskan.”

Adrian merebut dokumen tersebut.

“Kamu bilang anak ini anakku!”

“Aku pikir memang anakmu.”

“Kamu pikir?”

Bianca mulai menangis.

“Aku takut kehilanganmu.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Ternyata kalimat itu pernah dia gunakan kepadaku juga.

Dulu dia takut kehilangan persahabatan kami.

Sekarang dia takut kehilangan suamiku.

“Siapa ayahnya?” tanya Adrian.

Bianca menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Kali ini aku benar-benar tersenyum.

“Jangan berbohong lagi, Bianca.”

Semua orang menatapku.

Aku mengeluarkan sebuah map hitam dari tas dan meletakkannya di meja.

Di dalamnya terdapat foto, bukti transaksi hotel, rekaman kamera parkir, dan beberapa lembar percakapan yang sudah diverifikasi secara digital.

Selama enam bulan terakhir, Bianca ternyata bukan hanya berhubungan dengan Adrian.

Dia juga berhubungan dengan seseorang bernama Rafael Santoso.

Direktur keuangan Gunawan Artha Group.

Orang kepercayaan Adrian sendiri.

Adrian membalik foto demi foto dengan tangan gemetar.

Ada Bianca dan Rafael memasuki apartemen di Kuningan.

Ada bukti pembayaran vila di Bali.

Ada percakapan mereka mengenai kehamilan Bianca.

Namun satu pesan membuat Adrian berhenti.

Jika bayinya bukan anakmu, kita tetap bilang itu anak Adrian. Begitu namanya masuk dokumen keluarga Gunawan, semuanya akan lebih mudah.

Wajah Adrian berubah.

“Apa yang kalian rencanakan?”

Bianca menangis semakin keras.

Aku menjawab untuknya.

“Mereka ingin menggunakan bayi itu untuk masuk ke dalam struktur keluarga Gunawan.”

Regina langsung menatapku.

“Untuk apa?”

“Warisan.”

Pak Salim kemudian mengeluarkan dokumen lain.

Inilah bagian yang bahkan Adrian belum tahu.

Wasiat Ibu Elena memiliki klausul tambahan.

Selama tiga tahun pertama pernikahan kami, kendali atas sebagian besar saham keluarga berada di bawah pengelolaan sebuah trust.

Setelah tepat tiga tahun, hak suara atas 51 persen saham Gunawan Artha Group akan dialihkan.

Adrian tersenyum sinis.

“Tentu kepadaku. Aku cucu kandungnya.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Senyumnya hilang.

Pak Salim membuka dokumen tersebut.

“Berdasarkan wasiat terakhir almarhumah Elena Gunawan, hak pengendalian 51 persen saham akan diberikan kepada pasangan sah Tuan Adrian apabila pernikahan tersebut bertahan minimal tiga tahun.”

Adrian perlahan menoleh kepadaku.

Aku bisa melihat untuk pertama kalinya dia benar-benar ketakutan.

“Pasangan sah…”

“Lucia Pratama,” lanjut Pak Salim.

Regina terduduk kembali.

Adrian menggeleng cepat.

“Tidak mungkin.”

Pak Salim meletakkan salinan legalisasi wasiat di hadapannya.

“Perpindahan hak tersebut efektif sejak pukul 00.00 pada hari ulang tahun pernikahan kalian.”

Hari yang sama ketika Bianca melahirkan.

Hari yang sama ketika Adrian menggendong bayi perempuan lain di depan istrinya.

Aku akhirnya memahami mengapa Ibu Elena memintaku menunggu tiga tahun.

Dia tidak sedang memaksaku mempertahankan pernikahan.

Dia memberiku kesempatan untuk melihat karakter asli cucunya sebelum menyerahkan kendali perusahaan kepadaku.

Adrian berdiri.

“Kamu sudah tahu?”

“Enam bulan terakhir.”

“Jadi kamu sengaja membiarkan semuanya terjadi?”

“Aku tidak membiarkanmu berselingkuh, Adrian. Itu keputusanmu sendiri.”

Dia kehilangan kata-kata.

Aku melanjutkan.

“Aku hanya berhenti menyelamatkanmu dari akibat keputusanmu.”

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.

Dua petugas keamanan rumah sakit masuk bersama seorang pria berjas abu-abu.

Rafael Santoso.

Wajah Bianca langsung berubah.

“Rafael?”

Pria itu bahkan tidak melihatnya.

Dia justru menatap Adrian.

“Aku datang karena Bu Lucia meminta.”

Adrian mengepalkan tangan.

“Kamu tidur dengan perempuan yang mengandung anakku?”

Rafael tertawa kecil.

“Masih belum mengerti?”

Dia mengambil sebuah amplop dari sakunya.

Tes DNA kedua.

Kali ini antara Rafael dan bayi Bianca.

Hasilnya 99,99 persen.

Rafael adalah ayah biologis bayi tersebut.

Bianca menutup wajahnya.

Namun kejutan belum selesai.

