Dokter Andika menggeleng lambat, tatapannya menyiratkan rasa kasihan yang dibuat-buat. Kevin merangkul pinggangku erat, seolah hendak menahan tubuhku yang mulai gemetaran hebat. Ibu Mira mendekat, mengelus rambutku dengan usapan yang terasa teramat dingin di kulitku.
Nisa, katakan pada Ibu, kamu masih depresi karena keguguran tiga bulan lalu, kan, kata Ibu Mira dengan suara sehalus sutra namun menusuk hingga ke tulang. Kamu menolak kenyataan bahwa janinmu tidak berkembang, lalu secara psikologis perutmu membesar seolah kamu sedang hamil tua. Fenomena ini namanya pseudocyesis, kehamilan palsu.
Dada rasanya dihantam batu besar. Keguguran tiga bulan lalu. Percakapan apa ini. Aku memegang perutku. Bekas jahitan rasa nyeri yang berdenyut di bagian bawah perutku terasa sangat nyata. Ini bukan halusinasi. Aku ingat betul bagaimana dokter mencukur bulu halus di tubuhku, aku ingat bau cairan antiseptik di ruang operasi, dan aku ingat betul suara tangis pertama bayi laki-lakiku sebelum kesadaranku menghilang dipengaruhi obat bius.

Jangan gila, Kevin, teriakku histeris sambil memukul dada suamiku. Kita belanja baju bayi bersama minggu lalu. Kita sudah siapkan kamar cat biru di rumah. Kamu yang memilih nama untuk dia. Kamu ingat kan.
Kevin menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, tatapan penuh rasa bersalah yang diatur begitu rapi. Nisa, kita tidak pernah beli baju bayi. Kamu yang beli sendirian dan menyimpannya di lemari. Aku diam karena aku takut memicu gangguan jiwamu lagi. Tolong, jangan buat dirimu semakin sakit.
Pintu ruang inkubator tertutup secara otomatis. Aku ditarik kembali ke kamar rawat VIP. Selama tiga hari berikutnya, aku dikurung. Pintu dikunci dari luar. Obat-obatan penenang dipaksa masuk ke dalam tubuhku melalui jarum infus. Setiap kali aku meminumnya, pandanganku mengabur dan tubuhku menjadi lemas tak berdaya. Namun, naluri seorang ibu tidak bisa dibius. Setiap kali malam tiba, saat seluruh rumah sakit hening, suara tangis bayi itu kembali terdengar dari celah pendingin udara di atap kamar.
Mereka menyembunyikannya. Rumah sakit ini milik keluarga besar Kevin. Ibu Mira adalah direktur utamanya, sementara Dokter Andika adalah sepupu kandung Kevin. Mereka menguasai seluruh rekaman CCTV, seluruh dokumen, dan seluruh staf di bangunan ini. Namun, kenapa. Kenapa mereka harus mencuri bayiku sendiri dan membuatku terlihat gila.
Pada malam keempat, aku berpura-pura menelan obat penenang yang diberikan perawat. Begitu perawat pergi, aku meludahkan pil pahit itu di bawah kasur. Aku menunggu hingga jarum jam menunjukkan pukul dua pagi, saat penjagaan berada pada titik terlemah. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mencabut jarum infus di tanganku. Darah menetes ke lantai dingin, tapi aku tidak peduli.
Aku merangkak keluar melalui jendela kamar yang terhubung dengan selasar evakuasi kebakaran. Tubuhku gemetar ditimpa angin malam, bekas jahitan operasi caesar-ku terasa ingin robek. Aku berjalan menyusuri lorong pelayan yang jarang dilalui orang umum. Suara tangisan itu kembali terdengar, makin nyaring, makin memanggil jiwa ibuku.
Suara itu memanduku menuju ke lantai dasar, area laboratorium penelitian terisolasi yang membutuhkan akses kartu khusus. Aku bersembunyi di balik troley kain kotor saat seorang petugas kebersihan membuka pintu otomatis tersebut. Aku menyusup masuk sebelum pintu tertutup rapat.
Aroma karbol bercampur bahan kimia menyengat hidungku. Di ujung lorong yang temaram, suara tangisan itu berubah menjadi racauan halus. Aku berjalan perlahan, menahan napas, hingga mataku menangkap pemandangan di balik kaca tebal sebuah ruang isolasi khusus.
Di dalam sana, seorang bayi mungil berada di dalam inkubator canggih. Bayi laki-lakiku. Tangan kecilnya menggapai-gapai udara.
