Malam itu, aku sengaja bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Menjelang pukul enam, aku turun ke dapur dan meminta Alya menyiapkan makan malam seperti biasa. Pintu kamarnya akhirnya terbuka. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan setiap kali mendengar suara tongkat Surya dari lantai atas, bahunya langsung menegang.
Aku tidak menanyakan apa pun.
Surya turun sekitar setengah jam kemudian. Anehnya, langkahnya terlihat jauh lebih stabil daripada yang selama ini dia tunjukkan di depanku.
“Kamu pulang jam berapa tadi?” tanyanya sambil duduk.
“Sekitar dua.”
Sendok di tangannya berhenti sepersekian detik.
“Kenapa tidak bilang?”
“Kepalaku sakit.”
Aku menatap wajahnya. “Memangnya ada masalah kalau aku pulang lebih cepat?”

Surya tertawa kecil.
“Ya tidak. Aku cuma kaget.”
Saat Alya meletakkan sup di meja, Surya menoleh kepadanya.
Gadis itu langsung menjatuhkan sendok.
Suara logam beradu dengan lantai membuat kami bertiga terdiam.
“Maaf, Pak… maaf, Bu.”
Surya menatapnya tajam.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini ceroboh sekali?”
Alya buru-buru mengambil sendok dan pergi.
Aku tetap diam.
Setelah makan, Surya masuk kamar lebih awal. Aku menunggu sampai hampir pukul sebelas sebelum turun ke dapur.
Alya sudah berada di sana.
Begitu melihatku, dia menangis.
“Bu, saya benar-benar minta maaf.”
“Duduk.”
Dia duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Alya menunduk lama sebelum akhirnya berbicara.
Tiga minggu sebelumnya, ketika aku sedang mengikuti rapat dua hari di Bandung, Alya tanpa sengaja melihat Surya berjalan tanpa kruk.
Bukan beberapa langkah.
Surya turun tangga sendiri, berjalan ke garasi, bahkan mengangkat sebuah kardus.
“Saya pikir kaki Bapak sudah membaik,” katanya. “Tapi besoknya waktu Ibu pulang, Bapak kembali pakai kruk dan bilang sakit sekali.”
Aku terdiam.
“Lalu?”
“Beberapa hari kemudian saya dengar Bapak bicara lewat telepon.”
“Apa yang dia katakan?”
Alya mengeluarkan ponselnya.
“Saya sempat merekam sedikit.”
Dia memutar sebuah rekaman.
Suara Surya terdengar jelas.
“Ratna tidak curiga. Selama aku masih dianggap sakit, dia tidak akan banyak bertanya kalau aku tetap di rumah. Dokumennya tinggal menunggu tanda tangan.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Ada suara pria lain menjawab, tetapi terlalu samar.
Kemudian Surya berkata lagi.
“Begitu asetnya dialihkan, kita selesai.”
Aku mematikan rekaman.
“Aset apa?”
Alya menggeleng.
“Saya tidak tahu, Bu.”
“Lalu noda merah itu?”
Wajah Alya berubah semakin takut.
“Tadi siang Pak Surya memanggil saya ke kamar Ibu.”
Menurut Alya, Surya membawa sebotol sirup stroberi dari dapur. Dia menuangkannya ke seprai, lalu menyuruh Alya membersihkannya.
Alya bingung dan menolak.
Surya kemudian mengatakan sesuatu yang membuatnya ketakutan.
“Dia bilang kalau Ibu pulang dan bertanya, saya harus bilang saya terluka karena jatuh.”
“Kenapa?”
“Supaya Ibu percaya saya masuk kamar tanpa izin.”
Aku mengerutkan kening.
“Masih tidak masuk akal.”
Alya menangis semakin keras.
“Karena Pak Surya bilang kalau saya tidak menurut, dia akan bilang kepada polisi bahwa saya mencuri perhiasan Ibu.”
Aku terdiam.
“Perhiasan?”
Alya mengangguk.
“Dia menunjukkan gelang emas Ibu. Ada di tangannya.”
Aku langsung berdiri.
Aku menyimpan beberapa perhiasan keluarga di brankas kamar.