Rafael mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya kepada Pak Salim.

Di dalamnya terdapat percakapan lengkap antara dirinya dan Bianca.

Rencana mereka jauh lebih besar daripada sekadar menjebak Adrian.

Bianca mengetahui klausul wasiat Ibu Elena dari Regina.

Mereka mengira apabila Adrian memiliki anak biologis sebelum ulang tahun pernikahan ketiga, keluarga bisa menggugat hak Lucia atas saham dengan alasan keberadaan ahli waris langsung.

Karena itu Bianca sengaja mengumumkan bahwa bayinya adalah anak Adrian.

Namun ternyata bayi itu lahir dari hubungannya dengan Rafael.

“Kenapa kamu menyerahkan semua bukti ini?” Bianca berteriak.

Rafael menatapnya dingin.

“Karena sejak awal aku tahu kamu akan mengkhianatiku juga.”

Lalu dia pergi.

Regina tampak seperti kehilangan kemampuan berbicara.

Aku menatap perempuan yang selama tiga tahun memanggilku mandul.

“Jadi Ibu juga tahu?”

Regina menunduk.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Adrian mendekatiku.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, suaranya tidak terdengar angkuh.

“Lucia, kita bisa memperbaiki semuanya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Memperbaiki apa?”

“Pernikahan kita.”

“Pernikahan kita tidak pernah rusak, Adrian.”

Dia terlihat bingung.

Aku mengambil cincin baja sederhana dari jari manisku.

“Karena sejak awal, tidak pernah ada pernikahan yang benar-benar kamu bangun.”

Aku meletakkan cincin itu di atas hasil tes DNA.

Adrian menatap benda seharga kurang dari Rp300 ribu itu seolah baru menyadari nilainya.

“Lucia…”

“Aku datang ke rumah sakit ini tujuh hari lalu sebagai istrimu.”

Aku berdiri.

“Dan hari ini aku pergi sebagai pemilik saham pengendali Gunawan Artha Group.”

Bianca tiba-tiba memanggilku.

“Lucia…”

Aku berhenti.

Dia menangis sambil memeluk bayinya.

“Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun. Tapi anakku tidak bersalah.”

Aku menatap bayi kecil itu.

Untuk beberapa detik, seluruh kemarahanku menghilang.

Dia benar.

Bayi itu tidak memilih dilahirkan di tengah kebohongan orang dewasa.

“Aku tidak akan menyentuh hak anakmu,” kataku. “Tapi mulai hari ini, jangan pernah menggunakan anak itu untuk mendapatkan sesuatu yang bukan miliknya.”

Bianca menangis semakin keras.

Aku berjalan keluar bersama Pak Salim.

Di koridor rumah sakit, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari bank memberitahukan bahwa proses pengalihan hak atas saham telah selesai.

Namun Pak Salim tiba-tiba berhenti.

“Ada satu hal lagi, Bu Lucia.”

Dia menyerahkan sebuah amplop kecil yang sudah menguning.

Tulisan tangan di bagian depan langsung kukenal.

Untuk Lucia.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Itu surat terakhir Ibu Elena.

Lucia, jika kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah bertahan tiga tahun. Aku tidak memberikan perusahaan ini kepadamu karena kamu menikahi cucuku. Aku memberikannya karena selama bertahun-tahun, ketika semua orang menungguku mati untuk mendapatkan hartaku, hanya kamu yang berharap aku hidup lebih lama.

Air mataku jatuh.

Di bagian bawah terdapat satu kalimat terakhir.

Dan jika Adrian gagal menghargaimu, jangan merasa bersalah meninggalkannya. Kehilangan perempuan baik adalah pelajaran yang harus dibayar oleh laki-laki yang memilih tidak menghargainya.

Aku berdiri lama di koridor itu.

Selama tiga tahun aku mengira diam adalah bentuk kelemahan.

Ternyata tidak.

Kadang-kadang seseorang diam bukan karena tidak mampu melawan.

Dia hanya sedang menunggu sampai kebenaran memiliki cukup bukti untuk berbicara sendiri.

Aku melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam tas.

Di belakangku, Adrian masih berada di ruangan bersama perempuan yang mengkhianatinya, ibu yang memanipulasinya, dan hasil DNA yang menghancurkan seluruh kebohongan mereka.

Aku tidak menoleh lagi.

Pintu lift terbuka.

Aku masuk.

Sesaat sebelum pintunya menutup, cincin zamrud Bianca masih terlihat berkilau di bawah lampu rumah sakit.

Cincin senilai hampir Rp14 miliar.

Dibeli oleh suamiku untuk sahabatku.

Anehnya, aku tidak lagi merasa sakit melihatnya.

Karena pagi itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Harga sebuah cincin tidak pernah menentukan nilai sebuah hubungan.

Dan terkadang, hadiah terbesar yang diberikan seseorang yang mengkhianati kita adalah alasan untuk berhenti mempertahankan kehidupan yang sejak awal tidak pernah menghargai keberadaan kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang