Kevin mengerutkan dahi. Ia mengambil ponsel dari genggamanku, menatap layar selama beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Wajahnya memancarkan kebingungan yang begitu polos, begitu meyakinkan. “Sayang, ini pasti ulah orang iseng. Nomor lama milikku kan sempat hilang waktu kecelakaan. Bisa saja ada orang yang menggunakan aplikasi spoofing untuk menakut-nakutimu.”
Ia mengusap bahuku lembut, berusaha menenangkan. Namun, sentuhan jemarinya terasa asing. Ada dingin yang menjalar di tengkukku, bukan karena hawa dingin Puncak yang menusuk tulang, melainkan karena naluriku berteriak ada yang salah.
Aku mencoba mempercayainya. Kami baru saja menikah. Mana mungkin pria yang berdiri di hadapanku, yang memiliki lesung pipi persis di pipi kirinya dan bekas luka bakar kecil di dahi akibat kemalangan masa kecil, bukanlah suamiku?
Namun, keraguan yang telah tertanam mulai membesar seperti benalu.

Keesokan paginya, prasangka itu semakin nyata. Kevin selalu meminum kopi hitam pekat tanpa gula setiap bangun tidur—sebuah kebiasaan yang tak pernah berubah sejak kami pertama kali bertemu di kampus empat tahun lalu. Pagi ini, aku sengaja menyajikan kopi manis. Ia meminumnya tanpa ragu, bahkan tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Ketika kutanya tentang nama kucing kesayangan ibunya di Jakarta, ia ragu sejenak sebelum menjawab dengan nama yang salah.
Jantungku berdegup kencang. Pria ini tampak persis seperti Kevin. Suaranya, cara berjalannya, bahkan aroma parfumnya. Tapi dia bukan Kevin.
Siapa dia? Dan di mana suamiku yang asli?
Rasa takut melumpuhkanku, tetapi dorongan untuk menemukan kebenaran jauh lebih kuat. Siang itu, ketika pria yang mengaku sebagai Kevin itu pamit mandi, aku menggeledah jaket yang dikenakannya saat kembali kemarin. Di dalam saku bagian dalam, aku menemukan sebuah kunci kecil bernomor dan secarik kertas lusuh bertuliskan koordinat area hutan tak jauh dari vila tempat kami menginap.
Hati nuraniku menyuruhku berlari ke kantor polisi, tetapi logika skeptisku melarang. Jika pria di kamar mandi itu bisa menipu semua orang—termasuk polisi yang sempat menghentikan pencarian—berarti ada permainan yang jauh lebih besar di balik semua ini.
Aku mengambil kunci dan kertas itu, lalu menyelinap keluar vila saat mendengar gemericik air shower masih terdengar dari kamar mandi. Dengan mobil sewaan, aku menyusuri jalanan berliku di daerah Puncak menuju koordinat tersebut. Kabut tebal mulai turun, membungkus pepohonan pinus dalam kesunyian yang mencekam.
Koordinat itu membawaku ke sebuah pondok tua yang agak tersembunyi di balik tebing. Pintunya terkunci, tetapi kunci kecil yang kutemukan di saku jaket cocok dengan lubangnya. Dengan tangan gemetar dan napas yang tertahan, aku mendorong pintu kayu yang berderit itu.
Di dalam, ruangan itu berbau lembap dan amis darah yang menyengat. Di atas meja kayu lapis, tergeletak ponsel milik Kevin yang layar kacanya retak. Ponsel itu terhubung ke sebuah perangkat pemancar sinyal mini dengan pengatur waktu otomatis.
Pesan itu dikirim secara otomatis oleh sistem yang telah disetel sebelumnya.
Lalu pandanganku beralih ke sudut ruangan yang gelap. Di sana, terikat pada sebuah kursi kayu dengan luka parah di dadanya, tergeletak sesosok tubuh.
Aku menjerit, tetapi suaraku tertahan di tenggorokan.
Pria yang terikat di kursi itu adalah Kevin. Wajahnya memucat, matanya terpejam kaku, tak bernyawa. Bekas luka di dahinya sama persis. Lesung pipinya sama persis.
Tubuhku membeku. Jika pria yang mati di hadapanku ini adalah Kevin, lalu siapa pria yang berada di vila denganku? Siapa pria yang kusebut suami selama dua hari terakhir?
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari balik kegelapan pintu masuk.
“Kau selalu menjadi wanita yang terlalu pintar, Maya,” ujar sebuah suara yang sangat kukenal.
Aku berbalik dengan hembusan napas panik. Pria dari vila itu berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya santai, menatapku dengan senyuman dingin yang tak pernah kulihat sebelumnya dari wajah Kevin.
“Siapa kau?!” jeritku histeris, air mata membanjiri pipiku. “Siapa kau sebetulnya?!”