Hanya aku dan Surya yang mengetahui kodenya.
Sekarang semuanya mulai tersambung.
Surya tidak sedang mencoba menutupi hubungan rahasia dengan Alya.
Dia sedang membangun sebuah cerita.
Jika rencananya berhasil, aku akan pulang, menemukan noda merah, melihat Alya ketakutan, kemudian mendengar tuduhan pencurian. Perhatianku akan diarahkan kepada Alya sementara Surya memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.
“Ada lagi?” tanyaku.
Alya ragu.
“Pak Surya beberapa kali masuk ruang kerja Ibu ketika Ibu tidak ada.”
Itulah bagian yang membuatku benar-benar waspada.
Ruang kerjaku menyimpan dokumen perusahaan keluarga.
Keesokan paginya aku tidak pergi ke kantor.
Aku menghubungi kepala bagian legal perusahaan dan memintanya memeriksa seluruh dokumen yang menggunakan tanda tanganku selama dua bulan terakhir.
Tiga jam kemudian dia menelepon.
“Bu Ratna, ada sesuatu yang aneh.”
Sebuah dokumen pengalihan saham telah diajukan secara internal.
Nilainya hampir Rp18 miliar.
Tanda tanganku tercantum di sana.
Masalahnya, aku tidak pernah menandatanganinya.
Penerima manfaat akhirnya mengarah pada sebuah perusahaan investasi kecil yang dikendalikan seseorang bernama Dimas Hartono.
Nama itu membuatku tercekat.
Dimas adalah adik tiri Surya.
Mereka mengaku sudah tidak berhubungan selama bertahun-tahun.
Aku akhirnya memahami semuanya.
Cedera Surya memang nyata pada awalnya. Namun setelah kondisinya membaik, dia sengaja terus berpura-pura kesulitan berjalan agar bisa tinggal di rumah tanpa menimbulkan kecurigaan.
Ketika Alya memergokinya, dia menjadi ancaman.
Surya lalu mencoba menjebaknya.
Aku bisa saja langsung menghubungi polisi.
Namun aku memilih menunggu.
Aku ingin Surya menunjukkan sendiri seberapa jauh dia bersedia melangkah.
Malam berikutnya, aku berkata saat makan malam, “Besok aku ke Surabaya. Dua hari.”
Surya berusaha menyembunyikan ekspresinya.
“Urusan kantor?”
Aku mengangguk.
Pagi berikutnya aku benar-benar membawa koper dan pergi.
Tetapi aku tidak pergi ke bandara.
Aku menuju rumah sahabatku yang hanya berjarak sekitar lima belas menit, sementara kamera keamanan rumah yang selama ini hanya kuakses melalui komputer kantor sudah dihubungkan ke ponselku.
Alya juga sudah keluar rumah dengan alasan pulang ke Wonogiri.
Surya yakin rumah itu kosong.
Pukul 10.42, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Dimas turun.
Aku menonton dari layar ponsel.
Surya membuka pintu tanpa kruk.
Dia berjalan normal.
Tidak pincang.
Tidak membutuhkan bantuan.
Dimas bahkan tertawa.
“Masih pura-pura sakit?”
“Sedikit lagi.”
Mereka masuk ke ruang kerjaku.
Aku segera menghubungi pengacaraku dan dua petugas keamanan perusahaan yang sudah menunggu di dekat rumah.
Namun aku belum masuk.
Aku mendengarkan.
“Dokumen terakhir di mana?” tanya Dimas.
“Brankas.”
“Ratna tidak curiga?”
“Dia terlalu sibuk.”
Surya tertawa.
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan Rp18 miliar.
Dua puluh lima tahun pernikahan kami diringkas menjadi satu kelemahan.
Aku terlalu sibuk.
Surya mengira kepercayaanku adalah kebodohan.
Aku akhirnya membuka pintu ruang kerja.
Wajah kedua pria itu seketika pucat.
“Cari ini?”
Aku mengangkat map asli dokumen kepemilikan saham.
Surya berdiri membeku.
“Ratna… kamu seharusnya di Surabaya.”