Di samping inkubator itu, berdiri Kevin, Ibu Mira, dan seorang wanita muda anggun berpakaian mewah yang sangat kukenal. Maya. Maya adalah mantan tunangan Kevin, putri dari konglomerat penyokong dana terbesar rumah sakit ini. Maya membelai kaca inkubator dengan senyum penuh kemenangan.
Dokter Andika berdiri di depan monitor sambil mencetak dokumen. Proses transfer sampel genetik dan pendaftaran akta lahir berjalan lancar, katakan Dokter Andika. Bayi ini secara legal lahir dari rahim Maya. Tidak ada jejak Nisa sama sekali dalam dokumen medis.
Ibu Mira tersenyum bangga. Bagus sekali, Andika. Maya tidak bisa memiliki anak karena rahimnya bermasalah, sementara keluarga besar Maya mengancam akan menarik seluruh investasi di rumah sakit kita jika Kevin tidak memberi mereka ahli waris. Nisa hanya wanita biasa tanpa latar belakang keluarga. Dia cukup menjadi wadah inkubator berjalan untuk cucuku.
Kevin diam membisu, tidak ada sedikit pun raut penyesalan di wajahnya saat ia merangkul pinggang Maya. Kita akan membawa bayi ini pulang besok sebagai anak kandung kita, ujar Kevin dingin. Nisa akan kita kirim ke rumah sakit jiwa di luar kota lusa. Semua orang sudah percaya dia gila.
Darahku mendidih. Rasa takutku lenyap berganti menjadi murka yang luar biasa. Seluruh teka-teki jahat ini akhirnya terkuak. Aku bukan sekadar korban konspirasi, aku dijadikan mesin pembuat anak untuk menyelamatkan kekayaan dan bisnis keluarga mereka.
Aku tidak berteriak. Aku tidak langsung menggebrak kaca. Aku tahu jika aku berteriak sekarang, mereka akan dengan mudah menyuntikku hingga mati dan membuang mayatku. Dengan tangan gemetar, aku mencabut ponsel yang berhasil kucuri dari saku mantel perawat sebelum aku kabur tadi. Aku merekam seluruh percakapan mereka dari balik kegelapan. Wajah Kevin, wajah Ibu Mira, wajah Maya, bayi di dalam inkubator, serta dokumen palsu di atas meja.
Video berdurasi tiga menit itu langsung kuunggah ke server awan pribadiku dan kutinggalkan pesan siaran langsung darurat ke seluruh kontak media, kepolisian, dan platform media sosial dengan satu tombol eksekusi yang tersimpan di layar.
Lalu, aku menarik tabung pemadam api berat yang tergantung di dinding lorong.
Brak.
Aku menghantamkan tabung besi itu ke kaca tebal ruang isolasi hingga retak dan hancur berkeping-keping. Suara ledakan kaca membuat mereka semua menjerit ketakutan.
Nisa, teriak Kevin panik saat melihatku berdiri di antara pecahan kaca dengan darah menetes dari tanganku.
Ibu Mira mundur dengan wajah pucat pasi. Kamu… bagaimana bisa kamu ada di sini.
Aku tidak menjawab mereka. Mataku hanya tertuju pada bayiku. Aku melangkah maju, memungut pecahan kaca terbesar dan mengarahkannya tepat ke leher Kevin saat ia mencoba mendekatiku.
Jangan maju satu langkah pun, kataku dengan suara yang teramat tenang namun mematikan.
Aku mengambil bayiku dari dalam inkubator, memeluknya erat di dada. Kehangatan tubuhnya meresap ke dalam jiwaku, dan tangisannya seketika berhenti saat kulit kami bersentuhan. Ia mengenali ibunya.
Kamu gila, Nisa. Kamu tidak punya bukti apa-apa. Rumah sakit ini milik kami. Tidak ada yang akan percaya padamu, bisik Ibu Mira dengan nada mengancam.
Aku tersenyum tipis, merogoh ponsel di sakuku yang masih menyalakan layar siaran langsung.
Video rekaman kalian, percakapan kalian, dan siaran langsung kondisi ruangan ini sudah ditonton oleh lebih dari lima puluh ribu orang secara realtime. Polisi dan media sedang dalam perjalanan ke sini.
Wajah Kevin melorot seketika. Maya menjerit histeris sambil menutupi wajahnya, sementara Dokter Andika terduduk lemas di lantai. Suara sirene mobil polisi mulai melolong dari kejauhan, membelah keheningan malam dan meruntuhkan tembok kebohongan yang mereka bangun dengan begitu megah.
Aku memeluk bayiku lebih erat, membisikkan janji manis di telinganya. Kebenaran mungkin sempat disembunyikan di dalam kegelapan, tetapi seorang ibu akan selalu menjadi cahaya yang menemukan jalannya pulang.