Pria itu melangkah maju. Cahaya temaram mengungkapkan tatapan matanya yang hampa dan kejam. “Aku adalah orang yang seharusnya berada di posisinya sejak awal. Aku Rian. Saudara kembar Kevin yang disembunyikan keluarga besarnya di panti asuhan luar negeri agar seluruh warisan dan perusahaan keluarga jatuh ke tangan anak sempurna mereka.”
Ia terkekeh pelan, suara kekehannya terngiang mengerikan di dalam ruangan sempit itu. “Kevin menemukan keberadaanku bulan lalu. Dia merasa bersalah, ingin mengembalikanku ke dalam keluarga, bahkan mengundangku ke Puncak secara sembunyi-sembunyi malam itu untuk membicarakan pembagian hak. Tapi dia naif. Dia pikir permintaan maaf bisa menggantikan dua puluh tahun penderitaanku.”
Rian menatap jasad Kevin tanpa penyesalan sedikit pun. “Malam itu, aku membunuhnya di sini. Aku mengambil pakaiannya, mempelajari gerak-geriknya, dan mengambil alih kehidupannya. Tidak ada yang curiga. Ibu kalian, teman-temanmu, bahkan polisi. Semuanya percaya aku adalah Kevin yang selamat dari kecelakaan.”
Ia melangkah lebih dekat padaku, sementara aku mundur hingga punggungku menempel pada dinding kayu yang dingin.
“Tapi aku tidak menyangka,” lanjut Rian seraya melirik ponsel di atas meja, “Kevin ternyata sudah menyiapkan sistem peringatan darurat di ponselnya. Jika ia tidak memasukkan kata sandi setiap dua puluh empat jam, pesan rahasia itu akan otomatis terkirim ke ponselmu. Pesan dari seberang kematian.”
Pikiranku berputar hebat. Teka-teki itu akhirnya terangkai dengan sempurna. Pesan itu bukan dikirim oleh pembunuh, melainkan oleh Kevin sendiri sebagai pelindung terakhirku jika terjadi hal buruk padanya.
“Sekarang,” kata Rian dengan suara rendah yang mengancam, mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya, “rahasia ini harus ikut terpendam bersamamu, Maya. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun merusak kehidupan baruku.”
Ketakutan luar biasa mencengkeram dadaku, namun rasa duka atas kematian Kevin membakar amarah di dalam diriku. Ketika Rian menerjang maju, aku tidak melarikan diri. Aku mengambil perangkat pemancar berat dari meja dan mengayunkannya sekuat tenaga ke arah wajahnya.
Pukulan itu mendarat telak di pelipisnya. Rian mengerang kesakitan, limbung, dan pisau di tangannya terlepas jatuh ke lantai.
Aku tidak membuang kesempatan. Aku berlari keluar dari pondok menembus semak-semak menuju mobil, mengunci pintu, dan menancap gas sedalam-dalamnya di tengah kabut Puncak yang kian pekat.
Suara sirine polisi terdengar meraung dari kejauhan saat aku tiba di jalan raya utama. Aku telah menekan tombol darurat di ponselku saat berlari tadi.
Beberapa jam kemudian, polisi mengepung pondok tua itu dan menangkap Rian yang pingsan akibat pendarahan di kepala. Keadilan untuk Kevin akhirnya terungkap, meski duka mendalam harus kutanggung seumur hidupku.
Namun, bagian paling mengerikan dari kisah ini bukanlah tentang Rian atau pembunuhan itu.
Dua minggu setelah pemakaman Kevin, saat aku membersihkan barang-barang peninggalan suamiku di rumah kami di Jakarta, aku menemukan sebuah buku harian rahasia milik Kevin di balik brankas pribadi.
Halamannya yang tertutup debu kubuka dengan tangan gemetar. Di lembar terakhir, tertulis sebuah catatan tangan bertanggal satu hari sebelum pernikahan kami:
“Aku tahu Rian berniat membunuhku malam ini di Puncak. Tapi aku tidak akan menghentikannya. Maya tidak pernah mencintaiku, dia hanya menginginkan hartaku. Begitu Rian mengambil alih posisiku, Maya pasti akan membantunya menyingkirkanku demi bagian warisan. Biarlah mereka berdua saling menghancurkan. Aku sudah menyiapkan perangkap untuk mereka berdua dari balik kegelapan.”
Jantungku berhenti berdetak saat membaca baris demi baris itu.
Pesan di malam itu bukan dikirim untuk menyelamatkanku. Pesan itu dikirim untuk memancingku datang ke pondok, agar aku bertemu dengan Rian dan saling menjatuhkan dalam perangkap tuduhan pembunuhan yang telah Kevin susun dengan rapi sebelum ia memalsukan kematiannya sendiri.
Di luar jendela, hujan deras mulai mengguyur kota Jakarta. Dan di dalam kegelapan kamar, aku menyadari satu hal yang paling membekukan darah: Kevin yang kukira telah mati… mungkin masih hidup di suatu tempat, memperhatikan setiap gerak-gerikku dari balik bayang-bayang.