“Aku juga seharusnya punya suami yang tidak memalsukan tanda tanganku.”
Dimas mundur.
Surya mencoba mendekat.
“Dengar dulu penjelasanku.”
“Dua puluh lima tahun aku mendengarkanmu.”
Aku meletakkan beberapa lembar dokumen di meja.
“Sekarang giliranmu mendengarkan.”
Aku menunjukkan laporan audit, rekaman kamera, rekaman suara Alya, serta bukti komunikasi yang berhasil ditemukan tim legal.
Wajah Surya berubah.
“Ini bisa dijelaskan.”
“Silakan jelaskan kepada penyidik.”
Dua petugas keamanan masuk bersama pengacaraku.
Surya kehilangan ketenangannya.
Dia meraih kruk yang tadi diletakkan dekat meja dan spontan mencoba berjalan cepat menuju pintu belakang.
Aku hampir tertawa melihat ironi itu.
Pria yang selama berminggu-minggu mengaku kesulitan berjalan kini bergerak begitu cepat ketika rahasianya terbongkar.
Dia berhenti ketika menyadari jalan keluar sudah dijaga.
“Ratna, jangan hancurkan keluarga kita.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak menghancurkannya, Surya.”
Suaraku tetap tenang.
“Kamu yang melakukannya ketika memilih uang daripada orang-orang yang mempercayaimu.”
Kasus itu kemudian ditangani secara hukum. Dokumen pengalihan berhasil dihentikan sebelum transaksi selesai.
Namun ada satu hal yang tidak Surya ketahui.
Seminggu sebelum kejadian itu, aku sebenarnya sudah merencanakan perubahan besar dalam struktur perusahaan.
Aku berniat memberikan sebagian kepemilikan investasiku kepada Surya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ke-25.
Nilainya bahkan lebih besar daripada aset yang berusaha dia ambil diam-diam.
Dokumen hadiah itu sudah disiapkan.
Tinggal kutandatangani.
Ketika Surya mengetahuinya dari pengacaraku beberapa minggu kemudian, dia meminta bertemu denganku.
Aku menolak.
Bukan karena marah.
Aku hanya sudah memahami bahwa beberapa pengkhianatan tidak membutuhkan pertengkaran panjang untuk diakhiri.
Alya kembali ke Wonogiri selama beberapa waktu. Aku memastikan seluruh gajinya dibayarkan dan memberinya bantuan agar bisa melanjutkan kuliah yang sempat tertunda.
Sebelum pergi, dia berkata kepadaku, “Bu, saya kira Ibu tidak akan percaya kepada saya.”
Aku tersenyum.
“Aku memang tidak langsung percaya kepadamu.”
Wajahnya terkejut.
“Aku juga tidak langsung percaya kepada Surya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku percaya pada bukti. Itu yang menyelamatkan kita berdua.”
Beberapa bulan kemudian, aku menjual rumah di Pondok Indah itu.
Saat mengosongkan kamar, aku menemukan sebuah kantong plastik lama di lemari.
Di dalamnya masih tersimpan seprai bernoda merah yang menjadi awal semuanya.
Aku menatap noda sirup stroberi yang sudah mengering.
Aneh sekali.
Surya membuat noda palsu itu untuk menciptakan kebohongan.
Namun justru karena noda palsu itulah aku menemukan kebenaran.
Aku membuang seprai tersebut ke tempat sampah, lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Hari itu aku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh puluhan tahun menjalankan perusahaan.
Pengkhianatan tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang ia datang sebagai suami yang berpura-pura tidur, tongkat kruk yang diletakkan terlalu jauh, seorang gadis ketakutan di balik pintu terkunci, dan setetes cairan merah yang tampak seperti darah.
Karena itulah, ketika semua orang ingin kita segera memilih siapa yang harus dipercaya, terkadang keputusan paling cerdas adalah tidak memilih siapa pun terlebih dahulu.
Diam.
Perhatikan.
Cari bukti.
Sebab kebohongan bisa dirancang dengan sangat rapi.
Tetapi satu detail kecil yang terlupakan sering kali cukup untuk meruntuhkan semuanya.
